Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
37. Istri Ideal (6)


Dennis segera meminta dipanggilkan kendaraan ke Mbok Jum sementara dia mempersiapkan uang dan...


Dan dia terhenti melihat Yanti yang masih duduk menangis sambil memeluk anaknya di dekat tangga.


"Apa yang kamu lakukan? Tenanglah. Saat seperti ini kau harus tenang agar anakmu tidak semakin takut," nasehat Dennis.


"Mana bisa aku tenang kalau keadaan Kito jadi begini, Pak.." ujar Yanti sambil sesenggukan dan mengusap wajahnya yang basah karena air mata.


Dennis pun mengambilkan air putih. "Minumlah dulu dan tenangkan dirimu. Aku sudah suruh mbok Jum cari kendaraan."


Yanti mengangguk dan meminum air. "Kemana, Pak?" tanya dia setelah meminum air.


"Ke rumah sakit. Cuma buat mengecek saja. Tidak ada yang berdarah kan?"


Yanti berhati-hati menggeser posisi Kito yang masih menangis keras. "Ndak ada, Pak. Cuma lecet.."


Dennis mengangguk. Dia melihat memar-memar yang mulai muncul di badan kecil itu tapi tidak mengatakannya. Dia tidak ingin Yanti kembali panik.


"Pak, taksinya sudah datang," ujar Elang yang datang sambil berlari.


"Ayo, cepat berangkat," ajak Dennis yang membawa tas kecil berisi keperluan seadanya.


Di halaman, mbok Jum berdiri dengan wajah khawatir.


"Jum, tolong kamu siapkan pakaiannya Yanti dan Waskito. Buat jaga-jaga," ujar Dennis. Matanya beberapa kali melirik ke arah Yanti yang susah payah menaiki kendaraan sambil menggendong anaknya.


"Iya, Tuan. Saya menyusul secepatnya."


Dennis mengangguk dan naik ke mobil di sebelah Yanti.


...


Di ruang UGD, Dennis duduk di depan dokter jaga saat itu.


"Untuk posisi tulang baru bisa dilakukan foto roentgen besok. Yang lebih penting adalah pemantauan selama 1 x 24 jam sejak kejadian, karena adanya kemungkinan gegar otak. Jadi segera kabari perawat kalau ada tanda-tanda muntah, kejang atau hilang kesadaran," ujar dokter sambil menuliskan sesuatu di map besar.


Nyali Dennis mengecil mendengar kata-kata dokter tersebut. Dia tidak tahu bagaimana menyampaikannya pada ibu bocah itu.


"Semoga saja tidak ada apa-apa, jadi bisa segera pulang," lanjut dokter yang memberi senyum ramah.


Dennis hanya mengangguk sebelum berdiri dan menyalami dokter itu. "Terimakasih banyak, Dok. Saya harap juga hanya lecet dan memar saja."


Pria pincang itu lalu mendekati Yanti. Wanita itu tengah duduk di kasur pasien sambil memangku Waskito yang masih merintih. Wajahnya sedih dan muram, dan letih dan layu.


"Kamu bisa tidur dulu, biar aku yang jaga," ujar Dennis.


Yanti menggeleng dan mempererat pelukannya pada bocah yang baru mulai bisa berjalan itu.


"Ndak apa. Pak Dennis pulang aja, besok masih harus kerja."


Disentuhnya telapak tangan Yanti yang berada di punggung Waskito dengan lembut. "Kamu bisa tidur sambil duduk begini, aku ndak akan ambil anakmu."


Kali ini Yanti menganggukkan kepala. Dia masih ingin terjaga tapi mereka tidak tahu hingga berapa lama sampai diperbolehkan pulang. Yanti tidak mau kalau sampai sakit dan malah menyusahkan semuanya.


Lagipula, Kito kini hanya merengek pelan, tidak menangis sampai kejer seperti tadi. "Ada apa-apa, bangunin aku, Pak."


"Iya. Aku janji," ujar Dennis sekali lagi menepuk telapak tangan Yanti.


Pria itu memperhatikan saat Yanti menutup mata. Tidak lama hingga dia mendengar suara dengkuran halus dan nafas Yanti yang mulai teratur. Dennis bahkan ingin tertawa waktu mulut Yanti sedikit terbuka.


Yanti yang Dennis pikir akan bisa dia jauhi dan acuhkan.


