JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Penginapan Taman Kenten


"Jika kau memang tidak memiliki tujuan, bagaimana jika kau ikut denganku? Mungkin memang engkau orang yang di titipkan oleh Mbah Jena, aku menerima titipan dari Mbah Jena, kau bisa jadi muridku..."


Gus Mukhlas belum selesai bicara tetapi Asrul sudah mulai bersujud di hadapannya dan mencium tangan Gus Mukhlas, sebelum kembali memanggil Gus Mukhlas sebagai Guru Mukhlas. Semua sikap Asrul ini membuat Gus Mukhlas sedikit cemas, tetapi pada akhirnya Guru dan murid ini kembali bersama di kehidupan ini.


satu hari telah berlalu sejak Asrul resmi menjadi murid Gus Mukhlas, mereka sudah meninggalkan hutan dan Gus Mukhlas mengajak Asrul kembali ke padepokan namun perjalanan mereka cukup panjang.


Gus Mukhlas yang sebelumnya merasa cemas, perlahan-lahan mulai berubah pandangan. Bukan hanya Asrul adalah murid yang baik dan penurut tetapi juga begitu menghormati Guru dan berbakti, membuat Gus Mukhlas kini memandangnya sebagai pemuda berbakat.


"Dunia persilatan adalah dunia yang kejam, tetapi selama kau berlatih dengan giat maka setidaknya kau akan bisa bertahan hidup dengan baik."


Dalam perjalanan Gus Mukhlas memang tidak banyak menceritakan tentang padepokan mereka melainkan memilih memberikan gambaran suasana dunia persilatan pada Asrul.


Asrul merasa sedikit canggung menghadapi Gus Mukhlas, karena sikap Gus Mukhlas begitu berbeda padanya dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya tetapi Asrul memahaminya.


Pada kehidupan sebelumnya Asrul merupakan seorang pemuda berusia 19 tahun yang mengalami trauma, penjelasan ini jika disampaikan Gus Mukhlas kepada Asrul, hanya akan membuat Asrul memilih untuk menjauh dari dunia persilatan.


Gus Mukhlas menjelaskan seperti ini pastinya karena memandang Asrul sebagai murid yang berbakat serta berani, memang di kehidupan kedua ini Asrul berniat tidak akan lagi mengecewakan Gurunya.


"Asrul, Gurumu ini bukan orang hebat di dunia persilatan dan banyak kekurangan, tetapi Guru harap kau tidak menyesali berada dibawah bimbingan Gurumu ini. Andai suatu hari ada guru yang lebih pantas mendidikmu, Guru akan membiarkan kau berada di bawah bimbingannya." Gus Mukhlas berkata seperti ini sambil tersenyum tipis. Dalam tiga hari saja, Gus Mukhlas merasa Asrul terlalu berbakat untuk berada di bawah bimbingannya.


Biarpun Gus Mukhlas berkata demikian, Asrul mengetahui bahwa Gus Mukhlas sedang merendah. padepokan yang akan menjadi rumah baru Asrul sekaligus tempat Gus Mukhlas berasal adalah padepokan Kun Billah, meskipun tidak bisa dibilang sebagai padepokan besar aliran lurus tetapi tidak terlalu jauh dari itu.


Gus Mukhlas dikenal di dunia persilatan sebagai Ustadz Sorban, kemampuan spiritualnya juga papan atas yang membuatnya menjadi salah satu pesilat handal di padepokannya. Padepokan Kun Billah memiliki dua puluh orang pemimpin yang mengurus padepokan yang disebut Imam. Para Imam yang berjumlah dua puluh orang ini merupakan kumpulan ustadz paling hebat di Padepokan Kun-Billah.


Gus Mukhlas bukan hanya berhasil menjadi Imam paling muda dalam sejarah yaitu saat berusia 19 tahun, tetapi juga murid paling berbakat pada generasinya.


Tentu saja nama Ustadz Sorban bukan didapatkan dari kemampuannya bermain tenaga dalam melainkan hal lainnya.


"Guru, murid hanya akan mengikuti Guru, tidak akan mengikuti yang lain." Asrul menepis niat baik Gus Mukhlas, baginya sungguh Gus Mukhlas hanya satu-satunya orang yang pantas dia panggil Guru di kehidupan sebelumnya.


