
"Hei! Hei! Hei!"
Suara tepukan yang keras dan panggilan itu memisahkan Yanti dan Dennis. Keduanya kembali berdiri berdampingan dengan canggung.
"Kalau mau bermesraan, di kamar saja. Disini masih banyak yang belum nikah," lanjut Sulung, papi Dennis, sambil berjalan mendekat. Wajahnya yang menampakkan senyum terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.
"Papi," sapa Dennis. Yanti hanya menganggukkan kepala menyapa pria sepuh seusia bapaknya.
"Acaranya memang tidak mewah, tapi cobalah bersenang-senang," pria itu menepuk pundak Dennis beberapa kali.
"Terimakasih atas perhatian Papi."
"Dan Yanti, aku lihat kamu pakai perhiasan yang sangat bagus," ujar Sulung yang matanya terarah pada gelang dan cincin di tangan Yanti. "Dari mana kamu dapat gelang dan cincin itu?"
Kini Yanti benar-benar merasa gelisah. Dia tidak menyangka pemberian Darren akan membawa masalah begini. Tahu begitu, dia akan menolaknya.
Yanti juga tidak mau menyebut nama Darren, khawatir kalau bocah itu akan terkena masalah.
"Aku belikan di Pasar Turi. Aku lihat ada penjual gelang kaca yang bentuknya mirip seperti punya Nenek." Dennis menoleh ke arah Yanti dan memandang wanita itu dengan mata yang teduh.
Yanti yang menangkap maksud Dennis, membalas dengan senyum lebar. Tidak lupa dia mengedipkan mata beberapa kali agar lebih meyakinkan.
Sulung tertawa dengan suara keras, "Benar! Benar! Kamu harus perhatian pada istrimu dan memanjakannya. Tapi, Dennis, lain kali jangan bilang terang-terangan kalau imitasi."
"Tidak apa, istriku orang yang sangat pengertian dan tahu diri," ujar Dennis dengan suara tidak kalah keras.
Dia sengaja menatap Yanti lekat-lekat karena tahu kalau ketiga istri papinya sedang melotot ke arah mereka.
Papi berdehem lagi, "Nikmatilah pesta ini, kalian berdua."
Pria itu lalu berjalan menjauh.
"Pak Dennis, apa aku lepas saja gelang ini?" tanya Yanti lagi. Dia tidak mau gelang milik nenek keluarga Setiawan rusak ditangannya.
"Tidak usah. Pasti ada alasan kenapa nenek memberikannya lewat Darren," sahut Dennis yang menatap seisi ruangan sambil mendongakkan kepala dengan sombong.
Yanti menghela nafas sambil berjalan mengikuti orang yang membayarnya. Dia harus menuruti kemauan pria itu jika ingin bisa segera membangun kembali rumah di kampung.
...
Yessy yang datang tanpa tahu apa-apa, merasa malu setengah mati saat tahu tujuan pesta itu. Dia menarik Lani ke balik tirai transparan yang menghiasi salah satu sudut ruangan.
"Lani! Kenapa kamu ndak bilang kalau Kokomu sudah kawin?" tanya gadis itu dengan anda tinggi.
"Aku juga ndak tahu kamu akan datang kesini. Memangnya siapa yang nyuruh kamu datang?" Lani balas membentak.
"Tante Lili bilang kalau ko Dennis nanyain kabar aku! Aku disuruh datang kesini!" teriak Yessy frustasi.
Lani yang terkejut dengan tingkah kekanakan teman baiknya itu, langsung menutup mulut Yessy. "Pssst!! Jangan teriak teriak! Ayo kita ke kamarku!"
Yessy mengikuti Lani sambil menghentakkan kaki dengan kesal. Sejak datang, dia sudah jadi pusat perhatian tamu-tamu yang seluruhnya masih berhubungan darah. Yessy sengaja memakai pakaian yang agak terbuka untuk menggoda Dennis. Tapi, tidak hanya pria itu sudah menikah, dia bahkan terlihat murahan disana.
Sampai di dalam kamar, Lani menutup pintu di belakang mereka. "Kamu bilang Mami nyuruh kamu kesini?" Dia bertanya pada temannya yang memakai dress biru gelap yang berani.
Yessy menatap ke arah lain, "Aku dengar tante Lili bilang ke mamiku, kalo Ko Dennis nanyain aku, dan nyuruh aku datang kesini."
