
Salah satu faktor penyebab Dennis keluar dari kediaman keluarga Setiawan adalah sikap Sulung Setiawan. Pria dengan tiga istri yang jadi kepala keluarga saat ini, sekaligus ayah biologisnya.
Bukan sekali saja Dennis menyaksikan keputusan yang diambil tangan dingin Sulung dibalik sikap hangatnya. Ayahnya itu tidak segan memutus hubungan dengan orang yang dianggap tidak berguna. Jika diumpamakan, dia tidak segan memotong tangan yang busuk.
Dennis bukannya menganggap keputusan itu tidak logis. Dia pun akan melakukan hal yang sama, setelah mencoba mengobati penyakit terlebih dahulu. Sedangkan Sulung tidak melakukan apa-apa, membiarkan penyakit itu tumbuh hingga waktunya pemotongan. Bagaimanapun, dia punya banyak anak dan calon penerus untuk mengisi tiap posisi dalam perusahaan.
Perbedaan itu, dan usaha ekspor impor ilegal yang dilakukan oleh Sulung, menambah keengganan Dennis berhubungan erat dengan ayahnya. Dia tidak mau tertangkap jika suatu saat polisi mencium jejak ayahnya. Dennis yakin kalau Sulung tidak segan mengumpankan dirinya jika aspek ilegal bisnisnya terkuak.
Pria bertongkat itu tidak terlalu bangga dengan pekerjaan melenyapkan orang. Tapi, berdasar kontrak kerahasiaan yang ditandatanganinya hampir sepuluh tahun lalu, menyebutkan bahwa pekerjaannya tidak lain adalah eksekutor untuk orang yang melakukan kejahatan namun tidak bisa diadili.
Orang-orang menyebutnya 'Petrus - Sniper Misterius-'
Hanya satu benang tipis itulah yang membuatnya menerima pekerjaan tidak mudah ini. Dia tidak hanya jadi target banyak orang, orang-orang di sekelilingnya pun bisa jadi sasaran amukan balik dari para keluarga atau rekan korban. Satu alasan lagi yang membuatnya menjauhkan diri dari keluarga Setiawan.
Saat ini, keadaan sedikit berbeda. Dennis belum bisa menentukan posisi Arthur, apakah dia hanya satu ikan teri yang kebetulan masuk dalam jaring yang disebar kelompok Yessi. Atau, Arthur dipakai sebagai umpan untuk mendapat tangkapan yang lebih besar.
....
Setelah semalaman memikirkan langkah terbaik untuk diambil, pagi itu Dennis terlambat bangun. Sehingga dia langsung menuju dapur untuk makan.
"Kenapa sayur bayam dan tempe goreng lagi... " keluh pria itu sambil menghempaskan diri di kursi. "Yan, kamu sebenarnya bisa masak apa ndak sih?"
Yanti yang sedang menyuapi anaknya, membuang wajah ke arah lain sambil bergumam.
Dengan kepala tongkat, Dennis mengarahkan wajah Yanti menghadap dirinya. Dia menyuruh dengan suara pelan, "Kalau bicara yang jelas."
"Pak Dennis kan ndak doyan pedes," jawab Yanti pelan.
Risih dengan tongkat itu di wajahnya, Yanti mendorong kepala tongkat itu menjauh.
"Kamu 'kan bisa goreng ayam, atau ikan.. atau bikin lodeh," usul Dennis. Dia lalu cepat-cepat menambahkan saat Yanti membuka mulut, "Asal ndak usah pakai cabe."
Seolah setuju dengan Dennis, Waskito ikut-ikutan bersuara. "Wuuk! Peee! Nnis pepee!"
"Kalau duitnya kurang, kamu bisa minta lagi." Karena masih belum menjawab, Dennis memanggilnya lagi, "Yan?"
Yanti hanya mengangguk lemas.
Sebal dengan sikap Yanti yang mendadak moody, Dennis beralih pada koran yang terlipat tidak jauh dari piring. Isinya artikel tentang maraknya penjambretan dan penodongan.
"Hmm, kamu hati-hati kalau ke pasar. Banyak copet, Yan," ujar Dennis sambil melirik wanita yang masih diam itu. Dennis lalu berdehem. "Kalau bisa, kamu kasihkan aja duitnya."
Yanti memiringkan kepalanya sedikit, matanya memandang aneh ke arah pria pincang itu. "Sayang duitnya, Pak. Pak Dennis kakinya sulit buat jalan, tapi keliling terus cari berita. Masak duitnya kasihkan maling."
"Daripada kamu diapa-apain. Aku mau cari istri dimana?" sahut Dennis.
Wanita itu lalu menunduk dan memalingkan muka, menyembunyikan senyum yang mengembang di wajah.
"Pak Dennis juga hati-hati. Kameranya mahal. Kasihkan tongkatnya aja," ujar Yanti yang masih tersipu.
