JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Silver Hawk Binasa


Tindakan Seruni membuat Albert terpental ke arah Taimiyah.


"Apa yang kau lakukan?!" Albert hanya bisa menjerit keras, dia sama sekali tidak menduga akan diserang oleh Seruni dari belakang.


"Tahan mereka untukku! Aku akan balaskan dendammu suatu hari nanti!" Seruni berkata demikian sambil berlari kencang meninggalkan tempat tersebut.


Seruni menggunakan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa untuk bergerak lebih cepat daripada angin. Albert ingin mengejar dan membunuhnya tetapi sekarang dia terjebak bersama Taimiyah.


Taimiyah sebenarnya ingin menghabisi Albert dan Seruni tetapi dia sadar kondisinya tidak memungkinkan meskipun bantuan telah datang jadi Taimiyah hanya memastikan Albert tidak bisa lolos dari maut.


Pada dasarnya Albert tidak ahli bertarung terbuka seperti ini, selain itu dia dalam kondisi terluka meskipun tidak separah Taimiyah. Di kepung oleh tiga pendekar raja dari berbagai sisi membuat Albert tidak berdaya.


"Hari ini organisasi Silver Hawk binasa... Hahahaha..." Albert sadar dirinya tidak bisa selamat, dia tertawa lepas ketika sudah merasa kehabisan tenaga setelah bertarung tiga lawan satu beberapa saat.


Taimiyah menggunakan pedang tenaga dalam untuk menusuk jantung Albert, menghabisi nyawanya.


"Suatu hari... pembalasan..." kata-kata terakhir Albert sulit terdengar karena mulutnya penuh dengan darah.


"Pembalasan apa? Kematianmu hari ini akibat dari kejahatan yang telah kau dan organisasimu lakukan." Taimiyah mendengus kesal, dia menyadari Albert sudah tidak bisa mendengarnya tetapi Taimiyah meluapkan kemarahannya.


Sobirin mengamalkan doa di depan jasad Albert sementara Sa'diyah mengeluarkan sebuah pil berwarna merah muda dan memberikannya pada Taimiyah.


"Terimakasih saudari Sa'diyah, Pil Siguntang memang sehebat kabarnya." Taimiyah merasa lebih baik setelah mengkonsumsi pil yang diberikan Sa'diyah, pil tersebut memiliki khasiat penyembuh yang tinggi jadi Taimiyah menebak pil tersebut adalah pil khas Bukit Siguntang, Pil Siguntang.


"Tidak perlu sungkan, maaf kami datang terlambat." Sa'diyah mengetahui Taimiyah nyaris kehilangan nyawanya andai dirinya dan Sobirin datang terlambat beberapa saat lagi.


"Kalian datang pada waktu yang tepat, nyatanya aku masih hidup kan?" Taimiyah tersenyum lebar lalu menanyakan tentang gubernur Mallorca, dia yakin Sa'diyah dan Sobirin pasti mencari keberadaan gubernur terlebih dahulu dan memastikan keamanannya.


"Saudara Sakino yang menjaga keamanan Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir." Sa'diyah menjelaskan situasi istana yang mereka lihat.


Sobirin menambahkan anggota dari Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari dan Bukit Siguntang sedang dalam perjalanan ke Istana, mereka semua akan membantu menghentikan serangan ini.


"Aku tidak menduga Bruno begitu berambisi sampai kehilangan akalnya..." Taimiyah menghela nafas panjang.


Mendapatkan dukungan dari kelompok aliran hitam untuk menjadi gubernur adalah satu hal tetapi menggerakkan kelompok tersebut untuk menguasai istana adalah sebuah kudeta.


"Semua ini tidak bisa dibiarkan, jika Bruno tidak mendapatkan hukuman maka masa depan Mallorca akan terancam." Taimiyah memandang Sobirin dan Sa'diyah untuk meminta pendapat serta dukungan mereka.


Selama ini alasan utama gubernur Mallorca tidak menghentikan atau menghukum Bruno disebabkan keberadaan Asosiasi Intelijen Mafia di belakang Bruno. Jika ketiga kelompok terkuat aliran putih bersedia mendukung gubernur Mallorca maka menghukum Bruno bukanlah masalah.


Sa'diyah menjelaskan dirinya, Sobirin dan Sakino telah mengambil kesepakatan untuk mendukung gubernur Mallorca menghakimi Bruno. Setelah kejadian malam ini, jika ketiga kelompok masih memilih diam maka masalah yang lebih besar mungkin akan timbul.


