
Melihat tahanan tersebut masih diam dan menutup mata, Asrul menginjak kaki kiri tahanan tersebut dengan keras membuat beberapa jari kaki tahanan itu mengeluarkan suara yang terdengar seperti tulang yang hancur.
"ARRRGGGHHHH!” Tahanan tersebut tidak bisa menahan rasa sakitnya. Asrul menyumpal mulut tahanan tersebut dengan kain karena teriakan tersebut cukup menarik perhatian.
Gus Mukhlas sangat kaget melihat tindakan Asrul, dia tidak menduga muridnya itu akan menggunakan kekerasan untuk mengorek informasi dari tahanan mereka.
Melihat tahanan tersebut berhenti berteriak, Asrul baru melepaskan kain dari mulut anggota kelompok Aliran Keras itu.
"Jika tidak ingin lebih menderita, cepat katakan semua yang ingin ku ketahui atau kau akan menyesalinya...
Nafas tahanan tersebut tertahan, dia tidak pernah menduga akan tiba hari dirinya diinterogasi oleh Asrul. Terlebih lagi tahanan tersebut bisa merasakan Asrul mengatakan ancaman dengan nada yang begitu dingin serta nafsu membunuh yang tidak disembunyikan sedikitpun.
"Kalian pikir aku takut mati? Kami kelompok Aliran Keras memang bukan orang suci tetapi kami tidak akan mengkhianati saudara-saudara kami! Lebih baik kau membunuhku daripada berharap aku memberitahu yang kalian inginkan." Tahanan tersebut menjawab sambil mendengus kesal setelah dapat menenangkan dirinya.
Asrul tertawa keras mendengar jawaban tersebut namun ketika tawanya berhenti, tatapan Asrul menjadi begitu dingin.
Tahanan tersebut tidak bisa menahan diri untuk menelan ludahnya, melihat anak kecil di hadapannya mampu memberikan tatapan yang seperti itu sungguh membuatnya tidak tenang.
"Asrul... Jangan bertindak gegabah..." Gus Mukhlas juga menyadari perubahan mata Asrul.
"Guru tidak perlu khawatir, tetapi kita perlu peta wilayah sekitar sini untuk menandai lokasi. Aku akan membujuknya baik-baik, Bagaimana jika Guru mencari peta tersebut?" bujuk Asrul.
Gus Mukhlas sedikit ragu meninggalkan Asrul berdua dengan tahanan mereka, tetapi dia memahami bahwa tahanan ini tidak akan dapat melakukan apa-apa pada Asrul.
Akhirnya Gus Mukhlas setuju untuk pergi meminta peta wilayah ini, dia yakin dirinya pergi tidak lama jadi Asrul seharusnya tidak melakukan sesuatu yang membahayakan tahanan mereka.
Ketika Gus Mukhlas keluar dari ruangan, sinar mata Asrul kembali berubah menjadi lebih dingin lagi, membuat tahanan yang menerima tatapan tersebut tidak bisa berhenti bergetar tubuhnya.
"Kau tidak takut mati? Jika kau tidak mengatakan semua yang ingin ku ketahui maka kau akan memahami bahwa kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti..." Asrul tersenyum dingin sebelum menyumpal mulut tahanan tersebut dengan kain.
Gus Mukhlas ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari dugaannya untuk mendapatkan peta yang dibutuhkan. Gus Mukhlas tidak mengetahui yang muridnya lakukan pada tahanan tersebut namun ketika dia kembali ke ruangan itu, tahanan itu terlihat sangat pucat dan menjadi begitu patuh.
Tahanan itu tidak hanya menandai semua lokasi markas kelompok Aliran Keras yang dia ketahui tetapi juga bicara tanpa henti tentang rahasia yang dimiliki oleh kelompok mereka serta rincian jumlah anggota kelompok Aliran Keras yang ada di setiap markas. Tahanan itu bicara seolah ini terakhir kalinya dia bisa bicara seumur hidupnya.
"Asrul, Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya?" tanya Gus Mukhlas keheranan.
"Guru, aku hanya membujuknya baik-baik." Jawab Asrul sambil tersenyum puas.
"Kita tidak bisa sepenuhnya percaya semua yang dia katakan, bisa jadi ada informasi yang dipalsukan olehnya seperti jumlah perampok maupun tingkat kemampuan bela diri pemimpin setiap markas ini.” Kata Gus Mukhlas sambil membaca kembali peta yang kini telah di tandai.
