
Dennis memeriksa peralatannya sekali lagi sebelum berangkat.
- bahan rakitan (check)
- teropong (check)
- tripod (check)
- sarung tangan (check)
- kamera (check)
Setelah komplit, Dennis menutup tas kanvas dan berjalan dengan tongkat hitamnya, keluar kamar. Bunyi tak tok yang sempat tersaingi klompen Yanti, kini kembali jadi miliknya seorang.
"Mau kemana, Pak? Ndak istirahat siang dulu?" tanya Yanti yang tengah menghaluskan nasi untuk anaknya. Bayi itu duduk di lantai dengan tangan berpegang di baju Yanti, jempol yang lain masuk ke mulutnya
Dennis menahan untuk tidak bergidik ngeri membayangkan apa saja yang sudah dipegang tangan kecil itu. Belum lagi liur yang terus merembes dari bibir nyempluk. Dennis tidak heran kalau ada beberapa tetes yang menempel di sepatunya.
"Aku makan diluar, balik nanti malam." Dennis sudah hendak beranjak ketika dia berbalik lagi ke arah Yanti. "Besok hari minggu kita ke rumah Mami. Kamu sudah diajari tata krama apa belum?"
Gerakan tangan Yanti berhenti, jelas dia tidak tahu maksud Dennis. Pria itu juga membuat catatan mental untuk mengajari Yanti mengatur ekspresi wajah.
"Besok biar aku sendiri yang bilang ke Bu Niken," ujar Dennis sebelum berlalu.
Dia berjalan sampai ke ujung gang dimana becak berjejer menunggu penumpang. Pengemudinya nongkrong di warkop pinggir jalan. Satu pria berjalan mendekati langganan mereka itu.
"Kemana, Pak?" tanya pria dengan kaos warna oranye pudar itu.
"Ke Halte," jawab Dennis sambil duduk di bangku penumpang.
Pak Becak langsung memasang atap pelindung agar tidak kepanasan dan sebentar saja sudah mengayuh. Tangan lihainya membawa becak melaju di antara mobil dan sepeda motor dengan hati-hati. Sesekali tangannya direntangkan untuk meminta jalan pada pengguna jalan lain.
Sesudah sampai, Dennis memberi uang lembar seratus rupiah yang diterima dengan senang hati.
Di halte, Dennis menunggu bersama belasan penumpang lain. Mereka berdesakan dan berebut naik saat bis berhenti. Untung ada kondektur yang berteriak mengatur massa agar tertib.
"Awas awas! Yang turun kasih jalan! Yang turun kasih jalan!" teriaknya.
Dennis naik paling akhir, tapi bisa dapat tempat agak ke dalam setelah orang melihat cara jalannya yang berbeda.
Kondektur mulai berjalan melesak diantara penumpang yang sudah berjejalan, menarik ongkos tiket. Dennis memberi pecahan lima belas rupiah yang diterima tanpa banyak bicara.
Dennis turun bersama yang lain di daerah Taman Mbungkul. Dari situ, dia memasuki ponten lalu berganti baju memakai kaos oblong dan celana kain yang warnanya pudar.
Pria berkulit putih itu berjalan keluar lalu melangkah pelan. Dennis berhenti setiap dua puluh langkah dan memastikan tidak ada yang memperhatikan atau menganggap keberadaannya sebagai anomali diantara pengunjung taman yang lain. Hanya satu diantara puluhan orang yang lewat atau sekedar nongkrong melepas jengah.
Pelan tapi pasti, Dennis sampai ke jalan dengan rumah besar berderet-deret di samping kiri dan kanan.
Hari sudah mulai sore ketika Dennis masuk dengan santai ke sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk tugasnya kali ini. Tidak sulit baginya menemukan tangga ke lantai dua.
Dia berhenti di atas anak tangga dan memastikan lagi posisinya sejenak sebelum lanjut. Dennis memasuki kamar yang tengah ditinggal pemiliknya, seorang gadis yang beranjak dewasa.
Tapi itu tidak penting, yang terpenting adalah Dennis melakukan tugas dengan baik.
Dennis mencari lokasi agar dia berada di posisi paling menguntungkan, barulah dia memasang kaki penahan dan sarung tangan. Tangannya bergerak lincah setelah pengalaman bertahun-tahun, merangkai bagian terpisah menjadi utuh. Sebuah senapan jarak jauh dengan peredam.
Pria itu kemudian duduk diam menunggu mangsa. Matanya yang awas tidak melewatkan meski hanya satu detil. Saat ini targetnya, pria botak dan perut buncit, baru saja pulang kerja. Ada pasangan dan beberapa pembantu yang menyambutnya.
Dari balik teropong senapan, Dennis melihat keduanya berbicara, mungkin kejadian yang mereka alami seharian ini. Sesekali, pasangan itu bergandengan dan berpelukan.
