Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
28. Arthur (2)


Lani baru akan keluar rumah saat dia melihat Yessi masuk. Dia segera menghampiri temannya itu.


"Yessi! Kamu kemana saja?" tanya Lani. Dia senang setelah lama tidak ada kabar dari gadis itu.


Yessi hanya diam saja saat Lani mendekat dan memeluknya.


"Aku sering telpon dan ke rumahmu, tapi ndak ada orang disana. Aku takut kamu kenapa-kenapa," ujar Lani lega. Tangannya meraih tangan Yessi yang dicat warna hitam.


Lani lalu sadar kalau sedari tadi temannya itu tidak merespon. Lagipula, ada yang sedikit berbeda dengan gadis itu. Bukan hanya dandanannya yang berani, tapi gerak-gerik tubuhnya...


"Kamu sudah datang, Yes?" ujar sebuah suara di belakang Lani.


Saat Lani menoleh, Arthur berjalan mendekat dengan langkahnya yang angkuh. Yang membuat Lani lebih terkejut, Yessi meninggalkannya dan berjalan di samping Arthur. Yessi bahkan memeluk erat lengan saudaranya tanpa rasa malu.


"Bagus, ayo kita pergi."


Yessi menganguk dan keduanya berlalu tanpa sekalipun menoleh padanya.


...


Dennis berjalan dengan membawa map coklat di tangan kiri. Tangan kanannya bertumpu pada tongkat besi dengan bunyi 'tek tek' yang bergema. Dia lalu duduk di salah satu kursi plastik yang tersedia di dalam toko rokok.


Hari itu, yang menjaga kios adalah seorang lelaki berambut cepak yang memakai kaos oblong. Di tangannya ada gambar tato bentuk ular.


"Cari apa, Pak?" tanya lelaki itu.


Dennis mengangkat salah satu alisnya, "Kamu belajar nyamar, Antok?"


Lelaki itu langsung tertawa terbahak-bahak. Giginya tidak lagi kuning kehitaman, bahkan bibirnya sedikit merah. Bahkan kumis dan cambangnya sudah dipotong habis, membuat Antok terlihat 10 tahun lebih muda.


"Sudah kuduga, ndak banyak yang bisa menipu Si Ular Putih." Antok memuji sekaligus menghina rekannya.


Memilih tidak menanggapi lelucon basi Antok, Dennis menyelipkan map diantara toples botol berisi rajangan tembakau kering.


"Aku mau kamu cari orang ini," ujar Dennis. Matanya menyapu sekeliling isi kios. Ada tumpukan kardus rokok dan kretek berbagai merek yang dijajar rapi dalam lemari kayu.


Antok mengambil map dan mengeluarkan isinya. Pria itu lalu berdecak kesal. "Terlalu sedikit informasinya. Darto... Gimana kalau itu nama samaran, eh, Snipe?"


Dennis mengangkat kedua bahu. "Aku yakin kamu bisa menemukan sesuatu dengan jaringanmu."


"Akan aku hubungi kalau ada kabar," jawab Antok sambil memasukkan isi map. "Sebaliknya, kamu harus lebih hati-hati."


Pria berkulit putih itu mendengarkan dengan seksama.


"Kamu ingat asisten waktu itu? Saat aku coba hubungi lagi, sudah tidak bisa. Masalah ini lebih serius dari kelihatannya," lanjut Antok.


Peringatan dari Antok, membuat Dennis kembali memutar ingatan tentang kejadian di kebun binatang. Hanya orang berjaket hitam yang bisa Dennis kenali sebelum kekacauan pecah diantara mereka.


Setelah mendaftarkan permintaan pencarian orang hilang di surat kabar, Dennis kembali pulang. Tidak ada cukup data untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi. Lagipula ada terlalu banyak orang yang mengincar kelompok mereka.


Selama ini Dennis sudah sangat berhati-hati dengan mempekerjakan Hendro dan Jumilah sebagai penjaga rumah. Sehingga tidak sembarang orang bisa mendekat rumah kecilnya yang berada di belakang rumah Mbok Jum itu.


Dennis mempertimbangkan tentang rencana cadangan. Atau setidaknya tambahan orang sebagai back up. Seseorang dengan kemampuan dan bisa dipercaya.


...


Lani yg sering lihat Yessi dg Arthur, jdi khawatir. Dia coba bicara dg temannya itu tapi diacuhkan. Malah, Yessi seperti orang lain.


Hal yang sama terjadi beberapa kali setelahnya, membuat Lani semakin khawatir. Dia mengenal kedua orang itu dan tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang buruk.


Karenanya, dia memaksa salah satu sopir keluarga, Mas Andre, untuk membantunya mengikuti Arthur dan Yessi.


"Non, kalau kita terus ikut, bisa ketahuan," ujar Andre saat mereka mulai melewati jalanan yang sepi.


Lani menggigit bibir. "Kalau mereka nyuruh berhenti, baru kita kembali. Kalau ndak, ikutin terus aja, Mas."


Sopir itu mengikuti kemauan nona mudanya dengan berat hati. Tidak hanya jalanan yang mulai sepi, bangunan di kiri kanan juga banyak yang kosong. Tempat yang cocok dijadikan sarang preman atau geng lain. Dia tidak mau disalahkan kalau sampai terjadi sesuatu pada Lani.


"Itu, mereka berhenti!" seru Lani.


Andre menjaga jarak aman dengan terus melaju lambat.


"Mas Andre! Berhenti! Kok jalan terus!" protes Lani sambil memukul-mukul jok.