Perasaan Gus Mukhlas bercampur aduk ketika mengetahui di wilayah sekitar kota ini saja ada dua markas kelompok Aliran Keras dan di seluruh wilayah ini ada tujuh markas cabang. Menurut pengakuan tahanan mereka, tidak ada keberadaan satupun Jendral mereka di wilayah ini.
"Petinggi kelompok Aliran Keras yang pertama kabarnya sedang di kota Mallorca, apa mungkin masalah di kota Mallorca juga berkaitan dengan mereka?" Gus Mukhlas mengelus dagunya.
Ketika Asrul mendengar petinggi Pertama kelompok Aliran Keras sekaligus jagoan paling hebat dalam kelompok Aliran Keras tersebut berada di kota Mallorca, reaksi Asrul tidak berbeda jauh dengan Gus Mukhlas.
Asrul cukup yakin keberadaan pimpinan kelompok Aliran Keras tersebut berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh Imam Besar karena masalah yang terjadi sekarang di kota Mallorca tidak ada pada kehidupan Asrul yang sebelumnya.
"Aku tidak menduga perubahan yang terjadi begitu besar karena kelompok Aliran Keras tetap ada sampai sekarang..." batin Asrul ketika menyadari sepertinya semua kejadian dalam kehidupannya ini akan semakin jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
"Meskipun masa depan penuh ketidak pastian, selama aku memiliki cukup kekuatan seharusnya aku bisa menghadapi semuanya..." Asrul menyadari berharap semua berjalan sesuai ingatannya sudah tidak memungkinkan sehingga yang bisa dia lakukan adalah terus memperkuat diri secepat yang dia bisa.
"Asrul, meskipun kita mendapatkan lokasi tujuh markas kelompok Aliran Keras, kita tidak bisa mendatangi semuanya." Gus Mukhlas berencana menghilangkan dua cabang kelompok Aliran Keras yang berada di dekat kota ini, setelah itu keduanya kembali meneruskan perjalanan ke kota Mallorca.
Asrul tidak begitu puas dengan keputusan tersebut tetapi hanya bisa menerimanya. Gus Mukhlas menjelaskan urusan kelompok Aliran Keras ini akan dilanjutkan dengan bantuan Kawamatsu serta Mbah Jena. Tidak akan sulit menghabisi kelompok Aliran Keras ini jika kota Mallorca ikut menggerakkan kekuatan penuh mereka.
Gus Mukhlas menyuruh Asrul berkemas karena ingin segera meninggalkan kota untuk menyerang salah satu markas kelompok Aliran Keras.
Saat keduanya tiba di gerbang kota terlihat masih banyak penduduk serta para penjaga yang berada di sana. Gus Mukhlas lalu menjelaskan dia akan pergi bersama Asrul untuk menghancurkan markas para kelompok Aliran Keras.
Asrul tersenyum tipis ketika melihat penduduk kota tidak memberikan reaksi apapun, sepertinya mereka berpikir Gus Mukhlas dan Asrul berniat kabur setelah tidak mampu menghabisi para perampok.
Gus Mukhlas bisa mendengar para warga berdiskusi untuk meninggalkan kota ini, jelas mereka tidak percaya Gus Mukhlas bisa menyelesaikan masalah mereka setelah semua yang terjadi.
Gus Mukhlas mulai merasa keputusannya membiarkan para anggota kelompok Aliran Keras kabur adalah sebuah kesalahan, "Terlepas dari itu, aku tidak bisa membiarkan Asrul membunuh sesuka hatinya seperti itu..."
Asrul tidak menyalahkan Gus Mukhlas karena terlepas dari kemampuan bela dirinya yang tinggi, Gurunya tersebut masih berusia muda dan bisa dibilang kurang berpengalaman dalam mengambil keputusan mendesak. Salah satu alasan Asrul bersikeras ingin menghancurkan markas-markas kelompok Aliran Keras adalah demi menambah pengalaman Gus Mukhlas juga tentang dunia persilatan.
"Guru punya kemampuan hanya dia belum melihat lebih luas dunia ini seperti aku dulu..." Asrul tersenyum tipis sambil berjalan di samping .
"Para anggota kelompok Aliran Keras ini antara tidak punya modal atau terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka." Gumam Asrul pelan.