
Dennis memandang Yanti lekat-lekat lewat celah yang dia buat di surat kabar. Setelah malam itu, tidak ada yang berubah dari Yanti. Wanita itu juga hanya menanyakan rumah sakit tempat Arthur dirawat.
"Yan, kamu ndak kepingin belajar bela diri?" tanya Dennis sambil melipat koran.
Yanti yang tengah menyapu dengan Waskito di gendongan, hanya menatap Dennis sebentar sebelum melanjutkan tugasnya.
"Ndak, Pak," jawabnya singkat.
"Hmm, padahal pukulan dan tendanganmu keras. Kamu bisa ngelawan preman, Yan." Dennis mengepalkan tangan lalu memukul udara.
"Ndak, Pak," jawab Yanti tidak berubah. Dia lalu makin mempercepat gerakan sapunya dan menjauhi Dennis.
Pria itu makin khawatir. Selama ini Yanti selalu sibuk mengurus rumah dan anaknya, hampir tidak ada waktu untuk beristirahat selain malam hari. Sebuah ide muncul di benaknya dan dia bergegas ke rumah Jumilah, ada seseorang yang harus dia hubungi.
...
Siang itu, Lani datang diantar oleh Andre. Dia agak terkejut melihat Yanti yang belajar dengan seorang wanita di ruang tamu.
"P-Mas Dennis di ruang kerja." Yanti berdiri, hendak mengantar adik iparnya itu.
"Ndak apa, Ce. Aku masuk sendiri. Ce Yanti lanjut aja." Lani menolak dengan halus.
"Itu adiknya Mas Dennis," ujar Yanti pada Niken.
Guru wanita itu hanya mengangguk.
Saat akhirnya pelajaran hari itu selesai, Yanti bergegas ke ruang kerja dimana Lani duduk seorang diri.
"Mas Dennis mana?" tanya Yanti.
Lani berdiri dan mendekati kakak iparnya. "Ndak penting. Ayo, Ce, kita belanja-belanja yuk."
Yanti tertawa. "Aku sudah belanja. Pasarnya juga sudah tutup jam segini."
Lani spontan tertawa, tidak menyangka iparnya sesederhana itu. "Bukan, Ce! Bukan belanja sayur."
"Terus, belanja apa?" Yanti bingung karena ditertawakan.
"Kita lihat dulu, kalau ada yang cocok, baru dibeli." Lani menarik tangan wanita itu.
"Eh, tapi habis ini waktunya Kito tidur," ujar Yanti lagi.
"Ndak apa, kan ada Ko Dennis. Biar dia yang jaga Kito."
"Tapi..." tolak Yanti yang masih ragu.
Dennis muncul dari pintu depan dengan Kito yang berpegang pada celana panjangnya. "Kamu berangkat saja."
"P-Mas Dennis!"
"Nah, 'kan! Ayo, Ce!" ajak Lani lagi.
Yanti menatap ragu ke arah kedua laki-laki itu. Dia tidak terlalu yakin kalau Dennis bisa menjaga anaknya. Tapi rumah mbok Jum tidak jauh dan berharap tidak terjadi apa-apa.
...
Andre, sopir itu membawa mobil mereka ke tempat yang lebih besar dari pasar turi. Bagian dalamnya juga jauh lebih bagus.
"Ada tempat belanja yang baru buka, Ce. Aku pengin nyobain, makanya ngajak Ce Yanti."
Yanti hanya mengangguk sambil mendengar celoteh Lani yang bersemangat. Dia hanya paham separuh yang dikatakan, tapi Lani terlihat cukup puas bicara sendiri.
"Nah, itu, ada yang jualan bando. Ayo kita coba!"
Mereka memasuki stand yang menjual berbagai hiasan mulai jepit, karet rambut, gelang, dan sebagainya. Lani memaksa Yanti mencoba, dan berkali-kali menawarkan kalau dia mau beli.
Yanti menolak, matanya tertuju pada botol kecil warna warni di dalam baki.
"Ini cat kuku, Ce Yanti mau coba?"
Dia lalu ingat kalau pakai cat, air wudhu tidak bisa masuk, jadi Yanti menggeleng. "Kalau pacar ada? Pakai daun pacar?"
Petugas kios yang tanggap langsung memberikan benda yang dimaksud. Yanti pun membeli pacar bubuk. Sedangkan Lani membeli beberapa gelang dan jepit rambut.
Lani memberikan tasnya pada Andre yang berdiri di luar stand.
"Tolong bawakan," pintanya separuh memerintah.
"Iya, Non," jawab Andre patuh.
Yanti kembali diajak Lani ke stand lain, dan melakukan hal yang kurang lebih sama.
Ibu muda itu jadi khawatir. Dia tahu kalau keluarga Setiawan kaya raya, tapi..
"Ndak apa, Ce. Ini Ko Dennis yang bayar kok," jawab Lani.
Yanti makin heran. "Kok P-Mas Dennis?"
"Iya. Itu," Lani menunjuk ke arah Andre yang sudah menenteng lima tas besar. "Semuanya buat Ce Yanti. Di suruh Koko."