Mendengar ketiga kelompok bersedia turun tangan menyelesaikan masalah ini membuat Taimiyah bernafas lega. Saat suasana menjadi lebih tenang, Taimiyah baru teringat sesuatu dan berniat pergi ke suatu tempat.


"Saudara Taimiyah, lukamu belum pulih dan kau kehilangan banyak darah." Sa'diyah menghentikan Taimiyah.


"Saudari Sa'diyah, Asrul mungkin dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya!"


Taimiyah baru mengingat Asrul ketika semua lebih terkendali. Kabar terakhir tentangnya, Asrul sedang dikepung oleh banyak pembunuh Silver Hawk demi menyelamatkan Siti Adawiyah .


"Asrul? Ah, tunangan dari cucu Mbah Jena? Anda tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja." Sa'diyah menenangkan Taimiyah, dia menjelaskan Asrul sedang dilindungi oleh seorang pendekar raja yang misterius. "Siapa sebenarnya Asrul ini? Sepertinya latar belakangnya tidak biasa..."


Taimiyah terdiam, dia sendiri tidak mengetahui darimana datangnya seorang pendekar raja yang melindungi Asrul tetapi sama seperti Sa'diyah sebenarnya Taimiyah juga merasa Asrul memiliki latar belakang yang istimewa. Hanya saja sejauh ini Asrul terlihat setia dan membela padepokannya jadi Taimiyah mendiamkan.


"Jika sudah ada yang menjaganya maka lebih baik." Taimiyah tidak menjawab Sa'diyah melainkan memilih duduk memulihkan diri sementara Sa'diyah menemani Sobirin untuk memeriksa kondisi Mbah Jena.


"Bangsawan Teratai yang menjadi sasaran Silver Hawk beberapa waktu lalu ternyata berada di sini, bagus... Kami bisa menghapus kegagalan kami hari ini."


Dua pembunuh topeng ungu bersama beberapa pembunuh topeng emas mengelilingi seorang pemuda yang memiliki paras tampan serta pembawaan seorang bangsawan.


Pemuda tersebut adalah salah satu Tuan Muda dari keluarga utama Bangsawan Teratai yang merupakan perwakilan keluarganya untuk mendukung Mbah Jena, Faisal.


"Andaikan Kawamatsu bersamaku, aku pasti bisa lolos dari musibah ini..." Faisal hanya bisa tersenyum pahit menghadapi nasibnya.


Biasanya Faisal selalu dijaga oleh seorang pendekar ahli bernama Kawamatsu yang merupakan seorang ahli ilusi. Kawamatsu bisa tinggal di bayangan Faisal dan menjaganya setiap waktu, kekuatan Kawamatsu juga mendekati pendekar bergelar.


Keluarga Teratai berpikir Faisal akan berada untuk waktu cukup lama di Mallorca dan kediaman Mbah Jena seharusnya aman serta dipenuhi pendekar sehingga Kawamatsu ditugaskan untuk menjaga seseorang yang lebih membutuhkannya.


Faisal akhirnya berdiam di Mallorca dikawal oleh dua pendekar ahli, meskipun berada pada tingkat yang sama dengan Kawamatsu tetapi kedua pendekar ahli ini baru saja memasuki tingkat tersebut sehingga kekuatan mereka belum matang.


Dua penjaga yang dimaksud kini telah tewas ditangan pembunuh Silver Hawk, sekarang Faisal tidak memiliki penjagaan dan dirinya juga tidak memiliki kemampuan bela diri yang sanggup membuatnya selamat dari situasi ini.


"Tidak mencoba memohon untuk nyawamu? Jika kau menangis dan berlutut mungkin kami akan merasa iba untuk membunuhmu." Salah satu pembunuh topeng emas mengejek Faisal.


Faisal tersenyum tipis dan menatap pembunuh itu, "Keluarga Teratai tidak memohon ampunan pada binatang sepertimu!"


"Kau!" Pembunuh yang dihina oleh Faisal menjadi murka, dia mengangkat senjatanya untuk membunuh Faisal dan rekan-rekannya tidak ada yang menghentikannya malah mereka tertawa lepas sambil menantikan kematian bangsawan di hadapan mereka.


Faisal memejamkan mata, tubuhnya bergetar hebat. Meskipun dia mencoba tegar tetapi dasarnya dirinya adalah seorang pengecut.