
Setiap Padepokan besar memiliki cara mereka sendiri untuk mengumpulkan informasi jadi tidak sulit bagi Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari maupun Bukit Siguntang untuk mengetahui jumlah sumber daya yang telah Mbah Jena bagikan pada masing-masing Padepokan serta keluarga para bangsawan.
Ketika ketiga kelompok ini mengetahui jumlahnya, mereka hanya bisa terpana dan sulit percaya. Sebab itulah ketiga kelompok ini serempak memberikan perintah agar perwakilan mereka di Mallorca mengunjungi Mbah Jena terkait sumber daya ini.
Asrul bisa memahami reaksi ketiga kelompok ini karena memang sebelum keberadaan Asosiasi kitab suci dikenal luas beberapa tahun lagi, mendapatkan sumber daya sebesar ini adalah mustahil meskipun memiliki jutaan keping emas.
Andaikan Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari dan Bukit Siguntang bekerja sama mengumpulkan sumber daya maka mereka akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan jumlah yang dibagikan oleh Mbah Jena beberapa minggu terakhir.
Dengan kata lain, ketiga kelompok ini juga ingin mendapatkan bagian dari sumber daya yang dimiliki Mbah Jena dan menurut Asrul ini belum bisa dibilang kabar yang baik. Andaikan Mbah Jena tidak menanggani ini dengan bijak maka ketiga kelompok ini mungkin tidak akan bergerak saat Asosiasi Intelijen Mafia menyerang Mallorca.
Taimiyah memiliki pikiran yang sama dengan Asrul sehingga wajahnya menjadi sedikit pucat, untungnya Mbah Jena juga menyadari situasi yang sedang dihadapinya.
Keserakahan manusia tidak mengenal golongan, kalimat ini sangat dirasakan oleh Asrul pada kehidupan sebelumnya. Dia sudah melihat banyak orang dari aliran lurus bertindak sama seperti mereka yang berasal dari aliran sesat karena masalah sumber daya. Asrul yakin, ketiga kelompok terkuat aliran putih pun mungkin mengalaminya.
"Tetua semua, masalah ini tidak mudah untukku menjawab. Aku sudah menyediakan jamuan untuk para Tetua, bagaimana jika kita lanjutkan perbincangan setelah menyantap hidangan yang telah kusiapkan?" Mbah Jena akhirnya memilih mengulur waktu karena tidak menemukan jawaban yang tepat.
Sakino ingin menolak ajakan Mbah Jena namun Sobirin menghentikannya, Sa'diyah juga melirik Sakino dengan tatapan tidak senang. Ketiganya memang datang demi mengetahui asal sumber daya yang Mbah Jena dapatkan tetapi mereka tidak boleh bertindak gegabah karena Mbah Jena tetaplah gubernur Mallorca.
Bukit Siguntang terkenal karena kedisiplinan serta moral mereka sementara Markas Cahaya Kebenaran merupakan kumpulan para kiyai yang menjalani kehidupan monastik. Sobirin dan Sa'diyah lebih bisa mengontrol diri sementara Sakino terlalu terburu-buru bahkan terkesan serakah, membuat tiga kelompok terkuat aliran putih terlihat buruk.
"Tentu saja, kami tidak terburu-buru. Waktu juga sudah menunjukkan saatnya makan siang, mari kita hadiri jamuan Mbah Jena terlebih dahulu." Sa'diyah tersenyum lembut.
Sakino tidak berani membantah Sa'diyah karena menyadari kemampuannya bukanlah tandingan wanita paruh baya di hadapannya.
Mbah Jena menuntun ketiganya menuju ruang makan sambil diam-diam memberi kode pada Taimiyah karena membutuhkan solusi secepatnya. Taimiyah meminta Gus Mukhlas agar tetap berada di dekat Mbah Jena setiap waktu, Gus Mukhlas segera mengikuti Mbah Jena setelah mendengar permintaan tersebut.
"Asrul, apa yang harus kita lakukan pada ketiga kelompok ini?" Taimiyah bertanya setelah tinggal dirinya dan Asrul di ruang tamu.
