
Saat Yessy pulang malam itu, dia terkejut melihat keadaan di dalam rumah yang berantakan. Dadanya langsung bergemuruh, dipenuhi ketakutan akan keadaan orang tua dan adiknya.
"Papi! Mami! Joy!" teriak Yessy dari satu ruangan ke ruangan lain sambil berlari meski masih memakai hak tinggi. Tangannya dipenuhi keringat dingin.
Di dekat ruang kerja yang pintunya terbuka, Yessy makin mempercepat langkahnya. Dia mendorong pintu dan terkejut melihat pak David yang tergeletak bersimbah darah di lantai dengan mami dan Joy menangis di samping tubuh itu.
"Papi..." panggil Yessy pelan sebelum seseorang menyergapnya dan membuat gadis itu hilang kesadaran.
Hal terakhir yang didengar Yessy adalah suara mami dan Joy yang memanggil namanya.
...
Pagi itu Yanti bangun sebelum subuh untuk memulai harinya seperti biasa. Sambil menanak nasi, dia mengenang hari kemarin yang kini bagaikan mimpi. Dia tidak bisa membayangkan pesta seperti apa yang diadakan jika Dennis menikah dengan wanita dari keluarga yang sederajat.
Yanti naik lagi untuk membawa Kito yang masih tidur ke dalam gendongan. Dia takut kalau anaknya nanti jatuh dari lantai dua saat ditinggal belanja.
Ketika akan menutup pintu rumah, sebuah suara memanggilnya.
"Yan!"
Yanti menoleh, tuannya sedang berjalan dengan terseok-seok karena buru-buru. Setelah hampir sebulan tinggal bersama pria itu, Yanti masih belum juga terbiasa melihat keadaan Dennis yang berbeda.
"Apa, Pak?" tanya Yanti.
"Mau belanja?" tanya Dennis.
Yanti mengangguk. Dia masih capek dan malas bicara kalau tidak perlu.
"Masih ada uang belanjanya?" tanya pria itu lagi. "Cukup buat beli bahan donat?"
Yanti membuka dompet dan hendak menghitung isinya ketika Dennis menyodorkan sepuluh lembar lima ribuan ke arahnya. Mata ibu muda itu berpindah dari uang ke wajah Dennis berkali-kali.
"Byuh, banyaknya, buat apa, Pak?" Yanti tetap mengambil uang itu dan memasukkannya ke dompet.
"Biar ndak kurang," jawab Dennis.
"Tapi tumben Pak Dennis sudah bangun," komentar Yanti sambil lalu dan meneruskan langkahnya menjauhi rumah tanpa menunggu balasan Dennis.
Dennis yang masih megap-megap setelah ditinggal, hanya bisa membanting pintu untuk menyalurkan kekesalannya.
"Memang apa salahnya kalau sesekali bangun pagi?!"
....
Untuk beberapa hari, Niken tidak bisa datang mengajar. Jadi saat ini Yanti manfaatkan untuk membersihkan sudut rumah yang dia abaikan selama belajar. Termasuk ruang kerja Dennis.
Wanita itu heran bagaimana bisa Dennis bisa membuat rumah berantakan dengan sangat cepat. Yanti lalu ingat kalau akhir-akhir ini majikannya itu hampir tidak keluar rumah. Dia jadi merasa bersalah, karena Kito sudah merusak tongkat itu.
Yanti berpikir pasti sulit membuatnya, dan harganya mahal, karena sudah beberapa hari tapi tongkat pesanan Dennis belum juga datang. Bapaknya kadang membutuhkan seharian untuk memperbaiki kandang ternak. Ibu muda itu jadi merasa kasihan pada Dennis yang jadi tidak bisa bekerja.
Saat mengelap meja, tulisan-tulisan besar dan foto di halaman yang terlihat, menarik perhatian Yanti. Dia pun mengeja pelan-pelan. Niken selalu berkata kalau makin sering belajar, akan cepat lancar membaca.