Mata Yanti terbelalak. Dennis sudah sering membelikan dia baju, dan alas kaki. "Aku sudah dibelikan. Ndak usah, Lani. Ayo kembalikan barangnya, yuk..." pinta Yanti.
"Ndak apa 'kan, Ce. Ko Dennis kan suaminya Cece. Malah harusnya diporotin lebih banyak lagi," sahut Lani sambil tertawa lepas. Dia tidak peduli meski dilihat oleh pengunjung lain.
"Siapa tahu nanti ada tamu penting datang ke rumah, masak suami Ko Dennis bajunya kayak pembantu."
Yanti merasa tertohok mendengarnya. Tetap saja, barang-barang ini terlalu banyak baginya.
"Lani.." pinta Yanti lagi.
Lani juga tidak peduli meski Yanti memandangnya dengan melas. Gadis itu tetap melanjutkan shopping spree-nya dengan gembira.
Seperti kata Lani, saat mereka pulang, Dennis memang tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Pria itu juga mengantar sampai pintu saat Lani pulang. Tapi Yanti bisa melihat pundak Dennis yang turun, tidak tegap seperti biasa. Cara berjalannya juga sangat lemas, seperti kakek-kakek.
"Yan..." panggil Dennis hampir tanpa tenaga. "Mulai besok masak sayur bayem dan tempe lagi, ya."
"Ndak jadi goreng ayam, Pak?"
"Ndak. Kita berhemat dulu sampai aku dapat gaji bulan depan," ujar Dennis yang kembali ke ruang kerja sambil menghela nafas panjang tiap beberapa langkah.
...
Hari itu, ketika Dennis masih bekerja di luar, Yanti kedatangan tamu yang tidak diduga. Untung dia mengikuti saran Lani dan berpakaian yang lebih rapi.
"Saya buatkan teh dulu," ujar Yanti yang gentar melihat Lili sudah berdiri di ruang tamu. Pandangannya menilai ke setiap sudut rumah. Ke pakaian dan aksesori yang dipakai Yanti.
"Ndak usah. Aku akan langsung saja," tolak Lili. Nyonya Setiawan itu lalu melempar amplop ke arah Yanti. "Ini, buat kamu."
"Apa ini, Bu?" tanya Yanti.
"Buka saja," perintahnya. "Aku tahu kalau kamu butuh duit. Harusnya ini cukup."
Yanti yang terlanjur membuka amplop, terkejut dengan jumlah uang didalamnya dan kata-kata Lili.
"Maaf, Bu. Saya ndak bisa mengambil uang ini," tolaknya dengan halus. "Saya cukup dengan duit dari P-Mas Dennis."
"Kamu pikir kamu bisa membahagiakan anakku? Selama kamu masi ngurusin anak suami kamu dulu, Dennis ndak akan bahagia. Kamu juga ndak pendidikan, mana becus ngurus suami," hina Lili.
"Mas Dennis ndak keberatan dengan Waskito," bantah Yanti.
Lili yang kesal, mengambil amplop dengan kasar. Menyebabkan kulit Yanti tercakar kuku Lili yang bercat merah.
"Lihat saja, sampai kapan Dennis akan bertahan sama anak kampungan macam kamu," ancam wanita berumur itu. "Sampai kapanpun kamu ndak akan bisa menyamai kedudukan Dennis di mata keluarga."
Lili kembali pergi meninggalkan kata-kata menyakitkan yang masih terngiang di telinga Yanti. Dia memang hanya istri kontrak, tapi rasanya tetap sakit kalau terus dihina begini setiap kali mereka bertemu.
Padahal Yanti sudah berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang layak di mata keluarga Dennis. Termasuk belajar dengan Bu Niken. Tapi hanya beberapa orang saja yang menganggapnya sebagai keluarga.
Dia berpikir kalau ini mungkin lebih baik. Sebagai istri kontrak, dia tidak akan selamanya bersama Dennis.
"Ayo, Nak, beli kue kacang," ajak Yanti pada Waskito yang berpegangan pada pinggiran meja.
Bocah itu berceloteh rancu dalam gendongan Yanti. Mereka menuju ke toko kelontong di ujung gang.
"Mbak Sur," sapa Yanti pada pemilik warung.
"Beli apa, Jeng?"
"Kue kacangnya 1000, buat Kito," jawab Yanti.
"Ndak sekalian yang lain, ta? Mumpung disini?" tanya mbak Sur sambil membungkuskan kue kacang. Dia lalu menunjuk ke arah pemuda yang sedang menyusun beras. "Nanti biar dianter mas'e ke rumahnya Pak Dennis."
Pegawai baru itu mengangguk ke arah Yanti yang balas mengangguk.
"Ya sudah, Mbak Sur? Sekalian minyak, beras sama gula sekilo-sekilo. Mumpung ada yang mbantuin bawa." Yanti senang, karena tangannya sudah penuh oleh anaknya dan jajan mereka.
"Hahaha, iya, Mbak Yanti," sahut pemilik warung yang senang dagangannya laris manis.
.
.
.