Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
41. Kartu Keluarga (1)


Berita duka datang secara tiba-tiba hari itu. Dennis dan Yanti bergegas menuju kediaman utama Keluarga Setiawan di daerah Margorejo.


Kalau Yanti tidak tahu apa yang terjadi, dia akan bertanya-tanya acara apa yang sedang dihelat di rumah itu. Orang datang berjumlah puluhan atau lebih, jauh lebih banyak dibanding perayaan pernikahannya dengan Dennis. Trotoar dipenuhi mobil dan kendaraan lain berderet-deret, menyebabkan kemacetan.


"Kita sebentar saja, lalu cepat pulang, Yan," ujar Dennis saat berada di dalam


Yanti ingin tinggal lebih lama. Dia belum pernah melihat upacara pemakaman yang memakai peti, dupa, dan bunga-bunga. Di ruangan terpisah, disediakan makanan yang melimpah untuk para pelayat.


"Ayo, besok masih ada lagi." Dennis menarik lengan Yanti setelah memberi penghormatan dan menyapa anggota keluarga yang lebih tua.


Seperti kata Dennis, saat mereka datang lagi keesokan harinya, suasana masih sama.


"Banyak banget yang datang, ya, Pak," bisik Yanti.


"Usaha papi kan besar, banyak teman, karyawan, dan keluarga lain. Besan-besan..." Dennis mencoba menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti wanita itu.


Yanti mengangguk. Dia paham tentang pelayat yang lebih kurang sama. Hanya saja... "Kapan mau dikubur, Pak? Kalau Nenek keburu bangun lagi gimana?"


Dennis yang sedang minum langsung tersedak. Dia batuk-batuk hingga jalan nafasnya kembali lancar. Kadang Dennis tidak tahu sebenarnya Yanti itu bisa berpikir atau tidak.


"Sudah mati, mana bisa hidup lagi, Yan?"


Yanti mengangkat pundaknya sambil mengedarkan pandangan.


Pertanyaan ibu muda itu baru terjawab beberapa hari kemudian. Dia ikut berdiri di antara para pelayat yang kebanyakan berbaju putih dan hitam. Meski dalam suasana berkabung, Yanti tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran untuk mengikuti setiap prosesi dan ritual yang menarik baginya.


Liang yang digali sangat besar, karena jasad nenek dikubur bersama peti matinya. Lalu orang bergantian menaburkan bunga di atas peti sebelum akhirnya ditimbun dengan tanah.


Ada pemuka agama yang membaca doa dan ceramah yang sangat panjang. Yanti yang tidak tertarik mendengarkan, berjalan menjauh.


Yanti memperhatikan makam dengan bentuk batu nissan yang berbeda dan unik di wilayah perbukitan itu. Ada yang dihias patung naga, ada yang pakai patung dewa. Ada yang hanya tulisan tapi bentuk batunya unik seperti rumah. Dia akan bertanya pada majikannya nanti kalau sudah sampai di ruma-


"Yanti?" panggil seseorang yang berdiri bersama pelayat lain, berteduh di bawah pohon.


Ibu muda itu pun menoleh pada seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing. Tapi tidak juga dia kenali.


"Aku Darto. Kamu Yanti, 'kan?" tanya pria itu yang berjalan makin dekat.


Yanti merasa darah di tubuhnya seketika membeku saat dia menyadari siapa pria itu. Suara dan wajah itu, bagaimana bisa dia melupakannya? Memang dandanan Darto berubah, tapi, itu memang Darto!


Ketakutan seketika menyergapnya, tanpa sadar dia melangkah mundur. "B-bukan! Aku Tanti! Pakai T! Tanti!"


"Hmm, aku kira Yanti, kenalanku," ujar pria itu. Darto lalu berjalan kembali ke tempatnya semula.


Insting Yanti membuat kakinya bergerak menjauhi pria itu, semakin cepat semakin baik. Sejauh mungkin..!


Mata Yanti mencari sosok Dennis diantara puluhan orang yang memenuhi pemakaman itu.


"Yan?" panggil suara berat yang membuat Yanti kembali bisa bernafas lega.


Saat menoleh, Dennis berada di sana, bersandar ke batu nissan besar. Di sampingnya ada Darren dan Lani yang melambaikan tangan ke arahnya. Yanti pun bergegas mendatangi mereka.


"Kamu kenapa, Ce?" tanya Lani.


"Mungkin kelamaan di kuburan, hawanya ndak enak," jawab Yanti dengan dusta yang lain.


Dennis hanya melihat reaksi aneh Yanti yang lain dari biasanya. Di rumah, dia hendak menanyakan tentang sikap Yanti tapi tidak sempat. Mendadak ada panggilan tugas penting untuk menemukan target kelompok lain yang kabur. Dennis pun pergi dengan tergesa-gesa.


"Mungkin aku pulang besok. Kamu kunci pintunya waktu malam. Jangan dibuka kalau ada yang ketok-ketok pintu," perintah Dennis.


Yanti mengangguk. Sendirian dan hanya berdua dengan Kito, dia tidak mau ada yang datang. Apalagi kalau orang itu mungkin saja Darto.


Pikiran Yanti kembali pada pertemuan di kuburan tadi siang. Wanita itu tidak habis pikir dengan yang sudah dilakukannya.


