Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
21. Kebun Binatang Surabaya (2)


Hari semakin siang. Setelah berjalan kesana-kemari sambil menggendong Kito, Yanti mulai merasa lapar. Dibanding saat dulu membantu di kebun, anaknya sekarang sudah jauh lebih besar dan berat.


"Ayo balik dulu ke Pak Dennis, Le," ujar Yanti sambil tersenyum.


Saat Yanti sudah dekat, dia bisa melihat kumis tipis Dennis tidak bisa menyembunyikan bibirnya yang cemberut. Tentu saja Yanti tidak berani tertawa terang-terangan, hanya dalam hati.


"Sudah puas?" tanya pria itu dengan suara beratnya.


"Belum, Pak. Mau makan dulu," jawab Yanti yang duduk di kursi panjang yang sama. Hanya tas bekal yang memisahkan mereka.


"Nanti habis makan, mau muter lagi," lanjut Yanti tanpa diminta. Tangannya mulai membuka rantang dan menyusun dengan hati-hati di bangku sempit.


Ketika Dennis berdiri dan bukannya makan, Yanti memanggilnya. "Pak Dennis ndak makan?"


"Aku mau nglurusin kaki dulu. Capek dari tadi duduk nungguin makanan," balasnya ketus sambil berjalan menjauh.


Yanti tersenyum, sedikit merasa bersalah karena Dennis yang mengajak mereka kesini tapi malah dia tinggalkan. Sekaligus senang, karena pria itu tetap mau menjaga barang bawaan Yanti meski menggerutu. Saat makan bersama Kito itulah, ibu muda itu baru terpikir kenapa Dennis mengajaknya keluar.


.


Dennis berjalan dengan sedikit menyeret kaki kanannya. Sesekali dia berhenti dan melihat ke sekeliling. Dia sudah melihat targetnya hari ini, dia sedang menunggu anaknya yang asik naik gajah. Yang belum Dennis lihat adalah orang yang akan membantu membereskan tugasnya.


Sudah hampir dua jam dan belum ada seorangpun yang membuat kontak dengannya. Padahal Dennis sudah terang-terangan menunjukkan diri. Dia bahkan tidak memakai topi atau penutup wajah lain. Sesekali dia berdiri dan mengitari bangku sambil menyeret kaki.


Pria pincang itu pun kembali mendekati target. Sasarannya itu menoleh sebentar ke arahnya, melihat kakinya yang pincang, lalu kembali ke anaknya yang berada di atas gajah. Dennis terus mendekat hingga hanya ada jarak satu orang diantara mereka.


Dennis lalu mengukur jarak gajah yang berjalan berputar mengelilingi lapangan kecil, dari tempatnya berdiri sekarang. Dia mulai menyusun sendiri rencana B, dia tidak bisa terus menunggu kedatangan asistennya. Target bisa cepat menghilang di tengah keramaian, dan setelah kesempatan pertama gagal, kesempatan kedua akan jauh lebih sulit.


Pria itu menunggu dengan sabar hingga jarak mereka dengan gajah sudah semakin dekat.


Tangan kiri Dennis sudah siap dengan alat suntik yang dia sembunyikan di balik jaket, ketika tangan kanannya dengan sengaja menjatuhkan botol minuman. Bunyi 'klotak' seolah jadi sinyalnya untuk menunduk, mengambil benda yang jatuh. Sekaligus menusukkan jarum ke kaki target incarannya.


Dennis berencana mendorong tubuh itu saat dia bangun, dengan dalih tidak sengaja. Tapi, belum sempat meluruskan badan, seseorang sudah lebih dulu mendorong tubuh sasarannya ke arah lintasan gajah. Tangan dari orang berjaket hitam yang tidak Dennis kenal.


Dalam sedetik itu, indra Dennis dipenuhi oleh banyak hal sekaligus. Suara gemelatuk pelan, disusul warna merah yang seolah disiram ke wajahnya. Dennis memutuskan kalau itu adalah saat terbaik baginya untuk berjalan menjauh.


Sedetik selanjutnya, keributan dan kepanikan yang tidak pernah Dennis alami secara langsung, terjadi di sekelilingnya. Ada teriakan orang-orang disekitarnya, anak-anak, dewasa, pawang, pengunjung. Para petugas meminta pengunjung menjauh. Gajah yang panik karena teriakan dan gerakan mendadak, mengangkat belalai dan menarik-narik kaki yang terbelenggu rantai.


