
Jika Yanti bangun dengan mata bengkak, maka kantung mata Dennis menghitam. Pria itu menghabiskan sepanjang malam mereview data dan mempelajari kembali hal-hal yang mungkin dia lewatkan.
Sebagai sedikit penyesalan, Dennis melarang Yanti masak hari itu dan membeli makanan sebagai gantinya. Yanti menanggapi dengan dingin, dia masih jengkel dengan Dennis setelah kejadian semalam.
Moodnya yang masih jelek itu masih bertahan saat guru wanita Yanti datang. Pujian dari Niken mengobati kesedihan Yanti, sehingga dia kembali belajar dengan semangat. Terlebih ketika Yanti tunjukkan kalau sudah bisa memakai sumpit.
Niken menghujani Yanti dengan sanjungan, tidak sadar bahwa gurunya itu sedang mendelik dan mengancam Dennis dengan tatapan berbahaya.
"Bu Yanti sudah bisa pakai sumpit. Sekarang, ayo kita ulangi tata krama kemarin. Saya jadi orang tua," ujar Niken yang berdiri.
Yanti langsung berdiri. Saat Niken duduk, Yanti tidak langsung ikutan duduk. Dia sedikit membungkuk dan menawarkan minuman serta camilan. Ketika Niken menolak, barulah Yanti ikut duduk. Karena hasilnya bagus, Niken ganti mengajari cara duduk dan jalan yang lebih baik.
"Tidak ada yang salah kalau Bu Yanti mau duduk selonjoran, tapi kalau ada orang lewat, bisa kesandung. Dan kalau duduknya tegak, tulang tidak gampang sakit meski Bu Yanti duduknya lama." Niken terus menjelaskan dengan sabar agar Yanti tahu pentingnya arti di balik pelajaran yang mereka lakukan.
"Terus, berjalan gini biar apa, Bu?" tanya Yanti sambil memperagakan cara berjalan seperti diajarkan Niken.
"Biar enak dilihat. Kalau ada mbak-mbak cantik tapi jalan seperti monyet, tidak jadi cantik."
Tawa Yanti langsung meledak mendengarnya. Ternyata belajar tidak harus mengingat dan menghapal, mereka juga bisa bicara hal menyenangkan seperti ini.
Hari itu pelajaran Yanti berakhir lebih awal. Niken ingin agar Yanti bisa cukup istirahat dan bisa mempersiapkan diri dengan baik.
Cahaya di mata Yanti sedikit meredup saat Niken membahas kepergiannya ke rumah nyonya Lili. Wanita itu tidak menyukainya, jadi apapun yang dilakukan Yanti akan salah dimatanya.
...
Minggu pagi itu Dennis bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Dia akan memberi support moral untuk Yanti. Setelah selisih paham diantara mereka malam itu, Yanti hanya masak tahu dan tempe goreng tiga hari berturut-turut.
Bahkan anak Yanti yang biasanya memakan apapun yang diberikan, sampai mogok makan. Wanita itu akhirnya mengalah dan mengolah tahu tempe yang masih utuh di meja jadi makanan lain.
Udara masih dingin tapi saat Dennis berjalan ke bagian belakang rumah, Yanti sudah selesai mandi dan membuat bubur sumsum.
"Hmm, bagus, kamu sudah bangun."
Yanti menoleh sebentar ke arahnya sebelum perhatiannya kembali mengaduk gula untuk bubur. Tidak ada keperluan lain disana, Dennis pergi dari sana dengan berat hati.
Padahal ini rumahnya sendiri, tapi Yanti berani mengacuhkan dirinya. Yang lebih aneh lagi, karena Dennis membiarkan wanita itu berbuat semaunya.
Pria bermata sipit itu lalu mandi dan melakukan persiapan lainnya. Setelah selesai, dia berjalan ke ruang tamu untuk menunggu Yanti.
Di ruang tamu, Dennis memeriksa sepatu yang akan dia pakai. Karena masih kinclong, dia letakkan lagi dan berpindah ke surat kabar yang dibelinya kemarin lusa. Halaman utama berisi tentang kematian pemilik klub sepak bola yang ditemukan tewas tertembak di rumahnya.
Artikel tersebut membahas keadaan sebelum dan setelah korban ditemukan, tentang aktivitas yang dia lakukan selama hidup, perasaan pasangan dan orang-orang terdekatnya. Dennis ingin tertawa membaca kekonyolan yang jadi konsumsi publik itu. Jika pasangannya benar sedih, harusnya dia tidak bercumbu mesra dengan sopir mereka.
Matanya beralih pada artikel lain yang membahas tentang dampak angin topan di bagian timur Indonesia. Banyak kapal nelayan yang tidak bisa mencari ikan, keadaan makin diperparah dengan adanya kapal besar milik asing yang masuk ke wilayah perairan tanpa ijin.
"Harusnya ndak usah diijinkan," komentar Dennis. "Gimana kalo mereka pakai alat yang ngerusak laut?"
Pria itu sudah akan membalik ke halaman terakhir ketika dia mendengar suara langkah alas kaki mendekat. Ketika Dennis menengok ke kanan, Yanti sudah berdiri dengan rok panjang warna abu-abu muda sebetis dengan kancing berjajar dari pinggang ke bawah. Atasannya kemeja warna merah bata.
Padahal rambutnya dikepang biasa tapi Yanti di depannya sama sekali tidak kelihatan kampungan. Berdirinya tegak dengan mata lurus ke depan. Bibirnya dipulas lipstik tipis-tipis, menjadikan tampilannya segar dan tidak norak.
"Berangkat sekarang?" tanya Dennis.
Wanita itu mengangguk. Dennis berdiri dan mengulurkan tangan. Yanti agak ragu menerimanya, tapi Dennis yang menarik tangan kecil Yanti, menyelesaikan semuanya.
