Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
36. Istri Ideal (5)


Minggu pagi itu, Yanti menuntun Kito di sekitar rumah. Sebuah tawa lepas dari bibir ibu muda itu saat Waskito minta berhenti di toko kelontong.


"Pagi-pagi sudah jajan, Le?" sapa Mbak Sur si pemilik warung.


"Iya, kayaknya, Mbak. Masih kecil sudah pinter belanja," sambung Yanti yang lantas menggendong anaknya agar tidak mengganggu pembeli lain.


Yanti menunjukkan nama bermacam-macam benda pada Waskito sambil menunggu giliran.


"Mbak Yanti, kandang ayamnya apa ndak dipake?" tanya pemuda karyawan baru di warung.


"Hmm? Oh, iya, mau beli anak ayam lupa terus."


"Aku punya dua ekor yang umur sebulan. Mbak Yanti mau? Di rumahku sudah ndak cukup tempatnya."


Wanita itu merasa senang. "Berapa harganya?"


Pemuda itu menggeleng. "Ndak usah. Nanti pulang kerja aku anterin ke rumah Mbak."


"Lho, jangan.. Aku mau beli," bujuk Yanti.


"Ndak, Mbak. Aku-" jawaban pemuda itu terpotong karena dipanggil majikannya.


"Nas! Ambilkan gula yang digudang!" perintah mbak Sur.


"Iya, Mbak Sur!" sahutnya keras lalu beralih pada Yanti. "Aku lanjut kerja dulu, Mbak Yanti."


Ibu muda itu hanya melihat saat pemuda tadi dengan sigap mengangkat karung gula, dan barang-barang lain. Karena sepertinya pemuda itu sibuk, Yanti hanya membeli kue kacang untuk Kito sebelum berjalan kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Yanti melakukan aktivitas seperti biasa. Membersihkan rumah lalu mencuci baju.


Akhir-akhir ini Dennis lebih sering memakai kemeja pendek, mungkin pengaruh cuaca yang makin panas. Pikiran Yanti kembali pada beberapa hari lalu saat mereka pergi ke Talun, Nglegok.


Pada air sendang yang dingin dan jernih.


Andai saja waktu itu Dennis tidak menolak ajakannya, mereka bisa bermain air bersama. Saling siram dan saling menarik di dalam air.


Yanti kembali bertanya dalam hati. Apakah kalau bermain air, pak Dennis juga akan melepas kemejanya? Atau hanya memakai celana pendek seperti Darren?


"Yan..." panggil Dennis dengan suara beratnya yang menggetarkan hati.


"Ah, Ya Ampun!" teriak Yanti malu karena membayangkan suasana romantis di antara mereka. Tangannya penuh busa, menepuk-nepuk permukaan air hingga basah dimana-mana.


"Yanti! Ada yang nyari kamu," ujar Dennis sambil memukul pelan kakinya berkali-kali, memakai ujung tongkatnya.


Yanti yang terkejut, langsung menoleh pada lelaki yang sudah berdiri di dekatnya. Dia bertanya, "Apa, Pak?"


"Ada yang nyari, tuh..." Dennis menunjuk ke arah halaman samping rumah yang terlihat dari pintu belakang.


Disana, Yanti melihat pemuda pegawai toko membawa tas anyaman.


"Loh, sudah datang?" tanya Yanti pada dirinya sendiri. Dia lalu bergegas mencuci tangan.


"Siapa itu?" tanya Dennis, tatapan matanya tajam.


"Anas, Pak," jawab Yanti kemudian cepat-cepat keluar dan menyapa pemuda itu. Tidak sadar dengan alis Dennis yang berkerut.


Dennis tidak punya pilihan selain memandang Yanti dan pemuda itu berhaha-hihi di halaman. Semakin lama, dadanya terasa makin panas. Dia tidak suka melihat kedekatan antara keduanya.


Mata Yanti yang berbinar saat menerima keranjang anyaman. Keduanya yang saling senyum dan sesekali mencuri pandang. Padahal laki-laki itu jauh lebih pendek dan tidak setampan dirinya.


Mata Dennis lalu tertuju pada lengan pemuda itu yang berkilat di bawah sinar matahari.


"Tsk, sengaja pakai kaos tanpa lengan buat pamer.." cibir Dennis sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau aku mau, aku juga bisa pakai baju terbuka begitu!"


Semakin lama, Dennis semakin kesal. Sebagian karena merasa tersaingi dengan kehadiran pria asing yang kualitasnya jauh dibawahnya.


Saat Yanti masuk, Dennis berjalan mendekat. Dia melihat kalau sudah tidak ada keranjang di tangan Yanti.


"Bawa apa tadi?" tanya Dennis, memulai interogasinya.


"Apa, Pak?" Yanti balik bertanya.


"Kamu tadi kan dikasih sesuatu sama orang itu." Dennis mengetuk tongkatnya ke lantai beberapa kali untuk menunjukkan kejengkelannya.


"Ayam, Pak," jawab Yanti sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Tadi pagi pas ketemu, mas Anas bilang mau bawain ke rumah."


