JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Padepokan Kun Billah


Mbah Jena mendekati Siti Adawiyah. "Bukankah kakek telah menyampaikan hal ini kepadamu sedari dulu? Seharusnya engkau tidak perlu mempertanyakannya lagi. Engkau telah berhasil menyatukan kandungan kitab Al Hikam didalam tubuhmu. Seperti itu pula yang telah kedua orang tuamu lakukan."


Sambil menumpuk kedua bantal, Siti Adawiyah menanyakan kemana tujuannya. "iya kakek, Siti Adawiyah mengerti. Sekarang apa langkah kita kedepannya kakek?"


"kakek akan membawamu ke kota Mallorca. Dan kau Gus Mukhlas, aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku akan menitipkan seorang pemuda kepadamu. Dialah pemuda itu, namanya Asrul. Memang Asrul baru beberapa kali mengikuti pengajian yang aku pimpin. Tetapi aku mengetahui bahwa dalam diri Asrul ada suatu nubuwat. Aku mengetahuinya ketika aku berkhalwat beberapa minggu yang lalu."


Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Mbah Jena membawa Siti Adawiyah meninggalkan rumah sakit menuju kota Mallorca.


Sementara Asrul dan Gus Mukhlas melanjutkan perjalanan menuju padepokan Kun Billah. Ketika mereka memasuki gapura padepokan Kun Billah, mereka di sambut oleh beberapa pemuda dengan sambutan yang ramah.


"Selamat datang ustadz Gus Mukhlas, sudah lama ustadz meninggalkan padepokan ini, akhirnya ustadz datang juga. Kami sangat menantikan kehadiran ustadz dalam pendidikan kami."


Seluruh pemuda yang menyambut Gus Mukhlas mencium tangan Gus Mukhlas, hingga Gus Mukhlas tertunda untuk beristirahat di dalam padepokannya.


Melihat Gus Mukhlas yang di kerumuni para muridnya, Asrul berencana hendak menyingkir dan menunggu. Tapi Gus Mukhlas segera menarik tangan Asrul. "permisi santri semua, saya sedang ada urusan sebentar di ruang administrasi"


Pemuda yang berdiri dekat Gus Mukhlas tersadar bahwa Gus Mukhlas datang bersama seseorang. "owh, ustadz hendak mendaftarkan santri baru ya. Sekian lama menghilang, ternyata ustadz Gus Mukhlas membawa calon penerus masa depan padepokan."


"Perkenalkan saya Asrul murid Gus Mukhlas" Asrul segera menyalami para pemuda yang mengerumuni Gus Mukhlas.


Sebagian pemuda itu ada yang senang dengan kehadiran Asrul, sebagian lagi ada yang merasa bahwa Asrul nantinya akan menyulitkan padepokan.


"Hai Asrul, salam kenal. Jika engkau berniat untuk tinggal di padepokan ini, sebaiknya engkau mempersiapkan mental yang kuat."


Asrul hanya tersenyum tipis menanggapi mereka. Lalu Gus Mukhlas mengajak Asrul memasuki ruangan administrasi.


Seorang pria paruh baya dengan kumis seperti pedang berjalan mendekati Gus Mukhlas. Asrul mengerutkan dahinya sementara Gus Mukhlas segera memberi hormat pada pria paruh baya tersebut.


"Wakil Ketua Khairul..." Gus Mukhlas tersenyum canggung sebelum mengenalkan Asrul pada pria paruh baya tersebut.


Asrul sebenarnya sangat tidak senang tetapi bisa menyembunyikan perasaannya tersebut. Asrul tidak akan pernah melupakan sosok di hadapannya, Khairul, Wakil Ketua padepokan Kun Billah.


Pada kehidupan sebelumnya Khairul tidak menyukai Gus Mukhlas, sebab kehadiran Gus Mukhlas membuat prestasi cucu dari Khairul yang menjadi Imam padepokan saat berusia 25 tahun menjadi tidak berarti.


"Hai Gus apa kabar? Bagaimana dengan misimu? Apakah berjalan lancar?" wakil ketua padepokan Kun Billah berpapasan ketika mau keluar.


Sebelum Gus Mukhlas pergi meninggalkan padepokan untuk melaksanakan sebuah misi, ustadz Khairul selalu menghalangi keberangkatan Gus Mukhlas, karena harapan ustadz Khairul dialah yang seharusnya berangkat menjalankan misi, bukannya Gus Mukhlas. Tapi Gus Mukhlas tidak sakit hati atas perbuatan ustadz Khairul, di samping ustadz Khairul adalah cucu dari owner padepokan, Gus Mukhlas juga memang dikenal sebagai seorang yang berlapang dada.