Padahal selama ini dia terus berjuang mencari Darto, ayah dari Kito.


Yang membuat Yanti semakin takut adalah kalau Dennis tahu jika Darto mendatangi Yanti. Dia takut jika Dennis akan segera mengusirnya atau memutuskan kontrak mereka. Yanti juga tidak mau Darto tahu kalau dia sudah menikah lagi (secara kontrak) dengan pria lain.


"Maaf, ya, Kito... Ibuk ndak pengen ketemu lagi sama bapakmu..." gumam Yanti. Rasa bersalahnya makin besar saat Waskito tersenyum lebar.


"Buuuuk.. Buk!" panggil Kito dengan ceria tanpa tahu perasaan Yanti yang berkecamuk.


...


"Target diketahui terlihat di sekitar rusun. Jadi tim kita akan memback-up tim lain. Meski begitu, aku minta kalian tetap berhati-hati," ujar Miss C sambil membagikan foto target yang terdiri dari beberapa orang.


"Kemungkinan target dibantu oleh pihak lain juga besar," lanjut wanita itu. "Snipe, kamu bisa jadi sasaran empuk dalam sekejap."


Saat perhatian seluruh ruangan terarah padanya, Dennis mendongakkan kepala. "Ada alasan aku selalu bisa lolos."


Hampir semua rekannya tertawa dengan candaan garing pria bertongkat itu. Tapi Miss C hanya tersenyum. "Oke, aku percaya. Baiklah, tiap orang pada posisi masing-masing. Lakukan dengan tingkat fatalitas minim dan keberhasilan 100%."


Anggota tim menempati posisi sesuai arahan Miss C, begitu juga Dennis.


Dia naik ke atap salah satu ruko dan hendak melihat situasi saat seseorang keluar dari balik tandon. Untungnya sudut mata Dennis menangkap gerakan benda yang mengayun ke arahnya. Spontan dia memakai tongkat hitamnya untuk menangkis dan menyerang balik.


Orang itu berkelit cukup lihai tapi gerakan Dennis lebih cepat. Dia memanfaatkan anggapan orang yang cenderung meremehkannya karena memakai tongkat. Sementara satu tangan memainkan tongkat, Dennis mengeluarkan lagi senjata cadangan dari balik kemejanya yang dia arahkan ke leher orang itu.


Sayang, senjata Dennis meleset dan hanya terkena topi yang dipakai orang itu. Topi itu melayang, menunjukkan wajah yang membuat Dennis terkejut untuk sesaat. Namun, waktu sepersekian detik itu dipakai orang tadi untuk mendorong Dennis dan mengayunkan parang.


Dennis berhasil mengelak namun bahunya tetap terkena sabetan. Dia pun memukulkan tongkatnya ke arah kepala penyerangnya yang terkena telak. Pria tadi langsung jatuh dan terkapar.


Dennis tidak punya waktu mengecek apakah pria tadi masih hidup atau tidak. Dia bergegas memberi tanda bahaya ke anggota timnya yang lain. Tidak ada yang tahu apakah seluruh operasi ini jebakan atau tidak, tapi tidak ada salahnya juga berjaga-jaga.


Sambil menahan darah yang mengalir dari lukanya, Dennis segera turun dan meninggalkan ruko tadi. Suara perkelahian mereka dan luka Dennis pasti menarik banyak perhatian, sehingga dia menyelinap dengan hati-hati. Tangannya menyambar jaket yang tergeletak dan ditinggalkan pemiliknya.


Saat sudah dirasa aman, dia memanggil ojek untuk mengantarnya ke kantor Miss C.


Kedatangan Dennis menyebabkan kericuhan di dalam kantor. Bukan karena lukanya, tapi juga informasi yang dia bawa.


...


Di dalam kantor, Dennis diminta ke ruang informasi dimana dia dimintai keterangan. Disana lukanya juga diberi perawatan.


Seperti yang pernah dia dengar dari Antok, informasi yang masuk, masih harus mereka cocokkan dan konfirmasi berkali-kali. Prosesnya berulang-ulang hingga Dennis baru keluar pagi harinya.


Lelah setelah berada di kantor penyelidikan semalam suntuk, Dennis berencana langsung pulang. Senyum di wajah Dennis melebar saat membayangkan sayur bayam dan tempe goreng masakan Yanti.


"Yan.. Yanti..." panggil Dennis yang mencoba masuk lewat ruang tamu. Pintu masih terkunci, jadi dia berjalan memutar.


Di belakang rumah, ibu muda itu tengah membawa keranjang cucian. Sebagian baju dan roknya basah, tapi wajah wanita itu tetap cerah dan berbinar di bawah cahaya matahari. Dennis ingin melihat pemandangan yang sama untuk bertahun-tahun yang akan datang.


"Yan!" panggil pria itu lagi sambil mendekat.


Yanti menoleh, rautnya yang semula berseri berubah dipenuhi teror dan ketakutan.


"Pak Dennis!!" teriak Yanti yang langsung menjatuhkan cucian dan berlari ke arahnya.


"Pak Dennis! Kenapa..." Mata wanita itu berair.


Seketika itu juga Dennis ingat kalau dia masih memakai bajunya yang kemarin, yang masih dipenuhi cipratan darah dari luka di bahunya.


"Oh, ini... Aku luka.."


.


.