
Setelah kedatangan Lani, malam itu Dennis mengatakan kalau dia akan mengantar Yanti ke desanya. Yanti senang bisa bertemu dengan emak dan bapaknya. Tidak hanya sekedar titip duit.
Mereka berencana berangkat hari sabtu pagi. Dennis, Yanti, dan Waskito.
Yanti terkejut waktu Dennis bilang dia sendiri yang akan menyetir. Benar kata Mbok Jum, wartawan memang harus pintar. Yanti tidak tahu hal apa yang tidak bisa dilakukan suami kontraknya itu.
Yanti lebih terkejut lagi saat Lani dan Darren tiba-tiba muncul dan bilang ingin ikut. Dennis berusaha mencegah mereka dan setelah perdebatan panjang...
"Jauh, ya, rumahnya Ce Yanti... Sudah siang tapi belum sampai.." komentar Darren yang melihat rumah diantara kebun-kebun.
"Makanya aku bilang jangan ikut," sahut Dennis ketus.
Yanti tidak berkomentar apa-apa. Kepalanya pusing sejak tadi. Siapa sangka kalau naik mobil akan begini melelahkan. Jauh lebih lelah dibanding naik kereta api.
...
Kedatangan Yanti dan rombongannya ke desa Talun, membuat heboh para tetangga. Bukan hanya karena naik kendaraan pribadi, juga karena adanya tambahan tiga orang putih bermata sipit.
Yang paling dibuat pusing tentu saja Dennis. Tadinya dia akan mengaku sebagai teman Yanti yang kebetulan ada keperluan dekat sini. Dengan adanya Lani dan Darren, mengubah banyak detil rencananya.
"Siapa ini, Ti?" tanya emaknya. Bapaknya masih membersihkan diri setelah memasang genteng.
Yanti menatap pada Dennis. Dennis mengangguk kecil.
"Ini Dennis, Mak. Suamiku," ujar Yanti setengah berbisik.
"Hah?! Su-"
Yanti langsung menutup mulut emaknya sebelum wanita itu berteriak lebih keras. Meski tiap orang sedang sibuk merenovasi rumah masing-masing, orang-orang itu bisa berkumpul dengan cepat. Yang lebih menakutkan lagi adalah kabar dari mulut ke mulut.
Yanti mengangguk. "Iya, aku nikah sama P-Dennis di catatan sipil."
"Terus Darto gimana, Nduk?" tanya Emak khawatir. Sesekali dia menatap pria pincang yang duduk di sebelah anaknya.
"Saya sudah ngurus perceraiannya Yanti dengan Darto, Bu," ujar Dennis.
Yanti langsung menoleh pada suami kontraknya. Ini pertama kalinya dia dengar kalau dia sudah bercerai. Sementara itu, Dennis menundukkan kepala. Rautnya terlihat sedih.
"Saya memang baru kenal Yanti, Bu. Tapi saya janji akan menjaga dia..."
"Dan Kito," bisik Yanti.
Dennis menoleh pada Yanti yang cukup cepat beradaptasi.
"...dan Kito," imbuh Dennis sebelum kembali menatap ibunya Yanti. Mata wanita renta itu berkaca-kaca.
"Apa benar kamu suka sama Yanti?" tanya ibunya Yanti lagi.
"Iya, Bu. Aku cinta sama Yanti." Saat mengatakan itu, Dennis teringat pada perkataannya sebulan lalu di hadapan maminya, Lili. Dia mengucapkan kata-kata yang sama persis.
Dennis berharap dirinya tidak perlu menyatakan cinta pada Yanti untuk ketiga kalinya. Pria itu merasa sesuatu yang buruk akan terjadi jika kebohongan diucapkan tiga kali berturut-turut.
"Opo bener ini, Yanti? Emak ndak mimpi?" senyum wanita tua itu dihiasi air mata, membuat Yanti langsung bangkit memeluk ibunya.
"Ndak, Mak. Sudah, Emak kenapa nangis... Emak ndak suka aku nikah?" tanya Yanti dengan suara lembut.
Emak mengangguk cepat. "Alhamdulillah, Nduk.. Alhamdulillah.. moga-moga jodohmu sekarang awet."
Yanti hanya bisa mengelus pundak emaknya sambil tersenyum. Dia senang bisa membuat emak dan bapaknya bahagia.
...
Setelah perkenalan yang menguras emosi itu, Yanti mengajak Lani dan Darren berjalan ke empang yang terdapat di belakang rumah. Mereka melewati kebun yang menyambung dengan kebun tetangga, menapaki jalan turun yang cukup curam, hingga sampai ke tujuan.
Air sumber yang merembes lewat bebatuan, dibuatkan pinggiran dari plester semen. Sehingga bisa dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak langsung mengalir ke sungai.
"Hati-hati, airnya yang di tengah dalam," ujar Yanti yang berjalan berhati-hati.
Meski pinggirannya cukup lebar, udara dingin dan lembab membuat lumut mudah tumbuh. Dia khawatir tamunya terpeleset.
Darren yang tergoda melihat air bening dan jernih, melepas sepatunya untuk bisa ikut duduk di pinggiran empang bersama Yanti.
