
Delapan pembunuh lainnya, tiga bertopeng perak sementara sisanya bertopeng perunggu. Mereka semua menuruti perintah tersebut dan langsung bergerak cepat mengepung Asrul.
"Pemuda ingusan, Jika kau tidak ingin terluka maka menurut pada kami..." kata salah satu pembunuh bertopeng perak.
Asrul melirik ke arah pengawal yang menjaganya berada, kini pengawal itu sedang bertarung sengit dengan pembunuh bertopeng emas.
Biarpun keduanya berkemampuan sama yaitu pendekar kelas satu tetapi terlihat jelas pembunuh bertopeng emas lebih unggul.
Pembunuh bertopeng emas selain memiliki kekuatan juga mempunyai banyak pengalaman bertarung dibandingkan sang pengawal.
Para pembunuh dari Silver Hawk berpikir rencana mereka berjalan lancar sampai Asrul melakukan sesuatu yang mengejutkan mereka.
"Pemuda Ingusan, apa yang ingin kau lakukan?" salah satu pembunuh Silver Hawk berkata dengan nada dingin.
Para pembunuh ini berpikir Asrul akan mengikuti keinginan mereka sambil menangis ketakutan, nyatanya Asrul bersikap diluar perhitungan mereka semua.
Bukan hanya Asrul tidak menunjukkan rasa takut, dia bahkan tersenyum lebar. Tidak hanya sampai disitu, Asrul menarik pedang pendek yang sebelumnya tersarung di pinggangnya.
"Ingin menangkap aku? Tidak akan semudah itu." Kata Asrul sambil tertawa kecil.
Sebelum delapan pembunuh Silver Hawk tersebut bisa mencerna yang terjadi, Asrul sudah bergerak maju untuk menyerang salah satu pembunuh bertopeng perak. Gerakan Asrul begitu gesit dan ayunan pedangnya juga tanpa keraguan.
Pembunuh bertopeng perak yang menjadi sasarannya tentu tidak akan menduga pemuda semuda Asrul mampu menyerang dengan penuh keyakinan. Asrul sebenarnya ingin memotong leher pembunuh tersebut tetapi postur tubuh serta pedangnya yang pendek membuat jangkauan serangannya terlalu terbatas.
Asrul menusukkan pedang pendeknya pada jantung pembunuh tersebut sekuat tenaganya.
"Ap-..." Pembunuh bertopeng perak itu tidak bisa mengucapkan kata sebelum mulai tumbang ke tanah tidak bernyawa.
Sebelum tubuh pembunuh itu sampai ke tanah, Asrul sudah menarik pedangnya kembali dan menyerang pembunuh bertopeng perunggu yang paling dekat dengannya. Gerakan Asrul terlalu cepat untuk diikuti oleh mata para pendekar kelas tiga, bahkan para pendekar kelas dua juga akan sulit mengikutinya.
"Hentikan dia!"
Tidak pernah terlintas dalam benak seorangpun dari pembunuh Silver Hawk ini bahwa Asrul adalah seorang pesilat berkemampuan tinggi dengan usianya yang masih begitu muda.
Satu hal yang Asrul pelajari dari pertemuannya dengan Taimiyah beberapa tahun lalu bahwa tubuh manusia yang terlatih dapat melepaskan kekuatan mematikan meskipun tidak memiliki tenaga dalam.
Berkat latihan pernafasan serta latihan fisik secara rutin, kekuatan penuh pukulan Asrul bisa menyamai seseorang yang memiliki tenaga dalam tingkat grand master.
Lebih dari setahun yang lalu tendangan Asrul sudah mampu melukai ksatria kelas satu, sekarang setelah mengalami kemajuan pesat, tidak sulit baginya mengimbangi satu atau dua ksatria kelas satu. Delapan pembunuh Silver Hawk yang mencoba menjadikannya sandera telah salah memilih lawan.
Para pembunuh tersebut sama sekali tidak siap untuk menghadapi pertarungan dengan sosok sekuat Asrul, andaikan mereka waspada dan menggunakan serangan dalam formasi maka mereka tidak akan kalah tanpa perlawanan seperti ini.
Pembunuh bertopeng emas maupun pengawal keluarga Teratai terlalu larut dalam pertarungan mereka sehingga tidak menyadari kejadian tersebut, lagipula waktu yang digunakan Asrul untuk menghabisi delapan pembunuh tersebut hanya beberapa saat saja.
