Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
16. Menempuh Hidup Baru (2)


Yanti tengah menyuapi Kito saat dia mendengar Dennis memanggil.


"Yan! Yanti!"


Otomatis Yanti menggendong anaknya sambil berjalan ke arah asal suara. Setelah melongok ke berbagai ruangan, dia membuka pintu kamar yang gagangnya masih belum diperbaiki.


"Opo (apa), Pak?" tanya Yanti yang langsung menunduk melihat Dennis hanya memakai celana pendek dan kaos kaki.


Padahal di desanya dia sering lihat orang yang hanya pakai sarung atau celana panjang. Ibu muda itu heran, kenapa dia merasa malu waktu melihat Dennis tanpa baju. Dadanya berdebar-debar, ndredeg, seperti habis minum obat pilek.


Apa karena kulitnya putih? Apa karena wajahnya ganteng meski sering cemberut? Apa karena dada Dennis yang rata itu ada titik tahi lalat di lengan dan sekitar tulang selangka? Atau karena bukannya hitam, warna putiπg pak Dennis agak kecoklatan.


"Yan?" panggil Dennis lagi dengan suara kalem.


"Iya, Pak?" Yanti masih melihat ke lantai.


"Kemejanya kok sampai begini, Yan? Kamu gimana nyetrikanya?"


Kali ini Yanti langsung mengangkat wajah dan melihat ke arah kemeja garis-garis dengan cap gosong bekas setrika. Kini jantungnya berdebar untuk alasan yang lain.


"Itu .... Kelamaan disetrika, ya, Pak ... sampai gosong .... Kainnya masih bagus, Pak. Bisa dipake buat dirumah." Yanti mencari-cari cara agar tidak dimarahi.


Dennis menghela nafas. "Kalau semua bajunya buat dipake di rumah, terus aku kerja pake baju apa?"


Ini bukan pertama kalinya Yanti membuat noda hitam. Setiap kali setrika, pasti ada satu atau dua potong pakaian yang jadi korban, entah bekasnya jelas atau samar. Setelah hampir sebulan, hampir tidak ada pakaian Dennis yang bebas dari jejak gosong.


Yanti sudah berusaha bermacam-macam, pakai alas daun pisang, pakai kain tambahan, dia juga memerciki baju pakai air. Tiap kali, usahanya tidak membuahkan hasil.


Dia menatap sebentar ke wajah Dennis, menunjukkan penyesalannya. "Maaf, Pak," ujarnya singkat lalu menunduk lagi, belum terbiasa dengan penampilan ajaib Dennis.


"Habis ini kita pergi cari baju buat aku, gajimu aku potong sebagian sebagai ganti rugi."


"Loh, jangan, Pak. Nanti ndak ada yang dikirim buat ke desa..." pinta ibu muda itu.


"Biar kamu lebih teliti lagi kalau kerja. Sudah, sana. Aku mau mandi."


Dennis berdiri lalu berjalan sedikit menyeret ke kamar mandi. Yanti yang belum beranjak melihat ada tahi lalat lain di pinggul sebelah kanan pria itu.


Dalam hati Yanti bertanya apakah Dennis tahu semua lokasi tahu lalat di tubuhnya.


"Hei! Ngapain kamu masih disitu?!" teriak Dennis yang wajah dan lehernya memerah. Dia kini bahkan terpikir menutup badannya dengan tangan.


"Kamu mau lihat aku mandi?!" tuduh Dennis kesal bercampur malu.


Yanti yang ikut malu, mencoba menjawab dengan tergagap tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sehingga dia tergesa-gesa keluar kamar dengan membanting pintu.


Di dalam kamar mandi, Dennis mengacak-acak rambutnya. Ini bukan pertama kalinya dia jadi pusat observasi orang lain, selama sekolah dan kuliah, dia mendapat cukup banyak perhatian dari lawan jenis. Tapi rasanya tidak seperti ini.


Pria itu lalu mengaitkannya dengan keadaan yang berbeda dengan saat ini. Dia hanya memakai celana pendek dan kaos kaki, bukan berpakaian lengkap.


Kekuatan lengan Yanti juga bisa menjadi faktor rasa tidak nyaman yang dialaminya. Mungkin dirinya takut akan dikunci gerakan oleh wanita itu. Bagaimanapun, Yanti adalah emaknya Waskito, siapa yang tahu seberapa kuat wanita itu sebenarnya.


...


Di Pasar Turi, salah satu pusat perbelanjaan terlengkap di Surabaya, keduanya turun dari angkot.


Yanti yang belum terbiasa dengan irama pengunjung yang padat dan berjalan dengan cepat, beberapa kali tersandung dan menabrak orang. Dennis yang melihatnya, langsung menarik tangan Yanti dan meletakkannya di lengan.


"Pegangan yang erat, jangan sampai lepas," ujar Dennis dengan suara beratnya.


Dari dekat, wajah suami kontraknya itu terlihat sangat tampan. Ditambah dengan suara yang getarannya sampai Yanti rasakan di ujung jari, membuat ibu muda itu merasa canggung. Wajahnya memanas karena bahkan dengan ayah Kito dulu, dia tidak diperlakukan seperti ini.


Yanti pun mencengkram erat tangan Dennis yang langsung membuat pria itu meringis kesakitan.


"Adududuh... Pegangan erat biasa..." protes Dennis.


"Eh, iya, maaf, Pak," sahut Yanti yang melonggarkan pegangannya.


