Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
39. Halucyanth (1)


Sejak kepulangan Waskito dari rumah sakit, Dennis merasa ada perubahan dalam diri Yanti. Wanita itu tetap tidak mau belajar dengan Niken dan sebagai gantinya lebih rajin mengaji dan ibadah lain.


Dennis sering membaca bahwa manusia cenderung mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa jika mengalami masalah pelik. Dia pun pernah melakukan hal yang sama. Tapi, tetap saja dia merasa aneh mendengar suara ayat-ayat yang dibaca Yanti di dalam rumah.


"Aku mau ikut kelompok diba'an, Pak. Biasanya gantian tiap selasa di rumah anggotanya," kata Yanti pada suatu pagi.


"Ha? Kelompok apa?" tanya Dennis yang tidak paham dengan maksud ibu muda itu.


"Diba'an.. pengajian itu loh, Pak. Nanti Kito aku ajak biar pinter ngaji."


Dennis yang merasa tidak ada yang aneh, hanya mengangguk. "Ya, kalau sering kumpul sama orang bisa nambah wawasan."


Yanti yang juga tidak terlalu paham maksud Dennis, senang mendapat ijin.


Selepas maghrib, Yanti yang biasanya menemani Dennis makan malam, tidak tampak.


Dennis pun menunggu hingga ibu muda itu muncul. Dia sedikit terkejut melihat Yanti berpakaian tertutup dan berkerudung, bahkan Waskito juga memakai pakaian serba panjang.


"Mau kemana?" tanya Dennis.


"Mau ikut diba'an, Pak. Lupa, ya, kalau tadi pagi aku sudah bilang... Nih, Kito juga ikut." Yanti mengayunkan tangan anaknya yang masih di gips. "Ayo, Kito, bilang, dada Pak Dennis..."


"Nniss!!" ulang Waskito dengan antusias.


"Hmm, baiklah," ujar Dennis meski dia ingin wanita itu tetap tinggal.


"Yan," panggil Dennis saat Yanti sudah akan beranjak.


"Hati-hati." Hanya nasehat singkat itu saja yang keluar dari mulut Dennis.


Ibu muda itu melempar senyum dan melambaikan tangan dengan gembira saat melangkah keluar rumah.


Dennis ingin Yanti lebih menggantungkan diri padanya. Tapi tidak masalah jika wanita itu ingin mendekati Tuhannya. Yang mana saja asal Yanti merasa senang. Dennis yakin kalau Dewa Langit dan Dewa Bumi menjaga semua ciptaanNya tanpa kecuali.


Pria itu kembali menghela nafas panjang. Selera makannya sudah hilang, pergi bersama ibu dan anak itu.


.


Beberapa hari ini Dennis lebih banyak di rumah karena menunggu kabar dari Antok. Dia pun sering melihat kedatangan pegawai toko yang membawa berbagai keperluan. Seperti kata mbok Jum, pemuda itu hanya datang dan pergi seperlunya saja. Yanti tidak bertingkah aneh seperti merayu atau kemayu pada pemuda itu.


Yanti justru bertingkah sangat lain dari biasanya. Sejak sering mengikuti pengajian, dia lebih banyak berbicara tentang yang diajarkan oleh Ustadzah A.. atau Ustadz B.. atau Kyai C.. Tidak jarang Dennis juga ikut diceramahi untuk hal-hal kecil.


"Kalau makan tangan kanan, Pak. Kalau jalan kaki kanan dulu. Cuma mau masuk kamar mandi aja, kaki kiri."


"Pak Dennis ndak pernah berdoa ke Klenteng 'kan? Ayo, sesekali ikut sholat di Masjid," ajak Yanti suatu hari setelah pulang dari rumah sakit untuk melepas gips Kito.


Dennis sangat terkejut mendengarnya. Selama ini, Yanti tidak sekalipun mempermasalahkan atau membicarakan tentang agama mereka. Tapi sejak ikut kelompok mengaji, perubahan yang dialami Yanti terlalu drastis dan tidak semuanya baik menurut Dennis.


"Aku ndak ke Klenteng bukan berarti aku ndak pernah berdoa, Yan. Sama seperti kamu kadang sholat di rumah dan ndak di musholla atau di masjid." Dennis berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang baik.


