Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
38. (Bukan) Istri (Kontrak) Ideal (7)


Setelah mendengar dari dokter tentang keadaan Waskito, Dennis merasa lega. Patah tulangnya bersih jadi hanya perlu di gips hingga kembali merekat.


Dia memperhatikan bagaimana Yanti memeluk erat anaknya dengan wajah yang masih penuh kekhawatiran. Dennis yang tadinya ingin minta maaf telah salah sangka dan membentak Yanti kemarin, mengurungkan niat.


Yang terpenting buat Yanti sekarang adalah kesembuhan Waskito, bukan rasa bersalah Dennis. Sehingga dia berpamitan karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan seorang Dennis Setiawan disana.


Yanti hanya melihat saja saat sosok bertongkat itu berjalan menjauh, membawa suara 'tek tek tek' bersamanya. Perhatiannya segera teralihkan saat Kito kembali merengek.


"Iya, Le.. Anak ibuk pinter, tahan sakit... Sabar, ya, Kito..." ujar Yanti berulang-ulang untuk menenangkan bocah itu.


...


Dennis memutuskan pergi ke pasar dalam perjalanan pulang. Kakinya menyusuri lantai plester dengan sedikit menyeret meski sudah memakai tongkat.


"Katanya pesananku sudah datang," ujar Dennis tanpa basa-basi.


Antok yang kini tampak 10 tahun lebih muda dengan rambut rapi, tanpa cambang dan jenggot, tersenyum lebar. Meski bibirnya masih gelap, giginya tidak lagi kuning kehitaman seperti sebelumnya. "Iya, pesananmu itu sebentar lagi laku keras di pasaran. (Orang yang kamu cari, kemungkinan besar jadi target.)"


Dennis mengetuk-ngetuk jari di kepala tongkat. Dia berbicara dengan hati-hati, "Apa bisa diurus sekarang juga?"


Antok menggebrakkan tangan ke meja jualannya dengan marah. "Jangan macam-macam! Sesuatu yang mutunya bagus itu perlu waktu dan proses!"


Pria itu lalu mencondongkan badan hingga hanya Dennis yang bisa mendengar. "Kalau kamu terlalu tertarik, bisa-bisa dia dialihkan ke tim lain."


Dennis menyipitkan matanya jadi makin tak terlihat. "Setidaknya kasih tahu lebih banyak tentang...'barang pesananku'.."


Antok kembali mundur dan tersenyum lebar. "Itu, aku bisa," kata Antok yang melempar kotak seukuran bata, berbungkus koran ke arah Dennis.


"Kalau sudah selesai, cepat pergi sana!" usir pria aneh itu.


Dennis mengumpat di depan Antok sebelum menjauhi kios itu dan meninggalkan pasar. Dia memegang erat kotak tadi hingga sampai di rumah.


Di ruang kerja, Dennis membuka kertas koran pembungkus dengan hati-hati. Ada lembaran-lembaran kecil di dalamnya. Foto, nama lengkap asli dan alias, anggota keluarga yang masih hidup dan sudah meninggal, kebiasaan, makanan kesukaan, afiliasi, ciri fisik.


Dennis memperhatikan foto wajah itu dengan seksama. Yang membuatnya menonjol adalah hampir tidak ada tampilan yang khusus. Gaya rambutnya biasa, bentuk wajah yang tidak terlalu bulat atau oval, juga tidak terlalu persegi.


Wajar saja kalau Yanti dan bapaknya kesulitan menemukan sosok 'Darto'. Wajah yang bisa dimiliki siapa saja dan sangat mudah dilupakan. Darto bergabung di kelompok ekspedisi yang datang ke desa tempat Yanti, sebagai asisten tambahan.


Keringat dingin muncul di tengkuk Dennis saat dia kembali membaca deskripsi tentang 'Darto', salah satu dari belasan nama aliasnya. Pria itu punya hubungan dengan jaringan terorisme di perang teluk. Tapi apa yang dilakukan ******* di desa kecil seperti Talun?


..


Mbok Jum pulang tidak lama setelah Yanti selesai mandi dan sarapan. Meski ada ibu-ibu lain yang menunggui anak mereka yang sakit, Yanti sedang tidak ingin bergaul dengan mereka.


Dia masih memikirkan kejadian beberapa hari terakhir. Mungkin yang dikatakan nyonya Lili benar, kalau dia tetap wanita kampung meski sudah berusaha belajar banyak hal. Kalau dia memang bukan istri yang baik untuk Dennis.


