
Meskipun sungai tiba-tiba dipenuhi gelombang ombak, perahu Gus Mukhlas tetap stabil dan tidak bergerak dari posisi awalnya karena Gus Mukhlas menggunakan tenaga dalamnya untuk melakukan itu.
Tiba-tiba sesuatu melompat keluar dari sungai, semua orang bisa menyaksikan buaya berwarna putih yang memiliki panjang sekitar empat meter.
"buaya ini sungguh siluman!" Raut wajah Asrul menjadi serius, dia sudah membunuh banyak siluman pada kehidupan sebelumnya jadi dia bisa mengenali mereka dalam sekali lihat, yang membuatnya cemas adalah buaya tersebut merupakan Siluman berumur seratus tahun.
Sejauh yang Asrul ketahui, Siluman dibagi menjadi beberapa kategori yaitu Siluman Biasa yang memiliki kekuatan tenaga dalam kurang dari seratus lingkaran lalu diikuti Siluman seratus tahun yang memiliki tenaga dalam setidaknya seratus lingkaran.
Siluman yang lebih tinggi adalah Siluman 500 tahun, Siluman 1.000 tahun, kemudian Raja dan Ratu Siluman.
"Guru memiliki kemampuan untuk menghabisi Siluman berusia seratus tahun tetapi ruang geraknya begitu terbatas sehingga posisinya kurang menguntungkan..." Asrul menjadi semakin cemas dan mulai memikirkan cara untuk menghadapi makhluk tersebut.
Gus Mukhlas nyatanya tidak gentar menghadapi siluman yang mencoba menenggelamkan perahunya. Gus Mukhlas mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya, membuat pedang ditangannya bercahaya kebiruan.
Cahaya pedang Gus Mukhlas bahkan mampu terlihat jelas oleh mereka yang berada di pelabuhan. Asrul mengerutkan dahinya karena dia mengenali teknik pedang yang Gus Mukhlas gunakan adalah Ilmu Pedang Petir Biru, jurus terkuat yang Gus Mukhlas miliki.
"Situasinya lebih serius dari kuduga jika Guru langsung menggunakan teknik pedang terkuat yang menguras begitu banyak tenaga dalamnya..."
Asrul kemudian mendekati Kakek yang memberikan perahu pada Gus Mukhlas, "Kakek, bisa siapkan tombak dalam jumlah yang banyak? Selain itu aku butuh perahu lainnya."
Asrul mengeluarkan beberapa keping emas yang diberikan Gus Mukhlas padanya. "Lakukan secepatnya."
Kakek itu memandang Asrul kebingungan, dia tidak ingin menempatkan Asrul dalam bahaya tetapi dia sadar Gus Mukhlas membutuhkan bantuan. Kakek itu tidak menerima uang yang diulurkan Asrul namun dia memanggil anak buahnya untuk menyiapkan permintaan Asrul.
"Siapkan Roro Andalas untuk berlayar!" seru Kakek itu lantang.
Para pekerja kakek itu memandangnya dengan tidak percaya, belakangan Asrul baru mengetahui Roro Andalas adalah nama kapal paling besar yang dimiliki oleh sang Kakek.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, aku dan orang-orangku juga akan ikut bersamamu." Kakek itu menepuk pundak Asrul.
"Kakek tidak perlu khawatir, aku pastikan dirimu dan orang-orangmu tidak dalam bahaya." Kata Asrul sambil tersenyum tipis.
Pandangan para pemilik kapal yang lain terarah pada Asrul dan Kakek tersebut, mereka juga memandang Gus Mukhlas yang sedang berhadapan dengan buaya raksasa tersebut.
Ketika buaya itu mencoba menyerang perahu, Gus Mukhlas akan melompat dan memberikan tebasan pada buaya itu. Hanya saja setiap tebasan Gus Mukhlas tidak memberikan luka yang dalam walaupun telah menggunakan tenaga dalam dan jurus pedang tingkat tinggi.
"Kita juga tidak akan tinggal diam! Siapkan kapal!"
"Heh, Orang luar berjuang seorang diri mana mungkin kita hanya menonton saja, siapkan kapal!" "Jika dilihat-lihat lagi, buaya ini tidak menyeramkan. Siapkan kapal!"
