
Tiga pesilat kelas satu yang biasanya tidak mau bergerak kecuali pengawal yang lain terdesak langsung turun tangan menghadapi para perampok, mereka semua ingin segera sampai ke tujuan tanpa menunda lebih lama.
"Nama Silver Hawk sungguh menjadi motivasi yang baik untuk mereka..." kata Asrul sambil tertawa kecil saat mengintip pertempuran para pengawal dan perampok.
Faisal menaikkan alisnya ketika menyadari Asrul bisa tertawa sambil menyaksikan pembunuhan, padahal Faisal sendiri merasa tidak nyaman melihat pembantaian yang terjadi di luar keretanya terutama saat bau amis mulai tercium di dalam kereta.
Gus Mukhlas sudah mengetahui perangai Asrul seperti ini sehingga tidak terlalu terkejut.
Tidak ada hambatan lain setelah rombongan tersebut menemui para perampok. Rombongan Faisal bisa melihat kota tujuan mereka saat matahari hampir terbenam. Tanpa menunda, rombongan itu menuju ke sebuah rumah mewah di kota tersebut.
Gadis yang ingin dilamar oleh Faisal ternyata memang bukan gadis sembarangan. Gadis itu berasal dari keluarga pedagang yang kaya raya serta memiliki kecantikan yang tidak mudah ditemukan, gadis tersebut juga ahli sastra dan banyak seni lainnya.
"Tentu saja keluarga Teratai tidak akan membiarkan Faisal menikah dengan gadis sembarangan..." pikir Asrul sambil tersenyum tipis.
Gus Mukhlas berniat pamit setelah rombongan Faisal sampai dengan selamat di rumah sang gadis namun Faisal meminta keduanya untuk tinggal lebih lama.
"Imam Gus Mukhlas, bayaran yang kuberikan sebelumnya belum cukup untuk pertolongan Imam. Beri aku waktu agar bisa memberi yang seharusnya Imam dapatkan, aku akan bicara dengan calon ayah mertuaku." Kata Faisal.
"Tuan Muda Faisal, tidak perlu. Lagipula aku tidak berbuat apa-apa."
Gus Mukhlas tersenyum tipis, dia hanya duduk menemani Faisal di dalam kereta, tidak ada kesempatan baginya untuk beraksi sehingga mendapatkan lebih dari 50 keping emas bagi Gus Mukhlas terasa berlebihan.
"Imam Gus Mukhlas, jangan berkata demikian. Hari juga sudah gelap. Daripada mencari penginapan lagi, lebih baik menginap di rumah ini. Aku jamin kualitasnya akan lebih baik dari hotel manapun yang bisa Imam temukan."
Faisal memang pandai membuat Gus Mukhlas kehabisan kata-kata, tidak heran keluarga Teratai disebut keluarga menteri karena keturunannya sangat ahli menggunakan mulut mereka.
Asrul memahami alasan Faisal meminta Gus Mukhlas dan dirinya tinggal lebih lama sebenarnya karena Faisal mengetahui tidak ada ksatria tangguh di rumah ini.
"Tuan Muda Faisal ini sepertinya yakin bahwa dirinya yang diincar oleh Silver Hawk. Apa dia memiliki musuh besar?" batin Asrul sambil mengamati gerak gerik Faisal.
Gus Mukhlas diajak Faisal menemui calon mertua dan istrinya sementara Asrul tidak berniat bergabung bersama mereka. Asrul menjelaskan dia ingin menghabiskan waktunya sendirian.
Faisal meminta salah satu pengawal yang memiliki kemampuan pesilat kelas satu untuk menjaga Asrul, biarpun Asrul merasa itu tidak perlu tetapi dia tidak menolaknya.
Asrul pergi mencari tempat yang sepi di kediaman tersebut, dia menemukan sebuah taman yang cukup luas kemudian memilih duduk di atas sebuah batu besar.
Pengawal tersebut mengerutkan dahinya, dia tidak menjawab melainkan bersandar di salah satu pohon sambil terus mengamati Asrul. Harga dirinya tidak membiarkan Asrul memerintahnya lagipula jika sesuatu terjadi pada Asrul maka Faisal akan menyalahkannya.