"Ketua menurutku bisa saja membiarkan Markas Cahaya Kebenaran, Bukit Siguntang dan Padepokan Tedari mendapatkan bagian dari sumber daya ini selama mereka membelinya dari Mbah Jena." Asrul mengeluarkan pendapatnya.
"Bagaimana jika mereka tidak bersedia membayar?" tanya Taimiyah lebih jauh.
"Bisa saja mereka mendapatkan sumber daya tanpa membayar tetapi sebagai gantinya mereka harus memberikan dukungan pada Mbah Jena menghadapi kubu Bruno. Hanya saja kupikir Mbah Jena tidak akan sanggup menyediakan sumber daya untuk ketiga padepokan tersebut bersamaan meskipun tidak lagi memberikan sumber daya pada dua puluh Padepokan yang mendukungnya serta empat keluarga bangsawan lain." Asrul tersenyum pahit.
"Asrul, Apa kau yakin bisa memenuhi sumber daya yang dibeli oleh ketiga kelompok ini. Keuangan mereka bisa dibilang lebih baik dari Mallorca sekalipun, sangat mudah bagi Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari maupun Bukit Siguntang untuk mengeluarkan seratus atau dua ratus ribu keping emas. Yang berarti kau harus menyediakan sumber daya senilai tiga sampai enam ratus ribu keping emas." Taimiyah menghela nafas panjang, menurutnya jumlah sumber daya tersebut sangat luar biasa dan akan meningkatkan kekuatan padepokan manapun yang mendapatkannya.
Asrul berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ketua, selama mereka tidak memiliki permintaan khusus sumber daya yang diinginkan, aku cukup yakin bisa menyediakannya tetapi andai mereka menginginkan pil tertentu atau lainnya, akan butuh waktu untuk memenuhinya."
Taimiyah mengelus janggutnya beberapa saat sebelum mengangguk pelan dan mengajak Asrul menuju ke ruang makan.
Mbah Jena menjamu ketiga tamunya dengan baik, Sobirin memuji hidangan yang disediakan olehnya. kiyai dari Markas Cahaya Kebenaran memang tidak menyantap daging-daging sebagai bagian dari kehidupan monastik mereka.
Sakino terlihat tidak begitu nafsu makan karena pikirannya masih pada masalah sumber daya sementara Sa'diyah memilih memusatkan perhatiannya pada hidangan yang ada dihadapannya.
Taimiyah mendekati Mbah Jena dan membisikkan sesuatu padanya tanpa menarik perhatian ketiga pendekar hebat tersebut. Wajah Mbah Jena menjadi lebih cerah setelah mendengar isi bisikan tersebut.
Selesai menyantap hidangan, Sakino segera mendesak untuk melanjutkan diskusi mereka yang tertunda sebelumnya, sikapnya membuat Sobirin tersenyum pahit dan Sa'diyah mendengus kesal karena merasa dipermalukan oleh sikap Sakino.
"Para Tetua, masalah sumber daya ini, Bagaimana jika begini..." Mbah Jena mulai menjelaskan pada ketiganya sesuai diskusi antara Taimiyah dengan Asrul.
Sakino yang pertama menunjukkan raut wajah tidak senang, dia tidak menduga Mbah Jena menolak memberitahu asal dari sumber daya tersebut melainkan meminta dia dan dua orang lainnya membeli sumber daya darinya.
Ketiganya sudah menyadari kota Mallorca tidak memiliki kemampuan mengumpulkan sumber daya seperti ini, mereka berasumsi Mbah Jena berhasil membangun relasi dengan sebuah kelompok yang mampu menjual sumber daya dalam jumlah besar.
Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari dan Bukit Siguntang mendatangi Mbah Jena dengan harapan Mbah Jena bersedia menghubungkan perwakilan ketiga kelompok ini dengan penjual tersebut.
Jika Mbah Jena menjadi penengah, ketiga menyadari Mbah Jena akan mendapatkan keuntungan dari setiap transaksi serta sumber daya terbaik belum tentu jatuh ke tangan ketiga kelompok ini atau setidaknya jumlah sumber daya yang mereka dapatkan lebih sedikit nilainya dari uang yang mereka keluarkan.
Sobirin dan Sa'diyah saling berpandangan, menurut mereka ini masih bisa diterima.