Yanti yang terkejut dengan suara Dennis yang tiba-tiba membentak, diam saja.


"Tempat ini rumahku, kamu ndak bisa sembarangan bawa orang kesini! Kalau dia berniat tidak baik gimana?! Kalau ada apa-apa memangnya kamu mau tanggung jawab?!"


"Maaf, Pak.. " ujar Yanti yang panik dan ketakutan. Hatinya juga sakit, padahal Anas sendiri yang menawari. Bukan dia yang minta.


"Kalau ini rumahmu, terserah! Kamu ndak bisa sembarangan disini!" Dennis baru menutup mulut saat melihat sikap tunduk Yanti yang berdiri diam.


Ibu muda itu bahkan tidak mengangkat wajahnya.


"Maaf, Pak," ujar Yanti sekali lagi. Suaranya bergetar.


"Ya sudah kalau kamu mengerti. Lain kali jangan diulangi," ujar Dennis yang mulai mereda amarahnya, berbalik dan meninggalkan Yanti.


Tanpa Dennis tahu, air mata menetes dari mata ibu muda itu, langsung ke lantai. Membuat titik-titik berwarna gelap. Dia bahkan tidak berani beranjak sampai sudah tidak mendengar suara tongkat Dennis lagi.


.


Kemarahan Dennis siang itu membuat Yanti sangat sedih.


Selain menuduh dirinya membawa sembarang orang, Dennis juga menyuruhnya agar tidak sembarangan bertindak di rumahnya.


Yanti tahu kalau itu rumah Dennis, tapi... Majikannya itu berkata seolah Yanti sudah bertindak tidak tahu diri, lancang, di rumah orang lain.


Dia sadar kalau dia hanya bekerja sebagai pembantu. Tapi tak bisakah seorang wanita sepertinya bermimpi menemukan pendamping yang penyayang... Yang tampan, kaya, dan dari keluarga terhormat..


"Kenapa kok mukamu kusut gitu, Ti?" tanya mbok Jum. "Biasanya jam segini kamu juga sudah pulang kalau Pak Dennis di rumah."


Yanti mencoba tersenyum. "Sekali-kali Mbok Jum. Soalnya Mbok Jum mbuat tahu isi. Enak, Mbok."


Wanita gempal itu tahu kalau Yanti berbohong. Sejak tadi Yanti belum menghabiskan tahu isi yang diambilnya. Dan hanya melamun sambil melihat anaknya yang main mobil-mobilan. Dia bisa menduga penyebabnya. Mbok Jum tidak tahu persis apa yang dikatakan Dennis, tapi suara teriakannya terdengar sampai sini.


"Ndak usah terlalu diambil hati," nasehat mbok Jum yang duduk di dekat Yanti. "Kita kalau lagi banyak pikiran atau kecapekan juga pinginnya marah terus."


"Iya, Mbok," ujar Yanti. Sungginggan di bibirnya tidak terpancar di pandangan yang sayu.


...


Sepanjang sore itu, Yanti memikirkan banyak hal. Termasuk tentang kegiatan belajarnya.


Karena itu, sesudah makan malam dan mencuci piring, Yanti membulatkan keputusannya. Dia mendatangi Dennis yang sedang duduk membaca buku di ruang kerja.


"Ada apa?" tanya Dennis tanpa mengangkat wajah dan suara yang ketus.


"Pak, aku mau berhenti belajar sama Bu Niken."


Kali ini Dennis spontan mendongak. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa maksudmu berhenti belajar? Apa kamu tidak tahu seberapa beruntungnya kamu bisa belajar di usiamu sekarang ini?"


Pria itu bahkan berdiri dan mendekati Yanti dengan menyeret kaki.


"Yang lain buat sekolah saja harus bayar, tapi kamu tinggal duduk saja di rumah! Baca dan hitungan saja belum lancar, apa kamu ndak kepingin sekolah yang tinggi? Kamu bisa jadi pegawai negeri! Bisa gampang dapet duit!"


Yanti mundur selangkah mendengar terjangan kata dari Dennis. Tapi tidak menundukkan kepalanya sedikitpun.


"Aku bukan istri Pak Dennis. Aku cuma pembantu. Istri kontrakan. Setelah mendapat kepastian tentang Mas Darto, aku juga mau pulang ke Nglegok, Pak."


Dennis tidak tahu kenapa dia begitu terkejut, tapi dia terhuyung mundur. Yang Yanti katakan memang tidak salah. Hanya...


"Tapi... Tidak secepat itu bisa dapat kabar tentang orang hilang..." suara Dennis makin mengecil.


"Iya, Pak. Aku belajar juga, semuanya tetap sudah tahu kalau aku ndak pinter baca, ndak tahu apa-apa. Jadi aku-"


"Uk!"


Kata-kata Yanti terhenti ketika dia mendengar suara pekikan Waskito disusul suara barang jatuh di dekat tangga.


"KITO!!" teriak Yanti yang langsung berlari ke arah tangga dimana anaknya sudah berada di bawah. Dennis berada tidak jauh di belakang wanita itu.


"Uk.. UWAAAA!!!" tangis bocah setahun lebih itu pun pecah.


.


.