Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
35. Istri Ideal (4)


Setelah kegagalan mengikuti kelas kursus, Yanti pun menuruti saran Dennis untuk belajar masak ke mbok Jum. Pria itu bahkan menawarkan kalau Yanti mau belajar ke juru masak di rumah utama. Yanti menolak karena tidak mau bertemu Lili.


Dia tidak akan memaksakan diri menjadi istri ideal seperti yang dikatakan pria di radio itu. Dennis tidak pernah memintanya. Dennis hanya memintanya melakukan pekerjaan rumah dengan baik, dan bersikap sebagai istri jika ada anggota keluarga Setiawan saja. Selebihnya, Yanti bisa melakukan apa yang dia mau.


Satu lagi yang membuat Yanti senang adalah anaknya makin lancar berjalan. Waskito sudah mau melepaskan pegangan dan berjalan sendiri. Meski tidak jauh, Yanti sangat bangga.


Sudah hampir sebulan setengah sejak Yanti dan Waskito datang kemari. Dibandingkan saat itu, anaknya itu mengalami perkembangan pesat.


Dan bukan hanya anaknya yang berubah. Yanti pun merasakan perubahan dalam dirinya. Dari hal-hal yang diajarkan Bu Niken, sampai perilaku orang-orang disekelilingnya. Yanti yakin emak dan bapaknya bisa pingsan kalau tahu dia pernah menyusup ke tempat preman untuk menyelamatkan sodaranya Pak Dennis.


Yanti tertawa kecil sambil menyiapkan masakan untuk makan siang. Dia sengaja meminta Niken tinggal agar bisa makan bersama. Yanti juga ingin pamer pada Dennis dengan memasak ayam goreng tepung pakai saus asam manis.


Setelah siap, Yanti berjalan ke arah ruang tamu. Dia hendak memanggil keduanya saat mendengar percakapan antara Niken dan Dennis yang tidak biasa..


"Pinggang dan pinggulmu tidak ada masalah.." ujar Niken.


Yanti terkejut, bagaimana kalau Dennis ternyata mengidap sakit parah dan menyembunyikan dari dirinya?!


"Pahamu juga.." lanjut Niken.


Karena penasaran, Yanti pun mengintip dari balik tirai. Selain bisa mendengar lebih jelas, juga bisa tahu apa yang mereka maksud. Matanya terbelalak melihat keduanya yang duduk berdekatan.


Sangaaat dekat... Sampai Yanti bisa melihat wanita itu memegang-pegang paha Dennis! Tidak sampai disana, Niken terus melanjutkan eksplorasinya.


"Hmm... Masih besar dan keras ya.." komentar Niken yang masih belum menyadari keberadaan Yanti. "Masih bisa berdiri tegak."


"Kamu yakin?" tanya Dennis dengan suara beratnya yang menggetarkan hati.


Yanti yang sudah sangat syok mendengar pembicaraan itu, tidak menyangkan bahwa Niken semakin nekad dengan meletakkan wajahnya di antara kedua kaki Dennis!


"Iya, aku rasa ndak ada masalah," jawab Niken.


"Apanya Yang Ndak Masalah!!" teriak Yanti, wajahnya merah padam.


Teriakannya mengejutkan Dennis dan Niken.


"Apa Kalian Ndak Mikir Kalau Ini Ruang Tamu! Bukan Kamar Tidur!"


"Kenapa kamu teriak-teriak, Yan?" tanya Dennis yang tidak suka dibentak-bentak di depan orang lain.


"Kalian Yang Keterlaluan! Berbuat Mesum di Siang Bolong Begini!!" Yanti akhirnya tidak tahan.


Wajah Niken yang semula penasaran karena mendadak Yanti muncul dengan emosi, langsung sadar penyebabnya. "Tunggu, Bu Yanti! Anda salah paham!"


"Salah Paham apanya?!"


"Saya cuma mengecek kaki Pak Dennis..."


Niken lalu menunjukkan bagian-bagian yang dia pegang, sambil mengulang perkataannya yang menyebabkan salah paham.


"Masih besar dan keras, ya (ligamennya). Masih bisa berdiri tegak (tulang kering kakinya). Aku rasa ndak ada masalah (dengan kakimu)..." ujar Niken perlahan.


Yanti yang telah mendapat penjelasan, merasa malu setengah mati.


"Hahaha .. kamu pikir, aku sama Bu Niken lagi ngapain, Yan?" tanya Dennis yang sudah paham duduk persoalannya.


