
"Hei, Yan! Ditanya malah ngelamun aja!" Dennis makin mempererat pelukannya yang tidak disengaja.
Yanti dengan cepat berputar menghadap majikannya itu. "Pak Dennis sendiri ngapain kesini?"
"Aku ada pekerjaan."
"Bohong, pekerjaan apa ndak bawa kamera. Pak Dennis juga ndak bawa tongkat," kejar Yanti yang merasa sudah lebih pintar dan tidak mudah dibohongi.
"Disini bahaya, kamu cepat pulang sana," usir Dennis yang tidak mau berdebat lebih panjang. Setiap detik sangat berharga. Dia tidak mau membuangnya dengan bertengkar.
Yanti memegang lengan pria pincang itu. "Ini tentang sodaranya Pak Dennis itu 'kan? Yang Lani cerita kapan hari?"
Mata Yanti menatap lurus ke matanya dengan penuh keyakinan. Dennis sudah menduga kalau urusan kali ini tidak akan selesai semudah itu. Ada Arthur yang terlibat. Jika terjadi sesuatu pada lelaki ceroboh itu, Lani akan bersedih.
Karenanya dia meminta bantuan Rabpit. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yanti juga akan terlibat. Dennis sudah ada firasat sejak menyadari ada angkot dengan trayek tidak biasa mengikutinya. Entah wanita tengil ini nantinya akan menyusahkan atau malah berguna.
"Ya sudah, ikuti aku," ujar Dennis akhirnya melepaskan Yanti. Pria itu lalu kembali keluar gudang. Yanti yang ikut di belakangnya, merasa heran.
"Lho, kok keluar, Pak?"
"Aku ngincar bangunan itu," Dennis menunjuk bangunan yang jaraknya sekitar 30 meter dari tempat mereka berada.
Yanti melihat ke arah dimana ada dua orang laki-laki ahli hisap sedang berdiri sambil bercakap-cakap. Dennis lalu membagikan rencana yang dibuatnya. Dia pastikan sang rekan paham sebelum memulai aksinya.
Dennis tidak yakin apakah kelab malam itu akan mengizinkan yanti masuk atau tidak. Tapi itu tidak masalah, Dennis yakin kalau Yanti akan menemukan jalannya sendiri.
Mula-mula Dennis masuk, berdalih sebagai calon pelanggan. Sementara Dennis mulai mencari tahu tentang keadaan di dalam dan posisi Arthur, Yanti menyusul masuk dan membuat keributan.
"Aku mau cari suamiku!" suara Yanti begitu keras sampai Dennis bisa mendengarnya di antara musik yang sedang diputar.
Pria itu cepat-cepat memasuki salah satu ruangan privat selagi penjaga dibuat lengah.
"Aku ndak bikin ribut, aku cuma mau cari suamiku." Yanti berusaha meyakinkan kedua penjaga yang melarangnya masuk.
"Ndak bisa, Mbak. Nanti tamu lain terganggu," cegah Botak1.
"Sebentar thok. Aku tadi lihat dia masuk sini, kenapa aku ndak boleh masuk?" tanya Yanti berang.
"Mbaknya tunggu di rumah saja sampai suaminya pulang," ujar Botak2.
"Mas'e ini gimana toh? Kalo suamiku kenapa-kenapa gimana? Kalo digondol kucing garong, apa Mas-mas ini mau tanggung jawab?" Yanti pun mendorong kedua pria tadi yang langsung jatuh terduduk.
Selagi keduanya tidak bisa bergerak, Yanti melesak masuk sebelum ditangkap.
Di dalam ruangan gelap dengan lampu sorot warna-warni dan suara yang debam debum, Yanti berjalan cepat-cepat di antara tamu. Dia mencari Dennis dan Arthur sambil berusaha menghindari kejaran bodyguard.
Tidak mudah, karena ada banyak orang yang berdiri menghalangi jalannya sambil berjoget di lantai dansa. Tapi hal itu malah membuat Yanti bersemangat. Dia sudah berjanji untuk membantu Dennis dan melindungi pria itu.
Yanti sengaja berjalan di antara orang-orang untuk menghindari kejaran. Tubuhnya yang kecil membuat dia mudah menyelinap di bawah sorot lampu remang-remang. Tidak sadar bahwa sikutan dan dorongannya meninggalkan jejak.
"Aduh! Siapa itu tadi?!"
"Auh! Kakiku!"
"Hei, kamu ngapain dorong-dorong?!"
"Bukan, bukan aku!!"
.
Dennis yang melihat adanya kesempatan, segera keluar-masuk ke ruangan-ruangan. Semua berkat Yanti yang mengalihkan perhatian para penjaga.