Lani merasa kasihan pada temannya yang kini tidak hanya cemberut, tapi juga seolah ingin menangis. Dia tidak tahu kalau Yessy menaruh perasaan mendalam pada Dennis. Lani juga tidak paham bagaimana ada perempuan bisa menyukai kakaknya itu.
"Aku juga baru ... kami semua baru tahu minggu kemarin kalau Dennis sudah nikah." Lani mendudukkan temannya itu di kursi panjang yang ada didepan kasur, suaranya kini lebih lembut. "Ndak ada yang nyangka kalau Ko Dennis akan tiba-tiba menikah sama fankui."
Yessy yang mulai bisa berpikir jernih, meneteskan air mata. Tujuannya datang kesini hancur sudah, dan itu sama sekali bukan salah Lani.
"Aku minta maaf, harusnya mami ndak ngasih harapan ke kamu, Yessy." Lani meraih tangan gadis yang sedang terisak itu dan menggenggamnya erat-erat.
"Terus aku harus gimana, Lan..." bisik Yessy diantara air matanya yang berlinang.
"Kamu cari laki-laki yang lebih baik dari Ko Dennis. Banyak kok yang suka kamu, Yessy." Lani berusaha menyemangati.
Yessy tidak tahu siapa yang benar-benar menyukainya. Saat dia bercerita tentang masalahnya pada sahabatnya, Si sahabat langsung menjauh dan sulit dihubungi. Bukan sekali itu saja, sampai-sampai Yessy pikir ini adalah harapan terakhir.
Dia tidak tahu kapan rentenir itu akan datang ke rumahnya dan entah membawa apalagi nanti. Memikirkan itu saja sudah membuat Yessy ketakutan.
"Gimana kalau kamu pulang dulu, Yessy," bujuk Lani. "Besok kalau kamu sudah tenang, aku ajak kamu kenalan sama temanku."
Yessy mengangguk dengan berat hati. Meski dia memaksa, keadaannya tidak akan banyak berubah. Tubuh dan pikirannya sudah lelah dan dia benar-benar butuh istirahat dari semuanya.
"Iya, Lan. Tolong antarkan aku pulang," pinta gadis itu.
Lani merasa lega usahanya berhasil. Jujur, dia sendiri sedang tidak ingin berkumpul dengan keluarganya saat ini. Jadi dia meminta sopir untuk mengantarnya membawa Yessy pulang.
...
Di bawah sana, di tengah-tengah hiruk pikuk pesta yang sedang berlangsung meriah, musik diputar dengan suara maksimum. Warna warni gaun berbaur jadi satu menyilaukan mata.
Yanti yang duduk di samping Dennis, didekati oleh Arthur dan laki-laki lain seusianya.
"Dennis, kalau kamu ndak bisa ajak istrimu dansa, biar aku saja yang gantikan," celetuk Arthur, diikuti oleh tawa renyah teman-temannya.
"Aku juga ndak bisa dansa, sama seperti Dennis," jawab Yanti dengan kalem.
"Ah, iya. Aku lupa kalau ipar Yanti tidak berpendidikan! Jadi mana bisa berdansa!" Arthur menepuk dahinya seolah sudah membuat kesalahan fatal. "Kalau bukan wanita dari kampung yang mudah ditipu, mana mau mereka nikah sama laki-laki pincang?"
Tawa para pemuda usil itu makin kencang.
"Tidak apa, ipar Yanti. Biar aku yang mengajari kamu berdansa dan hal-hal lainnya." Tidak cukup sampai disitu, Arthur membuat gerakan-gerakan provokatif yang membuat Yanti malu melihatnya.
Dennis yang merasa emosinya makin naik, berdiri dan menarik tangan Yanti. "Ayo, kita pulang sekarang."
"Kenapa buru-buru pulang, Dennis? Kita baru saja mulai," rengek Arthur dengan dibuat-buat.
"Aku dan istriku sudah kelamaan disini. Lebih lama lagi dan kami bisa ketularan kebodohan kalian semua," ujar Dennis tak kalah pedas.
"Jaga bicaramu, Dennis!" bentak Arthur.
"Kamu yang jaga mulutmu, Arthur! Harusnya kamu ndak usah bicara kalau cuma bisa omong kosong."
Arthur yang geram, wajahnya makin memerah. "Jangan karena papi ada dipihakmu, kamu bisa seenaknya."
Dennis menyunggingkan senyum meremehkan ke arah Arthur, "Kamu terus saja mengejek dan mengancam. Sekarang kamu bawa-bawa papi, apa kamu ada inferior kompleks?"