"Aku benar-benar minta maaf kalau menyebabkan salah paham.." Niken berdiri dan mendekati Yanti.


Ibu muda itu menggelengkan kepala. "Bukan, Bu. Saya yang keliru... Habisnya, ngapain pake pegang-pegang..."


"Bu Niken itu bukan cuma gurumu. Dia juga ahli terapis tulang terkenal di Surabaya," sabut Dennis yang berdiri dibantu tongkat hitam.


"Mana aku tahu, Pak. Aku tahunya Bu Niken ngajari aku baca, tulis, tata krama, budaya. Ndak tahu kalau Bu Niken juga dokter," imbuh Yanti.


Dennis kembali menertawakan ketidak tahuan Yanti.


Tinggal Yanti sendiri yang masih malu bercampur kesal. Dia memikirkan jika Dennis sudah menemukan wanita yang disukai. Hati Yanti sakit, dan dia hanya menendang tongkat Dennis untuk melampiaskan kekesalannya.


Terdengar bunyi berdenting saat tongkat logam itu menggelinding di lantai plester sebelum akhirnya menabrak tembok.


"Hei, Yan! Ngapain nendang-nendang tongkatku!" protes Dennis tidak didengar Yanti yang sudah kembali ke dapur.


.


Kejadian siang itu, pandangan Yanti yang sering terarah padanya saat berada d ruangan yang sama.. dan hal-hal kecil lain membuat Dennis merasa jika Yanti menaruh perhatian lebih padanya. Mungkin belum sampai cinta, baru sebatas suka saja. Bahkan, bisa jadi Yanti sendiri tidak sadar dengan perasaannya.


Dennis pun memutuskan untuk menunggu perkembangan. Dia ingin menganalisa setelah mendapat lebih banyak data dan petunjuk... Dennis juga perlu memastikan, apakah ini hanya efek jembatan gantung atau lebih.


Dia tidak mau gegabah menafsirkan perasaan Yanti. Lagipula semua ini berjalan terlalu cepat. Harusnya tidak ada perasaan yang terlibat diantara mereka. Harusnya dia masih bisa menggunakan kedok mereka untuk waktu yang lebih lama. Dan menggunakannya untuk banyak hal lain.


Seperti menemukan orang berjaket hitam di Kebun Binatang waktu itu.


"Pak Dennis!" teriak seseorang dari luar rumah.


"Pak Dennis ada di dalam, Lang. Kamu tunggu disini dulu, ya," suara Yanti dari sebelah belakang rumah menyahut.


"Iya, Mbak Yanti," sahut Elang.


Tidak lama, Dennis mendengar langkah Yanti. Sandal jepit karetnya membuat suara yang khas. Sejurus kemudian, pintu kamarnya diketuk pelan.


"Pak Dennis, dicari Elang."


"Suruh dia masuk, Yan."


Tanpa menjawab balik, Yanti sudah melangkah pergi dan membuka pintu depan.


Elang berdiri di hadapannya dengan mulut tertutup, seolah membawa pesan penting dan rahasia. Hanya mata berbinar dan mulut yang berkali-kali berkedut ke atas, menunjukkan kebanggaannya diserahi tugas.


Dennis pun mengatur duduknya, agar tampak lebih berwibawa namun tetap misterius.


"Katakan," perintah pria pincang itu dengan suara berat.


Elang maju lagi selangkah. Sambil berbisik, dia berkata, "Ibu bilang kalau kretek pesanan Pak Dennis sudah datang."


Elang lalu mundur selangkah, dahinya berkerut seakan tidak yakin sudah melakukan tugas dengan benar atau tidak.


"Baiklah. Ini untukmu." Dennis melempar koin ke udara dengan ibu jari, yang ditangkap dengan mudah oleh bocah SD itu.


"Makasih, Pak!" seru Elang sebelum berlari keluar.


Luar biasa...


Kabar dari Antok bisa jadi pengalih perhatian yang sempurna. Langit masih memberkatinya. Dennis masih diberi waktu untuk memikirkan hal selain Yanti.


Sambil merapikan kemeja dan celana, Dennis berdiri dibantu tongkat hitamnya.


"Yan! Aku pergi sebentar," teriak Dennis yang disahut pendek oleh Yanti.


Pria itu berjalan keluar rumah dengan semangat baru.


Beginilah seharusnya, lebih fokus pada pekerjaan. Bukan wanita satu anak yang tinggal seatap dengannya.


.


.


.