
Setelah mengganti pakaian, Yanti membantu Emak masak. Lidah keluarga Setiawan sangat berbeda dengan orang desa yang hobi makanan pedas.
"Ndak bisa kena lombok, Mak. Makanannya persis sama Kito." Yanti menjelaskan pada Emaknya yang bersikukuh hanya memasukkan seperempat kg cabe pada masakan.
"Byuh, kan ndak seger, Ti. Ndak ada pedes-pedesnya dikit."
"Gimana lagi, Mak. Nanti daripada ndak makan, malah kasian, masuk angin," lanjut Yanti.
Saat Yanti muncul ke ruang tamu sambil membawa piring, dia melihat Darren dan Lani yang sedang mengerubungi Bapaknya. Pria itu berusaha menyalakan lampu gas yang warna cahayanya putih. Hal yang biasa baginya menjadi hal aneh bagi mereka.
"Ayo, makan dulu, Darren, Lani," ajak Yanti saat semua makanan sudah siap.
Kedua tamunya itu berjalan dengan ogah-ogahan.
"Lodehnya agak pedes, tapi sayur bayem sama tempe gorengnya ndak." Mata Yanti lalu mencari sosok suami kontraknya. "Mas Dennis mana?"
Darren memiringkan kepala dan memandang Yanti dengan aneh, "Kok jadi Mas Dennis, Ce?"
Yanti tersenyum, menunduk malu. "Iya, kata Emak, ndak boleh manggil suami langsung namanya."
"Kok ndak panggil 'sayang' aja?" goda Darren.
Lani dan Yanti sama-sama terkejut dengan perkataan bocah yang tidak sesuai usianya itu.
"Ih, Darren, kenapa omonganmu kayak om-om sih?" tegur Lani.
Bocah laki-laki itu hanya tertawa kecil. "Kenapa jadi om-om? Aku juga sayang Ce Lani.. sayang Ce Yanti.. sayang Ko Dennis.."
Lani memutar mata sementara Yanti dibuat tertawa dengan tingkah antik Darren. Usai melayani kedua adik iparnya, Yanti berjalan keliling rumah mencari Dennis. Laki-laki itu sedang berjalan di luar sambil sesekali mengarahkan kameranya ke bangunan rumah.
"Gelap gini, apa kelihatan kalau difoto, Pak?" tanya Yanti berjalan mendekat.
"Hmm, itu yang aku penasaran. Siapa tahu foto rumahmu sekarang bisa masuk museum 50 tahun lagi," ujar Dennis sambil mengutak-atik fokus kameranya.
Yanti tidak menanggapi itu. Hidupnya berubah drastis hanya dalam dua tahun ini. 50 tahun terdengar sangat lama.
...
Selesai makan malam, Yanti membantu Emak membereskan piring. Bapak dan Kito bertugas menyiapkan tempat tidur mereka dibantu kedua tamu.
"Yanti, Nduk, nanti Emak mau tidur sama Kito. Emak kangen.." ujar wanita itu saat keduanya berada di dapur
"Iya, Mak. Yanti juga kangen sama Emak, sama Bapak. Aku seneng tidur bareng di ruang tamu," sahut Yanti senang.
"Hush, ngomong apa, kamu," sergah Emak tidak setuju. "Kamu sama Nak Dennis di kamar aja. Saru (tidak baik), manten baru tidurnya pisah."
Yanti langsung kelabakan, untung panci yang dibawanya tidak sampai jatuh. "T-tapi nikahnya sudah hampir sebulan, Mak," elak Yanti. "Sudah bukan manten baru lagi."
"Disini 'kan malam pertama kalian berdua disini," lanjut Emak seolah tidak mendengar kata-kata Yanti. Wanita tua itu bahkan tertawa kecil. "Emak kira kenapa kamu pulang, padahal baru sebentar di Surabaya. Tahunya nikah lagi, ndak ngabari Emak sama Bapak."
