JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Kedatangan Tamu Penting


"Mbah Jena telah menggerakkan aliansi Padepokan yang mendukungnya untuk melenyapkan Kelompok Aliran Keras, membebaskan banyak budak serta kota maupun desa yang dijajah mereka. Dengan menghilangnya kelompok tersebut, tidak ada alasan lagi para bangsawan kecil mendukung Bruno yang tidak bisa menyediakan budak untuk mereka." Taimiyah menambahkan.


Asrul yang menyarankan agar Mbah Jena bertindak demikian, selain mendapatkan rasa hormat dari warga juga akan melemahkan kubu Bruno.


Mendapat serangan dari sekitar dua puluh Padepokan aliran putih secara bersamaan membuat Kelompok Aliran Keras tidak berdaya. Biarpun tidak berhasil menghabisi mereka semua dan dua petinggi kelompok Aliran Keras masih hidup tetapi kelompok tersebut tidak bisa beroperasi lagi seperti sebelumnya.


"kota Mallorca kini mampu mendukung Mbah Jena secara terbuka, tinggal satu kendala yang dialami Mallorca untuk menaikkan Mbah Jena sebagai penerusnya." Taimiyah menghela nafas panjang.


Asrul memahami maksud Taimiyah, terlepas dukungan baru yang didapatkan oleh Mbah Jena tetap saja tidak cukup menekan Asosiasi Intelijen Mafia. Gelar sebagai padepokan aliran hitam terkuat di kota Mallorca bukanlah nama kosong, meskipun tiga padepokan terkuat aliran putih berjanji akan bergerak bersama andai Asosiasi Intelijen Mafia menyerang Mallorca namun pertempuran tersebut akan memakan korban yang tidak sedikit serta menghancurkan sebagian besar kota Mallorca.


"Asosiasi Intelijen Mafia ya..." Asrul mengelus dagunya, selama beberapa waktu terakhir dia juga memikirkan tentang kelompok tersebut tetapi belum berhasil menemukan solusi terbaik untuk masalah tersebut.


Saat Taimiyah dan Asrul berdiskusi masalah tersebut, Gus Mukhlas mendadak hadir.


"Ketua, Aku mencarimu sejak tadi." Gus Mukhlas tersenyum tipis, dia tidak menduga Taimiyah berada di tempat ini. Gus Mukhlas baru berniat meminta Asrul membantunya mencari keberadaan Taimiyah.


"Guru, anda sudah menyelesaikan latihanmu?" Asrul menyapa Gus Mukhlas, keduanya sudah cukup lama tidak bertemu meskipun tinggal di tempat yang sama.


"Mbah Jena barusan mengetuk ruanganku dan memintaku mencari Ketua." Gus Mukhlas menjelaskan Mbah Jena mengatakan dia akan kedatangan tamu penting dan meminta Taimiyah hadir bersamanya menyambut tamu-tamu tersebut.


"Tamu penting?" Taimiyah menaikkan alisnya, sedikit kebingungan.


"Ketua, Mbah Jena tidak mengatakan padaku tetapi dari reaksinya, tamu yang dimaksud sangat penting karena Mbah Jena memerintahkan untuk menyiapkan jamuan terbaik." Gus Mukhlas lalu memandang muridnya, "Asrul, Mbah Jena memintamu memasak hidangan bagi para tamu ini. Mbah Jena juga berpesan agar menyiapkan beberapa hidangan yang tidak mengandung daging sedikitpun."


Mata Taimiyah melebar, "Tamu penting dan hidangan tanpa daging, sepertinya hanya ada satu kelompok yang memenuhi kriteria ini."


Gus Mukhlas dan Asrul menjadi tersadar saat Taimiyah berkata demikian. Sesuai perkataan Taimiyah, hanya ada satu kelompok yang membuat Mbah Jena bisa bersikap demikian, Kuil Cahaya kebenaran.


Markas Cahaya Kebenaran merupakan salah satu dari tiga kekuatan terbesar aliran putih dalam dunia persilatan kota Mallorca. Sebenarnya mereka adalah kumpulan para sufi yang mendalami ajaran tasawuf tetapi demi melindungi ajaran, mereka mempelajari ilmu bela diri tingkat tinggi dan perlahan-lahan menjadi salah satu kelompok paling disegani di dunia persilatan.


Taimiyah meminta Gus Mukhlas ikut bersamanya menemani Mbah Jena sementara Asrul berlari ke dapur untuk memasak beberapa hidangan.


