Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
17. Menempuh Hidup Baru (3)


Sesampainya di rumah keluarga Setiawan, Yanti terkejut karena ada banyak hiasan warna merah yang dipasang.


"Ce Yanti!" panggil Darren yang duduk di taman.


Yanti dan Dennis berhenti saat bocah itu berusaha menghalangi mereka.


"Ini, buat Gege dan Cece." Darren memberikan amplop berwarna merah.


Dennis mengeluarkan sebuah jeruk dari balik jas yang dipakainya. Dia hanya membawa untuk jaga-jaga dan tidak menyangka akan benar-benar terpakai.


"Semuanya sudah menunggu di ruang tengah," ujar Darren yang berlari masuk ke dalam rumah, mendahului mereka.


Dennis melangkah sambil sedikit menyeret. Pada saat seperti ini, dia bersyukur pindah ke rumah yang lebih kecil dimana semua berada dalam jangkauan. Dirinya tidak perlu berjalan jauh dari gerbang hanya untuk masuk ke kamarnya.


Dalam perjalanan, Dennis bercerita pada Yanti, apa saja yang mungkin akan dilakukan keluarganya. Mereka akan minum teh, memberi hormat, dan makan bersama. Lelaki itu juga menjelaskan kalau maminya, nyonya Lili adalah istri ketiga, jadi akan ada lebih banyak anggota keluarga.


Karena itu, Yanti menduga kalau akan ada tambahan sekitar 3-5 orang dibanding saat makan pagi seminggu lalu. Yanti tidak menyangka kalau yang datang jumlahnya hampir sama dengan orang sekampung. Mulai dari yang paling tua, lebih tua dari papi Dennis, sampai bayi yang lebih kecil dari Kito.


Langkah Yanti menjadi kaku. Dia mungkin tidak bisa berjalan kalau Dennis tidak menariknya maju, mendekati orang-orang yang tidak dia kenal. Orang-orang yang memandangnya dengan berbagai ekspresi.


Beberapa saling berbisik sambil sesekali melirik. Yang lain tersenyum sinis. Ada juga yang tanpa ekspresi seperti Darren. Bocah laki-laki itu hanya melambaikan tangan ke arahnya. Yanti juga melihat nyonya Lili yang mendelik, membuat ibu muda itu gentar.


Dennis terus menggenggam tangan Yanti hingga mereka berdiri di depan orang paling tua, yang duduk di sebelah papinya.


"Nenek, maafkan Dennis lama baru datang. Dennis harap nenek sehat dan panjang umur."


"Ya. Kamu sehat?" Nenek tua itu balik bertanya.


"Iya, Nek," jawab Dennis singkat.


"Mama, Dennis sudah nikah, dia bawa istrinya," ujar papi.


"Iya, yang rukun, ya..." ujar nenek, wajahnya hampir tanpa ekspresi. Matanya yang berwarna kelabu, sudah tidak fokus.


Kepala keluarga Setiawan, Sulung Setiawan, berdehem keras, menyebabkan semua mata dan perhatian tertuju pada pria itu.


"Dennis baru saja menikahi Yanti. Jadi mari kita sambut anggota keluarga yang baru dengan hangat."


Setelah tepukan tangan yang tidak terlalu meriah, acara dimulai.


Yanti mengikuti semua yang dilakukan Dennis. Mereka minum teh dari cangkir kecil yang dibawakan pelayan, sampai beberapa gelas. Selanjutnya menyalakan dupa di altar lalu memberi penghormatan.


Setelah membungkuk ke arah orangtua Dennis, Yanti berbisik pada laki-laki di sebelahnya itu. "Kita ndak hormat ke arah Nglegok juga? Emak bapakku ada disana."


"Ndak usah, kita 'kan cuma nikah kontrak," bisik Dennis pelan, takut suaranya terdengar oleh yang lain.


Dalam hati, pria itu meminta maaf pada Dewa dan arwah para leluhur. Dia terpaksa pura-pura menikah karena ada alasannya. Disaat yang sama, Yanti berharap berharap agar leluhur keluarga Setiawan tidak menghantui dirinya.


Selesai penghormatan, Yanti dan Dennis dikawal berjalan ke arah meja makan. Berbeda dari ruang makan yang dipakai terakhir wanita itu datang, kali ini mereka berjalan ke ruangan luas dengan kolam ikan dan taman kecil. Di taman itulah para bocah berlomba-lomba menyalakan petasan. Suara ledakan dan asap putih yang membumbung menambah kemeriahan suasana.


"Ayo, ayo, kalian harus makan semuanya," papi Sulung mendudukkan Yanti di meja yang berisi banyak piring dan mangkuk. Hidangan yang kebanyakan belum pernah dia lihat dengan berbagai bentuk dan warna ada disana.


"Ini hidangan 12 macam khusus pengantin baru. Kalian harus makan semuanya," ujar seorang wanita dengan senyum lebar menjelaskan.