"Iya, Non. Sekalian putar. Biar gampang nanti kalau keluar," sahut Andre.


Diluar dugaan, Lani menarik kunci mobil dan membuka pintu saat kecepatan menurun.


"Non! Non Lani!" Panggil Andre tapi nona mudanya itu sudah berlari menjauh.


"Hei! Lepaskan!" teriak Andre.


Sekelompok pemuda itu bukannya mundur, malah pasang badan dan menantang Andre. Salah satu dari mereka, membawa Lani menjauh.


Tanpa banyak mulut, Andre menarik yang terdekat dan mendorong pemuda1 hingga nyungsep ke tumpukan krat. Pemuda2 mengarahkan tinju yang dihindari Andre, momentum yang dia manfaatkan untuk membanting lawannya ke tanah.


Ketika Andre menoleh pada Pemuda3, pemuda itu mendorong Lani ke arah Andre, lalu mengacungkan pipa panjang. Dengan sigap, sopir itu menangkap nona mudanya, dan menarik tangan kecil Lani. Berlari, menjauh dari ketiga pemuda tadi.


Andre tidak yakin bisa melayani ketiga pemuda selama ada Lani.


Begitu sampai di mobil, baik Lani dan Andre buru-buru naik. Sopir itu segera tancap gas setelah Lani duduk dan menutup pintu, meninggalkan lokasi berbahaya tadi.


"Lain kali jangan begitu, Non," tegur Andre saat mobil yang mereka naiki memasuki jalur utama, berpacu lambat bersama kendaraan lain.


"Maaf, aku ingin cepat menyusul Arthur selagi belum jauh." Lani menjatuhkan pandangan ke tangannya di pangkuan. Perasaan takut dan tegang sekaligus lega masih memenuhi pikirannya.


"Makasih, Mas Andre. Kalau ndak ada Mas....aku ndak bisa bayangin," ujar Lani lagi. Jantungnya masih berdebar kencang.


Andre melirik lewat kaca spion, wajah Lani yang masih pucat. Rasa kasihan muncul pada gadis itu, selama ini dia tinggal dalam sangkar emas. Kejadian barusan pasti sangat mengejutkannya.


"Non Lani harus janji, ndak boleh gegabah lagi."


"Iya, aku janji, Mas," jawabnya menurut. Dia lalu teringat sesuatu. "Mas Andre, tolong antarkan ke rumah Ko Dennis."


Andre menjawab 'iya' dan mulai mengarahkan kemudinya menuju daerah yang diminta.


...


Saat sampai di rumah, Dennis yang awalnya semangat, menghentikan langkah.


Dia lupa kalau hari ini Bu Niken sudah mulai mengajar lagi. Dennis pun berbalik arah, menuju rumah mbok Jum.


"Jum! Aku mau pakai telponnya," kata Dennis dengan suara keras saat memasuki rumah itu.


Mbok Jum langsung datang dan mengarahkan Dennis ke ruang kerja Hendro. Wanita itu pergi setelah memastikan Dennis tidak membutuhkan hal lain.


Dennis memutar nomor di telepon dengan sabar, diiringi bunyi khas trrrrrr setiap digitnya. Dia menunggu lagi sementara sambungan tanah mencoba meraih nomor di sebrang.


"Halo, selamat pagi. Kediam-" sapa orang di ujung lain.


"Rabpit," panggil Dennis seraya memotong kalimat bertele-tele itu.


"Snipe," sapa Rabpit balik, menggunakan kode panggilan nama tugas rahasia mereka.


"Aku perlu orang buat back up, urusan pribadi." Dennis langsung bicara pda intinya.


"Aku paham. Kapan? Biar aku sesuaikan jadwalnya."


Seusai menghubungi Rapbit, Dennis berjalan keluar rumah mbok Jum. Dari tempatnya berada, dia mendengar suara yang sudah sangat akrab ditelinganya.


"Aak Nnis," panggil Waskito yang berada di gendongan mbok Jum.


"Mau pulang, Tuan?" tanya mbok Jum yang berjalan mendekat.


Dennis mengangguk. "Niken sudah pulang?"


"Sudah, Tuan. Kalau begitu, tolong sekalian bawa Kito. Saya mau ngangkat nasi," ujar mbok Jum yang langsung mengoper Waskito tanpa persetujuan Dennis.


"Hei! Aku ndak bisa, Jum!" protes Dennis yang sedikit ngeri dengan tangan bocah itu, entah apa lagi yang dia buat mainan sampai hitam dan dekil begitu.


"Sebentar saja," mbok Jum tidak mau dengar dan memposisikan badan Waskito hingga anak kecil itu sudah nangkring dengan nyaman di pinggang kiri Dennis. "Sebelah sini kan ndak bawa apa-apa."


Waskito yang tanggap, langsung mencengkram erat kemeja Dennis dengan kaki dan tangannya. Bahkan menempelkan wajah ke dada pria yang merasa sangat enggan itu. "Jum! Jum!"


Panggil Dennis tidak didengar karena mbok Jum sudah bergegas ke dapur. Dennis dengan terpaksa melingkarkan tangannya di punggung bocah yang tingkahnya mirip monyet bergelantungan.


"Awas kamu, Jum... Awas kamu Yan..." ancam Dennis sambil berjalan ke arah rumah kecilnya.


"Nniis!" panggil Waskito sambil menarik kemeja Dennis, seolah tidak suka ibunya ditindas pria itu.


"Iya, iya..." sahut Dennis mengalah. Dia tidak mau kemeja yang dia pakai bernasib sama dengan tongkat hitamnya dulu.


.


.


.