
Yanti merasa jari-jarinya kaku karena kebanyakan menulis akhir-akhir ini. Saat dia sempat mengeluh pada Mbok Jum, wanita itu malah tersenyum.
"Elang belajar nulis mulai SD kelas 1 sampai kelas 3. Itu tiga tahun. Sekarang saja tulisannya masih sulit dibaca," ujar wanjta itu.
Karena tidak percaya, Yanti minta ditunjukkan buku pelajaran bocah itu sepulang sekolah. Benar saja, Yanti tidak bisa membedakan huruf yang ditulis Elang. Berbeda dengan tulisan Bu Niken yang sangat rapi dan teratur.
"Kalau sering nulis nanti lama-lama bagus sendiri," Mbok Jum membesarkan hati Yanti.
Ibu muda itu tidak jadi mengeluhkan jam pelajaran yang juga bertambah.
Awalnya mereka hanya belajar untuk dua jam, lalu tiga jam sehari dan sejak Dennis bilang dirinya perlu belajar tata krama, malah jadi empat jam sehari. Padahal yang dipelajari adalah hal yang menurut Yanti tidak perlu.
...
Pagi itu, Bu Niken meminta 'pit'pada pak Dennis. pria itu kembali membawa dua tusuk kayu yang sering dipakai mainan oleh Kito.
Yanti takjub melihat Bu Niken mempraktekkan cara memakai sumpit untuk mengambil benda-benda seperti penghapus karet, pensil, kertas, dan lainnya didekat mereka. Dua kayu yang terjepit pada jari ramping Bu Niken seolah bisa bergerak sendiri.
Penasaran, Yanti juga mencoba dan apapun yang dipegangnya pakai sumpit, berhasil jatuh.
"Kenapa ndak makan pakai sendok aja?" tanya Yanti setelah gagal untuk yang kedua puluh kali. "Pak Dennis juga sering pakai."
Niken menggeleng. "Terlalu banyak yang dipelajari Bu Yanti nanti malah lupa."
Wanita itu mendekat dan membantu mengarahkan posisi jari Yanti yang masih keliru. Karena tidak terbiasa, jari-jari kaku dan sulit diarahkan itu tetap meleset.
"Bu Yanti belajar pakai sumpit lagi, nanti. Sekarang kita lanjut belajar lagi tentang tata krama," ujar Niken sambil melepas tangannya dari tangan Yanti.
...
Selain pelajaran menulis kini tugas Yanti bertambah. Dia harus mahir memakai sumpit sebelum mereka pergi ke rumah Nyonya Lili. Tekanan itu membuatnya sulit tidur, jadi Yanti turun ke bawah untuk mengambil air. Saat itu, dia melihat Dennis yang berjalan sambil nyengir, kesakitan.
"Byuh, Pak Dennis ini beneran pincang, toh. Aku kira bohongan," celetuk Yanti yang berjalan mendekat.
Dennis yang mendengarnya, menyipitkan mata gelap dan kecilnya hingga hampir tak terlihat. Yanti yang tidak melihat tuannya tersinggung itu malah berjalan mendekat.
"Yang sakit mana, toh, Pak?" tanya Yanti sambil melihat ke arah kaki putih dan mulus Dennis.
Dennis memgetuk kursi kosong di sebelahnya. "Duduk sana," perintahnya.
Yanti cemberut dengan cara Dennis yang tidak enak didengar. Setelah Yanti duduk, pria itu menaikkan satu kaki kepangkuan Yanti. Wanita itu spontan berdiri dan mendorong kaki Dennis.
"Byuh, Pak?! Ngapain lagi?" tanya Yanti dengan nada tinggi.
"Kakiku sakit, kamu pijit yang enak, ya..." lanjut Dennis.
Yanti kembali duduk dan tidak menolak saat Dennis menaikkan kaki ke pahanya. Dia memijat pelan, makin lama makin keras.
"Ndak usah ke atas, yang bawah saja," instruksi Dennis saat tangan Yanti mulai bergerak ke betisnya. Dia merasa geli dan tidak nyaman karena tangan Yanti terasa empuk saat menekan-nekan jari-jari kaki dan telapaknya.
"Hmm, iya, yang situ... Hmmm... " Dennis bergumam sambil menutup mata dan membukanya bergantian.
"Aku kira bohongan, soale Pak Dennis kadang pake tongkat, kadang ndak," ujar Yanti pada dirinya sendiri.
"Kamu sendiri, kok bisa ditinggal suami padahal sudah punya anak," balas Dennis pedas yang langsung menutup mulut Yanti.
