
Dennis tidak buru-buru masuk ke kamarnya. Dia ingin melihat lebih banyak jejak yang ditinggalkan Yanti di dalam rumah dan melanjutkan permainan kucing-kucingan ini lebih lama.
Jadi, Dennis melepas sepatunya dan memakai sandal untuk dipakai dirumah.
Pria itu menahan tawa melihat Yanti yang beringsut mengecil saat dia melangkah ke dapur. Wanita itu duduk di kursi, menahan anaknya sambil menghaluskan nasi pakai sendok.
"Masak apa, Yan?" tanya Dennis, mengulur waktu.
"Sayur bayem sama tempe goreng, Pak," jawab Yanti dengan suara kecil.
"Kyyaaak! Kyaak!! Aak!"
Dennis menoleh pada bocah kecil di pangkuan Yanti. Tangan gemuk dan pendek itu terarah padanya. Setelah tumbuh bersama banyak anak kecil di rumah utama keluarga Setiawan, Dennis tidak terlalu antusias dengan bocah laki-laki itu.
Atau bocah manapun. Mereka mudah menangis, mudah kotor dan mudah bau.
Pria itu menyeret kakinya dan berjalan sedikit memutar. Dia tidak mau berada dalam jangkauan tangan anaknya Yanti, dan duduk agak jauh seraya membuka tudung saji.
"Hmmm..." gumam Dennis sebelum menoleh pada pembantunya. "Yan, ambilkan baskom buat cuci tangan."
Yanti langsung meletakkan mangkuk lalu membawa baskom berisi air dan meletakkannya di meja, di sebelah piring pria itu.
Selesai makan, Dennis kembali ke kamar, meninggalkan Yanti dan anaknya.
Saat sampai di depan pintu itulah Dennis tahu apa yang salah. Pintunya terbuka, dengan gagang yang longgar. Ketika dia lihat, ternyata ada bekas gesekan antara besi dan kayu tempat besi itu masuk.
Tangannya meraih gagang dan mencoba membuka-tutup pintu beberapa kali sampai puas.
Di dalam kamar, Dennis akhirnya tahu apa yang tidak ada. Tongkat kayunya yang bercat hitam, yang tadi dia tinggal bersandar di meja kecil sebelah kasur.
Hal lain yang menarik perhatiannya adalah bekas pukulan benda tumpul di laci meja dan pinggiran tempat tidur yang juga terbuat dari kayu. Bekas itu tidak ada sebelum dia pergi. Melihat arah bekas pukulan, dilakukan dari tempat yang rendah.
Sekarang Dennis lebih kurang tahu apa yang terjadi di kamarnya. Ada yang melesak masuk dan memukul-mukul perabotannya dengan benda tumpul.
Telapak tangan Dennis yang pucat menyapu lantai dengan perlahan, sesekali dia balik untuk melihat barangkali ada benda yang tertinggal. Pria itu menemukan serpihan warna coklat dan hitam.
Dennis kembali keluar kamar, mengikuti asal suara anak Yanti yang di sekitar dapur.
"Tongkatku dimana, Yan?" tanya Dennis langsung ke intinya.
Yanti yang sudah ketakutan dari tadi, menatap Dennis dengan panik. Untuk sesaat bibirnya bergetar sebelum berkata dengan terbata-bata.
"M-maaf, Pak! T-tongkatnya..."
"Putus, iya, aku tahu," sahut Dennis cepat dan tidak sabaran. "Dimana sekarang?"
Yanti yang jantungnya terus berdetak cepat, kini mulai melambat saat dia mulai merasa pasrah. Meski bukan dia yang mematahkan tongkat, tapi dia berada di rumah.
Wanita itu bingung, bagaimana ada orang masuk dan dia sampai tidak tahu. Orang itu juga sampai merusak tongkat Dennis. Untung saja Kito tidak apa-apa.
Yanti meletakkan Kito ke lantai dan bergegas mengambil tongkat yang patah jadi dua.
Kito mencoba merangkak ke arah Dennis, tapi pria dewasa itu menghindar dengan cepat. Saat ini ada hal yang ingin dilihatnya langsung.
Pikiran Dennis langsung blank untuk sesaat sebelum berpacu lebih kencang dari sebelumnya. Tidak terpikir sedetikpun kalau meninggalkan tongkatnya di dalam kamar akan mengakibatkan kerugian seperti ini. Yang lebih misterius adalah pecahan dan serpihan yang tidak beraturan di tempat yang putus. Serta salah satu ujung yang penuh bekas pukulan.
Kini dia tahu penyebab furnitur kamarnya tidak mulus lagi, yaitu kena pukul tongkat hitamnya.
"Kenapa bisa sampai patah?" tanya Dennis pada dirinya sendiri.
Tapi Yanti yang mendengarnya, malah menangis.
"Maaf, Pak... Aku ndak tahu ada orang masuk rumah..." ujar Yanti diantara air matanya. Dia tidak mau kalau Dennis sampai marah besar.
Kito yang awalnya semangat merangkak mendekati Dennis, kini berhenti. Dia bingung melihat ibunya menangis, dan sontak ikut menangis.
