
Keduanya yakin jumlah yang Asrul tawarkan juga sulit memenuhi kebutuhan kota Mallorca saja karena itu memintanya untuk tidak dijual keluar.
"Perkiraanku setiap hari aku bisa menyediakan beberapa ratus Ginseng selama setidaknya sepuluh sampai lima belas tahun." Asrul mengatakan jumlahnya setelah mendengar keduanya setuju atas permintaannya.
"Ratusan?!"
"Setiap hari?!"
Yanti dan Anita sama-sama hampir lompat dari tempat duduk saat mendengarnya.
"Tuan Muda Asrul... Ini..." Yanti maupun Anita menunjukkan kegelisahan.
Ginseng paling muda untuk dipanen berusia sekitar seratus tahun dengan harga berkisar antara 80 sampai seratus keping emas. Andaikan semua ginseng yang dipanen berusia seratus tahun dan Asrul menjual pada mereka dengan harga terendah yaitu 70 keping emas per ginseng, seratus ginseng perhari saja sudah bernilai tujuh ribu keping emas.
Asrul berani mengatakan beberapa ratus jadi setidaknya Asosiasi kitab suci harus mengucurkan dana sekitar sepuluh ribu keping emas perhari untuk membeli semua hasil panen tersebut. Meskipun Ginseng memiliki banyak peminat, mereka tidak membutuhkan sebanyak itu, lebih tepatnya mereka tidak akan sanggup menjual semuanya jika hanya mengandalkan pasar kota Mallorca.
"Ginseng memang bagus untuk mengembangkan generasi muda namun tidak akan banyak padepokan yang bersedia membelinya dalam jumlah banyak. Kebutuhan akan sumber daya lain juga pasti mempengaruhi penjualannya." Yanti menjelaskan.
"Aku memahaminya, jika demikian aku akan memberi waktu pada asosiasi untuk membangun pasar tersebut, masalah ini akan kita bicarakan lagi setelah aku kembali ke Bukit Siguntang." Asrul mengangguk pelan.
Yanti terlihat bimbang, dia menyadari sulit bagi mereka sekalipun untuk menjadi distributor tunggal Ginseng namun dia tidak rela jika akhirnya tidak bisa ikut ambil bagian dari bisnis ini. Ginseng sangat berharga, andai Asrul setuju untuk disebarkan penjualannya pada kota Sekayu, Yanti tidak akan takut tidak mendapatkan pembeli.
"Yanti tidak perlu khawatir, aku tidak buru-buru. Kita akan mencari solusi terbaik serta menguntungkan kedua belah pihak." Asrul sama sekali tidak berniat memilih kelompok lain untuk membeli Ginseng, dia memiliki alasan kuat untuk melakukan itu namun Yanti dan Anita tidak mengetahuinya.
"Asrul! Kemana saja dirimu?! Kau sadar tidak sejak tadi orang mencarimu!"
Asrul kaget ketika menemukan Taimiyah berlari ke arahnya pada saat dirinya baru memasuki kediaman Mbah Jena.
Taimiyah menjelaskan sekitar sejam yang lalu mereka menyadari Asrul sama sekali tidak terlihat, Gus Mukhlas pergi ke ruangannya dan tidak menemukan Asrul di sana. Taimiyah dan Gus Mukhlas menjadi khawatir, mereka meminta beberapa orang mencarinya namun Asrul sama sekali tidak ditemukan, ini membuat banyak orang panik.
Semua orang yang terlibat dalam pertempuran semalam mengetahui bahwa peran Asrul begitu besar terutama setelah terungkap Asrul yang melepaskan kembang api berwarna perak yang membuat datangnya bala bantuan. Banyak orang yang meninggalkan pekerjaan yang sedang mereka lakukan untuk membantu mencarinya. Ketika seorang pelayan melihat Asrul berjalan santai menuju kediaman Mbah Jena, pelayan tersebut mengabari Taimiyah.
"Ketua, aku pergi mencari obat. Aku membawa pil penyembuh yang bisa membantu mereka yang dalam kondisi kritis." Asrul menyerahkan sebuah peti kayu berukuran cukup besar yang dibawanya.
Taimiyah menghela nafas, dia tersenyum tipis kemudian mengingatkan Asrul untuk memberi kabar padanya jika ingin meninggalkan istana seperti sekarang.