"Asrul, Dunia persilatan tidak seperti yang kau bayangkan. Tidak ada salahnya memiliki lebih dari satu Guru, bahkan diriku memiliki tiga guru sepanjang hidupku dan mungkin akan bertambah." Gus Mukhlas berkata sambil tersenyum.


Asrul merasa canggung ketika Gus Mukhlas tersenyum, tetapi tidak berkata apa-apa, Bagaimanapun dirinya memiliki mental orang berusia 120 tahun saat ini. Masalah memiliki lebih dari satu guru juga tidak Asrul bantah lebih jauh.


Menurutnya dengan Kitab Al Hikam yang masih ada dalam ingatannya, dia tidak membutuhkan Guru lain. Selama memiliki waktu, Asrul akan mampu menguasai dunia persilatan dan memperbaiki semua penyesalannya di masa lalu.


Memang jalur yang ditempuh Gus Mukhlas dan Asrul merupakan jalur transportasi sehingga tidak jarang ada penginapan serta kedai di sepanjang jalur ini. Beberapa malam terakhir keduanya sudah menginap di alam terbuka, Gus Mukhlas merasa tidak ada salahnya kali ini mereka beristirahat di tempat ini.


Asrul mengerutkan dahinya, selama beberapa hari terakhir dia berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi pada kehidupan pertamanya dimulai dari hari pertemuan dirinya dengan Gus Mukhlas .


"Bukankah harusnya kami mendatangi penginapan ini setelah lima hari perjalanan?" batin Asrul saat memandang penginapan di hadapannya.


Asrul cukup mengingat penginapan ini karena pada kehidupan sebelumnya saat dia melewatinya, penginapan ini telah menjadi reruntuhan serta dipenuhi banyak jasad. Asrul bahkan kehilangan kesadaran ketika menemani Gus Mukhlas memeriksa kondisi di dalam reruntuhan tersebut.


Pada kehidupan sebelumnya Asrul berjalan dengan lambat tanpa semangat hidup sehingga membutuhkan waktu jauh lebih lama tiba di tempat ini, sebaliknya sekarang dia berjalan dengan penuh semangat bersama Gus Mukhlas. Asrul tidak mengetahui apa yang terjadi di penginapan ini dulunya tetapi pastinya bukan sesuatu yang baik.


"Bisa saja semua itu terjadi malam ini..." Asrul berbisik pelan, khawatir dirinya dan Gus Mukhlas dalam bahaya.


"Asrul, Apa yang kau pikirkan? Ayo masuk...


"Guru, Apakah tidak sebaiknya kita melanjutkan perjalanan saja? Murid tidak sabar melihat tempat tinggal yang baru.." Asrul tersenyum canggung.


Gus Mukhlas tersenyum lembut dan mengelus kepala Asrul, menjelaskan bahwa padepokan mereka tidak akan pergi kemana-mana sehingga mereka tidak perlu buru-buru.


Asrul menggaruk kepalanya yang mulai terasa sakit, sebuah keajaiban dirinya bisa mengalami kehidupan kedua. Asrul tidak ingin terbunuh beberapa hari setelah kelahiran kembalinya, meskipun Gus Mukhlas memiliki ilmu silat yang tinggi tetapi Asrul tidak ingin mengambil resiko.


"Jika aku bersikeras menolak memasuki penginapan, Guru pasti menjadi curiga apalagi jika nanti dia mendengar sesuatu terjadi pada penginapan ini... Asrul merasa dilema, tanpa pilihan dia mengikuti Gus Mukhlas memasuki penginapan.


Asrul hanya bisa berharap bahwa kejadian mengerikan itu tidak terjadi malam ini karena Asrul tidak bisa membantu Gus Mukhlas andai terjadi sesuatu nanti.


Keduanya kemudian memasuki penginapan yang bernama penginapan Taman Kenten.


Penginapan Taman Kenten begitu sederhana, berbentuk bangunan dua lantai yang menyediakan empat ruangan untuk di booking. Gus Mukhlas memesan satu ruangan yang berada di lantai dua serta memesan beberapa makanan untuk disantap di ruangan mereka.


"Asrul, kau selama ini hanya makan biskuit, sekarang makanlah yang banyak."


Beberapa hari terakhir Gus Mukhlas hanya bisa memberikan Asrul biskuit jadi kali ini dia menyuruh Asrul menikmati hidangan lauk pauk tersebut.