Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
15. Menempuh Hidup Baru (1)


Dennis tidak dapat menyembunyikan kulit putih dan wajah tampannya meski dia mencoba. Dengan sebuah kamera yang menggantung di leher dan tas ransel berisi perlengkapan memotret, dia hanya dihentikan sekali oleh security.


"Wartawan lepas, Pak. Buat artikel di majalah satwa. Tentang cara burung camar hidup berdampingan dengan teknologi. Ini bisa jadi bahan acuan kalau ada badan konservasi lingkungan hidup yang didirikan di sekitar Tanjung Perak."


Petugas keamanan itu berhenti mendengarkan saat Dennis menyebutkan majalah satwa. Dia ingin tertawa melihat wajah dan ekspresi datar yang menunjukkan kalau mereka tidak paham dengan sebagian besar perkataannya. Tapi tentu saja dia tahan.


Dennis tidak mau misinya kali ini gagal hanya karena dia diusir oleh satpam yang tersinggung.


Beberapa hari lalu, mereka berkumpul untuk melakukan briefing.


Seorang wanita dengan penampilan rapi, rambut digulung dalam cepol, kemeja dan rok span yang sudah dikanji, membagikan kertas berisi detil pekerjaan mereka.


"Target operasi kali ini adalah dua kelompok, satu penyuplai dan satu lagi pengedar. Kita tidak perlu menangkap semuanya, cukup merusak kepercayaan dan menggagalkan transaksi kali ini." Wanita itu menjelaskan dengan suara tegas. "Ada pertanyaan?"


Dennis mengamati isi dalam lembaran yang dibagikan. Gambar dan posisi yang dibuat secara sederhana, namun bisa mematikan kalau sampai ketahuan. Terlebih lagi, wanita itu membagikannya sendiri ke tiap orang, jadi dia bisa mengatur jalannya informasi.


"Waktu dan lokasi persisnya, Miss," pinta salah satu rekan mereka yang berkode nama Bruno.


"Gudang XYZ, dermaga Batu. Saat surup," jawab Miss CC yang meminta mereka membakar kertas setelah mengingat informasi.


Saat surup, adalah saat matahari mulai terbenam. Meski begitu, Dennis sudah berada di sana sejak jam 11 siang. Dengan kondisi kaki yang membuatnya sulit bergerak dengan cepat, pria itu mencari letak strategis. Banyaknya container bisa membuat pekerjaannya lebih mudah atau justru sebaliknya.


Dennis mulai berdiam dan berteduh setelah menemukan lokasi yang mendekati strategis. Sambil menunggu, Dennis menyiapkan senapan jarak jauh. Dia akan berpindah saat waktunya tiba.


Beberapa jam kemudian, Dennis mendengar suara kendaraan mendekat, sebuah mobil box yang berhenti dekat gudang yang sudah tidak dipakai. Dua orang pria turun dan menyisir lokasi, sementara yang lain tetap duduk di dalam. Dennis merapatkan badan, menyatu dengan bayangan container saat mendengar suara mendekat.


Bahkan setelah suara langkah itu menjauh dan posisinya relatif aman, Dennis masih menahan posisinya. Hanya tinggal sekitar seperempat jam sebelum waktu berdasar informasi.


Tidak sampai lima menit, dua kendaraan lain datang. Beberapa ikan teri turun dan menyebar disusul oleh pria botak memakai kemeja safari dan kalung emas, Dennis yakin yang terakhir turun adalah salah satu pentolan supplier. Ujung senapan sudah dia arahkan ke salah stau bagian vital pria itu.


Hanya kedisiplinan menjalankan tugas yang memaksa Dennis berganti target dan menunggu sinyal.


Seekor kucing mendadak mengeong seperti sedang meronta lalu berlari melesat.


Tidak ada tanda lain yang lebih jelas dari itu. Jari tangan Dennis yang panjang dan ramping, menarik pelatuk 0.1 detik setelah suara itu. Peluru yang melesak, mendorong targetnya jatuh tanpa nyawa, disusul kepanikan dan kekacauan. Teriakan yang tidak jelas dari tempatnya berada.


Dennis melihat dari jauh saat salah satu anggota supplier menembak ke arah kelompok pengedar dengan membabi buta. Hal itu dimanfaatkan oleh anggota tim Dennis untuk melenyapkan beberapa kaki tangan Si botak. Botak yang marah, menembak anak buahnya yang panik lalu bergegas meninggalkan lokasi bersama bawahannya yang lain.


Pria pincang itu secepat mungkin bergeser dari lokasinya. Sudah pasti para petugas jaga mendengar tembakan yang dilepaskan anak buah Si botak. Dia yakin, tidak lama dan tempat ini sudah akan dipenuhi polisi.


"Snipe!" Panggil suara yang Dennis kenal, setengah berteriak.


Dia menoleh ke belakang dan mendapati sebuah sepeda motor yang tengah melaju kencang ke arahnya. Motor itu berputar 180 derajat dan perlahan mengurangi kecepatan hingga akhirnya berhenti di samping Dennis. Tanpa dikomando, Dennis langsung duduk di boncengan belakang dan dalam hitungan menit, sudah meninggalkan area pergudangan.


