JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Pertemuan Para Petinggi


Raut wajah Mbah Jena banyak berubah ketika kembali, jauh lebih buruk dari sebelumnya dan dipenuhi kemarahan. Tidak lama setelah Mbah Jena kembali, dia menyatakan perang terbuka pada Pangeran Bruno.


"Situasi Mallorca menjadi tidak terkendali, Mbah Jena berniat membawa semua pengikutnya untuk menyerbu kediaman Pangeran Bruno." Taimiyah menambahkan.


Taimiyah dan Baron dari padepokan yang lain menghentikan Mbah Jena untuk mengubah Mallorca menjadi medan pertempuran.


Siti Adawiyah yang masih dalam kondisi sakit meninggalkan ruangannya untuk menenangkan Mbah Jena. Siti Adawiyah meminta agar Mbah Jena membuat acara pertemuan.


"padepokan Budi Suci dan Padepokan Kun-Billah telah mengirim perwakilan mereka yang akan menampakkan diri malam ini." Gus Mukhlas menjelaskan semua anggota Padepokan Kun-Billah akan ikut memberikan penghormatan malam ini.


Asrul mengangguk pelan, menandakan dia mengerti situasi yang sedang berlangsung. Taimiyah mengajak Asrul mengikutinya untuk menikmati hidangan sementara Gus Mukhlas membaca buku di ruangannya.


"Asrul, Seperti yang kau dengar situasinya menjadi lebih buruk dari sebelumnya, jika kau bisa membantu ini adalah saatnya." Taimiyah berkata pelan.


"Aku akan pergi meninggalkan Mallorca beberapa waktu setelah berkunjung." Jawab Asrul singkat.


Taimiyah mengangguk pelan, dia menceritakan dirinya belum memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah kitab Al Hikam pada Mbah Jena. "Putri Siti Adawiyah terlihat lesu dan murung karena kehilangan, kuharap kau bisa membantu menghibur hatinya."


"Ketua, untuk saat ini sepertinya diluar kemampuanku." Asrul menggelengkan kepala pelan, mengobati hati seseorang tidak pernah menjadi perkara mudah dan pastinya memakan waktu yang tidak sebentar.


Taimiyah tersenyum pahit, dia tidak banyak lagi berkata-kata setelahnya. Keduanya pergi ke ruang makan dan menyantap hidangan bersama tanpa membicarakan apapun.


Asrul kembali ke ruangannya setelah makan, dia menemukan sudah ada sepasang pakaian baru yang sesuai ukuran tubuhnya telah tersusun rapi di atas tempat tidurnya. Pakaian tersebut telah disiapkan untuk menghadiri acara nanti malam.


Asrul menaikkan alisnya ketika melihat ada sepucuk surat di atas pakaian tersebut, ketika dia membukanya sebuah senyuman menghiasi bibirnya.


"Tidak kusangka, dalam waktu begitu singkat Asosiasi kitab suci sudah memiliki pengaruh sebesar ini." Asrul menggelengkan kepala pelan.


Surat tersebut memang berasal dari Asosiasi kitab suci yang mengabarkan bahwa informasi yang telah dirinya berikan terkait sepuluh orang pendekar ahli ternyata akurat dan mereka berhasil merekrut sepuluh pendekar tersebut tanpa masalah berkat informasi darinya.


Asosiasi kitab suci ingin memberikan bayaran pada Asrul tetapi mereka belum memiliki pengaruh untuk memasuki Mallorca sehingga meminta Asrul mendatangi asosiasi mereka untuk mengambil haknya.


"Biarpun mereka belum bisa leluasa memasuki Mallorca tetapi Asosiasi kitab suci sudah memiliki mata dan telinga di tempat ini. Asosiasi ini sungguh mengerikan, tidak heran mereka akhirnya menjadi kelompok netral terkuat yang ada di Mallorca nantinya."


Asrul kini sungguh berharap bisa mendapatkan dukungan Asosiasi kitab suci setelah melihat kemampuan mereka namun dia sadar tidak akan mudah.


Sambil menunggu malam tiba, Asrul mengambil sebuah buku kosong dan mulai menuliskan informasi-informasi yang mungkin bisa menarik perhatian Asosiasi kitab suci serta dapat dijual dengan harga yang mahal.


Asrul juga memikirkan cara agar dirinya memiliki pengaruh dalam Asosiasi tersebut namun sungguh tidak akan mudah dengan kemampuannya saat ini. Andaikan Asrul memiliki kekuatan yang besar maka Asosiasi kitab suci tidak akan berani mencoba mempermainkannya, namun tanpa kemampuan yang memadai bisa jadi Asrul dimanfaatkan tanpa mendapatkan keuntungan sedikitpun.