Yanti lalu teringat pada sosok jangkung yang badannya sedikit membungkuk dan jalannya menyeret. Wajah yang terlihat galak pada awalnya, ternyata punya pribadi yang penuh perhatian. Sehingga membuat Yanti ingin menjadi lebih dari sekedar pembantu. Lebih dari sekedar istri kontrak.


Tapi pikiran semacam itu juga membuat Yanti takut. Bagaimanapun, secara agama, dia masih istri Darto. Seingat dia, Dennis pun berkata kalau sudah mengurus perceraian Yanti hanya untuk menenangkan hati emak dan bapaknya. Dia masih istri Darto di hadapan Tuhan.


Karena itu... Karena itu Waskito mengalami musibah, jatuh dari kamar mereka di lantai dua.


Sebab Yanti berani menyukai laki-laki lain selain Darto, anak mereka jadi korban.


"Ya Allah... Ampuni hambamu, Ya Allah.." pinta Yanti dalam hati sambil mengelus-elus lengan Waskito yang terbungkus gips.


..


Meski hatinya diselimuti perasaan bersalah, Yanti tidak bisa menghentikan keinginannya menemui Dennis.


Ibu muda itu menunggu datangnya sore, yang berganti malam. Berharap majikannya yang berkulit putih itu akan datang dengan suara tongkat yang Yanti rindukan.


Hingga mbok Jum datang sekitar jam 7 malam.


"Aku jadi ngerepotin mbok Jum," ujar Yanti yang berusaha tetap tersenyum meski badannya letih.


"Ndak repot, malah bisa jalan-jalan," sanggah wanita itu sambil menjulurkan tangan. "Sini, aku gendong Kito. Kamu makan dulu yang enak."


Yanti mengangguk lalu duduk dan membuka tumpukan rantang satu demi satu. "Sama siapa, Mbok?"


"Ayahnya Elang, aku suruh masuk ndak mau."


"Oh." Yanti berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan berfokus pada nasi dan ikan goreng yang jadi makan malamnya.


Wanita paruh baya itu hanya tinggal sebentar, dia pulang dengan membawa pakaian kotor. Meninggalkan Yanti yang merasa makin kesepian di malam keduanya di rumah sakit itu.


Suasana yang asing, orang-orang yang asing, tempat yang asing... Dia ingin segera pulang ke rumah tempat tinggalnya bersama Dennis..


Yanti teringat lagi akan bentakan yang diterimanya siang itu. Hatinya kembali seperti teriris.


Kenapa waktu itu dia memaksa mencari Darto ke kota? Padahal dia bisa hidup bahagia bersama emak dan bapak meski dalam kesederhanaan..


"Ya Allah... Tolong aku, Ya Allah..." pinta Yanti dengan mata yang basah.


..


Setelah tiga malam di rumah sakit, keesokan harinya, Waskito sudah diperbolehkan pulang. Keadaan bocah itu sudah stabil dan hanya perlu beristirahat di rumah.


Untungnya, Waskito juga tidak rewel seperti anak-anak lainnya. Hanya minta gendong terus dan tidak mau duduk atau tidur sendiri. Meski bahu Yanti pegal, dia berusaha menuruti permintaan Kito sebaik mungkin.


Siang itu, Yanti hanya ditemani oleh mbok Jum untuk mengurus administrasi dan lain-lain.


"Pak Dennis sibuk, ya, Mbok?" tanya Yanti.


"Iya, sibuk. Makanya ndak bisa kesini," ujar mbok Jum dengan sabar. "Dia titip salam."


Yanti mengangguk. Dia sendiri bingung dengan hatinya, sebentar ingin ketemu, sebentar lagi menyesal sudah bertemu dan menyukai pria berkumis tipis itu.


Lagipula selama Waskito berada di rumah sakit, majikannya itu hanya datang saat mengantar mereka. Selanjutnya, hanya mbok Jum dan sesekali Elang yang menjenguk. Bahkan Lani dan Darren saja datang.


Yanti jadi berpikir, kalau pak Dennis tidak datang, mungkin karena dia hanya menganggap Yanti sebagai pembantu. Dan perasaan Yanti hanya bertepuk sebelah tangan saja.


Mungkin sebaiknya dia pulang ke kampung dan menganggap semuanya sebagai nasib yang harus dia terima. Kembali hidup bersama emak dan bapak dari hasil kebun dan sawah.... Mungkin nanti setelah keadaan Kito membaik.


