
Author's note:
Hai kak, maaf alluca nyelip disini. Makasih banyak buat yang baca dan dukung sampai sejauh ini. KiaHaldi, SuwarniTuban, GungMin, UzcanMutmut, Calliga, Radella, Kiki, dan yang sudah baca sampai sini. Terimakasih banyak 😘
'Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang' adalah genre romance-action pertama saya jdi sangat banyak kekurangannya, termasuk sejumlah plothole yang belum sempat dijelaskan. Semoga Alluca bisa persembahkan karya yang lebih menarik dan bagus buat kakak"pembaca semuanya. Salam peluk dan cium 😘💕
.
.
"Ada apa, Snipe?" tanya Rabpit saat mereka berada dekat taman bermain anak. Hari sudah sore dan mereka perlu persiapan sebaik mungkin sebelum mulai beraksi nanti malam.
"Biarkan aku jadi eksekutor kali ini," ujar Dennis.
Semua tahu kalau Dennis adalah penembak jitu jarak jauh. Mereka bisa selalu mengandalkan Dennis jika ada target yang lepas atau seperti kasus terakhir, ada kejanggalan dalam gerak-gerik target selama operasi. Jarang ada yang lolos dari incaran Dennis, karena itu kode namanya adalah Snipe- Si Sniper.
Berbeda dengan Rabpit, Rabbid Rabbit atau Kelinci GiIa. Julukannya sebab dia dapat berpindah cepat sambil menghujamkan senjata pada organ vital target. Atau anggota tubuh mana saja yang bisa dia jangkau untuk melumpuhkan lawan.
"Kamu tidak bermaksud-?" tanya Rabpit yang menyadari maksud pria itu.
"Iya, aku ada urusan pribadi dengannya."
Rabpit mengangkat kedua tangan. "Jangan salah. Aku tidak ingin ada gangguan karena ada emosi, Snipe."
"Karena itu aku minta bantuanmu, Rabpit. Yang lain sangat percaya padamu di lapangan," bujuk Dennis setengah memaksa.
Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku tidak mau mengambil resiko. Apalagi setelah kehilangan Bruno."
Dennis bisa mengerti penolakan Rabpit. Sebagai rekan satu tim, mereka saling bertanggung jawab atas keselamatan yang lain dan diri sendiri.
Tapi dia juga tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu. Dennis tidak tahu kapan dia dan Darto akan bertemu lagi. Dia ingin meminimalisir gangguan dalam hubungan antara dirinya dan Yanti. Dan Darto adalah penghalang ketenangan mereka saat ini.
"Aku akan tunjukkan sesuatu," ujar Dennis akhirnya. Dia tahu tidak akan mudah membujuk Rabpit dan harus membuka kartu AS-nya sebagai jaminan.
Rabpit menyilangkan kedua tangan di depan dada dan melihat ke arah Dennis dengan pandangan bosan. "Go Ahead. Show me."
...
Bangunan yang mereka incar kali ini tidaklah asing bagi Dennis. Dia pernah mengantarkan Lani sekali ke tempat ini. Rumah yang saat itu ditempati oleh temannya, Yessi.
Berbeda dengan saat itu, kali ini rumah itu terlihat terbengkalai dengan pagar yang berderit kencang dan ilalang yang tinggi. Halaman yang dipenuhi daun mati serta jendela yang dipenuhi debu makin menambah suram rumah dua lantai yang besar dan megah itu. Dennis dan anggota yang lain masuk berturut-turut lewat celah di dinding yang tertutup semak.
Secara perlahan tapi pasti, anggota melumpuhkan satu demi satu orang yang mereka temui di dalam. Untuk ukuran rumah kosong, ada terlalu banyak penjaga yang bersenjata. Rabpit dan anggota lainnya terlibat kejar-kejaran dan baku hantam dengan penjaga yang berusaha melawan. Sedangkan yang berusaha kabur, jatuh di halaman setelah tertembus peluru dari senapan Dennis.
Dennis berpindah tempat agar lokasinya tidak terlacak dengan mudah. Dia masih berlindung hingga ada sinyal 'aman' dari anggota lainnya. Dia tidak mau gegabah dan tetap berhati-hati karena target utama belum ditemukan.
Dari tempatnya berada, Dennis mengawasi jika ada orang lain yang berusaha meloloskan diri. Namun, tim baru memberi tanda target sudah ditemukan 15 menit kemudian. Barulah Dennis memasuki rumah yang masih gelap gulita itu.
