Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
8. Bu Niken


Yanti hanya mengangguk waktu Dennis mengatakan akan memanggil guru untuk dia. Dia tidak paham kenapa guru mau datang? Kalau untuk belajar, kenapa bukan Yanti yang ke sekolah?


Pertanyaan itu, dan calon gurunya batal datang karena Kito sakit. Sehingga hari ini orang yang akan mengajari Yanti itu akan datang setelah jam sarapan.


Yanti memandang Dennis yang selesai makan pagi dengan perasaan cemas yang tidak bisa dia katakan. Dia hanya berkali-kali melap tangannya yang basah ke rok warna coklat tua yang dia pakai.


Dennis menyimpan komentar dan senyum untuk Yanti dalam hati. Dia tidak ingin membuat Yanti makin tegang dan gagal belajar. Kalau bisa dia harusnya menyemangati wanita itu.


"Kamu sudah sarapan?" Dennis melihat ke arah Yanti saat wanita itu tidak menjawab. Dia ulangi lagi pertanyaannya. "Sudah makan belum?"


"Sudah." Kali ini Yanti tidak menjawab dengan anggukan saja.


"Sudah mandi?" lanjut Dennis. Yanti kembali mengangguk, rambutnya yang diekor kuda sebagian jatuh ke pundak.


"Kito sudah dititipkan ke mbok Jum?"


Yanti mengangguk lagi.


"Terus kamu kuatir apa? Gurunya ndak makan orang kok." Dennis yang mendadak kesal karena nyali ciut Yanti, berdiri dan berjalan menjauh. Toh makannya sudah selesai.


Yanti akan mengatakan sesuatu saat keduanya mendengar suara pintu diketuk dan suara memanggil. "Pak Dennis... Pak Dennis..."


"Kamu buka pintunya," perintah Dennis yang menyusul dengan langkah lebih pelan.


Yanti membuka pintu dan terpana melihat wanita di depannya. Yanti sudah membayangkan macam-macam tentang guru yang akan mengajarinya, yang pasti tidak seperti kenyataan.


Seorang wanita yang seumuran dengannya, senyumnya manis, pakaiannya rapi dan sopan. Wanita itu juga memakai pita bentuk bunga di rambutnya yang dipotong pendek dan disisir rapi.


"Pak Dennis ada?" tanya wanita itu, Yanti berpikir bahwa suaranya pun manis.


Yanti melihat ke belakang, Dennis sudah berdiri di dekatnya.


"Silahkan masuk, Bu. Maaf, dengan Bu guru siapa namanya?" tanya Dennis dengan senyum yang membuat mata kecilnya seperti hilang.


"Saya Niken." Wanita itu mengulurkan tangan yang diraih Dennis dalam jabatan tangan tegas dan cepat.


"Bu Niken. Ini istri saya, Yanti," Dennis memperkenalkan, tangannya menyentuh pundak Yanti.


Yanti yang melihat bergantian antara Dennis dan Niken, mengangguk dengan senyum penuh keraguan. Dia pun mengulurkan tangan ke arah Niken dan merasa tenang setelah wanita itu menerima uluran tangannya.


"Bu Yanti, bagaimana kalau kita langsung saja?"


Yanti mengangguk. Dennis yang merasa sudah waktunya untuk pergi, akhirnya berpamitan. Meski dia penasaran, dia tidak ingin mengganggu keduanya.


"Saya mau tahu, Bu Yanti bisa baca atau menulis?" tanya Niken.


Yanti yang sudah tenang, kembali panik. Dia menggeleng cepat.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai dari dasar yang paling dasar. Saya mau kalau saya tanya, Bu Yanti menjawab 'iya' atau 'tidak'. Jangan manthuk dan godek saja," ujar Niken.


Yanti kembali mengangguk. Niken lalu meraih tangan Yanti dan menatap mata wanita itu dari dekat.


"Iya, Bu," ujar Niken. "Ayo bilang."


"I-iya, Bu." Yanti mengulangi sambil mengangguk.


"Tidak, Bu." Niken kembali memberi contoh. "Ulangi."


"Tidak, Bu," tiru Yanti.


"Sudah bisa?" tanya Niken untuk mengetes.


Yanti mengangguk, tapi saat jari Niken mencengkram erat, Yanti langsung menjawab. "Iya, Bu."


...


Satu jam yang dipakai Niken agar Yanti terbiasa menjawab iya dan tidak, sekaligus mengajari menulis huruf, terasa bagai sepuluh jam penuh siksaan. Waktu istirahat selama sepuluh menit yang mereka gunakan untuk minum berlalu terlalu cepat. Niken masih mengajari Yanti menulis angka dan perhitungan.