"Uwwaaa.... Kyaak! Kyaak! Waaa...!"
Dennis yang hampir mengingat sesuatu, jadi lupa karena suara tangisan ibu dan anak yang bersahutan, memecah konsentrasinya. Dia duduk di dekat meja makan dengan jengkel.
Meski masih terisak, Yanti mencoba menahannya. Dia kembali mengambil Kito dan mencoba menenangkan anak lelakinya itu.
"Kyaaak! Uwuuu.. Uwuu..."
"Hussh... Le.. hush..." bisik Yanti, mengusap-usap punggung Kito agar cepat reda.
"Kamu bilang ada orang masuk rumah?" tanya Dennis.
"I-iya, Pak. Dia masuk kamarnya Pak Dennis terus mematahkan tongkatnya Pak Dennis," lanjut Yanti.
"Orangnya seperti apa?"
"Aku ndak tahu, Pak. Aku pas ketiduran di ruang tamu," jawab Yanti. "Untungnya Kito ndak diapa-apain. Kalau diculik, gimana anakku, Pak..."
Dennis menemukan satu hal yang tidak masuk akal. Dia lalu memukul-mukul kursi yang kosong dengan tongkatnya. Benda itu tidak mudah patah kecuali seseorang menggunakan tenaga saat mengayunkannya.
Mata kecil Dennis lalu terarah pada Kito yang bergumam 'yak yak' seperti anak ayam. Bibirnya masih belepotan kena nasi dihaluskan. Dan tangan yang dia pakai merangkak tadi, kini jempolnya sudah berada di dalam mulut.
Dennis memandang dengan ngeri ke arah mulut bocil itu. Tidak heran kalau anak kecil gampang sakit, apa saja yang tidak mereka masukkan ke mulut mereka...
Dari semua bukti yang ada, semuanya mengarah ke bocah lelaki itu. Tapi tidak masuk akal kalau anak usia setahun lebih sampai bisa merusak tongkat setebal gagang sapu. Anak yang masih berada di gendongan ibunya.
Pertanyaan yang sempat terlintas di pikirannya beberapa hari yang lalu, kini mendapat jawabannya. Dennis pun tertawa terbahak-bahak dengan jawaban yang hampir tidak masuk akal itu.
Yanti yang tidak mengeluh meski seharian harus menggendong anak. Padahal berat bocah itu tidak kurang dari 6 Kg. Jadi bukan tidak mungkin kalau kekuatan lengan itu diturunkan secara genetik.
"Waskito!" panggil Dennis pada anak Yanti untuk pertama kalinya.
Bocah bayi itu mendongak mendengar namanya dipanggil, diikuti Yanti yang penasaran. Majikannya ini bukan hanya tidak marah, dia malah tertawa.
"Kamu sudah merusak tongkatku. Kamu harus bertanggung jawab," ujar Dennis yang membuat Yanti langsung panik.
"Byuh, Pak! Apa maksudnya Kito yang memutuskan tongkat? Ya ndak bisa, toh!" protes Yanti.
Waskito kembali ber-'Kyak! Yak!' dan mengulurkan tangan.
Dennis menggeleng, lalu menunjuk ke arah bayi yang menatap Dennis dengan mata hitam berkilat dan bibir menyunggingkan senyum.
"Kamu ketiduran, jadi ndak tahu anakmu ndorong pintu sampai rusak. Dia juga mainan tongkat," ujar Dennis yang kemudian mengayunkan tongkat di udara.
"Kena meja, kena kasur. Terus patah," lanjut Dennis yang kali ini melempar benda yang sudah tidak berguna ke arah yang dia mau.
"Ndak mungkin, Kito masih belum bisa jalan," bantah Yanti.
Dennis duduk bersandar sambil merapikan kemejanya. "Itulah. Anakmu belum bisa ngomong, dia belum bisa jalan. Tapi tenaganya kuat."
Yanti menatap gamang ke arah bocah di pelukannya, masih ragu akan kata-kata Dennis.
"Kamu buktikan saja sendiri. Dia mungkin sudah bisa narik-narik kursi besar di ruang tamu." Dennis beranjak dari kursi tempat dia duduk lalu menatap ke wajah ibu muda itu. "Kalau aku keliru, kamu ndak usah mengganti biaya tongkat yang baru."
Dennis sudah hampir meninggalkan dapur ketika dia berbalik dan tersenyum licik. "Tapi, Yan, kalau aku benar, aku mau lihat kamu makan nasi goreng pakai sumpit."
Yanti yang ditinggal berdua dengan Kito, sangat yakin kalau anaknya tidak bersalah. Bahwa orang lain masuk ke dalam rumah. Tapi dia juga tidak bisa menjelaskan kenapa hanya tongkat itu yang rusak dan tidak mengambil benda berharga lain.
...
Malam harinya, Yanti terpaksa menelan ludah saat melihat Kito yang menarik-narik kursi yang dia duduki sambil tertawa-tawa.
Dia tidak menyangka harus bersusah payah belajar memakai sumpit lagi. Kali ini, untuk makan nasi goreng.
.
.
.