Asrul membuka pintu kamarnya, dia baru selesai berganti pakaian serta menyimpan buku yang baru ditulisnya pada jubahnya. Asrul berencana meninggalkan istana jadi dia juga membawa medali emas yang diberikan Taimiyah padanya.


"Aku sudah siap sejak tadi guru." Asrul memberi hormat pada Gus Mukhlas.


"Baik, mari kita berangkat. Taimiyah seharusnya sudah berada di sana."


Keduanya menuju ke ruang aula utama yang kini telah menjadi tempat berlangsungnya acara. Suasananya lebih ramai dari yang dipikirkan. Asrul menebak karena padepokan Budi Suci dan padepokan Kun Billah telah menyatakan dukungan secara terbuka, kebanyakan menteri serta pengusaha menampakkan diri untuk menunjukkan dukungan pada Mbah Jena.


"Sepertinya ada beberapa keluarga bangsawan kecil juga." Batin Asrul saat melihat beberapa pemuda yang memakai jubah dari bahan sutra, sepengetahuannya hanya kalangan bangsawan yang biasa menggunakannya.


Asrul melihat Siti Adawiyah yang terus menangis di depan para tamu dan Siti Adawiyah berdiri mematung di sampingnya dengan tatapan mata yang kosong.


Mbah Jena menerima para tamu penting sambil memasang wajah dingin, Taimiyah terlihat berada di belakangnya bersama seorang pria sepuh.


"Sesepuh yang berdiri di samping Ketua adalah ketua padepokan Serigala Hitam, Baron. Jangan lupa untuk memberi hormat pada ketua Gus Mukhlas nanti." Taimiyah mengingatkan.


Asrul mengangguk pelan. Ketika Asrul berada di depan Siti Adawiyah sekalipun, pandangan gadis tersebut masih kosong dan tidak menyadari keberadaannya.


Siti Adawiyah mengucapkan terima kasih pada Gus Mukhlas tetapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Gus Mukhlas mengajak Asrul memberi salam pada Mbah Jena dan Taimiyah serta Baron.


"Asrul, Maaf tidak bisa memberikan sambutan yang baik untuk kalian." Mbah Jena tersenyum tipis sambil mengelus kepala Asrul, melihat pemuda yang menolong cucunya membuat Mbah Jena sedikit terhibur.


Baron memperhatikan Asrul beberapa saat namun tidak mengeluarkan komentar apapun, Taimiyah menyuruh Asrul istirahat lebih awal setelah selesai berbincang dengan Mbah Jena. Taimiyah mengetahui Asrul akan meninggalkan istana setelah ini.


"Imam Gus Mukhlas, tidak kuduga kita akan bertemu secepat ini lagi."


Ketika Gus Mukhlas dan Asrul selesai menyapa Mbah Jena, seorang pemuda yang membawa kipas ditangannya mendekati keduanya. Pemuda itu bukan orang asing bagi keduanya, dia merupakan Tuan Muda keluarga Teratai yaitu Faisal yang beberapa waktu lalu berhasil lolos dari tangan Organisasi Silver Hawk berkat bantuan Gus Mukhlas.


"Tuan Muda Faisal, senang bertemu denganmu lagi." Gus Mukhlas tersenyum lembut menyambut Faisal.


Faisal menceritakan dirinya datang sebagai perwakilan keluarga Teratai untuk memberikan dukungan pada Mbah Jena. Meskipun banyak menteri dan pejabat di Mallorca yang berasal dari keluarga Teratai tetapi mereka tidak bisa mewakili keluarga Teratai karena posisi mereka di pemerintahan.


"Imam Gus Mukhlas, izinkan diriku menjamu kalian besok." Faisal akan tinggal selama beberapa waktu di kediaman Mbah Jena, dia ingin menggunakan kesempatan ini mendekatkan hubungannya dengan Gus Mukhlas.


Asrul tidak luput dari perhatian Faisal. Jika mengingat Elang Besi, Kawamatsu memuji Asrul sebagai ahli yang akan menjadi pendekar hebat di masa depan tentu Faisal berniat membangun hubungan dengannya.


Kawamatsu merupakan salah satu dari tiga pendekar terkuat yang bekerja untuk keluarga Teratai, seumur hidupnya Faisal belum pernah mendengar Kawamatsu memuji seseorang seperti yang diberikannya pada Asrul.