Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
6. Kenalin, Yanti


Mereka sampai rumah saat sore sudah menjelang gelap. Yanti yang akan menyiapkan makan malam, menghentikan kegiatannya waktu mendengar suara orang berbicara. Dia melangkah sampai ke balik kelambu yang memisahkan bagian dalam dan ruang tamu.


Dennis sedang berbicara dengan pria lain. Wajah mereka tampak serius. Yanti hanya bisa menangkap samar-samar ucapan mereka.


"... Bawa gula coklat... Perempatan Shiola.. "


"Hmm,... rumah di kalibokyor.."


Pria berambut agak keriting itu memberikan amplop coklat besar pada Dennis, lalu berdiri. Ketika akan pergi, matanya menangkap sosok Yanti.


Yanti reflek bersembunyi, ada sesuatu dalam pandangan orang itu yang dia tidak suka. Saat mengintip lagi, pria itu sudah pergi. Tinggal Dennis yang membuka amplop dan mempelajari isinya.


Merasa dirinya tidak dibutuhkan, Yanti berbalik untuk balik ke dapur. Baru beberapa langkah, dia mendengar suara Dennis.


"Yan, Yanti!" panggil Dennis yang berdiri dengan bantuan tongkatnya.


Yanti berjalan keluar dari balik kelambu dan berhenti di dekat Dennis, menunggu instruksi.


"Aku habis ini pergi lagi. Kamu jangan keluar-keluar," perintah Dennis.


Yanti mengangguk.


Dennis berhenti sejenak. Dia perhatikan wanita itu dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.


"Dua hari lagi ada orang yang datang, ngajari kamu baca tulis."


Yanti yang tidak paham arah dan tujuan pembicaraan hanya menyimak dalam diam.


"Dia juga ngajari tata krama. Kamu belajar yang bener biar ndak malu-maluin aku." Pria itu lalu berjalan ke arah kamarnya.


Yanti memutuskan menggoreng telur sebagai makan malamnya dan Kito. Kemudian membawa bayinya ke lantai dua. Dia hanya mencemaskan Kito agar tidak sampai menggelinding di tangga, dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


...


Yanti pikir tuannya itu akan pulang menjelang subuh seperti sebelumnya. Tapi sampai lewat waktu makan siang pun, Dennis belum kelihatan batang hidungnya. Setelah membersihkan rumah dan memasak, Yanti jadi tidak ada hal lain yang dikerjakan selain bermain dengan Kito.


Anaknya itu agak terlambat berjalan, kemana-mana masih merangkak dan belum terantanan (belajar berjalan). Setelah Kito bangun dari tidur siang, Yanti memandikan anaknya lalu duduk-duduk di teras depan.


"Ibuk, emak, bapak."


"Uuuu... Kyakyak..!" teriak Kito senang sambil menunjukkan senyum satu giginya. Tangannya digerakkan keatas kebawah, membuat Yanti tertawa senang. "Byuh! Kito pinter!"


Wanita itu sedang mengajari Kito bicara waktu nyonya Lili datang.


"Kamu!" panggil wanita dengan stelan kemeja dan rok modis. Rambutnya kali ini keriting lalu dijepit samping. "Kamu siapa? Ngapain di rumah anakku?"


Yanti buru-buru memeluk Kito, takut anaknya kenapa-kenapa kalau ditinggal sendirian. "Aku Yanti, Bu."


Dia ingat kalau Dennis menikahinya agar tidak lagi diganggu nyonya Lili lagi.


Tapi, Yanti takut dengan perangai buruk nyonya Lili dan tidak berani bilang kalau dia istri Dennis sekarang. Keringat mulai membasahi dahinya karena panik.


"Kamu ngapain disini?" ulang Lili dengan mata menyipit dan tangan menyilang di depan dada, menunjukkan antipati pada eksistensi Yanti.


"Aku main sama anakku," jawab Yanti berusaha mengelak.


"Kenapa disini? Rumahmu mana?" kejar Lili lagi, makin sengit.