Saat memasuki ruangan VIP, berkali-kali Dennis menerima teriakan protes. Dia tidak peduli dan berlalu, ke ruangan selanjutnya. Hingga ke salah satu ruangan VIP yang kosong tapi dengan lampu menyala dan beberapa botol yang sudah dibuka serta snack di atas meja.
Insting Dennis memberinya sinyal untuk masuk lebih dalam. Pria itu akhirnya berhasil menemukan orang yang dia cari.
Arthur sedang tergeletak di lantai, posisinya sedikit tertutup meja besar di tengah ruangan. Yang membuat Dennis mengumpat adalah mulut laki-laki itu sedikit berbusa.
Ketika Dennis menunduk untuk memeriksa kondisi vital Arthur, pintu kembali terbuka dan masuk seorang wanita dengan pakaian seksi. Mata Yessi melihat ke arah Dennis sebelum dia berteriak.
"Ya Ampun! Arthur kenapa?!" Gadis itu berteriak. Tidak sampai disitu, dia keluar lagi sambil memanggil petugas kelab.
"Tolong! Tolong! Temanku pingsan!" Yessi lalu menarik salah satu petugas sambil menunjuk ke arah Dennis yang masih berada di sebelah Arthur.
Petugas itu dengan sigap segera menghubungi pihak keamanan pusat. Dennis yang terus mengikuti gerak-gerik Yessi, hendak mengikuti ketika dia ditahan oleh petugas tadi.
"Pak, mau kemana? Harus ada orang yang jaga," ujar pria itu.
"Itu, pacarnya, dia pergi," sahut Dennis yang berusaha mengejar Yessi yang terus berjalan ke arah kerumunan. Dia lalu mendorong tubuh petugas tadi dan mencari Yessi di tempat terakhir matanya melihat gadis itu.
Pencahayaan yang gelap dan gerak tubuh manusia yang berbaur mengikuti musik, membuat Dennis sedikit kesulitan. Dia bahkan kesulitan memberi kode pada Rapbit yang sudah masuk lebih dulu.
Karena itu, Dennis mengarahkan fokusnya pada titik-titik keluar masuk ruangan. Pria itu lalu menangkap gerakan Yessi di dekat pintu ke arah dapur.
Dennis tahu kalau dengan keadaan sekarang, dia tidak akan sampai tepat waktu, sehingga dia bergegas ke arah DJ.
"Hei! Hentikan musiknya! Ada kebakaran! Kebakaran!!" teriak Dennis.
Seperti yang dia duga, kepanikan terjadi di lantai dansa. Orang berbondong-bondong berlari dan berteriak ke arah pintu keluar-masuk utama, mencari keselamatan diri masing-masing.
Dennis pun mempercepat jalannya ke arah dapur, dimana suara musik jauh berkurang. Para karyawan menatapnya dengan sinis. Dia mencoba lewat ke pintu keluar yang terhubung dengan lorong gelap, tapi lagi-lagi dia terlambat. Gadis itu sudah tidak terlihat dimanapun. Hanya ada gema suara musik di dalam dan suara kendaraan di kejauhan.
"Aku ndak bikin ribut! Biar kalian kena karmanya!!" teriak Yanti yang juga didepak dari kelab itu. Sepertinya dari pintu lain di dekatnya.
Dennis pun berjalan mengikuti arah suara Yanti. Istri kontraknya itu tengah merapikan rambutnya yang lepas dari ikatan.
"Pak Dennis! Untung ketemu!" Yanti langsung berlari dan memegang kedua lengan pria itu. "Ya Ampun, Pak! Ternyata buanyak orang di dalam."
Mata Yanti lalu melihat ke sekeliling mereka. "Sodaranya Pak Dennis mana?"
Belum sempat Dennis menjawab, suara sirine mobil polisi mendekat. Dennis dan Yanti menghindar saat ada beberapa orang yang berlari ke arah mereka, lalu menghilang di antara gang-gang. Wajah wanita itu menunjukkan kebingungan.
"Polisi! Semua diam di tempat!" perintah penegak keamanan lewat pengeras suara.
Dennis menarik tubuh Yanti dan memeluk wanita itu. Mata Yanti seketika membesar, terkejut. Adrenalin yang masih mengalir deras dalam pembuluh darahnya menyebabkan semua indra Yanti jadi lebih sensitif.
Karenanya ibu muda itu bisa mencium aroma keringat Dennis di antara wangi parfum yang dia pakai. Tekstur kain kemeja yang kaku karena diberi aci. Bahkan suara nafas Dennis yang pendek-pendek.
Lalu, usapan lembut di kepala Yanti, seolah mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Hei, bantu aku jalan. Aku sengaja ndak bawa tongkat tadi. Sekarang kakiku agak sakit."
Yanti yang tadinya sudah senyam-senyum sendiri, langsung cemberut. Dia juga menepuk dada Dennis untuk melampiaskan kekesalannya.