"Asrul, selesai memasak, ganti pakaianmu lalu temui kami." Pesan Taimiyah.


Asrul tidak memahami alasan Taimiyah memintanya ikut menemui tamu-tamu ini tetapi dia menurutinya.


Pada ruang tamu tersebut, Mbah Jena sedang duduk namun tidak terlihat tenang dengan Siti Adawiyah duduk disebelahnya terlihat lesu dan lemah. Gus Mukhlas berdiri tidak jauh dari keduanya sementara Taimiyah tidak terlihat.


Asrul memasak untuk waktu yang cukup lama jadi dia berpikir para tamu sudah tiba dan berbincang dengan Mbah Jena saat dirinya menganti pakaian, ternyata tamu penting yang dimaksud belum terlihat. Asrul kemudian berdiri di dekat Gus Mukhlas


"Para tamu penting ini datang terlambat, Ketua sedang menunggu di pintu istana untuk menyambut mereka." Gus Mukhlas menjelaskan.


Selesai Gus Mukhlas menjelaskan demikian, terlihat Taimiyah memasuki ruang tamu bersama tiga orang lainnya. Mbah Jena bangkit dari tempat duduknya bersama Siti Adawiyah untuk menyambut mereka semua.


Asrul memperhatikan satu per satu dari ketiga tamu tersebut, hasilnya dia sangat terkejut.


Sosok yang pertama merupakan seorang kiyai yang menggunakan jubah berwarna hitam dan putih, ciri khas dari Markas Cahaya Kebenaran. Kiyai tersebut terlihat berusia 30-an tahun dan wajahnya cukup tampan, lehernya dilingkari tasbih berukuran besar berwarna hitam.


Tamu yang kedua terlihat lebih muda seperti seumuran dengan Gus Mukhlas, memakai jubah berwarna biru terang dengan sebuah pedang menghiasi pinggangnya. Sekali lihat, Asrul bisa mengetahui pedang tersebut adalah sebuah pusaka.


Orang yang ketiga merupakan yang paling senior diantaranya, seorang wanita yang terlihat berusia sekitar 40 sampai 50 tahun dan membawa sebuah tongkat besi bersamanya. Diantara ketiga tamu, Asrul merasa wanita ini yang paling kuat.


"Mbah Jena, perkenalkan nama kiyai sederhana ini adalah Sakino dari Markas Cahaya Kebenaran." Sang kiyai yang paling pertama memperkenalkan diri.


"Namaku Sobirin dari Padepokan Tedari." Pemuda berbaju biru terang ikut mengenalkan identitasnya.


"Wanita tua ini bernama Sa'diyah dari Bukit Siguntang." Wanita terakhir berkata sambil tertawa kecil.


Gus Mukhlas melebarkan matanya sementara Asrul menahan nafasnya, keduanya sama-sama tidak menduga tamu penting yang dimaksud Mbah Jena merupakan perwakilan dari tiga kelompok terkuat aliran putih kota Mallorca. Taimiyah sebenarnya juga sama terkejut seperti keduanya saat mengetahuinya.


Asrul tidak bisa mengukur kekuatan pasti ketiganya namun dia memperkirakan kemampuan Sakino maupun Sobirin tidak berada jauh dibawah Taimiyah sementara Sa'diyah berada di atas Ketua Kun Billah tersebut.


Mbah Jena mempersilahkan ketiganya duduk dan mulai berbincang lebih jauh, Taimiyah lebih banyak mengamati karena tidak ingin salah bicara.


Dari pembicaraan antara Mbah Jena dan ketiga perwakilan tersebut, beberapa hal menjadi jelas. Pertama, Sakino dan dua orang lainnya merupakan pemimpin dari cabang kelompok mereka yang berada di Mallorca. Memang keberadaan cabang dari ketiga kelompok terkuat aliran putih ini di Mallorca bukan rahasia tetapi bertemu dengan para pemimpin Padepokan cabang ini bukan sesuatu yang mudah.


Ketiganya tidak banyak berbasa-basi karena secara terbuka mengatakan alasan kedatangan mereka berhubungan dengan sumber daya yang dibagikan oleh Mbah Jena.


Pada awalnya, tindakan Mbah Jena membagikan sumber daya untuk mendapatkan dukungan padepokan-padepokan aliran putih tidaklah menarik perhatian ketiga kekuatan ini namun setelah beberapa minggu dan Mbah Jena tetap mampu terus memberikan sumber daya membuat ketiga kelompok ini tidak lagi bisa mengacuhkannya.