Asrul tidak peduli lagi terhadap pengawal itu, dia membelakangi sang pengawal sebelum mulai melakukan latihan pernafasan. Tidak lama kemudian tubuh Asrul memancarkan aura yang membuat pengawal di dekatnya kesulitan bernafas.
"Bocah ini... Dia juga seorang pesilat." Pengawal itu awalnya berpikir Asrul hanya bercanda ketika mengatakan dirinya ingin bermeditasi selama beberapa jam. Menurut pengawal tersebut, Asrul masih terlalu muda untuk mempelajari ilmu tenaga dalam.
Memang ada beberapa murid padepokan besar yang mampu berlatih tenaga dalam pada usia muda, namun mereka semua adalah ahli bela diri. Melihat aura yang terpancar dari tubuh Asrul, pengawal itu mulai berpikir Asrul adalah salah satu ahli yang ada dalam cerita-cerita yang didengarnya.
Satu jam berlalu, Asrul sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Ketika Asrul berhasil mengumpulkan aura spiritual dari sekitarnya, dia menghela nafas panjang dan keluar asap putih dari mulutnya.
Asrul ingin melanjutkan tahap selanjutnya, namun dia merasakan ada nafsu membunuh yang terarah padanya. Nafsu membunuh itu samar, pemiliknya pasti berusaha menyembunyikannya tetapi Asrul tetap berhasil menyadari serta menemukan posisi orang yang mengincarnya.
"Dia sepertinya sedang menunggu rekan-rekannya..." Asrul cukup yakin sosok yang sedang bersembunyi itu adalah salah satu pembunuh dari Silver Hawk, alasan dia belum melancarkan serangannya disebabkan keberadaan pengawal di dekat Asrul.
"Jika mereka tetap ingin menyerang dalam kediaman yang memiliki banyak penjaga seperti ini, pastinya Silver Hawk akan menggerakkan banyak anggotanya. Bukan tidak mungkin beberapa pembunuh topeng ungu bermunculan..." Asrul menggaruk kepalanya, dia sungguh tidak ingin terlibat dengan urusan ini.
Asrul mengenal Faisal tetapi pada kehidupan sebelumnya Tuan Muda keluarga Teratai ini tewas di tangan organisasi Silver Hawk. Asrul tidak ingin merubah sejarah orang yang tidak berkaitan dengannya, bisa jadi jika Faisal tetap hidup setelah ini akan ada banyak masa depan yang berubah dan belum tentu menguntungkan dirinya.
"Aku harus mengajak Guru meninggalkan tempat ini dengan segera..." Asrul bangkit dari tempat duduknya, dia bergegas mencari Gus Mukhlas.
Jika Silver Hawk sungguh mengirim beberapa pembunuh bertopeng ungu kemari demi membunuh Faisal maka kombinasi Gus Mukhlas dan pelindung Faisal, Kawamatsu belum tentu cukup untuk menghadapi mereka.
Pengawal yang hampir ketiduran karena memandangi Asrul duduk tidak bergerak selama satu jam tersadar dari lamunannya.
"Menunduk!" teriak Asrul tiba-tiba.
Pengawal itu sedikit terkejut tetapi dia menuruti perkataan Asrul, tepat setelah dia menunduk sebuah pisau menancap di pohon tepat pada lokasi kepalanya berada sebelumnya. Pengawal itu bergerak cepat menggulingkan tubuhnya dan berlindung di balik pohon karena beberapa pisau lagi terbang ke arahnya.
Asrul mengumpat dalam hatinya, dia tidak menduga semua sudah terlambat. Asrul bisa merasakan ada delapan orang tambahan berada di dekat sosok yang berhasil dia deteksi sebelumnya.
Asrul tidak menyadari, perintahnya pada pengawal keluarga Teratai untuk menunduk membuat para pembunuh dari Silver Hawk begitu kaget. Mereka yakin telah menyerang pengawal itu diam-diam sambil menyembunyikan nafsu membunuh mereka, bidikannya tidak mungkin akan meleset. Para pembunuh ini juga memiliki kepercayaan diri atas kemampuan melempar pisau yang telah dilatih selama bertahun-tahun.
"Aku akan mengurus pengawal itu, kalian urus pemuda ingusan tersebut dan jangan biarkan dia lolos..." Pembunuh yang memakai topeng emas melompat tinggi setelah berkata demikian.