Pijatan di kakinya tidak lagi terasa enak. Yanti hanya sekedar menekan-nekan saja sembarangan.
Yanti bergumam, dan pijitannya sudah kembali nyaman. Tapi suasana diantara mereka sudah terlanjur canggung.
"Gimana pelajaran nulisnya? Tadi juga belajar pakai sumpit."
"Belum lancar, Pak," lapor Yanti dengan suara pelan.
"Di rumah mami, semuanya makan pakai sumpit. Kalau kamu ndak bisa, nanti laper ndak bisa makan." Dennis menjelaskan.
Yanti mendongakkan kepala, matanya menatap ke arah Dennis. "Aku puasa aja, Pak."
"Ndak bisa gitu." Dennis menarik kakinya. "Disuguhi tapi ndak makan itu namanya ndak sopan. Ambil sumpitmu buat belajar tadi."
Yanti berdiri lalu mengambil benda yang sekarang dia simpan bersama sendok dan garpu. Dia kembali duduk dan belajar mengambil karet penghapus. Ibunya Kito itu mempraktekkan hasil belajarnya dengan setengah hati.
"Hah, kalau begitu caranya, tahun depan kamu baru bisa makan mie." Dennis lalu berdiri dan duduk di sebelah kanan Yanti. Dia membetulkan letak sumpit dan jari wanita itu.
Yanti yang merasa tidak nyaman, bergeser menjauh tapi Dennis yang tidak paham kembali mendekat.
"Jangan gerak-gerak terus. Lihat tanganmu sini, jangan yang lain," suruh Dennis.
Yanti mengangguk dan kembali mencoba.
"Iya, yang digerakkan telunjukmu dulu, yang lain ngikuti," puji Dennis.
Setelah lebih familiar dan dengan arahan pria di sampingnya itu, Yanti akhirnya bisa mengambil karet penghapus tanpa jatuh berturut-turut. Matanya berbinar senang tampak di wajah sumringah.
"Byuh!! Aku bisa, Pak!" seru Yanti yang langsung menoleh ke kanan. Dia lupa kalau Dennis duduk dekat dengannya.
Yanti bisa melihat perubahan ketika mata kecil Dennis sedikit membesar, sama terkejut dengannya. Dia juga bisa melihat ada tahi lalat kecil di kumisnya yang tipis. Dan wajah putih tuannya itu tidak semulus yang dia kira.
Wajah Dennis yang perlahan memerah dan..
"Lihat apa, Kamu!?!" teriak Dennis panik, tangannya menampar Yanti.
Wanita itu langsung syok dan dengan cepat melihat ke arah Dennis dengan mata berkaca-kaca. Satu tangan menempel di pipi yang masih terasa sakit. Sekarang hati Yanti seperti diremas. Dia sudah berusaha menuruti kemauan pria itu, kenapa juga masih diperlakukan tidak adil begini.
Tidak lama, Yanti berdiri. Matanya mengatakan apa yang tidak diucapkan oleh bibirnya yang bergetar menahan tangis dan amarah.
Dennis juga berdiri. Maaf, Yan, aku kaget, ndak sengaja- kalimat itu sudah ada di ujung lidah tapi egonya melarang. Dia bahkan tidak mencegah ketika Yanti bergegas kembali ke kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Dennis dan satu set sumpit yang tergeletak di atas meja.
Pria itu kembali duduk sambil menghela nafas panjang. Ternyata berurusan dengan wanita lebih sulit dalam praktek dibanding teori. Dennis bisa melakukan analisis tentang kecenderungan perilaku dan tindakan yang akan mereka ambil, tapi nilainya tidak 100 persen.
Di satu sisi, hal itu membuat Dennis lebih tertarik dan tidak gampang bosan. Di sisi lain, dia merasa frustasi saat prediksinya keliru.
Pada saat yang sama, Yanti menggenggam tangan kecil Kito dalam tangannya. Dia tidak menahan air mata yang jatuh membasahi bantal. Begitu sulit mencari uang di kota, untuk masa depan mereka dan menyambung hidup orang tua di kampung. Bukan hanya pipi dan hatinya yang sakit. Tangannya yang dipaksa memegang sumpit seharian kini ikut berdenyut-denyut.
Kito mengerang pelan, mendengar suara sesenggukan Yanti yang mengganggu tidurnya.
Yanti langsung membekap mulutnya, agar tidak ada suara lagi yang keluar. Dia tidak mau dilihat Kito sedang menangis.
.
.
.