"Pak..." panggil suara yang Dennis kenal.


"Sebagian besar, Pak. Lainnya bisa dibeli besok atau ambil di rumah," jawab mbok Jum yang menunjukkan tas besar di tangannya.


"Bagus. Sekarang kamu bisa pulang dan istirahat. Besok pagi..." Dennis menoleh ke arah dimana Yanti tidur sambil duduk dan memeluk Waskito. "Besok pagi, tolong jagakan Yanti dan anaknya buatku."


Jumilah tidak perlu mengatakan apa-apa selain 'iya, Pak'. Wanita paruh baya itu sudah cukup makan asam garam untuk mengetahui perasaan keduanya. Permainan apapun yang mereka lakukan, Jumilah mengharapkan yang terbaik untuk keduanya.


"Apa ada lagi, Pak?"


"Ndak, Jum. Terimakasih."


Jumilah pun pergi dengan hati yang lebih ringan. Keduanya sudah suami istri, tapi tingkahnya seperti anak yang baru mulai pacaran saja. Ini menandakan kalau keadaan Waskito tidak mengancam nyawa.


...


Yanti bangun karena merasa tidak nyaman di perutnya. Dia lalu teringat kejadian semalam saat melihat Waskito yang tidur dipangkuannya.


"Kamu perlu sesuatu?" tanya Dennis yang duduk di samping ranjang.


Ibu muda itu hanya menggeser duduknya sedikit. Dia malu mengatakannya.


"Kamu mau ke belakang?" tebak Dennis.


Yanti mengangguk sambil melirik majikannya. Pria itu sudah begadang semalaman menjaga mereka.


Dennis pun menjulurkan tangan. "Sini, biar aku gendong."


Perlahan, mereka memindahkan tubuh Waskito ke dalam dekapan Dennis. Bocah itu hanya bergerak mencari posisi yang nyaman sebelum kembali terlelap.


Selagi Yanti pergi, mbok Jum datang membawa tas berisi rantang dan botol minum. Ibu sepuh itu memutuskan untuk sedikit menggoda tuannya.


"Ndak berat, Pak?" tanya mbok Jum.


"Lumayan... Anak ini sudah lebih besar dari pertama kali datang," jawab Dennis. Tangannya memegangi punggung bocah itu agar tidak jatuh.


"Untung kalau belanja di mbak Sur bisa minta tolong pegawainya buat kirim ke rumah. Siapa namanya... Ah, Anas, kalo ndak salah," ujar mbok Jum pada dirinya sendiri. "Lumayan, apalagi kalo beras sama minyak habisnya barengan."


Dennis yang awalnya tidak terlalu memperhatikan, kini mendengarkan mbok Jum dengan seksama. Nama yang terdengar familiar...


"Masih muda, jadi tenaganya kuat. Kemaren katanya ngasih ayam ke Yanti, Pak."


Pria pincang itu pun teringat kejadian siang kemarin dan kata-kata kasar yang sudah diucapkannya ke Yanti. Terbersit rasa bersalah sudah menuduh Yanti yang bukan-bukan. Dia jadi berpikir, apa karena itu Yanti minta berhenti belajar...


Tidak lama kemudian, Yanti pun datang.


"Sini, Pak, biar aku yang gendong," kata Yanti. Wajahnya lebih cerah setelah mencuci muka.


"Kamu sarapan dulu, biar aku pegangi sebentar lagi." tolak Dennis.


Yanti sudah hendak memaksa, karena sungkan membuatkan majikannya menggendong Waskito. Tapi mbok Jum menarik tangannya dan berkedip-kedip. Yanti tidak tahu maksud wanita senior itu, tapi dia akhirnya membiarkan Waskito dibawa Dennis lebih lama.


Bahkan ketika ada perawat yang meminta agar Waskito difoto ke lab, Dennis juga yang membawa bocah itu. Pria itu beralasan kalau Yanti masih sarapan dan dirinya lebih paham perkataan dokter.


"Kok tumben pak Dennis perhatian, ya, Mbok.. biasanya aku yang disuruh ini itu.." tanya Yanti yang heran dengan tingkah majikannya.


"Hmm, ndak tahu ya... Sudah, kamu habiskan sarapannya dulu biar ada tenaga. Ndak usah mikir aneh-aneh."


.


.


.