JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Tiba Di Mallorca


Alasan Pangeran Bruno tetap menerima mereka karena kelompok Aliran Keras membuat Bruno mendapatkan dukungan dari para bangsawan kecil dengan menyediakan warga untuk dijadikan budak.


"Ketua, kudengar Imam bersorban sedang menuju Mallorca dan akan tiba dalam waktu beberapa hari lagi. Apa kita akan gunakan kesempatan ini untuk melenyapkannya?" tanya pembunuh bertopeng merah darah yang lain.


Ketua Silver Hawk mengibaskan tangannya, "Kalian ingin memancing sosok seperti Taimiyah dan lainnya untuk bergerak menyerang kita? Selama di Mallorca jangan bertindak gegabah, terutama tanpa izin dari Imam Besar. Lagipula Imam Besar memberikan kita satu tugas yang sangat penting dan kali ini kita tidak boleh gagal."


Selain Organisasi Silver Hawk masih ada dua kelompok dan padepokan lain yang memiliki kekuatan berimbang bahkan diatas organisasi pembunuh tersebut mendukung Imam Besar Bruno. Semua kelompok ini bersaing mendapatkan hati Imam Bruno agar saat dirinya berhasil menjadi Imam Besar Mallorca yang baru, mereka akan mendapatkan keuntungan yang paling besar.


Ketua Silver Hawk memiliki ambisi yang besar, dia tidak ingin organisasinya hanya memiliki nama di kota Mallorca saja. Dengan dukungan seorang ketua Imam Besar, Ketua Silver Hawk yakin bahwa dia bisa mengembangkan organisasinya ke tiga kota.


Sebab itulah Organisasi Silver Hawk terus melakukan perekrutan dan pelatihan anggota baru karena berambisi menjadi kelompok pembunuh nomor satu di seluruh Pulau Andalas.


"Tentu saja kita tidak bisa membiarkan orang yang telah membunuh begitu banyak anggota kita lolos begitu saja, jadi kita akan mencari kesempatan melenyapkannya saat dia meninggalkan Mallorca." Ketua Silver Hawk berkata dingin.


Organisasi Silver Hawk tidak akan memikirkan terlalu jauh jika hanya menggagalkan mereka satu kali, tetapi Gus Mukhlas dan Asrul membunuh terlalu banyak anggota mereka termasuk beberapa pembunuh bertopeng ungu yang berharga.


"Sekarang kita hanya perlu memastikan misi yang diberikan ini berhasil..." Ketua Silver Hawk kemudian menceritakan misi yang diberikan oleh Silver Hawk pada mereka.


Para pembunuh bertopeng merah darah terkejut bukan main saat mengetahui tugas yang harus mereka laksanakan.


"Ketua... Misi ini..."


Ketua Silver Hawk memahami alasan yang membuat sepuluh pembunuh terbaiknya menjadi ragu sekalipun memiliki kemampuan yang begitu tinggi.


"Kalian tidak perlu terlalu khawatir, dalam misi kali ini karena harus berhasil maka aku akan turun tangan langsung bersama kalian." Ketua Silver Hawk menambahkan.


Mendengar Ketua mereka akan ikut turun tangan membuat sepuluh pembunuh tersebut menjadi lebih tenang, hanya saja tingkat kesulitan misi ini begitu luar biasa.


"Jangan lupa, kita adalah pembunuh jadi tidak perlu mengikuti aturan selama kita berhasil membunuh sasaran kita. Memang sulit melakukan misi ini jika kita bertarung menggunakan kemampuan kita tetapi selama menggunakan segala cara, semua akan menjadi lebih mudah." Ketua Silver Hawk berkata sambil tertawa dingin.


Dalam waktu beberapa hari Organisasi Silver Hawk harus menghilangkan satu nyawa tokoh penting dari Mallorca, Ketua Silver Hawk memerintahkan sepuluh pembunuh terbaiknya memastikan misi kali ini berhasil dengan sempurna.


"Aku ingin lihat, setelah ini apakah Taimiyah masih akan meragukan kemampuan organisasi kita." Ketua Silver Hawk tertawa lantang.


Mulut Asrul terbuka lebar saat memandangi kemegahan kota Mallorca, dia tidak menduga tempat yang didatanginya pada kehidupan sebelumnya adalah tempat yang sama dengan yang ada di hadapannya sekarang.