Begitu jam pelajaran selesai, Yanti bisa bernafas lega. Dia mengajak wanita itu untuk makan siang, tapi sangat bersyukur waktu Niken menolak.


"Besok saya akan kesini jam seperti tadi. Dan Bu Yanti, tolong tulis alfabet sebanyak 3 baris hari ini. Kalau ada yang tidak mengerti, bisa dicatat dulu dan ditanyakan besok. Paham?" tanya Niken tegas.


"Bagus, sampai besok, Bu Yanti," pamit Niken dengan lambaian tangan.


Yanti juga ikut melambaikan tangan meski gerakannya jauh lebih kaku. Dia masuk ke dalam sambil memutar pundak yang pegal dan tangan kesemutan setelah harus duduk dan menulis selama dua jam.


Baru saja dia akan menutup pintu ketika Yanti sudah keluar lagi. Wanita itu melangkah tergesa-gesa ke arah rumah depan tempat Mbok Jum tinggal.


"Mbok! Mbok Jum!" panggil Yanti.


Wanita paruh baya bertubuh tambun itu muncul dengan Kito di dekapannya. Anaknya kelihatan makin kecil saat berada di tangan Mbok Jum.


"Ndak rewel, Kito, Mbok?" Yanti meraih Kito saat wanita itu mengoper.


"Ndak, anteng anakmu, Ti," jawab Mbok Jum heran. "Ndak kayak Elang, ndak bisa diem. Mungkin pengaruh namanya, ngider terus."


Yanti tertawa. Baru kali ini Mbok Jum bicara bebas dengannya. Biasanya wanita itu hanya membuka mulut seperlunya saja.


"Anak bawaannya sendiri-sendiri, Mbok. Aku ya kuatir, Kito belum bisa jalan," lanjut Yanti.


"Mungkin nanti dia langsung lari," sahut Mbok Jum disambut tawa renyah keduanya.


...


Sore itu Yanti sudah melakukan semua tugasnya, jadi seperti biasa, dia dan Kito bermain di sepetak tanah kecil halaman tempat mereka tinggal. Tanaman yang semrawut sudah dia rapikan dan lebih teratur, tidak ada daun mati, rumput liar sudah dicabut, bahkan sesekali dia sirami agar tidak debu.


Yanti yang melihat Dennis datang, memposisikan Kito agar berdiri menghadap pria itu.


"Itu, Kito, Pak Dennis pulang," ujar Yanti.


Mata Kito yang bulat lebar, berbinar melihat ada orang mendekat. Orang yang sering dia lihat akhir-akhir ini.


"Kaakyak! Yaaak!" teriak bayi itu tidak jelas. Tangan yang beberapa detik lalu berada di dalam mulut, kini terarah ke Dennis, mencoba meraih pria itu.


Meski pincang, Dennis menghindar tangan basah Waskito dengan mudah. "Gimana belajarmu tadi, Yan?"


"Sulit, Pak. Tanganku sampai pegel," keluh Yanti.


"Belajar apa?" Dennis penasaran apa yang membuat wanita yang bisa menggendong Kito (5kg) seharian tapi mengeluh setelah belajar dua jam.


"Belajar nulis sama mbaca, Pak," jawabnya. Yanti lalu teringat tugas yang diberikan Niken sebelum pulang.


"Apa?" Dennis kembali bertanya.


"Aku disuruh lanjutin nulis." Yanti terlihat khawatir.


Dennis tidak tahu kenapa Yanti mendadak bingung. "Coba aku lihat," perintahnya.


Yanti masuk dan mengambil buku yang dia simpan di kamar. Sebagian buku itu sobek, dan Dennis sudah tahu pelakunya tanpa bertanya. Kito kembali berceloteh sambil menggerakkan tangan ke arah Dennis.


"Lain kali kamu simpan buku di ruang kerjaku saja. Sekarang kamu beli buku baru dan langsung latihan nulis."


Wajah dan suara Dennis tidak seperti marah, dan itu membuat Yanti sangat lega. Dia mengangguk sambil tersenyum lebar. Jalannya cepat saat ke dapur untuk mengambil uang.


"Yan!" panggil Dennis ketika wanita itu baru beberapa langkah dari rumah.


Yanti menoleh, matanya berkedip, silau kena matahari sore.


"Sekalian beli kue kacang."


Yanti mengangguk, saat berbalik, Dennis kembali memanggil. Yanti berhenti lagi, siap menunggu perintah.


"Ndak jadi," ujar Dennis. Dia menelan kembali kata-kata yang sudah di ujung lidah.


.


.


.