Keduanya berjalan pelan, Yanti karena belum sepenuhnya terbiasa memakai selop jinjit, Dennis karena kondisi kakinya pasca kecelakaan. Sambil keluar rumah, Dennis yang memakai setelan kemeja ungu muda serta celana hitam berharap dirinya dan Yanti terlihat seperti pasutri lain.
...
Mereka sampai di kawasan Margorejo, dengan rumah-rumah besar yang mentereng, dan turun di salah satu rumah yang menggunakan arsitektur modern saat itu. Dengan pagar besi tinggi menjulang yang dihias bunga dan daun. Taman di halaman tampak terawat.
Satpam yang berjaga di depan pagar mengenali Dennis dan mempersilahkan mereka masuk. Petugas yang sedang jaga itu hanya menebak-nebak status wanita yang berjalan berdampingan dengan tuan muda nyentrik mereka.
Yanti yang gugup, hanya menjawab dengan 'iya'. Bahkan juragan paling kaya di desa, rumahnya tidak sebesar ini. Selain itu, Yanti juga melihat ada mobil mewah yang mulus berwarna hitam di garasi yang terbuka, berjejer dengan beberapa mobil lain. Dia tidak menyangka kalau orang tua Dennis akan sekaya ini.
Saat mereka membuka pintu depan, seorang pelayan yang sedang lewat, langsung mendekat.
"Bapak siapa? Ada perlu apa?" tanya pelayan itu.
"Mami dimana?" tanya Dennis, tidak menghiraukan pelayan tadi. "Sarapan, ya?"
Kaki Dennis terus melangkah tanpa bisa dihentikan. Pelayan tadi, menyadari siapa pria itu, hanya bisa mengikuti dari belakang.
Kedatangan Dennis langsung menghentikan semua aktivitas di meja makan. Selain papi dan mami, juga ada Arthur, Lani dan anak-anak papi dari istri lain yang masih tinggal disini. Wajah semua orang terarah pada Dennis dan wanita di sampingnya.
Lili langsung menghela nafas, senang karena anaknya datang tapi kesal karena wanita itu juga ikut.
"Papi, bagaimana kabarnya? Maaf Dennis baru bisa datang sekarang." Dennis maju sambil menarik tangan Yanti yang sempat tertinggal.
Yanti melihat ayah dan anak itu berpelukan dan saling menepuk punggung, dari situ dia bisa melihat kalau wajah Dennis lebih mirip nyonya Lili. Hanya mata mereka yang sama, kecil. Dia masih rikuh dengan tatapan mereka.
"Ahm." Pria berumur itu berdehem sebelum berdiri dan menyambut anak lelakinya. "Kamu sudah sarapan? Ayo, duduk dulu."
"Mami, mami sehat?" tanya Dennis saat melewati nyonya Lili. Wanita itu melengos dan membuang muka.
Karena tidak mendapat jawaban, Dennis berlalu sambil berkata, "Aku harap mami sehat, jadi bisa melihat cucu mami tumbuh dewasa."
Yanti menutup matanya sekejap, tidak tahu kenapa Dennis terus memprovokasi wanita itu. Mereka menuju bagian ujung, dekat anak terkecil yang usianya sekitar SD, seperti Elang. Dennis menyuruh Yanti duduk di sebelah anak itu.
"Bi, ambilkan makan buat Dennis dan temannya," perintah Tuan rumah.
Yanti hanya melihat saat pelayan meletakkan piring dan mangkuk, serta sumpit, sendok, dan sendok bubur di depan dia dan Dennis. Dennis mulai mengambil makanan, jadi Yanti mengikuti apa yang dilakukan 'suaminya' itu.
"Aku baca di koran kalau lagi musim angin," ujar Dennis mencari topik pembicaraan untuk mencairkan suasana. Yanti mengikuti perintah untuk tetap diam dengan baik.
"Dennis, kenapa kamu tidak kenalkan temanmu sekarang?" tanya Arthur. "Kamu jarang pulang, bawa teman wanita, lagi."
"Mungkin teman spesial," sahut salah satu dari anak yang hadir, diikuti spekulasi dari yang lain.
"Tapi, kenapa temanmu diam terus, Gê?" Kini giliran anak di sebelah Yanti yang bertanya. Tatapan mata penuh ingin tahu membuat Yanti tidak nyaman.
"Apa dia bisu seperti Gêgê pincang?" tanya anak itu lagi. Ceplas-ceplos dan menyakitkan, persis seperti Dennis.
Yanti hanya tersenyum pada anak itu.
"Dasar Darren, kalau dia bisu, dia nggak akan bisa dengar omonganmu," gadis dengan dua cepol yang duduk di seberangnya menanggapi.
"Itu namanya tuli, Yen," Lani mengoreksi.
"Duh, anaknya Ai MeiChu tuli sama ndak bisa omong," protes Eyen tidak terima.
"Aku kenalkan nanti selesai makan. Ayo, dimakan, Yan."
Dennis yang tiba-tiba menyentuh punggung Yanti, membuat wanita itu kaget. Yanti tidak mengatakan apa-apa, hanya melirik ke arah Dennis untuk melihat bagaimana dia harus bertindak selanjutnya. Tapi pria itu sama diamnya, dan kembali menarik tangan, sehingga Yanti melanjutkan sarapan.
Yanti senang sekaligus agak kecewa melihat menu di meja. Padahal dia sudah belajar pakai sumpit, tapi kebanyakan anggota keluarga memakai sendok dan garpu.
Wanita itu akhirnya juga makan pakai sendok agar sama dengan yang lain. Yanti juga berharap agar teriakan nyonya Lili tidak terlalu kencang saat tahu kalau mereka sudah menikah.
.
.
.