
Padepokan Al Hikmah adalah keluarga bangsawan yang beraliansi dengan padepokan Setia Hati Teratai, Imam Padepokan Kun-Billah yang baru Mbah Jena memiliki istri dari padepokan Tapak Suci yaitu Halimatus Sa'diyah, nenek dari Siti Adawiyah. Padepokan Tapak Suci sendiri merupakan keluarga pedagang paling besar yang memiliki begitu banyak bisnis di seluruh kota Bukit Siguntang.
Padepokan Setia Hati Teratai adalah keluarga bangsawan tertua di Kecamatan Bukit Siguntang, mereka juga keluarga penguasa sebelum digantikan Mbah Jena. Padepokan Kun Billah terkenal sebagai keluarga menteri karena melahirkan begitu banyak sarjana dan hampir 70% menteri serta pejabat penting di pemerintahan berasal dari padepokan Kun Billah.
Padepokan Tapak Suci terkenal sebagai keluarga militer, setiap jendral maupun petinggi militer hampir seluruhnya berasal dari Padepokan Tapak Suci. Jika dinilai dari kekuatan tempur, Padepokan Tapak Suci mengimbangi padepokan besar karena jumlah prajurit yang mereka miliki.
Gus Mukhlas selalu berpesan pada Asrul sebelumnya untuk menghindari berurusan dengan salah satu dari lima padepokan ini sebisa mungkin karena mereka adalah orang-orang penuh siasat. Gus Mukhlas juga tidak pernah menduga dia akan menjadi dekat dengan Mbah Jena, bisa dibilang baik Gus Mukhlas maupun Asrul memiliki hubungan dekat pada Padepokan Kun-Billah.
Dua orang pengawal rombongan menyadari kehadiran Gus Mukhlas dan Asrul, mereka lalu mendekati keduanya.
"Siapa kalian? Beraninya mendekati rombongan ini?" kata salah satu pengawal tersebut.
"Maaf, kami tidak mengetahui sebelumnya. Kami akan menjaga jarak." Gus Mukhlas menjawab sambil tersenyum.
Asrul melihat dua pengawal di hadapan mereka adalah pesilat kelas tiga, Gus Mukhlas bisa saja menghabisi keduanya dalam satu serangan tetapi Asrul memahami alasan Gus Mukhlas memberi muka pada keduanya.
Tujuan keduanya adalah mencapai kota Mallorca secepatnya jadi sebaiknya menghindari masalah yang tidak perlu. Gus Mukhlas dan Asrul akhirnya berhenti melangkah dan membiarkan rombongan tersebut mengambil jarak dengan mereka.
"Guru, bukankah lebih mudah jika kita mendahului mereka? Sepertinya kecepatan perjalanan mereka lambat karena membawa banyak barang." Tanya Asrul.
"Saat malam hari tiba, mereka akan istirahat lebih awal daripada kita karena kuda mereka pasti kelelahan... Ketika itulah kita akan melewati mereka." Jelas Gus Mukhlas.
Sejauh yang Gus Mukhlas ketahui kebanyakan bangsawan sangat mementingkan harga diri mereka dan mudah tersinggung atas tindakan-tindakan yang sederhana. Gus Mukhlas memang memiliki beberapa pengalaman karena ada misi yang membuatnya berurusan dengan padepokan besar, salah satunya Padepokan Setia Hati Teratai.
"Selain itu mereka membawa banyak barang berharga, ada kemungkinan perjalanan mereka sudah diketahui oleh perampok. Jika kita mendahului mereka pada saat hari terang seperti ini ada kemungkinan para perampok yang mengincar mereka akan menghadang perjalanan kita." Gus Mukhlas menambahkan.
Asrul mengangguk pelan, dia tidak berpikir sejauh itu jika bukan karena analisa Gus Mukhlas.
"Sepertinya kedamaian selama dua tahun terakhir membuat pemikiranku terhadap situasi seperti ini menjadi tumpul." Asrul menundukkan kepala dan merenungkan banyak hal.
Waktu terus berlalu dan saat matahari hampir terbenam, rombongan kereta tersebut berhenti.
Gus Mukhlas dan Asrul kembali berada cukup dekat dengan rombongan tersebut, keduanya berniat untuk terus melanjutkan perjalanan tetapi lagi-lagi ada beberapa pengawal yang menghadang keduanya.
"Bukankah sudah kubilang kalian harus menjaga jarak?" kata pengawal yang mendatangi Gus Mukhlas sebelumnya.