Kendaraan itu baru berhenti di keramaian, ratusan meter dari pelabuhan tempat mereka beraksi.


"Trims, Rab," ujar Dennis.


Rabid mengangkat kepalan tangan sambil berkendara menjauh. Sosoknya segera menghilang di antara pengguna jalan lain yang lalu lalang memenuhi aspal.


Dennis mengikuti arah arus orang dan akan naik ke salah satu angkutan kota ketika ada tangan yang mencegahnya. Dia berbalik dengan cepat, adrenalin yang masih tinggi membuat indra Dennis lebih sensitif. Lebih agresif.


"Ups ...." Orang yang menarik kemejanya dari belakang mengangkat kedua tangan dan tersenyum lebar.


"Antok... mau apa?" tanya Dennis pada pria brewok yang dia temui di pasar beberapa waktu lalu.


Pria itu memberikan tas plastik hitam pada Dennis.


"Tongkatmu mana, Tuan Muda?" tanya Antok, suaranya lebih serak dari biasanya.


"Bukan urusanmu," jawab Dennis yang memasukkan tas plastik ke dalam ransel dengan kesal.


"Mas, jadi naik, ndak?" kali ini sopir angkot yang bertanya.


"Ndak, Pak. Dia sama aku," sahut Antok mendahului Dennis, membuat lelaki berkulit putih itu makin kesal.


Angkot berwarna hitam itu pun melaju meninggalkan Antok dan Dennis. Antok mengeluarkan rokok lalu menyalakannya, setelah beberapa hisapan, dia mulai bicara ke inti.


"Ada yang cari kamu," mulai Antok dengan nada rendah. Sebelum Dennis memberi tanggapan, dia melanjutkan, "info tentang kamu bocor."


Bajul! Umpat Dennis dalam hati. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi agen rahasia selain data yang jatuh ke tangan lain dan menjadi target mereka.


"Sementara kamu hilang dulu, misi kita kasih ke orang lain."


Perintah itu terdengar mutlak di telinga Dennis.


"Bagaimana bisa bocor?! Memangnya apa yang dilakukan orang-orang pusat?!"


"Ahm!" Antok berdehem saat teriakan Dennis mulai memancing rasa penasaran pemakai jalan lain.


"Kami sedang menginvestigasi, memberi umpan palsu. Tapi butuh waktu sampai ketemu. Kamu sabar saja." Antok berjalan menjauh, meninggalkan Dennis yang mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Menyadari dirinya tidak bisa bertindak sembarangan, Denis berputar Surabaya selama dua jam sebelum kembali ke rumah kecil yang dia tempati bersama Yanti. Pria itu berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.


.........


Di tempat lain,


Pak David tengah bertekuk lutut sambil memeluk istri dan kedua anaknya di bawah todongan senjata.


"Tolong, Pak. Kami benar-benar minta maaf. Aku akan segera mengumpulkan uang untuk melunasi utang," pinta lelaki itu, berusaha tegar meski ketakutan setengah mati.


"Kamu juga mengatakan hal yang sama minggu lalu tapi tetap tidak ada hasilnya. Mungkin aku harus melenyapkan salah satu dari kalian sebagai contoh..." ancam ketua pimpinan pria yang bersenjata itu.


"Tidak! Tolong ampuni kami! Tolong!"


Pak David dan istrinya menangis sambil memohon-mohon, mengelus-elus badan anak laki-lakinya yang masih bocah, dan seorang gadis yang sudah mulai tumbuh dewasa.


Si pemimpin yang tadinya duduk, kini berdiri dan berjongkok di depan gadis muda itu. Saat dia angkat kepalanya, bibir gadis itu gemetaran di wajahnya yang oriental. Hidung mancung dan wajah mulus, sungguh wanita yang sedap dipandang. Mata gadis itu terpejam rapat, tidak berani menatapnya balik.


"Anakmu bisa kerja buat aku," ujar pria itu pada Pak David.


"Aku saja, Pak! Jangan anakku!" seru Pak David yang darahnya dingin mengetahui anak gadisnya jadi incaran lintah darat.


Gadis bernama Yessy itu tidak berani bersuara bahkan ketika air mata mengalir di pipinya.


"Bawa semua uangmu kesini, atau aku bawa dia," ujar Si ketua.


Pak David menatap istrinya lalu berbisik, "Mi, kasihkan perhiasanmu."


"Apa? Kenapa perhiasanku? Yang utang 'kan Papi!" istrinya berbisik dengan kesal.


"Sudah! Yang penting kasihkan dulu, nanti Papi belikan lagi kalau sudah balik untung," bujuk Pak David.


Wanita itu menatap kesal pada suaminya dan dengan berat hati melepaskan anting, kalung dan gelang yang dia pakai. Pak David mengumpulkan perhiasan itu dan menyerahkannya pada Si ketua.


"Ini dulu, Boss.. A-aku akan segera bayarkan sisanya!"