Dennis tidak tahu, apakah Yanti serius atau tidak dengan kata-katanya. Pria itu memilih melanjutkan membaca koran dalam diam.
...
Kegelisahan Yanti semalaman, mereda saat mendengar perhatian dalam ucapan Dennis. Dia pun kembali menjalani hari dengan semangat. Karena itu, saat Dennis berdiam di kamar sepanjang siang dan mondar-mandir sepanjang sore, dia tahu ada yang tidak beres.
Majikannya itu lalu pergi tanpa membawa kamera. Waktu ditanya, bilang akan segera kembali dan pergi lagi nanti malam. Yanti jadi penasaran dan teringat tentang berita-berita di koran. Hampir semuanya tentang kejahatan. Wanita itu lantas khawatir kalau sesuatu terjadi pada Dennis.
Dennis menampakkan diri lagi saat makan malam.
"Kok cuma sedikit makannya, Pak?" tanya Yanti.
"Hmm.. Habis ini aku mau keluar lagi. Kamu kunci pintunya, ya. Kalau ada yang ketuk pintu, jangan dibuka." Dennis selalu memberi pesan yang sama jika dirinya keluar malam dan baru kembali keesokan harinya.
Yanti yang sudah mempersiapkan uang yang didapat dari gaji pertamanya, dan pisau kecil yang dia sembunyikan di baju, mengendap-endap mengikuti Dennis dari belakang. Dia bahkan sudah menitipkan Kito ke wanita sepuh kepercayaannya.
Ketika majikannya itu naik taksi, Yanti juga melambai ke arah kendaraan lain yang lewat. Sebuah angkot bercat coklat tua.
"Pak! Cepat berangkat!" ujar Yanti yang matanya terus tertuju pada kendaraan yang dinaiki majikannya.
"Kemana Mbak?" tanya sopir angkot itu.
"Mobil itu! Ikuti taxi itu! Suamiku disana, kayaknya dia selingkuh," sahut Yanti lagi.
"Walah! Saya juga harus cari penumpang, Mbak," keluh pria itu.
Yanti lalu memberikan sejumlah uang. "Aku carter angkotnya. Ayo, cepat ikuti!"
Senang mendapat uang banyak, sopir itu langsung tancap gas. "Pegangan, Mbak!" seru pria itu.
Tangan Yanti langsung meraih pipa panjang di sandaran penumpang saat angkot yang dinaikinya melesat di jalanan kota malam itu. Tidak jarang mereka harus melewati jalan yang belum rata, membuat tubuh Yanti tergoncang kesana kemari. Ketika angkot akhirnya berhenti, ibu muda itu seperti habis keluar dari mesin blender. Kepalanya pusing dengan pandangan berputar.
"Itu, Mbak, suaminya Mbak'e turun disana."
Mata Yanti mengikuti arah yang ditunjuk sopir angkot tadi. Dia membayar sisa tarif setelah turun dan mengeluarkan isi perut.
"Iya, Pak. Makasih," ujar Yanti yang sedikit lemas.
Dia duduk di tempat yang tertutup sambil memulihkan diri. Matanya terarah pada sekelilingnya, ada banyak bangunan yang sepertinya kosong, menambah suram suasana. Jika bukan karena mengikuti Dennis, Yanti tidak akan mau dekat-dekat.
Dalam hati, ibu muda itu berdoa agar dia dan Dennis nantinya akan baik-baik saja. Setelah merasa lebih baik, Yanti berjalan mengendap-endap mendekati pintu besar bangunan mirip gudang itu. Dia kembali memastikan tidak ada yang menyadari keberadaannya sebelum mendorong pintu itu pelan-pelan.
Pintu itu tidak mengeluarkan bunyi derak, bukti kalau sering diminyaki meski kelihatan tidak terawat dari luar. Yanti pun berhasil masuk dengan mudah.
Kegelapan menyambut Yanti setelah dia berada di dalam. Dia berdiam sampai matanya terbiasa dan bisa mengenali beberapa bentuk di dalam saat sebuah tangan meraih wajahnya dan membekap mulut ibu muda itu.
Yanti terkejut, dia tidak menyangka akan tertangkap secepat ini. Jantungnya berpacu cepat, takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Yanti menjejakkan kaki kuat-kuat ke telapak kaki penyerangnya.
"Aduh!" seru suara yang sudah akrab di telinganya. "Ngapain kamu kesini?"
Yanti yang tadinya siap menyodok dan perlawanan lain, bernafas lega. "Pak Dennis! Aku kira preman, Pak."
"Shhh..." tangan Dennis yang terlepas kembali membungkam mulut Yanti.
Sementara bisikan tepat di telinga Yanti, membuat mata wanita itu membesar. Dia jadi sadar akan posisi mereka. Yanti pun mengambil satu langkah kedepan. Tapi tangan Dennis kembali menariknya kebelakang, menghilangkan jarak yang ada. Jantung Yanti berpacu untuk alasan yang lain.
.
.
.