Emak bahkan mencubit kecil lengan Yanti dengan gemas. Wanita itu lalu teringat sesuatu. "Tapi, gimana ijab kabulnya, Ti? Kan Bapakmu disini sama Emak."
"Ndak pakai ijab kabul, Mak. P-Mas Dennis kan bukan orang Islam, makanya nikah di catatan sipil." Yanti juga awalnya tidak terlalu paham tentang urusan pemerintahan dan surat-surat seperti itu. Dennislah yang mengajarinya di sela-sela waktu mereka.
"Suamimu itu kelihatannya telaten, kamu layani dia yang baik, ya. Nanti Kito biar sama Emak."
"A-aku juga mau sama Emak."
Emak menepuk lengan Yanti. "Mana cukup. Emak, Kito, sama iparmu sudah disitu. Kalau kamu ikut nanti Kito ketindes gimana? Bapak aja tidur di bale-bale di dapur."
Yanti akhirnya masuk ke kamar setelah semua orang tidur, dengan alasan masih kangen Emak. Didalam kamar yang hampir tidak ada penerangan, Yanti berdiri di dekat pintu sampai matanya terbiasa.
Samar-samar, Yanti bisa melihat sosok Dennis yang sedang berbaring. Dia pun duduk di pinggir kasur, kembali bingung dengan apa yang harus dilakukan.
"Kalo kamu mau tidur, di sebelah sana saja," ujar Dennis tiba-tiba sambil menepuk bagian sampingnya yang longgar.
"Permisi, Pak," kata Yanti sambil naik ke kasur. Tangannya meraba-raba agar tidak menginjak kaki Dennis, menyebabkan pria itu menggumamkan protes.
Dennis berusaha diam saat Yanti merangkak di atasnya. Termasuk saat tangan kecil wanita itu memegang betis dan pahanya yang mendadak sensitif.
Sampai Dennis tidak bisa menahan lagi, dia hendak melipat kaki agar ada lebih banyak ruang bagi Yanti untuk lewat. Tapi siku yanti yang tersenggol, langsung tertekuk karena tidak kuat menahan badannya. Wanita itu oleng dan jatuh di atas Dennis.
"Duh, Pak..."
Bahkan suara Yanti terdengar seperti erangan dan ******* yang membuat Dennis kalap.
"Kamu aku suruh tidur kenapa malah nyerang aku?!" protes Dennis dengan wajah panas. Untung kamar gelap jadi tidak ada yang melihatnya.
"Pak Dennis yang gerak tiba-tiba, kok aku disalahin," bantah wanita itu tidak terima sambil berusaha bangun.
Tangan Yanti kembali mencari tumpuan agar bisa segera menjauh dari lelaki itu.
"Ah..." Dennis sudah berusaha menahan dirinya tapi lagi-lagi Yanti telah tanpa sengaja membuatnya hilang akal.
Padahal dia sengaja menghindari desakan mami agar tidak jatuh pada jebakan nafsu. Dia tahu betapa mudahnya seseorang hilang akal sehat jika sudah dikuasai hawa nafsu. Karena itu, dirinya sengaja memilih wanita yang setidak-menarik mungkin untuk dinikahi. Dennis tidak mau kehilangan akal sehat dan ketajaman pikiran, serta menurunkan performanya sebagai sniper terbaik.
Tapi dilema yang dialaminya saat ini, yang disebabkan oleh Yanti...
"Yan..." panggil Dennis dengan suaranya yang berat, yang membuat Yanti membeku karena seluruh tubuhnya seperti kesetrum.
"Yan, kalau kamu tidak segera minggir..." ujar Dennis lagi. "Aku ndak janji, ndak bakal ngapa-ngapain kamu."