Arthur yang sudah kehabisan kata-kata hanya bisa berdiri menahan marah. Kepalan tangannya sudah siap melayang kalau tidak dicegah oleh saudara yang lain.
"Sudah, Arthur, jangan diteruskan. Kalau kamu yang mukul duluan, bisa memancing amarah Paman Sulung," saran salah satu dari mereka.
Arthur mendengus kesal sebelum berbalik dan berjalan menjauhi saudara-saudaranya yang pengecut.
...
Selama perjalanan pulang, Yanti menggumamkan nada yang sama berulang-ulang.
Dennis yang lama-lama bosan dan terganggu, memandang ke arah wanita yang tampak anggun dengan gaun putih yang sederhana.
"Kamu tadi mau dansa? Kenapa ndak bilang?" tanya Dennis saat mereka berjalan melewati rumah mbok Jum.
Yanti yang terkejut mendengarnya, tersenyum malu. "Aku ndak bisa dansa, Pak. Lagian siapa mau aku ajak dansa?"
Dennis yang mendengarnya, mengangkat salah satu alis karena heran. "Arthur tadi ngajak kamu, tapi kamu tolak."
Ibu muda itu membuang nafas dengan jengkel. "Itu namanya ngajak ribut, bukan ngajak dansa," balas Yanti dengan suara medoknya.
Dennis tertawa dengan logika sederhana Yanti yang tepat sasaran.
"Kalau aku ajak dansa, apa Nyonya Dennis Setiawan bersedia?" tanya Dennis sambil mengulurkan tangan.
Saat ini mereka sudah sampai di teras rumah, dimana penerangan yang ada hanya berasal dari bulan yang tidak bulat sempurna.
Ragu-ragu, Yanti akhirnya tetap meletakkan tangannya di atas telapak Dennis. Pria itu lalu dengan sengaja menarik tubuh Yanti mendekat, menyebabkan ibu muda itu terkesiap dan terkejut. Yanti berpegangan pada lengan Dennis yang lebih tinggi meski dirinya sudah memakai selop tebal.
"Pegangan ke aku, Yan," ujar Dennis di dekat telinga Yanti.
Wanita itu belum juga mengejapkan mata saat tubuhnya sudah diajak berayun ke samping dengan nada yang digumamkan Dennis. Pria itu bahkan sesekali menyanyi dengan kata-kata yang tidak dipahami Yanti.
Meski hanya dengan cahaya seadanya, tidak berkelap kelip, dan dengan suara dari bibir Dennis, suasana saat itu jauh lebih ajaib dan mengesankan dibanding pesta yang baru saja mereka tinggalkan. Seperti ada kembang api dalam dirinya yang mengeluarkan ledakan-ledakan kecil.
Menyadari hal itu, Yanti refleks melangkah menjauh saat Dennis berputar kesamping. Kaki Yanti yang tidak bisa mengimbangi jadi terpeleset dan hanya pegangan tangan Dennis yang menjadi tumpuan dia bisa tetap tegak.
Pria bermata kecil itu tertawa dan menyembunyikan matanya, "Aku yang pincang, kenapa kamu yang jatuh, Yan?"
"Habisnya... Habisnya..." Yanti mencoba mencari alasan, apapun yang muncul di benaknya. "Habisnya Pak Dennis bau kambing!"
Dennis membelalakkan mata, tidak menyangka wanita itu kini sudah berani menghinanya. Mata dibalas mata! Gigi dibalas gigi!
"Kalau begitu, Nyonya Setiawan, semoga anda tidur nyenyak dan bisa bangun pagi besok... Jangan lupa ke pasar dan beli bahan buat masak.. Oiya, sekalian beli tepung, mentega, sama susu. Besok kamu bikin donat, belajar ke Mbok Jum, ya."
Hati Yanti yang tadinya berbunga-bunga, langsung layu dan kering mendengar rentetan kata-kata majikannya itu.
Terkadang, dia ingin mencubit pipi Dennis keras-keras agar berhenti bersikap seenaknya.
.
.
.
Hi, Kak! Makasih banyak sudah baca. Semoga kalian juga suka dengan 'Istri Kontrak Palsu Tuan Pincang'.
Tolong terus kirim dukungan yang hangat buat Dennis dan Yanti, dengan like, komen, gift, dan vote.
Salam peluk dan cium,
Alluca 😘💕