Ustadz Khairul menginginkan melaksanakan misi itu karena mengharapkan sebuah medali dari padepokan yang akan diberikan kepada siapapun yang berhasil melaksanakan misi dengan sukses. Sedangkan Gus Mukhlas tidak memikirkan semua itu, Gus Mukhlas hanya ingin memurnikan ajaran yang Haq tanpa mengharapkan imbalan apapun.


"Ini pemuda yang di bangga-banggakan oleh Mbah Jena? di lihat dari fisiknya saja tubuh yang kerempeng begini mana mungkin bernyali. Mana mungkin bisa mengangkat derajat padepokan ini." Khairul menyambut tangan Asrul yang menyalaminya.


Asrul mengetahui dengan jelas tabiat ustadz Khairul, pada kehidupan sebelumnya Asrul melihat ustadz Khairul membully Gus Mukhlas. Hal ini dilakukannya karena ustadz Khairul merasa dia berkuasa atas aktivitas di padepokan. Masalahnya ketua padepokan selalu mengutus Gus Mukhlas untuk melaksanakan tugas-tugas penting. Sejak itulah ustadz Khairul bersikap sinis terhadap Gus Mukhlas. Makanya Asrul sebisa mungkin untuk tidak berbicara dengan ustadz Khairul.


Gus Mukhlas hanya tersenyum tipis dan hendak melanjutkan tujuannya. "maaf ustadz Khairul, jika tidak ada lagi keperluan, aku izin untuk menuju ruang administrasi."


Ustadz Khairul langsung meninggalkan Gus Mukhlas dan Asrul sambil mengomel dalam hati. Asrul melihat sekilas muka ustadz Khairul yang tidak senang atas kehadiran Gus Mukhlas.


"hupf.. Gus Mukhlas benar-benar ceroboh dalam memilih murid. Aku melihat dengan jelas, pemuda itu tidak bisa di harapkan untuk masa depan padepokan. ya ada untungnya bagiku, dengan demikian tidak ada yang perlu aku khawatirkan dari aktivitas Gus Mukhlas."


Tetapi sebelum ustadz Khairul bisa bertindak terlalu jauh, Gus Mukhlas menarik Asrul dan membawanya ke dalam padepokan. Situasi seperti ini yang membuat Gus Mukhlas lebih suka berada di luar padepokan melakukan misi.


"Asrul, kau tidak apa-apa bukan?" Ketika keduanya sudah mencapai tempat yang cukup tenang, Gus Mukhlas segera memeriksa kondisi Asrul, khawatir Asrul akan menyimpan dendam dengan ustadz Khairul.


"Murid baik-baik saja Guru, sebenarnya ustadz Khairul baik." Asrul tersenyum lebar.


Gus Mukhlas membuka mulutnya tetapi tidak berkata apa-apa, dia kemudian mengajak Asrul menuju sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari gerbang masuk. Sepanjang perjalanan, ada lebih banyak santri yang berusaha mendekati Gus Mukhlas tetapi melihat Gus Mukhlas terburu-buru membuat mereka segan mendekatinya.


Tidak sedikit juga pemuda-pemudi berusia dibawah 16 tahun yang memberi hormat dan memanggil Gus Mukhlas sebagai ustadz.


"Tempat ini bernama ruang administrasi padepokan Kun Billah, tempat semua anggota padepokan mengambil misi serta melakukan berbagai kegiatan administrasi." Gus Mukhlas menjelaskan.


Asrul tentu sudah mengetahuinya, dia pernah bekerja di bagian administrasi selama beberapa tahun pada kehidupan sebelumnya karena tidak ingin berlatih bela diri. Gus Mukhlas mengatakan dia ingin mendaftarkan Asrul sebagai muridnya serta memesan pakaian Padepokan untuk Asrul.


ruang administrasi padepokan memang menjadi salah satu tempat yang selalu ramai pengunjung di padepokan Kun Billah. Gus Mukhlas dan Asrul cukup menarik perhatian banyak orang ketika memasuki tempat tersebut.


Semua perhatian itu wajar mengingat Gus Mukhlas merupakan ustadz terbaik dalam padepokan Kun Billah, menduduki posisi tersebut pada usia 25 tahun.