Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
23. Tongkat Hitam (3)


"Mi, sudah jangan mondar-mandir terus.. Aku pusing melihatnya," ujar Lani yang tengah membaca majalah Gadis di ruang tengah.


Lily berhenti sejenak lalu mendelik ke anak gadisnya itu. "Gimana Mami bisa tenang?! Iik Hua tiba-tiba tidak bisa dihubungi seperti gini! Kamu sudah bisa telepon Yessi atau belum?"


Suara ketus nyonya Lili bagai rentetan jarum di telinga Lani.


"Belum bisa, Mi. Tiap kali telepon tidak ada yang angkat." Lani kembali membuka lembaran halaman, mencari artikel menarik untuk dibaca.


"Nah, Mami juga sudah ke sana tapi nggak ada orang. Sebenarnya mereka ke mana..." Padahal Lili berencana memanfaatkan Yessi sebagai pemisah antara Dennis dengan wanita kampung itu. Tapi kalau Yessi saja tidak ada bagaimana dia akan memisahkan mereka?!


"Lani, coba kamu cari tahu lagi tentang Yessi. Mama akan bicara dengan kakakmu," nyonya ketiga itu masih belum mau menyerah.


"Sudahlah, Mi, biarin aja Ko Dennis sama Ce Yanti. Mereka 'kan sudah menikah, ngapain Mami ikut sibuk ngurusin mereka. Papi aja ndak bingung kok Mami bingung." Lani berusaha membuat maminya mengerti. Tapi ibunya itu tetap bersikukuh.


"Tentu saja Mami bingung! Kerjaan dia aja ndak jelas sekarang, malah mau ngurusin anaknya orang lain! Mami juga malu punya mantu seperti itu!"


"Semua orang ndak harus hidup kaya, Mi, yang penting bahagia." Lani melihat bagaimana dia dan maminya hidup bergelimang harta tapi tidak mendapat ketenangan. Selalu saja ada yang mami keluhkan entah itu papi atau istri Papi yang lain.


"Kamu juga, Lani! Bagaimana pacarmu? Kamu sudah dapat pacar yang kaya atau belum? Kamu jangan buang-buang uang mami hanya dengan pergi ke klub tapi ndak ada hasilnya."


"Kalau dalam 3 bulan ini kamu belum juga dapat cowok yang kaya nanti biar Mami carikan," ancam wanita itu lagi.


"Ah! Males deh! Aku mau tidur dulu, capek dengerin mami." Lani membanting majalah begitu saja ke sofa. "Mungkin kalau mami ndak cerewet begini, Ko Dennis ndak pergi dari rumah."


Lili yang mendengar keluhan anaknya itu makin berang. "Lani! Sini Kamu! Lani!"


Saat Lani menjauh dari ruang keluarga, dia berpapasan dengan Darren yang baru pulang sekolah.


"Darren!" panggil Lani.


"Iya Ce Lani, ada apa?" tanya Darren.


"Ikut aku sebentar," perintah Lani yang berjalan ke kamarnya, Darren menyusul di belakang.


"Kamu jadi pergi ke rumah Ko Dennis?" tanya Lani setelah memastikan pintu kamarnya tertutup.


"Belum Ce. Apa Cece mau ikut?" Darren balik bertanya.


"Tidak." Lani menggelengkan kepala.


"Mungkin hari sabtu aku ke sana, pulang sekolah," lanjut Darren yang duduk di kursi meja rias.


"Memang kamu tahu tempatnya?" Lani penasaran.


Daren mengangguk dengan antusias. "Aku diberitahu oleh papi."


Lani teringat sesuatu. "Gelang dan cincin giok waktu itu, apa papi juga yang menyuruh kamu memberikannya pada Ce Yanti?"


"Bukan papi, tapi nenek," ralat bocah sekolah dasar itu tegas.


"Hah! Aku tidak percaya." Lani melipat kedua tangannya di dada.


"Kalau Ce Lani sudah selesai, aku mau kembali dulu. Habis ini aku mau tidur siang, terus sorenya mengerjakan PR."


"Ya sudah, pergi sana! Biar kamu nggak pendek terus," ejek Lani sambil mengusir adik beda ibu itu.


...


Saat Dennis pulang, dia melihat Kito sedang memandangnya sambil menaikkan tangan. Dia heran kenapa bocah kecil itu selalu mengarahkan tangan padanya.


"Tidak bisa," ujar Denis. "Kamu sudah mutusin tongkatku. Kamu jangan mainan lagi pakai tongkat yang ini."


"Aak! Aak!" ujar Kito, berusaha berdiri dengan mengangkat pantatnya.


Pemandangan itu sungguh lucu bagi Dennis. Padahal bocah itu tahu kalau dia belum bisa berdiri tapi tetap saja melompat-lompat seolah dia bisa terbang kemana saja.