Pada malam hari Taimiyah mendatangi kamarnya, berkata ingin membahas sesuatu terkait masalah sumber daya.
"Mbah Jena memintaku tetap tinggal di Mallorca untuk menjadi penghubung dengan penyedia sumber daya setelah dia diangkat menjadi gubernur Mallorca sebulan lagi, kurasa sudah saatnya dia mengetahui kebenarannya. Bagaimana rencanamu terkait hal ini?" Taimiyah tidak menjelaskan panjang lebar karena dia yakin Asrul memiliki kecerdasan dan mengerti situasi yang sedang berlangsung, terutama Mbah Jena sangat membutuhkan dukungan ketiga kelompok terkuat untuk membuat stabil posisinya.
Asrul menjelaskan niatnya mempertemukan Mbah Jena dengan penyedia sumber daya sehingga Bukit Siguntang tidak lagi terlibat dalam urusan ini.
Taimiyah menaikan alisnya, dia tentu berharap tetap dapat terlibat dan mengambil keuntungan dari transaksi ini, karena dirinya dianggap sebagai penghubung, Mbah Jena selalu memberikan sumber daya terbaik padanya. Andaikan Mbah Jena bisa berhubungan langsung dengan penyedia sumber daya maka kemungkinan sumber daya terbaik akan dikirim kepada ketiga kelompok terkuat aliran putih.
"Andai aku tidak melakukannya pun suatu hari penyedia sumber daya ini akan menghubungi Mbah Jena dan melakukan transaksi langsung padanya, sebelum itu terjadi bukankah lebih baik kita yang melepas? Setidaknya akan membuat Mbah Jena yang sebentar lagi menjadi gubernur Mallorca berhutang budi pada Bukit Siguntang."
Penjelasan Asrul dapat diterima oleh Taimiyah, hanya saja pria tua tersebut menginginkan keuntungan untuk mengembangkan Bukit Siguntang.
"Masalah keuntungan, aku juga sudah menyiapkan solusi untuk kondisi keuangan Bukit Siguntang." Asrul mengeluarkan Ginseng kemudian menjelaskan dirinya ingin Bukit Siguntang memanen ginseng ini dan menjualnya pada sebuah kelompok yang dia tentukan.
"Aku akan memberitahukan lokasinya tetapi sebagai gantinya, aku ingin 10% dari hasil panen sebagai sumber daya latihanku." Asrul menawarkan.
Taimiyah memasang senyum terlebar yang bisa dia lakukan, permintaan Asrul langsung dia penuhi tanpa pikir panjang. Ketika mengetahui lokasi tambang emasnya ternyata berada di halaman belakang sektenya sendiri, Taimiyah hampir mengumpat keras.
"Itu sebabnya kutemukan dirimu di tepi Sungai Seribu Mil? Kau sedang memanen ginseng?"
Asrul mengangguk pelan sambil tersenyum canggung, Anita ingin mencubit pipinya karena menyembunyikan informasi sepenting ini selama beberapa tahun. Hanya saja Taimiyah menghargai tindakan Asrul dan memenuhi semua janjinya.
"Tidak perlu khawatir, sesuai janji sepuluh persen hasil panen akan menjadi milikmu." Taimiyah menepuk pundak Asrul.
Taimiyah mengatakan akan butuh waktu beberapa hari sampai situasinya lebih tenang barulah dia akan mengajak Mbah Jena menemui Asrul terkait masalah sumber daya.
Asrul tidak ikut campur masalah kediaman Mbah Jena maupun istana, selama beberapa hari berikutnya Asrul tidak meninggalkan kamarnya dan terus berlatih Aura tasawuf, dia meminta Taimiyah agar memastikan tidak ada yang bertamu dengannya. Asrul mengetahui Zeni dan beberapa orang lain berusaha mendekati Asrul setelah melihat kemampuan serta potensinya dalam malam pertarungan itu.
Suatu malam Taimiyah membawa Mbah Jena menemui Asrul di kamarnya, Mbah Jena sangat terkejut ketika mengetahui Asrul lah yang sebenarnya menjadi penghubung dengan asal sumber daya yang dia beli.
"Asrul, kau tidak berhenti mengejutkanku. Saudara Gus Mukhlas sekalipun tidak mengetahui hal ini?" Mbah Jena tersenyum canggung ketika mendengar kisah lengkapnya.