Mata Yanti hampir copot dibuatnya. Makan 12 macam? Meski dibantu Dennis, Yanti tidak yakin bisa menghabiskan semuanya.


Seolah bisa mengerti pikiran Yanti, Dennis berbisik di telinga ibu muda itu. "Tidak usah dihabiskan, cukup dicicipi sepotong-sepotong semuanya."


Yanti mengangguk, paham. Dia merasa lega hanya perlu makan sedikit. Lagipula dia bisa menunjukkan kemahirannya memakai sumpit sekarang.


...


Rangkaian acara yang panjang itu baru selesai sekitar dua jam kemudian. Dimana Yanti dibawa ke kamar Dennis untuk beristirahat sebelum perayaan yang akan diadakan nanti malam. Kepalanya pusing dan perutnya masih terasa mual setelah minum banyak teh, memakan ini itu, dan mencium dupa dalam waktu lama.


Yanti duduk di kursi yang menghadap keluar sambil memejamkan mata. Dia teringat pernikahannya dulu di kampung berlangsung kilat, hanya ijab kabul yang singkat. Yanti ingat, saat itu dia meminjam baju Lasmi karena tidak punya pakaian bagus. Mas kawin yang tidak seberapa juga habis buat tambahan biaya melahirkan.


Hanya satu sudut bibir Yanti yang terangkat memikirkan keanehan hidup yang dia jalani. Satu suami pergi tidak lama setelah menikah, memberinya anak. Sekarang suami pura-pura, memberi banyak batang bagus tapi statusnya tetap pembantu.


Wanita itu berpikir apakah mungkin jika suatu saat nanti dia akan menemukan orang yang akan menyayangi dan mendampinginya. Seperti emak bapaknya, meski tidak kaya tapi berdampingan melewati asam garam kehidupan.


Angin dari jendela yang terbuka membuat Yanti mengantuk dan sebentar saja sudah tertidur. Dia tidak mendengar ketika ada orang lain yang masuk.


"Wah, dia tidur..." ujar Darren yang berdiri dekat Yanti.


"Ya sudah, balik nanti saja," kata Arthur yang masih berada di dekat pintu.


"Hmmm..." Darren yang masih belum mau beranjak, melihat ke sekeliling kamar yang dihias dengan ornamen merah dan bunga-bunga.


"Ayo, cepat, nanti Dennis keburu kembali!"


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Dennis dari belakang Arthur.


Lelaki berambut panjang diekor kuda itu, terpenjat kaget. Arthur otomatis berbalik, dahinya berkerut.


"Darren yang minta, bukan aku," jawab Arthur malas.


Dennis mendekati Darren yang masih berdiri di dekat Yanti. Dia bertanya dengan ketus. "Apa kamu tidak tahu kalau dilarang masuk kamar pengantin baru?"


"Jangan terlalu galak, Gê. Nanti Ce Yanti bisa kabur," sahut Darren sok dewasa.


"Dasar bocah, kalau kamu mau cewek, cari diluar sana. Jangan ambil istri orang!" Dennis menarik kerah leher bocah remaja itu keluar.


"Gêgê ini... ... Dasar..." gumam Darren pelan.


Setelah mengusir kedua pengganggu itu, Dennis mengarahkan pandangan curiga pada Yanti. Apa mungkin wanita itu berkata sesuatu pada Darren. Tidak biasanya anak pendiam itu menaruh perhatian pada orang asing.


...


Di tempat lain, Yessy menutup pintu kamar setelah menenangkan maminya yang sedang stres. Setelah kedatangan lintah darat itu, papi menjual semua perhiasan milik Yessy dan maminya. Beberapa perabotan turut mereka tukar dengan uang. Dari selusin pembantu, sekarang mereka hanya mampu menggaji satu.


Yessy sudah tidak datang lagi ke klub olahraga dan perkumpulan lainnya. Dia malu kalau harus datang naik angkot yang penuh sesak dan bau tak sedap keringat orang. Dia ingin kembali ke kehidupannya yang lama. Berkumpul dan bersenang-senang dengan kawan-kawan.


Saat dia lewat dan tak sengaja dengar pembicaraan tante Lili, dia ingat kalau tante Lili ingin menjadikannya menantu. Yessy tidak terlalu kenal dengan kakaknya Lani, tapi dia tahu kalau keluarga Lani kaya raya. Mungkin dia bisa keluar dari lingkaran penderitaan kalau menikah dengan kakaknya Lani.


Gadis muda itu pun bersiap-siap untuk datang ke acara di rumah keluarga Setiawan. Dia hanya perlu merayu sedikit. Selama ini banyak pria yang bertekuk lutut di depan kecantikan Yessy, dia tidak melihat apa sulitnya dengan kakak Lani.


Dia menelepon salah satu temannya untuk minta diantarkan ke rumah Lani.


...