.


Yanti sudah hampir selesai makan waktu dia mendengar teriakan orang, yang lalu berlarian menjauh, menerobos dia dan Kito. Ibu muda itu, tidak tahu apa yang terjadi, spontan memeluk anaknya agar tidak kena terjang orang-orang.


Dia sama paniknya dengan pengunjung lain yang melongo. Wanita itu lalu mendengar dari pengunjung lain yang memperingatkan kalau gajah sedang mengamuk.


Darah Yanti seketika membeku. Dia ingat kalau terakhir kali, Dennis berjalan ke arah sana. Dirinya ingin berlari ke tempat Dennis, memastikan kalau majikannya yang pincang itu baik-baik saja. Disisi lain, Yanti takut kalau sesuatu terjadi pada Kito.


Yanti hendak mendekat lagi saat tangannya ditahan dari belakang.


"Mbak mau kemana? Bahaya, cepat pergi. Ada gajah ngamuk," ujar petugas yang berseragam coklat dengan tegas.


"Suamiku tadi ke arah sana, Pak. Kakinya pincang, jadi ndak bisa lari..." kata Yanti dengan bibir dan tangan gemetaran.


"Mbak ke tempat yang aman dulu, nanti kita carikan suami Mbak. Apalagi Mbak bawa anak kecil, bisa bahaya. Ayo, keluar dulu," usir petugas itu lagi.


Yanti terpaksa menurut karena keselamatan Kito lebih penting. Wanita itu juga sadar kalau dia tidak akan bisa berbuat banyak seandainya benar Dennis dalam bahaya.


Dengan langkah gontai dan badan lemas, Yanti menuju pintu keluar sesuai arahan petugas. Disana, dia berkumpul dengan banyak pengunjung lain yang membahas kejadian barusan. Semakin lama, cerita yang dia dengar makin menyeramkan, jadi Yanti duduk menjauh. Dia sudah tidak mau dengar lagi.


"Wuuk... Aak.."


Tidak lama, bermacam-macam petugas datang. Yanti tidak tahu bedanya, dia hanya tahu kalau mereka dari pemerintahan, polisi, dan rumah sakit. Berkali-kali Yanti diminta pergi tapi dia tetap tidak bergeming dengan alasan suaminya masih ada di dalam.


Wanita itu juga melongok tiap ada orang melewati pintu keluar. Hingga hampir dua jam kemudian, Yanti melihat sosok yang familiar. Cara berjalan yang timpang, dibantu oleh salah satu petugas.


Yanti bergegas berdiri dan mendatangi Dennis yang dibantu duduk di tempat seadanya. Jantungnya seperti lepas melihat suami kontraknya berlumuran darah mulai kepala sampai bajunya, berbau anyir dan amis.


"Pak Dennis!" Teriak Yanti dengan tangan yang kembali gemetaran. Lututnya lemas dan dia sudah ikut duduk di samping pria itu.


Dennis tersenyum kecil dan mengulurkan tangan panjangnya, menepuk pelan pipi Yanti yang pucat. "Aku ndak apa. Ini bukan darahku."


"Kamu ndak apa?" Dennis bertanya.


Seketika itu juga air mata meleleh dari mata Yanti, bersamaan dengan tangan kecilnya yang meraih tubuh Dennis.


"Alhamdulillah, Pak! Alhamdulillah, Ya Allah!!" Seru Yanti diantara tangisnya yang pecah.


Bingung dengan reaksi Yanti, Dennis hanya menepuk pelan punggung wanita yang memeluknya erat-erat di depan umum. Bukan hanya itu, anaknya Yanti yang tergencet diantara mereka pun membuat badannya miring ke arah yang tidak nyaman.


"Mbaknya dari tadi nyariin sampeyan, Mas," celetuk seseorang yang berada tidak jauh dari mereka.


Pria pincang itu memutuskan akan memaafkan sikap Yanti kali ini, wanita itu sedang kalut dan panik. Dennis juga memaafkan Waskito yang mengusap-usap mulut penuh liur dan sisa makanan ke bajunya. Toh dia selalu bisa membeli baju baru kapan saja dari hasil pekerjaan.


.


.


.


A/n : Ini adalah cerita fiksi, ya, Kak.. Tidak ada hubungan dengan tempat, nama orang, dan kejadian yang sesungguhnya. Kalau ada kemiripan, maka itu hanyalah kebetulan.