
Seusai makan, Lili langsung menyeret Dennis menjauh. Wajahnya kaku dan panas oleh emosi. Keduanya meninggalkan Yanti dan lainnya yang bersama-sama menuju ruang keluarga.
"Mami, kenapa-" tanya Dennis.
"Dennis! Kenapa wanita itu ada disini!" seru Lili. Dia tidak habis pikir dengan tingkah anak lelakinya.
"Mami bilang kangen aku, makanya aku kesini. Aku ndak mau sendirian jadi kuajak sekalian," elak Dennis.
"Bukan itu maksud Mami! Apa kamu mau mempermalukan Mami? Cepat suruh dia pergi sebelum yang lain pulang sembahyang!" perintah Lili yang makin histeris.
"Mami, tenanglah, Mi.." bujuk Dennis yang memegang lengan wanita yang sudah melahirkan dia.
"Mana bisa Mami tenang kalau-" Suara Lili tercekat di tenggorokan seiring dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya yang merona. "Please...Dennis..."
"Aku bisa bawa Yanti pergi hari ini, Mi. Tapi Mami jangan paksa aku dengan wanita yang Mami pilih," pinta Dennis. Dia tidak ingin membuat Maminya menangis tapi juga tidak mau dipaksa.
"Tapi Yessy dari keluarga baik, Dennis. Dia juga cantik, berpendidikan, kaya. Setara dengan keluarga kita.." bantah Lili.
"Aku ndak mau cari yang seperti itu, Mi. Aku ingin seseorang yang bisa mengerti aku. Aku mau Yanti," ujar Dennis. Matanya mengamati reaksi Maminya, jadi pria itu mengatur katanya dengan hati-hati. "Lagipula Mami sudah terlambat. Aku dan Yanti sudah menikah."
Bagai disambar petir di pagi yang cerah, Lili merasa seluruh badannya gemetaran. Belum pernah dia merasa semarah ini pada anaknya itu. Pada saat yang sama, dia juga merasa dikhianati.
Melihat keadaan mami yang pucat, Dennis menuntun wanita itu berjalan masuk dengan satu tangan. "Ayo Mami duduk dulu. Nanti Mami bisa jatuh."
Lili sungguh ingin menepis tangan yang sedang memperlakukannya dengan hati-hati tapi pada saat yang sama telah menyakiti hatinya. Hanya tongkat hitam Dennis yang membuat Lili tetap mencengkram telapak tangannya sendiri dengan erat.
.
Sementara itu, di ruang keluarga...
Ayah Dennis duduk di salah satu sofa disusul anak-anaknya yang lain. Yanti yang masih berdiri, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Antara takjub dan takut menyentuh kemewahan yang terpampang di depannya.
Terlintas lagi di pikirannya, kenapa Dennis tinggal di rumah kecil itu sendirian. Saat semua ini bisa dia nikmati. Untuk sekejap, timbul rasa kangen Yanti pada emak dan bapaknya.
"Duduklah," perintah papi Dennis.
Ibu muda itu menoleh ke bagian dimana yang lain sudah duduk dan ngobrol dengan sesama mereka. Yanti memilih duduk di samping salah satu anak gadis disana, yang hampir seumuran dengannya.
Baru saja Yanti duduk, anak lelaki yang duduk di sebelahnya saat makan, tiba-tiba saja kembali duduk disebelahnya. Anak itu, anehnya menepuk tangan Yanti yang tertelungkup di lutut. Ketenangan anak itu, membuat Yanti merasa nyaman.
"Namamu siapa?" tanya ayah Dennis.
"Aku Yanti, Pak," jawab Yanti.
"Kamu apanya Dennis?" tanya pria itu lagi, matanya bahkan lebih kecil dan tajam daripada Dennis.
Yanti menunduk, dia bingung harus jawab apa. Dia lalu melihat ke arah lain dan bertatapan dengan banyak pasang mata yang membuatnya mulai tegang dan panik.
"Aku..."
"Yanti adalah wanita yang aku pilih, Pi," ujar Dennis yang muncul bersama nyonya Lili yang langsung duduk di dekat suaminya.
Pria itu menatap ke anak sulung dari istri ketiganya. Dia mencoba membaca apa yang akan dilakukan anaknya itu. Dia memancing pria itu, "Apa maksudmu wanita yang kau pilih? Lili bilang kalau kamu akan dikenalkan ke Yessy, anak Iik Hua."
"Aku dan Yanti sudah menikah," kata Denny blak-blakan, menyebabkan beragam komentar dan reaksi akan kabar mengejutkan itu.
"Nikah? Apa maksudnya, Ko?" tanya Lani. Dia bergantian memandang Dennis dan Yanti yang duduk di sebelahnya bergantian. Wajahnya seolah tidak percaya.