Pada saat Era Kekacauan dimulai, perang terjadi bukan hanya di dunia persilatan tetapi juga di dunia orang biasa, menyebabkan begitu banyak kematian di seluruh daratan. Mallorca beberapa kali diserang oleh musuh dari kota lain dan juga kelompok dunia persilatan, menyebabkan Mallorca menjadi reruntuhan saat Asrul mengunjunginya.


"Kalian tidak perlu memikirkan aku, di Mallorca ada beberapa murid Budi Suci yang akan mengurus masalahku." Gus Mukhlas terlihat tidak terganggu karena tidak bisa memasuki Airish, "Sepertinya sekarang waktunya kita berpisah, kalian berdua juga ada kepentingan yang mendesak bukan?"


Gus Mukhlas berniat menemani Airish sampai masalahnya selesai tetapi Airish hanya memimpin Airish membawa sebuah surat ke lokasi yang ditunjuknya agar murid Budi Suci bisa menolongnya.


"Begini saja, Asrul temani dulu kakek. Guru akan kembali secepatnya setelah mengantar surat ini." Selesai berkata demikian Gus Mukhlas memasuki Airish dan menuju lokasi yang dimaksud oleh Airish.


Airish menggelengkan kepala pelan melihat sikap Gus Mukhlas, “Gurumu akan mendapatkan banyak masalah di masa depan dengan pembawaan seperti itu."


Asrul hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung, menurutnya Gus Mukhlas bersikap wajar mengingat Airish adalah sosok yang begitu penting dalam dunia persilatan.


Airish memilih mengisi waktu dengan menjelaskan beberapa hal terkait bela diri pada Asrul, dia memberikan petunjuk yang sangat berguna bagi pondasi bela diri seseorang.


Asrul berdecak kagum karena penjelasan Airish memberikan inspirasi baru baginya. Memang pada kehidupan sebelumnya Asrul hidup sampai usia 120 tahun, mencapai ilmu yang tinggi tetapi Airish hidup lebih lama dari Asrul dan juga mencapai tingkat yang lebih tinggi dari Asrul pada kehidupan sebelumnya.


"Era Kekacauan sungguh menjadi kuburan bagi begitu banyak pesilat hebat, tidak heran setelah Era Kekacauan berlalu sekalipun dunia persilatan tidak pernah lagi sama karena banyak warisan ilmu yang menghilang." Batin Asrul.


Asrul berusaha mengingat setiap petunjuk yang diberikan Airish karena akan berguna bagi praktiknya di masa depan.


Beberapa waktu berlalu, Gus Mukhlas kembali bersama dua orang pemuda seusianya yang memakai seragam Budi Suci. Dua pemuda tersebut segera menunjukkan sikap sangat hormat ketika bertemu dengan Airish.


"Imam besar! Maaf telah lalai menyambut anda." Ucap dua pemuda itu serempak.


Padepokan Budi Suci jelas punya pengaruh kuat di Mallorca, dengan menunjukkan identitas kedua pemuda tersebut, Airish dapat memasuki tanpa masalah.


"Jangan lupa untuk mengunjungi Budi Suci setelah urusanmu disini selesai." Airish mengingatkan kesekian kalinya saat berpisah dengan Gus Mukhlas dan Asrul.


Setelah berpisah, Gus Mukhlas mengajak Asrul mencari penginapan untuk beristirahat.


"Guru, kita tidak langsung ke istana?" tanya Asrul heran.


"Asrul, Istana bukan tempat yang bisa begitu saja keluar masuk sesuka hati untuk orang seperti kita." Gus Mukhlas tertawa kecil, "Kita akan mencari penginapan dulu, kemudian Guru akan mengirim surat pada Mbah Jena dan Taimiyah tentang kita telah sampai di kota. Guru akan menulis alamat penginapan kita dan setelahnya hanya bisa menunggu kabar."


Asrul mengangguk pelan pada penjelasan Gus Mukhlas. Keduanya lalu mencari penginapan untuk beristirahat.


Mallorca merupakan kota yang ramai pengunjung sehingga tidak sulit menemukan penginapan. Gus Mukhlas memilih penginapan sederhana dan memesan dua kamar untuk dirinya serta Asrul.