Dennis lalu membuat catatan mental agar tidak sampai jadi korban kekuatan Yanti, seperti tongkat hitamnya jadi korban Kito.


Para pengunjung yang lain akhirnya berjalan mengitari pria pincang dan istrinya yang bergandengan dan berjalan pelan-pelan.


"Kok disini, Pak? Katanya mau beli baju?" tanya Yanti.


"Besok minggu acaranya lama, ndak kayak terakhir kali," jawab Dennis sambil memilih alas kaki yang sekiranya cocok untuk Yanti. "Kalau ndak pas, kakimu bisa sakit."


Yanti melihat deretan sandal dan sepatu dengan berbagai model. Belum sebulan disini dan dia sudah akan punya dua sandal bagus. Dia ikut masuk dan melihat-lihat, barang dan harganya.


"Ini, Yan, cobain dulu," ujar Dennis yang berjalan mendekat dengan membawa sepasang sandal dari kulit dengan bunga kecil di bagian atas. Yang membuat Yanti lebih senang lagi adalah bentuknya yang mirip klompen.


Dennis berlutut di depan Yanti lalu meletakkan selop tebal itu. Dengan telaten, dia membantu memegang tangan Yanti saat dia berpindah dari sandal karet ke selop berwarna cream yang ternyata kekecilan.


"Ndak muat, Pak," keluh Yanti.


Pria itu memicingkan mata dengan penuh rasa curiga ke wanita di depannya itu. Haruskah dia merusak momen manis yang sudah Dennis buat agar Yanti merasa tersentuh dan berterima kasih.


Dia pasti sengaja! Tuduh Dennis yang tidak mau disalahkan karena lupa membawa ukuran yang sesuai dengan kaki Yanti.


Selesai dengan sandal untuk Yanti, mereka berpindah ke toko pakaian. Selain untuknya, dia juga membelikan beberapa untuk Yanti.


"Tapi waktu itu kan Pak Dennis sudah beli buat aku," ujar Yanti, tangannya meraba ke permukaan kain yang halus dan warnanya masih cerah.


"Kalau ndak mau, sini, aku kembalikan ke penjualnya." Dennis mengulurkan tangan.


Yanti langsung menarik pakaian itu menjauh sambil menjulurkan lidah.


...


Sabtu sore itu, Yanti mendatangi Dennis yang sedang membaca koran di teras rumah. Di tangannya ada nampan berisi cangkir dan teh panas. Setelah meletakkan minuman di meja kecil, Yanti tidak juga beranjak.


"Ada apa?" tanya Dennis tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar.


"Besok... Apa ndak apa, Pak? Aku belum bisa baca."


"Ndak apa. Justru kamu bisa minta ajari sodaraku nanti," jawab Dennis. Dia lalu mendongak ke arah Yanti. Dia pastikan mata mereka bertemu. "Ndak ngapa-ngapain juga boleh. Toh kita cuma nikah kontrak."


Yanti bisa mengerti ucapan Dennis tapi ada sebagian hatinya yang tidak suka dengan kata-kata pria itu. "Kalok gitu, kenapa aku disuruh belajar, Pak?"


Dennis kembali ke koran di tangannya. "Biar kamu ndak ditipu orang, bisa rugi aku nanti. Kan kalau kamu pinter, bisa ngajari anakmu macam-macam."


Kali ini Yanti mengangguk dan berjalan meninggalkan Dennis. Dari wajahnya, tergambar kalau dia masih sulit menerima peran dan tugasnya sebagai istri kontrak. Bagaimanapun, sejak awal Yanti lebih memilih jadi pembantu saja, hanya melakukan hal yang dia bisa dan dibayar sesuai pekerjaannya.


Hal-hal seperti istri kontrak dan pura-pura jadi istri, jauh diluar pemahamannya. Yanti juga tidak bisa berbicara pada Mbok Jum tentang hal ini, dia sudah diwanti-wanti agar tidak bercerita pada siapapun.


Wanita itu menghela nafas panjang, mengeluhkan hidupnya yang sulit.


...


Hari minggu pagi akhirnya tiba.


Yanti yang sudah lebih dahulu menitipkan Kito ke Mbok Jum, segera bersiap dengan baju terusan dan lengan panjang berwarna kuning muda. Sebuah jepit bentuk kupu-kupu warna emas terselip di rambutnya. Karena masih belum pandai memakai make up, dia hanya memulas bibirnya tipis-tipis, bedak wajah dan celak.


"Kita berangkat sekarang," panggil Dennis.


Yanti turun ke bawah dimana Dennis sudah menunggunya. Lelaki itu memakai setelan jas berwarna biru muda. Keduanya kembali berjalan beriringan, melewati rumah susun dan rumah Mbok Jum.


Di jalan, sebuah taxi sudah menunggu. Yanti sudah masuk terlebih dahulu, disusul oleh Dennis. Kaki pria itu terpeleset dan mendarat di atas Yanti, yang menyebabkan ketiganya termasuk sopir, terkejut.


"Hati-hati, Pak," ujar sopir itu.


"Iya," sahut Dennis singkat. Perlahan, dia memisahkan diri dari Yanti yang wajahnya berjarak sangat dekat.


"Ehm! Ayo, berangkat." Dennis berdehem sekali lagi saat mesin kendaraan mulai dinyalakan. Pria itu berusaha melupakan sensasi lembut dan hangat yang sempat dia sentuh sesaat.


.


.


.