Di dalam, pria itu membutuhkan 5 detik hingga terbiasa dengan cahaya yang lebih sedikit. Ada sosok yang bergerak di pojokan, membuat Dennis kembali menyiagakan diri. Tapi yang muncul adalah Rabpit, penutup wajahnya sedikit diturunkan.
"Dia sudah terkunci. Kamu punya waktu 5 menit," ujar Rabpit.
Dennis menepuk pundak rekannya. "Thanks, Bro. Aku berhutang padamu."
"Oke, traktir aku makan 1 set full course menu tahun baru."
Dennis kembali menepuk lengan Rabpit. Harga 1 set menu yang diminta masih murah jika dibandingkan prospek kebahagiaannya di masa depan.
"Kamar ke-3 sebelah kanan di lantai 2," ujar Rabpit.
Dengan langkah yang lebih mantab meski menyeret, Dennis menuju ruangan yang dimaksud rekannya.
Hanya ada pantulan cahaya dari lampu jalanan yang menerangi kamar itu. Kamar yang sudah tidak ada perabotnya selain satu kursi tempat Darto duduk dalam kondisi terikat.
Pria itu tertawa saat melihat Dennis masuk. "Aku pikir siapa, ternyata si pincang dari lubang tikus," ejek Darto dengan suara sedikit sengau.
"Ini akibat kalau kamu mengganggu istri orang," ujar Dennis yang menjambak rambut cepak pria itu.
"Istri? Yanti?" tanya Darto disusul kekehan yang terdengar menyebalkan. "Padahal dia kelihatan lugu, ternyata kamu juga dijebak jadi suaminya."
"Pernikahan kalian tidak sah karena kamu pakai nama palsu."
Darto menutup mata, masih dengan senyum lebar di wajah. Dia terus berusaha memprovokasi Dennis. "Dia memang tidak terlalu cantik, tapi bodinya tetap aduhai meski sudah melahirkan. Tidak heran kamu tetap suka meski dia perempuan bekas-"
Sebuah pukulan mendarat di wajah Darto, menyebabkan bibirnya sobek dan giginya patah. Pria itu hanya meludah ke arah Dennis sebelum melanjutkan hinaannya.
"Apa Yanti juga tahu kalau punya suami pembunuh? Oh, ya ampun, sungguh pasangan sempurna. Wanita bekas dan sniper pincang! Dan anak mereka yang masih belum bisa jalan dan bicara-"
Kali ini Dennis melepas tembakan ke alat vital Darto, membuat pria itu menekuk badannya jadi dua.
"Bangsat! Kau akan dapat balasan-"
Belum selesai hinaan Darto, Dennis kembali memukul wajah pria itu. Berkali-kali hingga ada tangan yang menahannya. Saat Dennis menoleh, Rabpit tidak bergeming meski dipelototi.
"Lepaskan! Pria ini, tidak hanya perbuatannya yang busuk. Otak dan mulutnya sama kotornya," seru Dennis.
"Dia cuma mau provokasi kamu. Jangan terlalu diambil hati," bujuk Rabpit berusaha menenangkan rekannya. "Semakin kamu marah, dia akan semakin puas."
Meski logika Dennis setuju dengan perkataan Rabpit, egonya tidak. Dia ingin merobek mulut yang sudah menghina Yanti dan Waskito lalu menjahitnya jadi satu.
"Kalau tidak kamu akhiri sekarang, aku terpaksa harus mengambil alih." Rabpit memberi peringatan kedua kalinya.
Dennis mengangguk. Saat ini, misi harus diprioritaskan. Dengan pandangan mata yang dingin, Dennis menghapus semua perasaan dan hanya membidik tepat di sambungan tengkorak.
Hanya butuh satu tarikan pelatuk sebelum tubuh Darto terjengkang ke belakang. Sudah tidak ada lagi mulut untuk menebar hinaan dan pembunuhan karakter. Tinggal tubuh yang tidak bergerak dalam kubangan darah.
"Bagus. Ayo kita pergi secepatnya," ajak Rabpit sambil menepuk lengan Dennis.
Pria pincang itu berbalik dan mengikuti rekannya. Pikirannya kini sudah beralih pada kehangatan yang menantinya di rumah.
Sama hangatnya seperti matahari pagi yang perlahan terbit di timur.
...
Sesampainya di rumah, langit belum sepenuhnya terang. Namun Dennis bisa mendengar suara aktifitas Yanti di bagian belakang rumah.
Wanita itu mungkin sedang merendam pakaian untuk dicuci nanti. Atau tengah bersiap-siap ke pasar.