"Ayo, Ti, semua sudah kangen sama Kito," panggil mbok Jum sambil berjalan ke pintu keluar. Kedua tangan besarnya membawa tas dan termos.


"Iya, Mbok," jawab Yanti lemas. Dia enggan kembali ke rumah milik Pak Dennis.


Selama perjalanan pulang, Yanti memutuskan mulai saat ini, dia akan bertindak seperti pembantu. Membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan mengurus kebutuhan tuannya itu. Dia sudah tidak belajar lagi dengan Bu Niken, dan bisa mengurus Kito dengan lebih baik.


Taksi yang mereka naiki hanya butuh waktu sebentar untuk sampai. Mbok Jum membayar ongkos dan lagi-lagi membawa barang mereka, membuat Yanti merasa sungkan.


"Ndak apa, Mbok, aku bisa bawa habis naruh Kito di kamar."


"Jaraknya dekat, Ti. Sekalian aja. Kamu biar ndak bolak-balik."


"Makasih, Mbok," ujar Yanti akhirnya mengalah.


Saat memasuki rumah, Yanti merasa aneh. Seolah dia sudah pergi dan baru kembali setelah sekian lama. Ibu muda itu pun mengedarkan pandangan pada tumpukan buku dan majalah, dan benda-benda lain yang memenuhi ruang tamu, sehingga untuk berjalan saja sulit. Padahal dia yakin kalau terakhir kali, semua benda itu tidak ada disana.


Yanti menghela nafas panjang, dirinya sudah capek duluan membayangkan harus mengatur kembali ruang tamu agar rapi.


"Oh, kamu sudah pulang, Yan?" tanya Dennis yang baru muncul dari kamarnya dengan senyum lebar. Rambut pria itu kini acak-acakan. Kumisnya pun memanjang. Dengan celana pendek dan kaus oblong, sangat jauh dari Pak Dennis Setiawan yang serba rapi dan klimis dan mendekati sempurna.


"Iya, Pak. Aku mau ke atas dulu sebentar," ujar Yanti yang kaget dengan perubahan rumah dan penghuninya.


"Ngapain ke atas? Sini, ikut aku." Dennis langsung menarik pelan tangan Yanti dan menuntunnya ke depan pintu ruang kerja.


Pria itu masih tersenyum saat membuka pintu dan menunjukkan sebuah kamar lengkap dengan kasur dan dua lemari. Sekali lagi, dia menarik pelan tangan ibu muda itu untuk masuk.


"Aku buru-buru mindahin barang. Kalau kamu sama anakmu tidur disini, sudah ndak kuatir jatuh lagi." Suara Dennis yang berat, membuat perasaan Yanti yang tadinya sudah tertata, kembali porak poranda.


Dan lagi, tangan besar yang menggandengnya, terasa nyaman dan hangat. Kalau majikannya terus berbuat baik seperti ini, bagaimana Yanti bisa tidak mengharapkan cintanya bersambut? Yanti bahkan bisa membayangkan betapa sakit hatinya saat harus berpisah dengan Dennis.


Mata Yanti yang berkaca-kaca disalah artikan oleh Dennis sebagai perasaan terharu. Dia senang karena usahanya beberapa hari terakhir ini tidaklah sia-sia. Spontan, dia mengelus kepala Yanti dengan lembut.


"Sudah, sudah...ndak usah nangis." Tanpa Dennis sadari, suaranya terus menggetarkan hati ibu muda itu. "Kamu dan anakmu istirahat saja dulu. Hendro sudah masak sayur asem dan ayam goreng. Nanti kita makan di rumah mbok Jum."


Dennis pun pergi saat dia merasa Yanti butuh waktu untuk sendiri. Tidak lupa, dia mengusap punggung Yanti sebelum beranjak.


"Oiya, Yan..." panggil Dennis saat sudah berada di dekat pintu. "Aku senang kamu dan anakmu sudah pulang."


Setelah mendudukkan Waskito di atas kasur yang empuk, Yanti berteriak-teriak kegirangan tanpa suara. Hanya tangannya yang diarahkan ke atas sambil menari-nari tanpa nada.


Hilang sudah keinginannya untuk kembali ke kampung.


Mungkin dia punya kesempatan untuk jadi lebih dari istri kontrak dan pembantu.


"Byuh! Ya Allah! Terimakasih!"


.


.