"Kenapa gêgê ndak undang kita?" protes Darren yang menatap Yanti dengan dongkol.
Arthur, anak tertua yang masih tinggal disana, menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan. "Wah wah..." gumamnya pelan.
Lili menutup mata, untuk saat ini dia akan menyerah. Kepalanya makin lama makin pusing. Sentuhan lembut dari suaminya, membuat wanita berumur itu kembali membuka mata dan memasang senyum yang dipaksakan.
"Kapan kalian menikah?" tanya ayah Dennis.
Dennis menatap mata papinya dan menghadapi pria itu dengan serius. "Kami nikah seminggu yang lalu, Pi," jawab Dennis tegas. "Di catatan sipil."
Papinya itu mengangguk. Dennis sering melakukan hal yang berbeda dari saudaranya yang lain, tapi bukan berarti tidak bisa ditebak.
"Kamu harus mengenalkan istrimu pada keluarga yang lain. Mami Feli dan Mami Agnes juga harus tahu." Papi Dennis lalu merentangkan tangan, mengarah ke anak-anak lainnya.
Dennis berusaha menyela tapi suara papinya semakin menggelegar. "Meski usiamu sudah banyak, kamu juga harus memberi contoh yang baik untuk adik-adikmu. Kita adakan jamuan secepatnya. Tidak perlu mewah, asal semua bisa berkumpul."
Dennis terpaksa menyanggupi kali ini, tidak mau berdebat dengan pria itu lebih lanjut.
"Tinggallah sebentar. Biar istrimu kenal dengan saudara iparnya," perintah papi yang lagi-lagi tidak bisa dia bantah.
"Baiklah, Pi. Terimakasih atas kemurahan hati Papi," ujar Dennis yang masih bersikap kaku, berbanding terbalik dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Papi mau berangkat ke gereja dulu. Kalian bisa ikut atau tetap disini," ujar Papi pada anak-anaknya.
Lani langsung berdiri disusul Eyen dan beberapa anak lain. Yang tinggal hanya Darren dan Arthur. Dennis berjalan ke arah Arthur yang duduk rileks di kursi paling jauh.
"Ngapain kamu masih disini, cepat pergi sana!" hardik Dennis dengan kasar.
"Kata Papi aku boleh tinggal kalau mau," bantah Arthur yang cemberut dan sok kegantengan. "Biar lebih kenal saudara ipar."
"Yanti ndak perlu kenal orang kayak kamu," desis Dennis.
"Kamu pikir tindakanmu itu pintar dan berani? Kamu cuma kabur seperti biasa 'kan? Sama seperti setelah kecelaka-"
"Tutup mulutmu, Arthur!" teriak Dennis, tangannya menarik baju Arthur
"Kamu yang tutup mulut!" teriak Arthur tidak kalah sengit. Api seolah menyala dalam matanya.
"Gêgê berdua," suara Darren bagaikan air yang menyiram dua kucing yang sedang berkelahi. "Kalian membuat ipar Yanti takut."
Arthur dan Dennis yang sudah saling menarik kerah dan siap adu jotos itu melepaskan pegangan masing-masing dan menjauh. Sedangkan Yanti yang khawatir kalau terjadi perkelahian, bisa bernafas lega.
Wanita itu tidak menyangka kalau Darren lebih bisa diandalkan dari kelihatannya meski usianya sangat muda. Yanti tidak mungkin melerai perkelahian antar saudara, bisa-bisa dia terlibat masalah yang tidak perlu. Dia juga tidak mau jadi sok baik, menurut Yanti, Dennis patut menerima beberapa pukulan karena tindakannya yang semau sendiri.
Yanti akan nangis darah seandainya Waskito tumbuh jadi anak seperti itu.
"Tapi, Ce Yanti benar sudah menikah dengan Gê Dennis?" Mata bulat dengan kelopak yang tipis dan kulit putih, membuat bocah tampan didepannya semakin imut.
"Benar," jawab Yanti.
"Kalau begitu, aku boleh main ke rumah Ce Yanti?" tanya Darren lagi dengan bersemangat.
"Tidak boleh," sahut Dennis yang mendekat. Suara tongkatnya tak tok, terdengar gelisah.
"Aku tanya ke Ce Yanti, bukan ke Gê Dennis," ledeknya.
"Itu rumahku," ujar Dennis seolah hal itu menjelaskan semuanya.
"Itu juga rumah Ce Yanti sekarang," kata Darren dengan pelan seolah menjelaskan konsep yang mudah pada orang yang sulit paham.
Dennis memutar mata. Itu sebabnya dia tidak suka tinggal disini, semua orang terlalu banyak bicara. Dia tidak bisa melakukan apapun tanpa mendengar komentar sinis dan miring dari saudara atau anggota keluarga yang lain.