Asrul merasa kualitas pedang yang digunakan oleh Pembunuh Silver Hawk biasa saja namun senjata rahasia yang mereka miliki berbentuk pisau kecil memiliki kualitas yang baik. Asrul mengumpulkan semua senjata rahasia dari tubuh para korbannya dan menyimpannya, dia merasa bisa menggunakannya nanti.
"Apa yang terjadi?!"
Pembunuh bertopeng emas dan pengawal keluarga Teratai sama-sama mengambil jarak untuk mengambil nafas, waktu itulah Pembunuh bertopeng emas menyadari rekan-rekannya telah terbaring tidak bernyawa di sekeliling Asrul. Pengawal keluarga Teratai juga sama terkejutnya melihat pemandangan tersebut.
Asrul melemparkan dua buah pisau ke arah pembunuh bertopeng emas yang masih kebingungan, namun pembunuh tersebut menggunakan pedangnya untuk menepis kedua pisau itu. Pembunuh bertopeng emas adalah pesilat kelas satu, ditengah kebingungannya sekalipun tidak mudah menyerangnya dari jarak sejauh itu.
Hanya saja pembunuh bertopeng emas tidak menyadari serangan itu bertujuan mengalihkan perhatiannya. Asrul melangkah maju, melemparkan pisau lainnya, kali ini pisau itu melesat lebih cepat dari dua pisau sebelumnya. Pembunuh bertopeng emas kembali berhasil menepis pisau tersebut namun kali ini dia hampir gagal melakukannya.
Pembunuh bertopeng emas mengucurkan keringat dingin, dia bukannya tidak pernah menyaksikan ksatria yang lebih hebat daripada Asrul namun ini pertama kali dia melihat seseorang semuda ini memiliki kemampuan diatas dirinya.
Asrul melepaskan sebuah pukulan ketika jaraknya dengan pembunuh tersebut cukup dekat, pembunuh itu menaikkan pedangnya, berniat menggunakan senjatanya untuk menahan pukulan tersebut.
TRING!
Mata pengawal keluarga Teratai melebar ketika melihat pukulan Asrul bukan hanya membuat pembunuh yang dihadapinya mundur beberapa langkah tetapi juga mematahkan pedang yang digunakannya menjadi dua.
Asrul tersenyum tipis, pembunuh bertopeng emas pastinya tidak sadar bahwa tiga pisau yang dirinya lemparkan berkekuatan besar yang meskipun berhasil ditepis tetapi akan meninggalkan retakan pada pedang pembunuh itu.
Serangan Asrul tidak berhenti sampai di sana, dia melepaskan sebuah tendangan sekuat tenaga ke perut pembunuh itu, membuat tubuh lawannya terlempar beberapa meter sampai menghantam pohon di belakangnya.
Tendangan Asrul berhasil membuat pembunuh itu muntah darah, pembunuh tersebut juga bisa merasakan beberapa tulang rusuknya patah.
Pengawal keluarga Teratai bergegas mendekati dan menghunuskan pedangnya pada leher pembunuh tersebut yang kini terduduk lemas memegang perutnya.
"Tidak perlu buang waktu mencoba mengorek informasi darinya, mereka para pembunuh Silver Hawk akan menutup rapat mulut mereka, lagipula ada racun yang tersimpan di gigi mereka untuk bunuh diri jika tertangkap." Kata Asrul dingin.
Pengawal keluarga Teratai mengerutkan dahi sementara pembunuh bertopeng emas begitu terkejut dan memandang Asrul seolah sedang melihat hantu.
Soal racun di gigi para pembunuh Silver Hawk, tidak ada yang mengetahuinya selain anggota Silver Hawk. Andaikan anggota mereka terpaksa menggunakannya, orang luar tidak akan menyadari itu disebabkan oleh racun.
Belum sempat pembunuh topeng emas mencerna situasinya, sebuah pisau sudah menancap di lehernya. Pembunuh itu meronta beberapa saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Sampai dia matipun, dirinya tidak percaya bahwa seorang pendekar kelas satu sepertinya tewas di tangan pemuda yang terlihat tidak berbahaya.
Pengawal keluarga Teratai sampai tidak bisa bernafas dan sekarang memandang Asrul dengan perasaan takut.