Sore harinya Yanti bangun dengan badan yang lebih segar. Setelah mandi, dia dibantu berdandan oleh adik kandung Dennis yang bernama Lani. Gadis itu juga yang meminjamkan pakaian indah warna putih yang dihias brokat bunga-bunga kuning dari benang emas.


"Ce Yanti, mana perhiasan dari Ko Dennis?" tanya Lani setelah selesai memulas wajah Yanti.


Yanti hendak menjawab 'ndak ada' ketika dia berubah pikiran. Kalau adiknya Dennis bertanya seperti itu, berarti memakai perhiasan adalah keharusan. Dia melihat gadis di depannya yang memakai sepasang anting dan kalung emas.


"Tadi dia simpan, aku lupa dimana. Nanti aku tanya lagi," jawab Yanti pada akhirnya.


Gadis berambut hitam lurus itu mengangguk. "Nanti minta Ko Dennis bantu pasang, aku ke tempat mami dulu."


"Terimakasih, Lani," ujar Yanti selembut mungkin.


Begitu Lani keluar, sosok bocah yang Yanti kenal menyelonong masuk dengan membawa kotak berwarna hitam.


"Ce Yanti, ini buat Cece." Darren menyodorkan kotak itu ke arah Yanti. "Dari Nenek."


Penasaran, Yanti membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada gelang dan lingkaran kecil, keduanya berwarna hijau dengan hiasan warna emas ditepi, menyerupai bentuk sulur daun.


"Apa ini, Darren?"


"Ini gelang dan cincin buat Ce Yanti. Pakai ini saja." Bocah laki-laki tampan berpipi montok itu memasangkan cincin di jari telunjuk Yanti, disusul gelang yang cocok dengan kulit kuning langsatnya.


"Ce Yanti sudah cantik sekarang."


Yanti langsung tertawa dan tersenyum lebar. Sejak datang ke kota ini, baru Darren yang bilang dia cantik. Bahkan Dennis saja berkali-kali mengatainya 'bau kambing'. Anak yang baik, orangtuanya sangat beruntung.


"Terimakasih, Darren. Nanti kalau sudah selesai, aku kembalikan."


Lama setelah Darren pergi, Dennis muncul dengan memakai setelan jas warna perak. Pria itu menatap cukup lama ke arah gelang yang dipakai Yanti hingga dia merasa canggung.


"Ada apa?" tanya Yanti. Dia tidak mau terlihat aneh dan mencolok.


"Dari siapa gelang dan cincinnya?" Dennis bertanya, kali ini matanya yang hitam kecil seolah sedang mencari sesuatu dalam diri Yanti.


"Darren," jawab Yanti singkat.


Pria itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkedip dan menoleh ke arah lain. "Sebentar lagi mulai, ayo kita turun," ajak Dennis.


Yanti jadi ragu untuk turun, tapi dia tetap mengulurkan tangan ke arah Dennis.


...


Yanti kira acara keluarga sejak pagi sudah sangat meriah. Ternyata acara malam hari jauh lebih ramai.


Para wanita berdandan dengan cantik, dibalut gaun yang memperlihatkan pundak dan leher yang dihias kalung dan liontin. Di jari-jari kurus dan ramping yang memegang gelas minuman, terselip cincin emas dengan batu permata warna warni. Jauh lebih berkilau dibanding gelang hijau yang dipakainya.


Ketika dia mulai melangkah masuk di samping Dennis, beberapa orang yang awalnya hanya melirik sekilas, kini terang-terangan melihat ke arahnya. Tidak hanya satu-dua orang saja, hampir semua orang di ruangan mengarahkan mata mereka pada tangannya yang bertautan dengan Dennis.


Atau lebih tepatnya ke arah gelang yang dia pakai.


"Pak, gelang yang aku pakai kenapa?" tanya Yanti bingung.


"Kamu pakai tapi tidak tahu arti gelang itu?" Pertanyaan Dennis yang menyudutkan itu terasa menyakitkan bagi Yanti.


Yanti menggeleng. "Darren cuma bilang aku pakai ini saja."


Dennis mendengus kesal. "Apa kalau Darren suruh kamu loncat, kamu juga akan loncat?"


"Pak Dennis!" seru Yanti kesal sambil menarik lengan pria itu.


Badan Dennis langsung hilang keseimbangan, untungnya Yanti sigap menangkap pria itu sebelum jatuh ke lantai. Kedua mata dan tubuh mereka kembali beradu dalam jarak dekat.


Jika tadi pagi Yanti berada di bawah kurungan lengan Dennis, kali ini giliran Dennis yang berada dalam dekapan Yanti. Dia tidak sedetikpun lupa pesona majikan sekaligus suami kontraknya itu.


Karena itu berulang-ulang Yanti mengingatkan dirinya agar tidak terlalu lama memandang wajahnya. Wajah bersih dengan hidung mancung dan bibir yang kemerahan seperti buah jambu yang sudah ranum.


Yanti jadi penasaran apakah akan sama manisnya jika dia menyesap bibir tuannya itu?


.


.


.