Gus Mukhlas masih menjelaskan baik-baik bahwa dia dan Asrul sedang terburu-buru. Keduanya ingin terus melanjutkan perjalanan sehingga harus melewati rombongan ini.
"Apa kalian tidak merasa itu berlebihan?" Asrul tidak bisa menahan diri lagi melihat tingkah para pengawal ini.
"Hai pemuda ingusan! Engkau telah membuat masalah dengan mengatakan demikian. Sekarang pergilah kalian berbalik arah, sebelum kalian tidak bisa kembali."
"jaga ucapanmu keparat, sejak tadi aku sudah menahan diri untuk tidak berurusan dengan kalian. Sekarang kalian malah memprovokasi kami!" Bentak Gus Mukhlas.
Asrul tersenyum tipis melihat Gus Mukhlas membelanya. Kini Asrul mengetahui bahwa Gus Mukhlas mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi muridnya.
Tatkala pengawal itu hendak mengeluarkan samurai dari sarungnya, tiba-tiba keluar seorang pemuda dari dalam kereta.
"Hentikan!! Jangan bertarung dengan Gus Mukhlas! Pengawal, kembali ke posisi semula." Faisal, Putra kedua dari padepokan Setia Hati Teratai menghampiri Gus Mukhlas dan Asrul.
"Maafkan pengawalku, Imam Gus Mukhlas. Dia tidak mengenal kalian. Senang bertemu dengan Imam Gus Mukhlas. Kalau boleh saya tahu, siapakah pemuda yang bersama Imam Gus Mukhlas? Sepertinya aku pernah mengenalnya." Faisal sedari tadi tidak turun dari kereta karena masih berfikir siapakah pemuda yang bersama Gus Mukhlas.
"Salam tuan Faisal. Saya Asrul. Apakah tuan Faisal lupa denganku?" Walaupun sudah lebih dari seratus tahun tidak bertemu, Asrul masih mengenal teman kecilnya. Saat kecil, Asrul membantu ibunya bekerja di rumah orang tua Faisal.
"Owh, apakah engkau Asrul? Bukankah engkau telah meninggalkan kota Bukit Siguntang?" Faisal kaget dengan adanya Asrul masih berada di wilayah Bukit Siguntang.
Asrul telah pamit kepada keluarga Teratai setelah kematian kedua orangtuanya. Faisal memperoleh kabar dari warga bahwa Asrul telah tewas di serbu warga. Tentu saja Faisal tidak serta-merta mengungkapkan apa yang telah dia dengar, khawatir nanti Asrul tidak menyukainya.
"Ya benar tuan Faisal, tentunya engkau telah mendengar kabar bahwa warga telah menganggap diriku tiada." Asrul menceritakan semuanya sambil tertunduk.
Sementara Gus Mukhlas berusaha mengembalikan situasi dengan mengalihkan alur pembicaraan. "Sepertinya tuan Faisal sedang mempersiapkan sebuah pertunangan di luar kota. Benarkah tuan?"
"Ya benar Imam. Saya hendak melamar seorang gadis putri pengusaha konveksi di kota Kemuning. Oh iya. Berhubung hari sudah menjelang malam, bagaimana kalau Imam menemani kami bermalam di sini." Faisal berusaha menebus kesalahan pengawalnya yang telah menyinggung Gus Mukhlas.
Gus Mukhlas sangat mengerti kebiasaan keluarga Teratai, mereka sangat berpantangan jika permintaannya di tolak. Karena itulah Gus Mukhlas menyetujuinya.
"Baiklah jika kehendak tuan Faisal demikian."
Dalam perjamuan makan malam, Faisal mempertanyakan kepada Gus Mukhlas tentang peristiwa penggrebekan warga terhadap Mbah Jena dan Asrul. Tentu saja Gus Mukhlas merahasiakan soal misinya untuk menyelamatkan Kitab Al-Hikam.
"Apakah ustadz tidak beserta Mbah Jena saat kejadian di kota Bukit Siguntang?" Faisal bertanya sambil menunduk, khawatir Gus Mukhlas tersinggung.
"Saat peristiwa itu terjadi, kebetulan saya sedang menjalankan sebuah misi dari Mbah Jena. Tapi semua baik-baik saja. Sebelum pergi, Mbah Jena sempat menitipkan seorang muridnya kepadaku sebelum beliau meninggalkan kota Bukit Siguntang. Inilah Asrul, murid Mbah Jena yang di titipkannya kepadaku."