"Ndak, aku ndak mau gendong kamu." Dennis melihat baju Kito yang separuh basah kena liur. Entah sampai kapan bocah kecil itu akan berhenti ngiler.


Seolah tidak habis akal, Kito merangkak dengan jari-jarinya yang kecil dan pendek ke arah Dennis.


"Byuh! Ada apa, toh, Pak Dennis? Teriak-teriak kayak gitu," tanya Yanti yang muncul sambil membawa spatula.


"Anakmu itu, Yanti! Dia merangkak ke arah aku!" lapor Dennis dengan nada tinggi.


Yanti memandang heran ke arah majikannya sambil berkacak pinggang. "Memangnya kenapa kalau dia merangkak kan memang sudah umurnya, Pak."


"Suruh kesana! Jangan kesini! Lihat itu, tangannya kotor!" seru Dennis lagi dengan jijik.


"Ya ampun, Pak Dennis kan bisa cuci nanti. Kayak Pak Dennis nggak pernah kecil aja," ujar Yanti yang gemas dengan sikap kekanakan pria itu.


Yanti lalu mengangkat Kito dan menggendong bayi itu di pinggangnya. "Ayo, Le, ikut ibu. Jangan dekat-dekat Pak Dennis nanti ketularan judes."


"Apa kamu bilang, Yanti! Sekarang kamu berani mengejek aku ya!"


"Ndak mengejek, memang Pak Dennis judes kok."


"Nanti kamu ndak aku kasih uang buat beli kue kacang tahu rasa kamu!" Ancam pria pincang itu sambil mengayunkan tongkatnya.


"Aak Nis! Aak Nis!" Teriak Kito tidak mau kalah, membuat Yanti dan Dennis berhenti di tempat.


"Kamu kok manggil Pak Dennis dulu, Le, kok bukan ibuk," protes Yanti.


"Kayaknya anakmu lebih suka aku daripada kamu, Yan." Dennis tertawa puas melihat wajah kesal Yanti.


"Ya sudah, kalau kamu senang Pak Dennis, kamu ikut Pak Dennis aja." Yanti kembali meletakkan Kito di dekat kaki Dennis. Pria pincang itu seketika kelabakan.


"Lho, Yan! Jangan tinggalin anakmu di sini!"


"Gimana lagi, Kito lebih senang sama Pak Denis daripada ibunya. Tolong jagain Kito ya, Pak." Wanita itu pun kembali ke dapur sambil tertawa cekikikan, meninggalkan Dennis yang memanggil-manggil namanya dengan putus asa.


...


Dennis menatap monster kecil berwajah tak bedosa yang duduk di lantai dekat kakinya. Bocah itu berani-beraninya menatap balik sambil memamerkan giginya yang berjumlah dua biji.


"Tongkat yang sekarang terbuat dari besi, jadi ndak mudah putus." Dennis memamerkan tongkatnya pada Waskito.


Waskito ikut bergumam seolah menyahut perkataan Dennis. Bocah itu lalu kembali berusaha meraih kaki Dennis, tapi Dennis dengan cepat menggerakkan kakinya menjauh.


Bocah kecil itu kegirangan, mengira diajak main 'tangkap kaki' oleh pria pincang itu. Dia tetap berteriak senang meski gagal memegang kaki Dennis.


Dennis bisa saja pindah dan memilih kursi yang lain. Pria itu menolak karena dia lebih dulu duduk disitu, jadi dia lebih berhak duduk disana. Dia tidak mau pergi meski merasa terganggu dengan tangan Kito yang berusaha menggapainya.


"Aak Nis!!" Teriak bocah itu lagi sebelum mendaratkan telapak tangannya di celana hitam bersih dan rapi yang Dennis kenakan.


Dennis yang terlambat 0,1 detik karena melihat Yanti yang sedang lewat, menatap dengan mata membelalak saat Waskito tidak hanya memegang kain celananya. Tangan bocah itu juga meninggalkan noda dan bekas kusut yang sangat jelas.


"Waskito! Aku ini mau kerja! Mana bisa aku berangkat kerja kalau celanaku kotor dan kusut begini!"


Lagi-lagi Waskito tersenyum dan tertawa.


"Kamu aku pecat, Waskito! Kamu aku pecat!"


Yanti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah antik majikan dan anaknya. Dia tidak tahu kalau keduanya sudah sangat akrab. Pemandangan yang menyenangkan itu entah kenapa mengingatkan Yanti akan kejadian di kebun binatang.


Dia masih takut sampai saat ini.


Suasana kebun yang ramai mendadak sepi, hanya lenguhan gajah yang terdengar nyaring dan membuat merinding. Lalu, sosok Dennis yang muncul dengan bersimbah darah.


Ketakutannya lebih dalam dari tidak digaji. Yanti tidak mau orang yang dia sayangi pergi.


.


.


.