"Wadau, Apa sih, Yan?" protes Dennis sambil mengelus-elus dada.
...
Lili sedang duduk minum teh dengan Sulung Setiawan di teras kamar, sore hari.
Sungguh pemandangan yang cantik, istrinya itu. Tidak hanya pintar berdandan, dia juga awet muda.
"Papi tahu sendirilah. Agnes itu sudah sibuk sama sanggar senamnya sendiri, akhirnya ndak ada waktu buat ngurusin anak."
Sayang bibirnya yang berwarna merah itu sering mengeluarkan bisa.
"Dennis memang nyentrik, tapi dia ndak pernah membuat Papi rugi. Ndak pernah pakai obat-obatan terlarang. Apalagi sampai ada urusan dengan polisi. Aku jadi ikut-ikutan malu," keluh Lili lagi.
Sulung menghela nafas. "Kalau kamu sebegitu malunya, kamu boleh tinggal sama anak laki-lakimu itu."
Tangan Lili yang jarinya dicat merah, bergelayut manja pada lengan suaminya. "Papi bilang apa, sih! Yang namanya keluarga, ya susah senang ditanggung bersama. Atau urusan pendidikan anak-anak biar aku yang tangani?"
Sulung mengelus lengan dan pundak istrinya. "Ndak perlu. Kamu cukup layani aku sebaik-baiknya."
Untuk menekankan kalau pembicaraan mereka sudah selesai, Sulung bahkan menciumi jari lentik Lili. Menyebabkan senyum kecil tersungging di bibir mungil sang nyonya ketiga.
Walau begitu, setibanya di kantor, Sulung tetap meminta laporan tentang kinerja Arthur. Orang kepercayaannya mengatakan bahwa hasil kerja Arthur biasa saja, tidak ada yang istimewa. Malah bisa dibilang, jalan ditempat.
Yang membuat Sulung gusar adalah kelakuan Arthur yang ternyata telah menggelapkan sebagian dana perusahaan. Dana yang tidak dipakai oleh anak laki-lakinya, tapi untuk membiayai pacarnya, Yessi.
Gadis yang tadinya akan dinikahkan dengan Dennis, tapi malah pacaran dengan Arthur.
...
Yanti datang ke kamar tempat Arthur di rawat. Ruangan yang sama bagusnya dengan kamar Dennis di rumah utama. Setelah sering bertemu dengan anggota keluarga Dennis, Yanti sudah tidak lagi minder dengan kekurangannya.
"Buat apa kesini?" tanya Arthur dengan suara yang datar.
Sangat jauh dari kesan Yanti pertama kali saat bertemu pria berambut panjang itu. Arthur yang dikenalnya selalu mengatakan perasaannya. Wajahnya selalu menggambarkan dengan jelas pemikiran Arthur, pria yang kini duduk tanpa ekspresi di atas ranjang.
"Kamu sudah baikan?" Mata Yanti mengarah ke selang infus yang masih tertancap di tangan Arthur.
Arthur tidak menjawab. Dari semua orang yang datang, dia tidak menyangka istri kampungan Dennis akan berkunjung. Wanita itu bahkan membawakan sekeranjang buah-buahan.
"Bawa pulang saja buahnya. Ndak ada yang makan disini."
"Tapi kamu kan disini," tunjuk Yanti.
"Ndak ada yang ngupasin," ujar Arthur akhirnya mengangkat tangannya yang diinfus, sedikit digoyang ke kiri dan kanan.
Kali ini giliran Yanti yang diam. Dia datang karena kuatir, Dennis sama sekali tidak mau ikut. Tapi sepertinya kecemasannya sia-sia. Sikap Arthur tetap menyebalkan.
Persis seperti saudaranya yang memakai tongkat hitam.
"Dijadikan pajangan saja. Tanganku juga capek." Yanti menirukan gerakan tangan Arthur.
Wanita itu pun memutuskan untuk segera pulang saja. Keadaan Arthur kelihatan baik. Seandainya tidak baik pun, ada banyak dokter dan perawat.
Tangan Yanti sudah menggapai gagang pintu ketika Arthur memanggilnya.
"Hei...!!"
Yanti berbalik.
"Kamu... Kenapa kamu mau sama Dennis? Padahal kakinya pincang dan miskin."
Yanti mengedipkan mata. Tidak mungkin dia mengatakan hal sebenarnya. Tapi dari yang dia tahu, Dennis sebagai suami tidaklah seburuk itu. Dia sangat tahu suami yang jauh lebih buruk.
"Kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan," ujar Yanti akhirnya menirukan salah satu ajaran Niken. Dia lalu mengangguk dan keluar dari ruangan.
Tanpa Yanti tahu, kata-katanya barusan membuat Arthur berpikir tentang banyak hal.
.
.
.