
Yanti sedang melap lemari ketika dia teringat akan iklan di koran. Kebetulan Dennis sedang duduk dan mengutak-atik kameranya di ruang kerja.
"Pak Dennis.." panggil Yanti.
"Apa?" tanya Dennis tanpa mengangkat kepala.
"Sudah ada kabar tentang mas Darto, belum?"
"Belum," jawab Dennis singkat.
Masih belum puas, Yanti bertanya lagi, "Kira-kira sudah berapa lama, ya, Pak?"
"Hmm, mungkin 4 atau 5 hari." Dennis masih menyahut sekenanya.
"Biasanya kapan, ya, Pak, baru ada kabar?" Yanti melirik dari sudut matanya. Kalau Dennis kelihatan marah, dia akan segera kabur.
"Ndak tahu. Bisa seminggu, sebulan..." Dennis lalu mengangkat wajahnya dan menatap Yanti yang berbalik, pura-pura sibuk. "Kenapa? Kamu dulu bisa nunggu dua tahun, ini baru sebentar sudah tanya-tanya."
"Ya...aku kira bakal cepat..." Yanti menurunkan tangan. Dia akhirnya keluar ruangan untuk mencuci kain lap yang kotor.
Dennis tidak melewatkan senyum kecil yang mungkin pemiliknya sendiri tidak sadar.
Selesai membersihkan ruang kerja, Yanti berpindah ke ruang tamu. Tidak lupa dia menyalakan radio yang dibawakan Lani saat terakhir berkunjung.
Kata Niken, mendengar siaran berita bisa membantunya belajar menyusun kalimat dan kosakata baru.
(Selanjutnya, mari kita dengarkan masalah Bapak S. Jadi, Pak S ini mengeluhkan tentang istrinya yang selalu menolak diajak bermesraan dengan alasan sibuk, capek setelah mengurus rumah dan anak seharian. Padahal Pak S juga capek setelah bekerja, dan ingin dilayani oleh istrinya. Ingin dibuatkan masakan kesukaan, atau dipijit, dan sebagainya. Bagaimana pendapat ustadz...)
(Ehm... Dari curahan hati Pak S, sepertinya istrinya kurang bisa membuat masakan kesukaannya. Ini bisa diatasi dengan mengikuti kursus atau belajar ke mertua. Biasanya selera suami adalah masakan ibunya. Lalu...)
Yanti mendengar apa yang jadi jawaban ustadz sambil memikirkan kembali pada kata-kata Lili, bahwa dirinya tidak akan bisa mengurus Dennis dengan baik. Yanti jadi dapat ide.
Buru-buru, ibu muda itu menemui Dennis yang masih berada di ruang kerja.
"Pak Dennis, aku ndak mau latihan bela diri. Aku mau belajar masak!"
Mata Dennis menatap ke arah Yanti yang wajahnya berbinar. Baru kali ini wanita itu ada inisiatif untuk menaikkan kemampuan diri. Dennis senang mendengar perubahan ini.
"Iya, bagus. Kamu bisa belajar ke mbok Jum. Masakannya enak," ujar Dennis.
Kali ini wajah Yanti langsung berubah 180⁰. "Kok belajar ke mbok Jum. Aku mau kursus masak, Pak!"
Ibu muda itu bahkan menghentakkan kakinya. Dennis jadi timbul niat untuk menggodanya sedikit.
"Ngapain bayar buat kursus kalau kamu bisa belajar gratis di mbok Jum? Lagian tiap hari juga, masaknya sayur bayem sama tempe goreng."
"Kalau gitu, aku akan masakkan sayur bayem sama tempe goreng tiap hari," ujar Yanti ketus sambil berjalan kembali ke ruang tamu.
Dennis tersenyum puas. Mudah sekali membuat ibunya Waskito itu naik darah.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Sesuai janjinya, Yanti masak sayur bayem dan tempe goreng hampir setiap hari. Hingga hari keempat...
"Yan, Yanti!" panggil Dennis sore itu. Dia sudah memastikan wajahnya tidak hijau akibat kebanyakan makan bayam.
"Iya, Pak!" seru Yanti dari arah teras. Dia sedang mengajak Waskito bermain setelah pekerjaannya selesai. "Apa, Pak?"
"Ini, aku sudah mendaftarkan kamu ke tempat kursus." Dennis menunjukkan selebaran berisi informasi tentang jadwal kursus. "Hari sabtu sama minggu, pas kamu libur belajar sama Bu Niken."
Wajah Yanti langsung sumringah, matanya berbinar dengan senyum lebar. Wanita itu langsung memeluk Dennis tanpa sadar dan menghimpit Waskito diantara mereka.
"Terimakasih Banyak, Pak!! Terima Kasih!!"
"Buuuk!! Aak Nnis!!" teriak bocah itu sambil menepuk-nepukkan tangan ke segala arah.
"Oh, Kito! Maaf, Le. Ibuk lupa.. hehehe.." ujar Yanti yang segera melepas Dennis dan kembali bermonolog dengan anak lelakinya. Kakinya membawanya keluar, dimana dia bisa membaca isi selebaran lebih jelas.
...
"Sudah semua, belum, ya?" tanya Yanti pada dirinya sendiri.
Di kertas berisi jadwal kursus, dijelaskan bahwa peserta hanya perlu membawa celemek. Yanti tetap khawatir sehingga dia juga membawa kertas dan pensil. Wanita itu juga memeriksa makanan untuk Waskito dan Dennis.
"Kalau disini terus, nanti kamu bisa terlambat," ujar Dennis yang duduk di ruang tamu dengan Waskito berpegangan dekat meja.
"Iya, aku berangkat dulu..." Yanti merasa canggung. Biasanya dia salim ke emak dan bapaknya sebelum berangkat. Sehingga dia ganti mencium kepala anaknya. "Yang nurut sama Pak Dennis, Le."
"Ak Nnis!" Waskito menirukan sambil menggebrak-gebrak meja.
"Aduh! Mejaku bisa hancur!" seru Dennis yang segera memindah tangan bocah itu ke lantai.
Yanti sudah kabur dan pura-pura tidak mendengar. Dia berjalan ke ujung gang untuk menghentikan angkot yang lewat.
Senyumnya bersinar, mengalahkan cahaya matahari sore itu.
.
.