Yanti yang bisa menebak jalan pikiran Dennis, berusaha menolak Darren. Saat ini dia dan Kito tinggal dengan pria itu, tidak ada gunanya menyulut emosi Dennis.
"Mungkin lain kali saja. Aku juga harus ikut sekolah," ujar Yanti dengan suara lembut. Darren membuatnya kangen dengan Kito.
"Sekolah? Ce Yanti masih sekolah?" tanya Darren terkejut.
Yanti melirik Dennis yang menyipitkan mata dan mengerutkan dahi. "Iya, aku harus banyak belajar biar bisa pinter seperti... suami-ku." Yanti mengucapkan kata terakhir dengan tidak nyaman.
Darren mengangguk, "Oke. Tapi Ce Yanti harus sering main kesini, ya.."
"Aku ndak janji, tapi aku usahakan," ujar Yanti dengan senyum naturalnya.
Untungnya mereka tidak tinggal lebih lama disana. Saat Dennis mengajak Yanti pulang, Arthur hanya memandang ke arah mereka dengan kesal. Sedangkan Darren melambaikan tangan dengan manis.
Dennis bernafas lega saat mereka akhirnya naik kendaraan umum untuk pulang, kali ini sebuah angkot. Yanti menyimpan komentarnya untuk nanti, saat mereka sudah di rumah. Tidak sampai didengar oleh orang lain.
Meski mereka pergi hanya sebentar, rasanya seperti sudah lama sejak Yanti melihat rumah kecil dengan kandang ayam yang masih kosong itu. Rasanya lega.
Terlebih setelah bertemu Kito, semua kelelahan dan ketegangan bagai menguap dari pundaknya. Menyisakan kaki dan badan yang lemas, serta mata mengantuk.
"Minum teh anget dulu, Ti." Mbok Jum memberikan segelas teh hangat yang diterima dengan senang hati. Wanita itu juga membawakan teh dalam cangkir untuk Dennis yang langsung masuk kamar.
"Auuu...Uk! Kyaak!" teriak Kito seolah mengajak Yanti berbicara.
"Maaf, ya, Le. Tadi ibuk pergi sama Pak Dennis. Kito ndak rewel kan? Main sama Mas Elang?" Yanti terus mengajaknya berbicara meski jawabannya tetap suara yang sulit dicerna. "Pinter, anaknya Ibuk."
...
Di kediaman utama Keluarga Setiawan..
Darren hanya melihat dengan setengah hati saat kabar pernikahan Dennis yang mendadak menjadi bahan pembicaraan terhangat. Beberapa pelayan senior menegur junior mereka, tapi bagai air yang sudah mengalir ke tanah, mereka tidak bisa benar-benar dihentikan. Banyak yang menduga-duga penyebab pernikahan itu, yang paling populer akibat Yanti sudah hamil duluan.
Darren tidak tahu apa ce Yanti sudah hamil duluan oleh anak gê Dennis atau tidak. Yang dia tahu, gê Dennis tidak kelihatan seperti orang jatuh cinta. Dia tidak bersikap lembut, dan malah menarik tangan ce Yanti dengan kasar saat keluar rumah. Lagipula itu tidak ada hubungan dengannya.
Anak berusia 11 tahun itu lebih penasaran kenapa Yanti berubah pikiran ketika Dennis melarang Darren datang. Padahal sebelumnya, Yanti terlihat senang kalau Darren datang. Darren akhirnya memutuskan dia akan kesana saat gêgênya itu tidak berada di rumah.
Di saat yang sama, Lili sedang beradu argumen dengan suaminya.
"Kenapa Papi tidak bertindak tegas memisahkan mereka?" protes Lili. "Apa Papi tahu kalau wanita itu dari kampung, ndeso, ndak pendidikan!"
"Hmmm, tapi Dennis bersikeras ingin wanita itu," ujar Papi hanya agar istrinya tidak makin menjadi.
"Tapi aku ndak mau punya mantu seperti itu, Pi! Papi ini kok ngebiarin anaknya berbuat salah?" Lili makin jengkel dengan keadaan mereka.
"Ahm! Arhm!" Papi berdehem keras, jengah juga mendengar omelan Lili padahal yang bermasalah adalah Dennis.
"Papi juga malah ngadakan acara buat menyambut wanita itu. Kenapa Papi ndak mikirin Mami, sih?!?!"
"Ya kamu tinggal nikahin aja lagi, Dennis sama anaknya siapa gitu," sergah Papi.
Mata Lili langsung berbinar. Benar, istri tidak perlu hanya satu, buktinya dia sudah bertahun-tahun menjadi istri ketiga. Wanita itu pun segera menyusun berbagai rencana untuk memisahkan anaknya dari Yanti.
.
.
.