Para pedagang saling berpandangan, mereka merasa sebaiknya tidak tinggal diam. Jika siluman itu tidak berhasil diatasi maka kerugian mereka juga akan terus bertambah.
"Kalian semua, bantu mereka menghadapi siluman ini." Seorang pedagang memerintahkan para pengawalnya. "Kalian juga, seminggu terakhir kalian hanya makan dan tidur, saatnya menggerakkan tubuh kalian." Kata Pedagang lain pada pengawalnya.
Satu demi satu pedagang memerintahkan pengawal barang mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini. Sebagian pengawal menelan ludah, tidak menduga mereka akan terlibat sementara sebagian lainnya terlihat bersemangat, mereka sejak tadi antusias melihat Gus Mukhlas menghadapi Siluman tersebut seorang diri.
"Pendekar muda, mari naik ke kapalku. Anak buahku sudah membawa tombak yang kau minta." Kakek pemilik kapal mengajak Asrul naik ke kapal bersamanya.
Ketika berada di atas kapal, Asrul bisa melihat sekitar dua ratus tombak berbaris rapi. Kualitasnya memang tidak bagus karena tombak ini digunakan untuk menangkap buaya bukan membela diri.
Asrul melihat kebanyakan awak kapal milik Kakek ini mempunyai sedikit ilmu bela diri.
"Pada masa mudaku, perairan disini tidaklah aman dan banyak perompak. Kami belajar sedikit bela diri untuk melindungi usaha kami, meskipun kami tidak mampu menghadapi siluman dengan kemampuan rendah ini tetapi kuharap ada artinya." Kata Kakek itu sambil tersenyum lebar.
"Siluman ini lebih kuat dari perkiraanku..." Gus Mukhlas menyadari sebenarnya dia bisa menghabisi siluman di hadapannya namun posisinya sama sekali tidak menguntungkan.
Gus Mukhlas harus menghabiskan banyak tenaga dalam untuk membuat tempatnya berdiri stabil, setiap serangan yang dilepaskannya juga menguras tenaga dalam.
Setelah Gus Mukhlas menebas mulutnya, Siluman buaya putih ini mulai menyelam karena mengetahui sulit menyerang Gus Mukhlas secara berhadap-hadapan.
Gus Mukhlas memperhatikan sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan, menunggu siluman itu kembali menampakkan diri. Mendadak Gus Mukhlas merasakan getaran kuat dari dasar perahunya.
"Siluman ini!" Gus Mukhlas tidak memiliki waktu untuk berpikir, dia melompat dari perahunya dengan sekuat tenaga menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Pada waktu hampir bersamaan dengan Gus Mukhlas melompat, sebuah menara air muncul di tempat perahunya mengambang. Tekanan dari menara air tersebut begitu kuat, membuat perahu kayu itu hancur berkeping-keping.
Gus Mukhlas mendarat di salah satu puing perahu yang mengambang di atas sungai. Biarpun dia menggunakan ilmu meringankan tubuh tetap saja sulit berdiri dengan stabil di atas sebuah puing kecil.
"Aku tidak menduga siluman ini lebih pintar dari yang kupikirkan, sepertinya aku harus mundur terlebih dahulu." Gus Mukhlas merasa posisinya semakin tidak diuntungkan jadi dia berniat kembali ke pelabuhan dan menyusun kembali rencana.
Ketika Gus Mukhlas sedang berpikir caranya untuk kembali ke pelabuhan, dia melihat siluman buaya kembali menampakkan diri. Gus Mukhlas mengerutkan dahinya karena melihat Siluman itu sengaja menutup jalurnya untuk kabur.
Gus Mukhlas mulai berpikir untuk lari ke sisi yang lain, namun dia memahami secepat apapun gerakannya tidak akan mampu mengalahkan kecepatan siluman buaya di hadapannya.
"Siluman ini mengetahui dia bukan tandinganku sehingga ingin membuat posisiku semakin tidak menguntungkan dan menungguku kelelahan sebelum menyerang..." Gus Mukhlas terus memutar otaknya untuk menemukan cara keluar dari situasi ini.
Ditengah situasi tersebut tiba-tiba sebuah tombak meluncur dengan kecepatan tinggi dan menancap pada tubuh Siluman buaya putih itu, meskipun tidak menusuk terlalu dalam tetapi cukup membuat siluman itu kesakitan.