"Untung aku maksa ikut tadi," celetuk bocah itu sambil melepas celana panjangnya. Kini dia hanya memakai celana pendek dan mencelupkan kakinya ke air empang.
Gadis bermata sipit itu akhirnya tidak bisa menahan diri dan ikut melepaskan sepatunya. Namun, baru saja dia akan melangkah, kakinya terpeleset dan hilang keseimbangan.
"Awas, Ce!!"
"Kyaaa!!" teriak Lani dan Yanti bersamaan.
...
Bapak Yanti yang sudah membersihkan diri, tidak kalah terkejut mendengar anaknya sudah menikah lagi.
"Pengurusannya mudah, karena Yanti nikah siri." Pria itu berdalih. "Maafkan saya baru mengabari sekarang."
Pria tua itu menuang kopinya ke piring ceper dengan tenang.
"Jodoh, lahir, mati, sudah ada yang menentukan. Meski Bapak menghalangi, ndak akan menang lawan Gusti Allah," ujar pria renta itu.
"Apa Yanti sudah cerita bagaimana dia menikah dengan Darto?" tanya Bapak.
Dennis menjawab, "Ndak, Pak. Mungkin dia masih sedih."
Bapak menyesap kopi. Tiap gerakannya terkontrol. Dennis tidak sabaran menunggu orang tua itu mengatakan semuanya.
"Waktu itu pas digelar acara sedekah bumi. Ada orang dari desa lain, ada orang dari kota, macam-macam orang. Semua berkumpul di keramaian."
Mata Bapak tertuju ke cangkir kopinya.
"Kebetulan, Bapak pulang sebentar. Sama sekali ndak nyangka kalau Yanti dinodai orang dari kota itu. Bapak sudah bawa parang, siap mbunuh orang itu tapi dicegah pak Kades. Akhirnya dirembuk, Darto harus menikahi Yanti. Paginya, pria busuk itu kabur!"
Dennis melihat urat-urat di tangan dan leher pria tua itu menegang. Dia sendiri tidak menduga kejadiannya akan seperti itu. Tidak heran, ada aura kenaifan yang masih tersisa pada diri Yanti. Istri kontraknya itu tidak tahu bagaimana menghadapi laki-laki.
Kini, Dennis mengetahui betapa kejam dan dingin dirinya di mata Yanti. Telah memaksa dan memojokkan wanita itu untuk menikahinya.
"Lucu, lucu... Anak itu pamit buat nyari suaminya, tapi malah pulang bawa suami baru."
Dennis memilih tidak terlalu menanggapi kata-kata bapak mertuanya terlalu dalam. Hanya seperlunya saja.
...
Beberapa saat berselang dan Dennis sedang duduk-duduk di beranda rumah saat Yanti dan kedua adiknya muncul dalam keadaan basah kuyup.
Rambut mereka lengket, sama halnya dengan pakaian yang menempel pada tubuh masing-masing. Tapi mata Dennis terpaku pada Yanti. Atau lebih tepatnya pada lekuk tubuh wanita itu. Kain yang basah membuat Yanti seperti memakai baju ketat.
Meski Yanti masih memakai pakaian lengkap, mata Dennis menangkap jelas bagaimana titik air dari rambutnya yang basah, mengalir ke leher sebelum menghilang di balik baju. Mungkin menyelip di antara dada Yanti yang ternyata cukup besar. Pinggul dan pahanya juga berisi, membuat fisik wanita itu terlihat makin menyenangkan di mata Dennis.
Saat Yanti membalas pandangan matanya, Dennis langsung mengganti obyek observasinya ke arah Darren dan Lani.
"Apa yang kalian lakukan sampai bisa basah kuyup begini?" tanya Dennis dengan ekspresi tidak senang.
"Habis main di empang, ya 'kan, Darren?" jawab Yanti sambil tersenyum lebar. Pipinya bersemu merah, membuat wajahnya tampak segar.
"Ce Lani kepleset. Ck..ck..." Bocah itu menggelengkan kepala.
"Kamu berani sama Cece, ya?" tangan Lani langsung meraih badan Darren dan menguncinya dari belakang lalu melancarkan jurus gelitik.
"Hahaha! Ampun, Ce! Ampun!" pekik Darren sambil menggeliat, berusaha lepas.
Di desa yang sepi dan tidak ada hiburan sama sekali, bermain di empang menjadi salah satu kegiatan kesukaan Yanti. Wanita itu senang karena meski hanya ke empang, kakak beradik lain ibu itu tetap bisa bergembira.
"Dennis juga mau ikut nyebur? Nanti aku pegangin biar ndak jatuh."
Perhatian Dennis yang sudah teralih pada Lani dan Darren, kembali pada istri kontraknya. Gejolak yang Dennis rasakan dalam dirinya membuat pria itu gelisah. Dia pun berjalan masuk sambil mengerutkan alis, tanpa sadar mengacuhkan pertanyaan Yanti. Dennis tidak ingin jadi korban nafsunya sendiri.
Wajah Yanti yang tadinya bahagia, kini sedikit padam karena sikap cuek Dennis. Dia ingin Dennis membalas ajakannya entah dengan celetukan tajam atau hanya sekedar tersenyum. Yanti ingin pria pincang itu memberi perhatian padanya meski hanya sedikit.
.
.
.