
Dennis memesan taxi yang lewat, tapi hampir tidak ada yang mau mengangkutnya. Sehingga mereka terpaksa naik becak dan baru sampai di rumah menjelang maghrib. Elang yang kebetulan bermain di depan rumah, berteriak melihat Dennis yang masih berlumuran darah.
Mbok Jum yang melihatnya ikut bingung dan panik.
"Ini bukan darahku, Mbok," ujar Dennis. Dia lalu memberi tanda dengan melirik ke arah Yanti yang masih diam.
Mata Yanti sedikit merah dengan pandangan kosong. Terlihat sekali kalau dia masih syok dengan kejadian barusan.
Wanita berumur itu langsung paham dan segera membuat teh manis panas. Dia memaksa Yanti meminum minuman racikannya, agar merasa lebih tenang.
Ketika Mbok Jum juga meletakkan segelas teh yang mengepul di dekatnya, Dennis menggelengkan kepala.
"Aku ndak apa-apa, Mbok," tolaknya halus.
"Minum saja, Pak. Biar badan hangat, baru mandi," bujuk wanita berwajah lebar itu dengan sabar.
Dennis akhirnya mengangguk.
"Terima kasih," katanya pelan sebelum menyentuh gelas kaca yang memang terasa hangat. Sangat kontras dengan tangannya yang dingin dan sedikit terasa kaku.
Setelah menyesap sedikit teh yang beraroma melati, ada sesuatu dalam diri Dennis yang menjadi rileks dan nyaman.
Aneh, karena biasanya dia tidak pernah merasa seperti ini setelah menjalankan misi. Seolah ada orang yang mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.
"Aku mandi dulu," ujar Dennis yang beranjak lalu meninggalkan meja dengan langkah menyeret dan timpang. Menyisakan minuman yang hanya diteguk separuh.
Mbok Jum yang khawatir dengan keadaan mereka berdua, mencoba bertanya kepada Yanti.
"Sebenarnya ada apa, Ti? Katanya pergi ke kebun binatang," pancing wanita itu.
"Aku juga nggak tahu Mbok. Pas aku makan sama Kito, tiba-tiba orang teriak sambil lari. Katanya ada gajah ngamuk. Aku nyoba cari Pak Dennis tapi diusir sama petugas. Akhirnya aku nunggu lama di luar." Yanti mencoba menjelaskan sebisanya.
"Ada gajah ngamuk?!" Teriak Mbok Jum kaget. Dia kini paham kenapa Dennis dan Yanti sangat terguncang.
"Pas akhirnya bisa ketemu Pak Dennis, dia sudah kayak gitu, kena darah dimana-mana. Gimana mau ndak copot hatiku, Mbok?" tukas Yanti dengan suara sengau.
"Kakinya pincang, kalau ada apa-apa dia mau lari ke mana? Aku bingung, Mbok. Aku takut... Aku kerja belum digaji, mosok majikanku mau mati keinjak gajah." Yanti mencoba menertawakan keadaannya agar dia tidak terlalu sedih.
Tapi dia tidak bisa menutupi perasaannya. Air mata kembali jatuh di pipi wanita itu.
"Sudah, sudah.." Mbok Jum mengusap punggung Yanti agar lebih tenang. "Kalau tehnya sudah habis, kamu cepat mandi. Habis itu cepat istirahat. Kejadian hari ini ndak usah terlalu dipikirkan."
"Iya, Mbok," jawab Yanti dengan suara yang lemah.
"Kito sudah makan apa belum? Sini aku ajak dulu," ujar Mbok Jum yang mengambil alih Kito dari gendongan Yanti.
"Makasih Mbok."
Yanti bersyukur Kito tidak rewel saat mereka menunggu Dennis, juga saat pulang naik becak. Justru Yanti bisa menguatkan diri karena ada Kito bersamanya.
...
Seperti yang Dennis duga, kejadian sore itu muncul di halaman depan koran pagi keesokan harinya. Judulnya pun mirip seperti yang dia perkirakan.
"Gajah mengamuk, menginjak orang."
Dennis membaca lebih lanjut artikel tersebut. "Menurut keterangan saksi mata, gajah tiba-tiba berteriak dan mengangkat kedua kaki dan belalainya. Belalainya itu mengenai salah satu pengunjung yang berdiri di sekitar pembatas. Pengunjung yang nahas itu akhirnya jatuh ke lintasan gajah dan tidak sengaja terinjak, menyebabkan luka dalam serius hingga kehilangan nyawa di lokasi."