"Itu... Aku asli Nglegok, Bu." Mata Yanti menatap ke kaki wanita ini. Dia melihat kaki kurus mungil yang dibalut sandal hak dengan pita dan kain yang membuat makin cantik. Kuku-kuku mungil yang juga bersih. Berbeda jauh dengan jari kakinya yang nyepor seperti bebek, dan memakai sandal jepit kebesaran.


"Lihat atas kalau bicara," perintah Lili. Tangannya memegang kipas yang ujungnya dia pakai untuk mengangkat dagu Yanti.


Yanti melihat ke wajah berpoles wanita cantik itu. Seandainya waktu itu Mbok Jum bilang Lili adalah kakak tuan Dennis, dia akan percaya. Lagi-lagi perbedaan mencolok wanita itu dengan emaknya membuat otak Yanti overheated. Dia terpesona dengan kecantikan nyonya galak itu.


"Lepaskan dia, Mi," ujar sebuah suara yang sudah akrab di telinga Yanti.


Saat menoleh, Dennis tengah berjalan ke arah mereka dengan tongkat hitam yang menghujam ke tanah. Lili melepaskan dagu Yanti, tapi dia tetap cemberut.


"Dennis, bagaimana kabarmu?"


"Seperti Mami bisa lihat sendiri." Pria itu mengangkat bahu lalu berjalan masuk diikuti nyonya Lili.


Dennis berhenti saat dia menyadari wanita yang sejak kemarin jadi istrinya, tidak ikut masuk. Pria itu berbalik dan tersenyum manis ke arah Yanti.


"Masuk, Yan!" panggil Dennis lembut.


Yanti mengedipkan mata, kuatir salah lihat dan salah dengar. Tapi pria itu lalu berjalan mendekat dan merengkuh pundaknya.


"Senyum," bisik Dennis tanpa menggerakkan bibir.


"Apa maksudnya ini, Dennis?" tanya Lili dengan hati-hati. Dia tidak suka melihat pemandangan keluarga kecil di depannya.


"Duh, Mami," decak Dennis malas. "Makanya aku bilang Mami ndak usah repot nyariin jodoh buat aku. Aku sudah punya Yanti."


Untuk menekankan maksudnya, dia mengelus-elus pundak wanita di sebelahnya. Dennis kembali tersenyum manis ke arah Yanti, matanya beneran terlihat seperti orang tengah dimabuk asmara.


"Wanita ini? Jangan macam-macam kamu, Dennis," ancam Lili. Wajah cantiknya juga memerah, karena marah.


"Mami milih wanita yang paling cocok buat kamu, cantik, pintar, nurut, dari keluarga kaya! Kenapa kamu milih dia?!" teriak Lili yang mulai kehabisan kesabaran.


"Tenang, Mi. Yanti cantik juga kalau didandani. Dia juga nurut, dari keluarga baik-baik," bela Dennis. Kini tangannya menarik pipi Yanti. "Dia juga lumayan montok. Aku ndak suka cewek yang kekurusan."


"Dennis!!!" teriak Lili yang makin kalap.


"Mami ndak bisa, Dennis!" Wanita itu meraih tangan Dennis. "Mami ndak rela kamu kawin sama orang macam gini."


Dennis balik memegang tangan maminya dengan santun dan penuh kasih sayang. "Kenapa Mami bilang gitu? Apa salah Yanti?" tanya Dennis.


Wajah Yanti sampai panas, malu dan sedikit takut. Yanti hendak melangkah mundur tapi terhalang oleh badan Dennis dibelakangnya. Wanita muda itu akhirnya meringkuk, mengecilkan badan agar dia dan Kito tidak jadi sasaran empuk dari perang antara Dennis dan Lili.


Yang membuat Yanti tidak habis pikir, Kito malah ikutan berseru dan bicara dengan bahasa bayinya yang racau. Ibu muda itu tak tahu artinya, tapi wajah anaknya terlihat senang dan menikmati saat ini.


"Byuh, Kito," bisik Yanti menenangkan si kecil Kito.


"Kalau ada yang salah, ini salah Dennis. Aku cinta sama Yanti, Mi," ujar Dennis lagi.


