JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Faisal Tidak Jadi Mati


Faisal bisa bersikap seperti ini sudah sebuah prestasi dalam hidupnya, bayangan yang muncul ketika menutup matanya ternyata adalah gadis yang belum lama ini dinikahinya.


"Maafkan aku sayang... Aku tidak bisa menepati janjiku untuk pulang..." Faisal menahan nafasnya, dia bisa merasakan sebuah pisau sedang di arahkan untuk menghujam dirinya namun saat yang dia khawatirkan itu tidak kunjung datang.


"Apa-apaan?!"


Salah satu pembunuh Silver Hawk berseru ketika menyadari rekannya yang mengangkat pisau untuk menghabisi Faisal tiba-tiba tumbang ke tanah. Sebuah pisau kecil tertancap di kepala pembunuh tersebut.


Pisau-pisau kecil lainnya berterbangan dengan cepat menghampiri para pembunuh tersebut, selain dua pembunuh topeng ungu, semua pembunuh yang lain tewas karena serangan senjata rahasia tersebut.


"Siapa yang berani melakukan ini?!"


Dua pembunuh topeng ungu segera menjauh dari Faisal sambil mencari penyerang mereka, Asrul tersenyum lebar pada keduanya, dia sama sekali tidak berniat bersembunyi karena Sindy berada di belakangnya.


"Biarkan aku mencobanya..." Sindy mengambil dua pisau dari tangan Asrul kemudian melemparkannya pada kedua pembunuh topeng ungu.


Asrul bisa merasakan tenaga dalam yang besar dimasukan Sindy pada kedua pisau kecil tersebut, membuat senjata rahasia itu melesat lebih secepat angin. Pembunuh topeng ungu yang berniat menyerang balik sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa, dua pisau tersebut menembus topeng mereka dan membuat isi kepala mereka berhamburan.


"Hem... Menarik..." Sindy mengangguk pelan, merasa puas dengan hasil perbuatannya sementara Asrul mengerutkan dahinya.


Menurut Asrul tidak perlu menggunakan tenaga sebesar itu untuk membunuh seseorang, yang Sindy lakukan hanya membuat tubuh lawannya menjadi terlihat buruk, bahkan Asrul yang terbiasa membunuh pun merasa tidak nyaman melihat isi kepala yang berhamburan itu.


"Aku masih hidup?" Faisal hampir menjerit saat membuka matanya dan menemukan orang-orang yang berniat membunuhnya kini terbaring kaku di tanah.


"Tuan Muda Faisal, anda baik-baik saja?" Asrul menghampiri Faisal dan memeriksa kondisinya.


"Ah, Bukankah kau murid Imam Gus Mukhlas?" Faisal mengenali Asrul, meskipun keduanya sudah bertemu beberapa kali tetapi hampir tidak pernah ada percakapan yang terjadi diantara keduanya.


Faisal sudah mengetahui kemampuan Asrul karena sebelumnya Asrul telah menghabisi banyak pembunuh Silver Hawk yang menyerang dirinya di kediaman mertuanya.


"Jika anda bisa berjalan, mari kubawa anda ke tempat yang aman."


"Aku bisa berjalan, Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku sekali lagi." Faisal merasa berhutang budi pada Asrul, jika sebelumnya Asrul hanya berperan sampingan dalam menyelamatkan nyawanya, kali ini Asrul sendiri yang telah menyelamatkannya dari kematian.


Faisal berjanji akan memberikan hadiah yang pantas untuk penyelamatnya namun Asrul menolaknya.


"Tuan Muda tidak usah memikirkannya, sudah kewajibanku menolong anda dan lainnya."


"Tentu saja aku harus memikirkannya, kau telah menyelamatkan nyawaku lagi. Tenang, aku pasti berikan hadiah yang memuaskan."


Asrul tersenyum canggung dan memilih tidak membahas lebih jauh sementara Sindy tertawa kecil ketika menyaksikan tingkah Faisal.


"Hem... Kupikir gadis ini dingin tetapi sepertinya dia cukup ceria karena tertawa dari waktu ke waktu, hanya saja alasannya untuk tertawa sama sekali tidak biasa." Asrul memandangi Sindy.