Yanti segera lewat dengan cepat, setengah loncat ke tempat di sebelah dinding. Tempat yang sebenarnya lebih berbahaya, karena dia tidak bisa kabur kalau Dennis mencegah dirinya. Jantungnya berdetak cepat, antara tegang dan takut, mengantisipasi apa yang akan dilakukan lelaki berkulit putih itu.
"Pak Dennis ini gimana toh, katanya cuma kawin kontrak...cuma bohongan aja.." protes Yanti dengan suara pelan.
Pria itu lalu duduk menghadap Yanti. Dia membuang nafas panjang untuk menenangkan diri. "Kalau begitu, ya, kamu juga jangan pegang-pegang aku," balas Dennis tidak kalah kesal. "Aku ini juga laki-laki. Atau kamu sengaja, eh?"
Yanti tidak terima, balas menuduh. "Kalau Pak Denis pengen sama aku, bilang aja. Jangan nuduh aku yang bukan-bukan!"
Dennis mengerjapkan mata, tidak percaya dengan yang didengarnya. "Siapa yang tertarik dengan tubuhmu?! Kamu saja bau kambing mana mungkin aku suka!" teriak pria itu sengit.
Diluar dugaan, Yanti malah tertawa.
"Iya.. aku bau kambing, aku tahu... Terus, kenapa Pak Dennis suka sama aku yang bau lebus?" goda wanita itu tidak mau kalah. "Hmm, Pak Suami?"
Dennis yang kehilangan kata-kata, memutuskan membalas dengan tindakan. Dia memegang lengan Yanti sambil bergeser mendekat. "Oh, dari mana kamu tahu kalau tuan pincang ini suka kamu? Kamu ndak apa, beneran jadi istriku?"
Yanti yang sadar kalau dia sudah kelewatan, beringsut mundur. "Hahahaha.. sudah, Pak.. ndak lucu."
Dennis bukannya berhenti, malah mendekatkan wajahnya pada wanita yang kini diam, matanya bergerak kesana kemari menunjukkan kegelisahannya. "Iya, kamu juga ndak lucu. Jadi jangan coba melawak lain kali. Sudah, cepat tidur."
Pria itu melepaskan cengkeramannya dan kembali ke posisi awalnya, berbaring menyamping, membelakangi Yanti.
"Ndak, aku ndak akan tidur. Kalo Pak Dennis ngapa-ngapain aku, gimana," ujar Yanti yang masih pada posisinya, duduk di pojokan dan bersandar pada bantal. "Aku begadang aja. Jadi jangan macam-macam, Pak."
Ancaman Yanti ditanggapi hanya setengah hati oleh Dennis. "Terserah."
Dua jam kemudian dan Dennis masih belum bisa memejamkan matanya. Dia kembali bergulat dengan pikirannya, sambil mencaci maki Yanti dalam hati.
Wanita yang harusnya jadi tameng agar dia bisa bekerja dengan tenang, kini malah jadi sumber masalah. Bagaimana Dennis bisa beristirahat di atas kasur kapuk yang tipis dan keras, di ruangan yang dingin. Yang empuk dan hangat hanyalah badan yang memeluknya dari belakang.
Dennis sudah berkali-kali memanggil Yanti, bahkan menyikut agar wanita itu menjauh. Bukan hanya makin keras dengkurannya, Yanti juga hanya bergerak sedikit sebelum kembali lelap.
Pria pincang itu hanya mendesah panjang, berharap dia bisa melewati malam ini dengan selamat.
.
.
.
Hai, Kak. Makasih sudah baca. Yanti dan Dennis memang masih menjelajah perasaan masing-masing. Mereka juga masih memegang kuat adat ketimuran, jadi dinikmati saja sweet momentnya ;)
Untuk bahasa, Alluca coba sesuaikan antara logat dan gaya bicara masa itu, dengan masa sekarang. Alluca harap Kakak sekalian tetap menikmati waktu membaca.
Tolong dukung terus ya, dengan like, vote, gift, comment, dan terus baca ;D
Salam hangat,
Alluca 😘💕