Untuk berita utama yang mengejutkan, hanya ada foto anak korban yang sedang menangis akibat kehilangan ayahnya. Tidak ada foto atau gambar gajah, maupun hewan lain.
Ekspresi anak itu hampir sama dengan saat Yanti sore itu. Dennis masih bisa mengingat jelas bagaimana wanita itu langsung memeluknya dengan air mata bercucuran. Dia tidak peduli bahwa tubuh Dennis kotor terkena darah, lumpur, dan entah apa lagi.
Yanti bahkan berkali-kali mengucap syukur karena dirinya selamat.
Hal itu membuat Dennis terdiam, dia berpikir. Bahkan sebelum menerima misi ini dia merasa aneh saat di dekat Yanti. Melihat wajah Yanti yang kemarin menangis, dia tahu kalau dia tidak suka melihatnya.
Dia tidak suka melihat Yanti menangis lagi, apapun alasannya.
.
Tiga hari kemudian, Dennis mendatangi kios rokok Antok di pasar. Seperti biasa, pria itu tersenyum menyeringai dan memamerkan giginya yang jelek, kehitaman. Kalau bukan karena butuh, Dennis malas bertemu dengan Antok.
"Terima kasih, kamu sudah bekerja dengan baik. Kali ini pun.. pekerjaanmu membuat heboh, ya," celetuk Antok senang.
Kedua alis Dennis bertaut, dia tidak tahu apa yang menyenangkan dari melenyapkan nyawa.
"Dibandingkan dengan aku, orang suruhanmu yang lebih banyak mengambil andil dalam pekerjaan kali ini," pancing Dennis.
"Ah, iya, tentang itu aku minta maaf. Aku baru tahu kalau asisten yang kutugaskan membantumu tiba-tiba menghilang." Antok mencoba menjelaskan.
Denis mengangkat sebelah alis. "Apa maksudmu, Antok? Asistenmu menghilang?"
"Benar. Tepat di hari itu, aku mendadak tidak bisa menghubungi dia. Sorenya baru aku tahu kalau ternyata dia menjaga keluarganya yang sakit." Suara Antok meninggi, tidak terima ada anak buahnya yang berani menyepelekan misi.
Denis ingin menanyakan lebih lanjut tapi dia tidak melihat kalau Antok mengetahui sesuatu. Berarti orang berjaket yang mendorong targetnya, bukan dari tim mereka.
"Barang yang kamu pesan juga sudah datang," ujar Antok, mengalihkan perhatian Dennis dari jalan pikirannya.
"Benar-benar barang elegan," puji Antok. "Mulus dan langsing, sangat cantik. Aku juga betah kalau partnerku seksi begini."
Pria itu mengeluarkan kotak kecil panjang yang dia letakkan di meja, di antara mereka.
Dennis membuka kotak itu, di dalamnya terdapat tongkat berwarna hitam dengan gagang yang berbentuk sedikit aneh. Dia sengaja memesan cat warna doff yang tidak memantulkan cahaya. Dicobanya tongkat itu, genggamannya pas di tangan besar Dennis.
Warna hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat, menambah pesona tongkat barunya. Tongkat itu juga memberi bunyi yang berbeda dibanding tongkat yang lama.
"Coba kamu buka pengait kecil di dekat gagang," perintah Antok.
Dennis melakukan seperti apa yang Antok suruh. Setelah membuka pengait, muncul pemicu kecil dari sela-sela rangkaian.
"Kamu bisa mencobanya sambil pergi berlibur. Anggap saja kompensasi dari kekacauan misi kemarin." Antok menyodorkan selebaran dengan gambar villa yang berada di perbukitan.
"Tenangkan dirimu dan istrimu. Buat dia bahagia biar kalian bisa segera punya anak lagi!" seru pria itu sambil tertawa lepas.
"Sialan! Sialan kau Antok!" umpat Dennis sambil berjalan menjauh, membuat tawa Antok semakin kencang, beradu dengan tongkatnya yang berbunyi tek tek di atas lantai plester beton.
Dalam perjalanan pulang, Dennis kembali memikirkan kejadian di kebun binatang waktu itu. Jika Antok berkata benar, bahwa asistennya tidak jadi datang, lalu... siapa orang yang mendorong targetnya ke jalur berjalan gajah? Apakah dia punya saingan di bisnis yang sama yang tidak diketahui Antok? Atau orang itu mengincar dirinya?
.
.
.