Setelah hampir satu jam, target akhirnya berjalan sendirian ke arah ruang kerjanya. Berdasar info yang Dennis dapat, biasanya sasaran baru keluar menjelang tengah malam.
Satu pikiran Dennis saat itu, setidaknya tidak ada yang benar-benar merasa kehilangan kalau pria botak itu tiada.
Dia mengarahkan ujung senapan hingga sasaran berada pada titik yang pas. Jari Dennis selanjutnya menyelesaikan pekerjaan dengan sebuah bunyi 'Dos', mirip saat ada bohlam lampu pecah.
Dia menyaksikan waktu target yang sedang duduk membelakangi jendela terbuka, jatuh tertelungkup di atas meja dengan sebuah tremor singkat. Warna merah membasahi dokumen dan kertas yang tengah dia baca.
Dennis tidak menunggu untuk memastikan kalau pria botak itu sudah tiada. Dia bergegas membongkar senapan dan memasukkan lagi ke dalam tas plastik hitam. Langkahnya sempat terseret saat dia mempercepat langkah menuruni anak tangga dan keluar dari rumah kosong tersebut.
Diluar, Dennis berjalan ke arah berlawanan dengan dia datang sebelum memutar ke jalanan yang lebih ramai. Dennis menghentikan angkot yang tengah lewat lalu naik, bergabung dengan penumpang lain. Dia turun dan naik kendaraan lain, berganti pakaian di ponten salah satu terminal.
Matanya mencari sosok yang sekiranya akan membuntuti, bukan sekedar tatapan sinis akan garis keturunannya. Telinga dia gunakan untuk memilah bunyi, menilai potensi bahaya di antara komentar miring tentang etnisnya.
Hingga tongkat hitamnya itu kembali menjejak di depan rumah sesaat sebelum matahari terbenam. Suara panggilan beribadah bersahutan dari musholla, dan lampu rumah sudah dinyalakan.
Saat Dennis membuka pintu, hidungnya mencium aroma legit karamel gosong. Dia pun berjalan ke arah dapur dimana Yanti tengah berkutat dengan anaknya dan sesuatu di wajan.
"Bau apa ini, Yan?" tanya Dennis.
Yanti mendongak dari posisinya berjongkok di lantai. Balita itu masih asik dengan makannya yang berwarna kehitaman.
"Goreng telur, Pak. Pakai kecap buat Kito."
Anaknya Yanti itu lalu mengambil segenggam makanan dan mengarahkan pada Dennis. Pria itu mengangkat sebelah alis.
"Aak! Yak!" ujar Kito setengah berseru.
"Ora, Le," ujar Yanti merasa geli dengan tingkah anaknya. "Pak Dennis ndak makan..."
Kalimat Yanti tidak berlanjut, wanita itu malah menatap ke arah Dennis dengan tanda tanya. "Mau telur digoreng pakai kecap juga, Pak?"
Dennis sebenarnya enggan makan makanan hasil eksperimen untuk bayi. Tapi rasa penasarannya terlalu besar untuk menolak. Lagipula anaknya Yanti saja bisa makan, kenapa dia tidak?
"Ya sudah, bikinkan satu buat aku," Dennis lalu melepas sepatu dan berganti sandal untuk dirumah.
Dia kemudian melangkah dengan hati-hati ke kamar mandi untuk membersihkan diri disana. Hanya sekedar cuci muka, tangan dan kaki. Sejak Yanti tinggal bersamanya, Dennis merasa lebih aman menggunakan kamar mandi di dalam kamar untuk keperluan yang lebih personal.
Keluar dari kamar mandi, aroma legit dan gosong menyapanya dengan tajam.
"Aku taruh di meja, Pak," lapor Yanti yang menyuapi Kito dengan gumpalan kehitaman dicampur nasi.
Dennis mendekati meja makan dimana telur orak-arik berwarna hitam menatap balik. Rasa penasaran kembali menyergapnya. Saat dia membandingkan dengan anak Yanti yang makan dengan lahap dan belepotan, Dennis memutuskan untuk langsung mencoba. Tidak mengindahkan rasa was-was yang muncul.
Dia duduk sambil mengatur nafas, serta mengucapkan doa agar Dewa dan leluhur melindunginya. Dennis menyendok dan langsung memasukkan nasi putih dan telur kecap ke dalam mulutnya.
Belum sampai dua detik, dia kembali membuka mulut dan megap-megap.
"Kok ndak ditiup dulu nasinya, Pak?" Yanti heran dengan tingkah majikannya yang kini mirip Kito. Dia menutup mulut agar tidak kelihatan kalau sedang tertawa.
Dennis mendelik ke arah Yanti yang berani menertawainya. Tapi dia tetap melanjutkan makan. Dia ingin tahu apakah makan banyak dan sedikit akan memberi berpengaruh berarti.
Di lantai, Kito mengambil dan memakan sendiri makan malamnya, tidak peduli meski belepotan dan kececeran.
.
.
.