Si Ketua mengambil perhiasan dari tangan Pak David yang gemetaran. Wajahnya kelihatan masam. "Awas kalau perhiasan ini palsu. Kamu ndak akan lepas hanya dengan kehilangan satu anggota keluarga."


"Ayo, kita pergi!" Si Ketua memerintahkan anak buahnya mengikuti.


Setelah gerombolan itu keluar ruangan, tubuh Pak David langsung terasa lemas. Dia tidak menyangka terlibat dengan lintah darat akan begitu menakutkan. Seandainya dia tahu, dia akan meminjam ke tempat lain. Tapi sulit sekali mendapat pinjaman dari temannya, akhir-akhir ini.


Yessy menangis tersedu-sedu sambil berlari ke kamar, meninggalkan kedua orang tua dan adiknya. Dia tidak menghiraukan panggilan Mami dan Papinya.


Dia tahu kalau bisnis Papinya mengalami kemunduran. Gadis itu tidak tahu kalau mereka akan menagih sambil membawa senjata setelah memaksa masuk. Yang dilakukan pria itu, membuat Yessy jijik.


Untung Mami masih punya perhiasan. Tapi mau sampai kapan mereka akan hidup dalam teror seperti ini.


.........


Sore keesokan harinya, Lili bertandang ke rumah salah satu teman dekatnya, Iik Hua. Mereka duduk di teras rumah sambil menikmati teh wangi melati.


"Aku ndak lihat Yessy, kemana dia, Iik?" tanya Lili.


"Oh, dia... Dia mungkin latihan tennis sama teman-temannya," jawab Hua sambil tersenyum yang sudah hilang beberapa detik kemudian.


Lili merasa ada yang aneh dengan temannya. Dia tampak gelisah dan tegang, seakan takut ada yang mengawasinya dari tempat tersembunyi. Lili mengangkat cangkir teh yang sudah hangat ke bibirnya.


"Dennis juga ke rumah minggu kemaren, dia nanyain kabar Yessy," pancing Lili.


"Oh, ya... Yessy sehat," jawab Hua, lagi-lagi matanya menerawang dan tidak fokus.


Kesal karena Iik Hua tidak merespon cerita dan kunjungannya dengan baik, Lili memutuskan untuk segera pulang.


"Oiya, Iik, besok minggu ada acara di rumahku. Kalau Yessy ndak ada acara, suruh dia datang, Iik."


Iik Hua kembali menjawab dengan singkat, dia bahkan tidak sadar waktu temannya itu berpamitan dan tetap duduk di teras menggenggam cangkir yang dingin hingga malam tiba.


.........


Di rumah Dennis, Yanti sedang mendampingi Waskito yang sedang belajar berjalan.


Ibu muda itu tengah membujuk agar anaknya mau berdiri. Berkali-kali dia mencoba menegakkan badan Kito, anaknya itu malah mengangkat kedua kakinya bersamaan. Padahal kemarin Kito bisa narik kursi yang sedang dia duduki.


Dennis yang sesekali melihat, merasa geli dengan tingkah ibu dan anak itu. Buku yang dibukanya untuk dibaca, duduk manis di pangkuan dan belum berganti halaman sejak 30 menit terakhir.


"Ayo, Nak, Kito... Ayo jalan, Le... Kito pinter," rayu Yanti yang tidak dia acuhkan anaknya.


"Ee... Nna! Wuuk! Wuuk!" seru Kito yang akhirnya menggeliat setelah Yanti membuatnya berdiri lagi.


"Dia ndak mau gitu, jangan dipaksa," kata Dennis.


Yanti berdecak, dia sedang malas mendengar omongan Dennis yang makin cerewet dari hari ke hari.


"Kasihan, masih kecil," lanjut Dennis dengan senyum mengejek.


"Pak Dennis ndak usah ikutan," kata Yanti, memberi peringatan.


"Hmmm? Aku disini, ndak ikut apa-apa." Dennis menghindar dan mencoba melucu.


Yanti yang sebal dengan kata-kata Dennis, jadi lebih jengkel lagi karena tidak bisa membalas omongan.


Waskito yang mendengar suara Dennis dan ibunya bersahutan, ikut-ikutan menyela. "Kyak! Yak!" kedua tangannya terangkat, sebentar ke atas, sebentar ke samping.


Kali ini, saat menggeliat lagi, Yanti melepaskan pegangannya. Wanita itu tengah seru beradu mulut dengan Dennis yang tidak mau mengalah. Perlahan tapi pasti, Waskito merangkak mendekati Dennis.


Argumen keduanya baru berhenti saat tangan kecil kita menyentuh kaki Dennis. Dennis yang terkejut, sontak melihat ke bawah, ke arah bocah kecil yang menatapnya dengan mata berbinar. Bocah yang tersenyum dan memamerkan dua gigi kecil.


"Kyak! Kyak!" seru Waskito senang.


Denis tidak tahu apa yang dikatakan oleh anak Yanti. Tapi dari cara bocah itu memandangnya dan gerak-gerik lain, pria itu mendapat firasat buruk. Entah kenapa dia merasa, kalau anak Yanti sedang memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.


.


.


.