Wanita yang mendongak dengan rasa terkejut saat melihat Dennis berdiri di dekat pintu belakang.
"Byuh, Pak. Kok ndak masuk lewat depan aja?" tanya Yanti seraya membuka pintu lebih lebar.
Sejak siang, majikannya itu tidak pulang ke rumah. Hanya kabar dari Elang yang bilang kalau Dennis akan pulang besok. Tapi tidak sepagi ini. Yanti malu karena dia bahkan belum mencuci wajah.
"Aku pingin cepat ketemu kamu, Yan," jawab Dennis setengah merayu.
Yanti yang mendengarnya merasa malu sekaligus senang. "Apa sih, Pak Dennis ini!"
Pria itu lalu mengedarkan pandangannya. "Mana Waskito?"
"Mungkin masih di kamar, Pak."
"Nnis!!" panggil Waskito dengan suaranya yang ceria seperti biasa.
Dennis membungkuk lalu mengangkat tubuh kecil Waskito. Pria itu hanya sedikit keberatan saat tangan Waskito yang basah memegang dirinya.
"Kamu habis pegang apa, tanganmu basah begini..."
Ketika sudah diangkat cukup tinggi, barulah Dennis sadar penyebabnya. Bukan hanya tangan bocah itu yang basah, tapi celananya juga. Bahkan ada bau lemah amoniak dari arah Waskito.
"Yan! Yanti! Anakmu ngompol, Yan!" teriak Dennis panik.
"Nnis! Nnis!" Waskito semakin senang menepuk-nepukkan tangannya ke dada Dennis.
"Bukan Dennis! Mulai sekarang panggil aku 'Ayah'," perintah Dennis.
Waskito yang tidak mengerti, mengulang nama Dennis dengan senyum dua gigi.
Pasrah, Dennis kembali memanggil Yanti yang belum juga datang. "Yan!"
...
Meski mengantuk, Dennis memaksakan matanya tetap terbuka.
"Pak Dennis... Berarti, mulai sekarang, aku manggilnya Mas Dennis, ya?" tanya Yanti sok malu-malu.
"Terserah," jawab Dennis ketus sambil menoleh keluar jendela.
Di waktu yang lain, Yanti akan tersinggung dengan sikap acuh pria bertongkat di sebelahnya. Tapi, ujung telinga Dennis yang memerah, membuat hati Yanti makin berbunga-bunga. Terlebih, pria itu tidak keberatan meski Kito minta duduk dipangku olehnya.
Sungguh ajaib, apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ada banyak hal yang sebelumnya belum pernah dia lakukan dengan sukarela termasuk menggendong Kito. Padahal Yanti sudah takut dan bersikeras agar Dennis istirahat saja dengan kondisi bahu yang terluka begitu.
"Tapi, mau kemana, Pak, sekarang?" tanya Yanti mengalihkan perhatian Dennis, agar pria itu tidak ngambek digoda olehnya.
"Ada yang mau aku tunjukkan," ujar Dennis tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Tempat tujuan mereka adalah salah satu kantor pemerintahan. Yanti diminta menunggu, sehingga dia duduk memangku Waskito di kursi bersama orang-orang lain yang mengantre. Selain saat mendaftarkan pernikahan mereka, ini kali kedua Yanti mendatangi kantor pemerintahan.
Sambil menunggu, ada sedikit penyesalan di hati Yanti karena meminta berhenti belajar dengan Bu Niken meski belum lancar membaca. Dari banyak tulisan yang dipajang di kantor, hanya sepertiga saja yang Yanti pahami maksudnya. Andai dia bisa membaca, dia tidak perlu menebak-nebak apa yang dilakukan Dennis.
Setelah beberapa lama, Dennis muncul dengan membawa map berwarna kuning. Pria itu melempar senyum ke arah Yanti.
"Sudah, Pak?" tanya Yanti yang membalas senyum.
"Iya, ini." Pria itu duduk di samping Yanti lalu menunjukkan isi map. Selembar kertas dengan tulisan besar-besar di atasnya.
"Coba kamu baca," perintah Dennis.
Yanti melirik ragu ke arah Dennis sebelum kembali menatap kertas di depannya. Diejanya pelan-pelan, sesekali dibantu Dennis saat dia salah eja.
"Kartu keluarga...tapi kok disini ditulis ayahnya Kito itu Pak Dennis?" tanya Yanti lagi, keheranan.