Mata Yanti melotot seolah tidak suka dengan penolakan Dennis. "Tapi aku ndak bisa diam saja lihat hidup Pak Dennis yang ndak tentu arah!"


Yanti sudah membuka mulut lebar-lebar dan bersiap melontarkan argumen ketika Dennis mengangkat tangannya.


"Tunggu," ujar pria itu. "Gimana kalau kamu urusi anakmu dulu? Dia belum makan 'kan?"


Emosi Yanti pun mereda. Dia segera menggendong Waskito dan menuju dapur. "Ayo, Le, makan dulu. Ibuk masak sop, bosen sayur bayem terus."


Selagi perhatian Yanti tertuju pada anaknya, Dennis bergegas melangkah ke rumah Jumilah yang hanya selisih 10 meter.


"Jum! Hendro!" panggil Dennis lewat pintu belakang rumah mereka.


"Apa, Pak Dennis?" tanya Elang yang membuka pintu.


"Buka pintunya cepat, Lang. Ibuk sama bapakmu ada?" tanya Dennis yang buru-buru masuk tanpa dipersilahkan.


"Ada, Pak," jawab Elang yang langsung melesat ke dalam, meninggalkan Dennis yang menyusul perlahan dengan bantuan tongkatnya. "Buk! Dicari Pak Dennis!"


Tidak lama kemudian, mbok Jum muncul dengan raut yang masih mengantuk. "Cari saya, Tuan?"


"Jum, Yanti jadi aneh sejak ikut pengajian di langgar ujung gang sana."


"Aneh gimana, Tuan? Bagus toh, kalau pakai jilbab dan pakaiannya tertutup."


Dennis melotot ke arah perempuan yang lebih tua itu, menyebabkan mbok Jum otomatis tutup mulut. Dia lalu melanjutkan tentang temuannya.


"Yanti juga maksa-maksa aku untuk mengikuti cara kalian.. Semua yang kanan dulu, mau ngapain harus berdoa dulu!" Dennis berhenti sejenak saat menyadari dirinya terdengar seperti anak manja.


Pria itu lalu mengubah sedikit argumennya menjadi lebih masuk akal. "Dia juga melarang aku pakai baju lengan pendek atau celana pendek! Kamu tahu kan Surabaya panasnya kayak apa, aku bisa mati dehidrasi!"


Mbok Jum lalu bertanya, "Lalu, Tuan mau saya melakukan apa?"


Dennis mengangkat dagunya sedikit dan menajamkan pandangannya ke arah dimana langgar yang dia curigai berada. "Kamu ikut ke pengajian yang diikuti Yanti. Amati tingkah orang-orang yang ikut."


Kemudian, Dennis teringat jika Yanti jadi lekas naik darah dan sering sulit tidur kalau malam. Tidak hanya Yanti, tapi perangai anaknya pun jadi buruk. Bocah itu semakin sering merusakkan barang sejak gipsnya dilepas. Mereka berdua hanya tenang sesaat sesudah datang ke acara pengajian yang makin sering dilakukan.


"Kamu juga ambil contoh makanan dan minuman yang disuguhkan. Tapi kamu jangan sampai makan atau minum disana," imbuh Dennis. "Akan aku bawa sampelnya ke laboratorium."


Mbok Jum yang awalnya mengira kalau Dennis hanya bertingkah, mulai menyadari gentingnya keadaan. Dia tahu sejak bekerja pada Dennis kalau orang akan melakukan berbagai cara agar tujuannya tercapai.


"Baik, Tuan. Nanti saya coba bilang ke Yanti. Sekarang Tuan Dennis pulang dulu, tuh dicariin...." Tangan mbok Jum mengarah ke belakang Dennis, dimana Yanti sudah berdiri dengan wajah cemberut.


"Pak Dennis mau kemana? Sudah surup, jangan keluar rumah. Nanti gampang kemasukan jin!" teriak Yanti.


Dennis menghela nafas panjang, berharap Jumilah segera bertindak agar ketenangan secepatnya kembali ke rumah kecilnya.


.


.