Meski Yanti tahu kalau itu bohong, hatinya yang sudah berdebar karena takut, berdetak makin kencang mendengar rayuan palsu Dennis.


Lili mendengarkan kata-kata manis anaknya, berharap masih bisa membujuk pria itu. "Ndak, Sayang. Kamu pasti terpikat kena bujuk rayu wanita ini."


Dennis kembali menggelengkan kepala. "Ndak, Mi. Ini salah Dennis karena punya selera wanita seperti papi. Kalau ndak, papi juga ndak akan kawin dengan wanita kayak Mami."


PIak!!


Suara tamparan itu begitu nyaring hingga sesudahnya terasa begitu sunyi. Yanti tidak hanya terkejut dengan kata-kata dingin Dennis, tapi juga tindakan nyonya Lili. Wanita muda itu menahan nafas, takut berikutnya adalah dia yang jadi sasaran nyonya Lili.


"Kau! Kau, Dennis..." Suara Lili tercekat di tenggorokannya. Marah dan sedih bercampur jadi satu.


Dennis hanya tersenyum sedih ke arah maminya. "Maafkan Dennis, Mi. Dennis mungkin kecapekan setelah tugas diluar. Mami duduk dulu saja, biar Yanti yang bikin teh."


"Tidak perlu! Mami juga tidak sudi berada disini lama-lama!" teriak Lili, hatinya sakit dan hancur. Wanita itu melangkah keluar dengan mata basah. Yanti tidak tega melihatnya.


Merasa iba dengan Lili, Yanti menatap kesal ke arah Dennis yang menggerakkan rahang dengan perlahan. Pria itu memastikan kalau tidak ada luka serius, mengingat maminya selalu memakai cincin dengan permata besar.


"Apa?" tanya Dennis tanpa merasa bersalah. Pria itu terus berjalan ke dapur, mengambil air minum dan membuka-buka lemari makanan.


Yanti sudah akan membuka mulut waktu dia melihat mata kecil Dennis yang menantangnya untuk mengatakan sesuatu. Wanita itu batal bicara, dan mengalihkan perhatian pada Kito.


"Kamu belum masak?" tanya Dennis lagi, pandangannya beralih pada tudung saji di meja makan. Dia melihat ada bubur, sayur bayam dan tempe goreng didalamnya.


"Besok kalau kamu belajar, titipkan anakmu ke Mbok Jum," perintah Dennis yang sudah akan menyendok nasi ke piring.


"Pak, biar aku ambilin. Tangan Pak Dennis kotor itu." Yanti menunjuk ke tangan Dennis yang ada noda kecoklatan.


Dennis memeriksa tangan, seperti kata Yanti, ada kotoran kecoklatan disana. Warna yang sama yang mengotori pinggiran kemeja di pergelangan tangan.


Tanpa kata-kata, pria itu langsung melepas kancing baju. Sebentar saja, kemeja warna biru langit itu sudah tidak lagi menutupi badan langsing yang berkulit putih dan mulus.


"Byuh! Pak!" seru Yanti terkejut. Dia tidak menyangka lengan Dennis cukup berotot, tidak seperti kelihatannya.


Dennis mengangkat sebelah alisnya. "Kamu kenapa? Kayak ndak pernah lihat badan laki aja. Padahal sudah punya anak."


Yanti yang tidak terbiasa dengan pemandangan indah, langsung deg-degan dengan wajah memanas. Sedangkan kata-kata Dennis yang selalu sengak (menyengat) seperti biasa, menusuk perasaan ibu muda itu.


"Itu kan suami aku, Pak," sanggah Yanti yang akhirnya membuang muka ke arah lain.


Dennis tertawa, "Aku yo suami kamu sekarang, Yan."


Pria itu sengaja mendekat dan menempelkan badannya ke lengan Yanti yang merasa risih. Meski Yanti berusaha mengelak, Dennis mendekat dari arah yang lain, menghalangi jalan ibu muda itu.


Hanya Dennis yang menganggapnya lucu, bukan Yanti. Duduk tidak jauh dari mereka, Kito tertawa sambil kembali menaik-turunkan tangan kecilnya yang gemuk.


.


.


.