"Mulai sekarang, Waskito itu anakku," ujar Dennis dengan tegas. Tapi wajah bingung Yanti membuat pria itu memegang tangan Yanti erat-erat dan mengunci pandangan mereka.
"Aku tahu kalau Waskito bukan darah dagingku. Aku mungkin juga bukan ayah yang baik baginya, tapi ijinkan aku menjadi ayah anakmu, Yan," pinta Dennis.
"Oh.." hanya satu kata singkat itu saja yang keluar dari mulut Yanti. Wajahnya menunjukkan rasa terkejut, tapi selebihnya Dennis tidak bisa menebak.
Dia telah mendaftarkan Waskito sebagai anaknya secara sepihak, tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Semakin lama, Dennis makin gelisah karena tidak ada reaksi khusus dari Yanti. Hanya matanya yang mendadak berair dan tahu-tahu sebuah air mata menetes jatuh.
Untuk pertama kalinya Dennis tercengang melihat orang menangis. Air mata yang terus berjatuhan padahal Yanti sama sekali tidak berkedip. Hati Dennis terasa sakit, dia tidak menyangka kejutannya akan ditolak sekeras ini oleh Yanti.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak akan setuju," ujar Dennis lirih sambil melepaskan tangan wanita muda itu perlahan-lahan. "Harusnya aku bilang dulu."
"Apa..." tanya Yanti dengan suara tercekat. Dia lalu mengulangi dengan suara yang masih bergetar. "Apa Pak Dennis beneran ingin jadi ayahnya Kito?"
Tangan Yanti memegang jari Dennis erat-erat seolah berpegang pada tali nasibnya.
Dennis memandang mata Yanti dalam-dalam. "Iya, kalau kamu mengijinkan aku."
Yanti langsung memeluk bocah di pangkuannya erat-erat dengan air mata yang mengalir makin deras.
"Byuh! Alhamdulillah, Ya Allah! Alhamdulillah! Byuh! Kito! Byuh!" seru Yanti berulang-ulang, menarik perhatian beberapa orang di dekat mereka.
Dennis tidak merasa malu, dia malah bangga karena Yanti terlihat sangat bahagia. Waskito yang tidak mengerti perkataan mereka tapi paham dengan suasana hati Yanti yang gembira, memanggil-manggil Dennis dengan suara riang.
"Nniss! Nnis!" Mata bocah itu berbinar saat memandangnya.
"Hmm? Ada apa, Kit? Apa kamu suka dengan ayah barumu?" goda Dennis dengan senyuman.
...
Ketika tangis Yanti sudah reda, Dennis mengajak mereka pulang.
"Tapi, Pak..." ujar Yanti saat makan malam di dapur.
Dennis tidak jadi menyuapkan sendok ke dalam mulut. "Apa?"
"Apa ndak sekalian aja?" tanya Yanti.
"Sekalian apa?" tanya Dennis yang bingung dengan pertanyaan Yanti.
"Sekalian ijab kabul, kan sudah nikah macem-macem. Tinggal ijab kabul aja yang belum," kata Ibu muda itu dengan jujur.
"Apa boleh? Aku kan beda agama sama kamu?"
"Tapi di rumah papinya Pak Dennis aku juga memberi hormat ke leluhur dan dewa-dewa," protes Yanti, bibirnya sedikit cemberut.
Dennis menyuap dan mengunyah sambil memikirkan alasan untuk menunda permintaan Yanti. "Oke, aku ada waktu buat ke desa bapakmu bulan depan."
"Hmm.. iya, Pak. Ndak masalah. Tapi jangan dekat-dekat aku dulu, ya," ancam Yanti sambil menggeser duduknya menjauh dari pria pincang itu.
"Ya ndak bisa, Yan. Kita 'kan sudah nikah," protes Dennis balik, menggeser kursinya mendekati Yanti.
"Jangan, Pak. Aku belum mandi, masih bau kambing," ujar Yanti ketus sambil beranjak dari meja dengan membawa serta Waskito.
"Lho, Yan? Mau kemana, Yan? Yan?! Jangan pergi, Yan!" seru Dennis yang panik sambil mengejar Yanti dengan langkah menyeret dan sedikit limbung.
Tanpa setahu Dennis, Yanti mengedipkan sebelah mata pada anaknya.
"Tuh, Kito, ayahmu ditinggal ibuk sebentar aja ndak mau," bisik ibu muda itu geli.
Waskito tersenyum balik. Dia senang berada di antara dua orang yang paling dia suka.
.
+-+ Selesai+-+
.