Asrul membawa Faisal ke tempat yang aman sebelum melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh Silver Hawk, Sindy yang sebelumnya hanya diam kini ikut membantunya menghabisi pembunuh topeng ungu yang mereka temui.


Situasi menjadi lebih cepat terkendali karena jumlah pembunuh Silver Hawk terus berkurang, terlebih saat pendekar dari tiga kelompok terkuat aliran putih bersama pendekar Asosiasi kitab suci memasuki istana untuk membantu mengatasi para penyerang ini.


Tidak terhitung berapa nyawa yang melayang di tangan Asrul hari ini. Asrul menghabisi sebagian besar pembunuh topeng emas dari Silver Hawk, hampir semuanya terbunuh oleh serangan senjata rahasia.


Asrul memang berniat melenyapkan Organisasi Silver Hawk dari Mallorca suatu hari nanti ketika memiliki kekuatan untuk melakukannya karena menurutnya organisasi seperti ini hanya akan menimbulkan kekacauan. Tidak dia sangka hari dirinya berperan membinasakan organisasi ini datang begitu cepat.


Asrul yakin setelah kehilangan hampir seluruh anggota inti mereka maka organisasi Silver Hawk tidak lagi bisa beroperasi seperti sebelumnya.


"Aku akan membawa kembali semua pendekar asosiasi, kehadiran kami akan mengundang banyak pertanyaan dari pihak lain. Belum saatnya Asosiasi kitab suci dikenal oleh dunia persilatan kota Mallorca."


Saat matahari hampir terbit, situasi Istana telah menjadi aman dan hampir seluruh penyerang telah dihabisi atau ditangkap. Sindy berniat membawa kembali seluruh pendekar sebelum yang lain menyadari mereka berasal dari kelompok yang tidak dikenal.


Dalam kekacauan semalam tidak akan ada yang peduli darimana mereka berasal selama berniat membantu menyelesaikan masalah namun setelah semua menjadi tenang akan muncul banyak pertanyaan.


"Terima kasih Senior atas bantuannya, setelah semua selesai aku akan mendatangi asosiasi untuk berterima kasih sepenuhnya." Asrul memberikan hormatnya pada Sindy.


"Usahakan untuk datang dalam waktu tiga hari, ada seseorang yang berniat menemuimu."


Asrul mengangguk pelan, seharusnya dia tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan urusannya di Istana. Selesai berbincang, Sindy memerintahkan semua pendekar asosiasi untuk ikut bersamanya meninggalkan kediaman Pangeran Mahkota dan kembali ke Asosiasi kitab suci.


Asrul menghela nafas panjang setelah Sindy dan pendekar asosiasi tidak lagi terlihat. Meskipun berhasil bertahan hidup dan meraih kemenangan atas serangan Silver Hawk, tidak ada kebahagiaan yang Asrul rasakan ketika melihat sekitarnya.


Kediaman Mbah Jena sulit untuk dikenali, begitu banyak jasad yang bertebaran di setiap sudut membuat kediaman ini bau amis serta busuknya mayat.


Asrul bisa melihat jasad para pelayan, dayang serta banyak orang yang bukan pendekar serta tidak bersalah menjadi korban kekejaman Silver Hawk.


Biarpun Silver Hawk berhasil binasa, tetapi harga yang harus dibayar tidaklah sedikit. Lebih dari separuh pendekar yang tinggal dikediaman Mbah Jena kehilangan nyawanya dalam pertempuran ini, mereka yang berhasil bertahan hidup juga sebagian terluka serius dan parah.


Asrul bertemu dengan Taimiyah kemudian Gus Mukhlas. Guru dan Ketua padepokannya tersebut merasa lega ketika melihat dirinya baik-baik saja sementara Siti Adawiyah berlari memeluknya dengan erat saat melihatnya, tidak peduli dirinya yang sedang bersimbah darah.


"Tuan Putri! Tuan Putri! jangan erat sekali pelukanmu! Tulangku!"


Asrul menjerit keras dan dia bisa merasakan tulangnya berbunyi saat Siti Adawiyah memeluknya, tidak dalam mimpinya sekalipun Asrul menduga bahwa lukanya yang paling parah dalam pertempuran ini bukan datang dari musuh melainkan pelukan Siti Adawiyah .