"Pe-r kelah-hian di tahjun-ng perak beru-jun-ng pe-m dunu-han," ujar Yanti dengan hati-hati. Dia pun mencoba mengulang membaca tapi dia tetap tidak mengerti maksud kata-kata yang diejanya.
"Perkelahian di Tanjung Perak berakhir pembunuhan," ulang Dennis yang tahu-tahu sudah berdiri di antara kusen pintu. Pria itu melangkah masuk sambil menuturkan isi artikel yang tertulis.
"Ada perkelahian antar kelompok preman di sana, beberapa orang meninggal. Identitas korban belum ditemukan." Dennis lalu berbalik ke arah Yanti yang menggenggam kemoceng.
"Kadang identitas mereka ketahuan, kadang tidak," ujar pria itu sambil berjalan mendekat.
Dibanding suara kakinya yang menggeser lantai, Yanti lebih takut dengan cara Dennis memandangnya. Mata hitam dan kecil pada wajah yang putih.
"Ada yang bahkan mayatnya saja ndak ketemu," lanjut Dennis yang berhenti tepat di depan Yanti.
Dada Yanti mendadak berdebar cepat. Dia tidak suka kalau Dennis mulai bersikap seperti ini. Kejam dan berdarah dingin.
"Sudah berapa lama suamimu ndak pulang?"
"Sudah, Pak. Jangan diteruskan," pinta Yanti yang makin gelisah.
"Setahun? Dua tahun?" Dennis semakin mendekatkan wajah mereka.
"Katanya Pak Dennis mau bantu aku! Kenapa malah tanya macam-macam!" Yanti mencoba mundur tapi tidak bisa jauh karena kakinya terhalang lemari.
"Aku bisa bantu kalau kamu punya identitas jelas. Nama sesuai KTP, alamat rumah, pekerjaan, nomer penduduk... Kamu punya?"
Yanti menggeleng pelan, wajahnya sedih dan putus asa.
"Kalau foto, kamu punya?"
Yanti yang menunduk, kembali menggeleng sambil menggigit bibir.
"Terus, kenapa Pak Dennis bilang kalau mau bantu?" Yanti memberanikan diri mendongakkan kepala, matanya berkaca-kaca. "Sudah tahu aku ndak punya foto, ndak punya catetan apa-apa..."
"Siapa Yang Bilang Aku Bohong?!" Dennis balas berteriak.
"Lha Terus Kenapa Pak Dennis Ngomong Gitu?!" tanya Yanti lagi.
"Aku Bisa Bantu Pasang Pengumuman Orang Hilang!" Bentak Dennis, tangannya meraih lengan Yanti. Dia lalu menggoncang badan sekaligus pikiran wanita itu agar berfungsi lebih baik.
"Pasang.. pengumuman.. " gumam Yanti, meniru pria di depannya.
"Iya! Makanya dengerin dulu orang ngomong sampai selesai!" Dennis lalu menjauhkan diri dari wanita kampung itu dan kembali mengatur nafasnya.
"Kapan kamu lihat dia, ciri-cirinya apa, apapun yang kamu tahu, bisa dipakai. Tapi jangan terlalu berharap," suara Dennis tetap ketus dan tajam tapi Yanti tidak peduli.
Ada secercah harapan baginya dan itu sudah cukup.
Malam itu, Yanti membaringkan Kito dengan hati-hati di kasur. Dipandanginya wajah kecil yang kata orang tidak mirip dirinya.
"Byuh, Le, bapakmu dimana, toh, Le?"
"Kalo beneran sudah mati, kenapa ndak ada sodaranya yang nyari ibuk?" tanya Yanti lagi tanpa mengharap jawaban dari Kito.
...
Dennis kesulitan lagi untuk tidur malam itu. Sejak mengetahui kalau identitasnya bocor dan tongkatnya putus, dia lebih banyak berdiam dirumah.
Sudah seminggu lebih dan pria itu tidak hanya gelisah. Dia sudah siap untuk meledak, hal yang hampir dilakukannya siang ini. Untung saja Yanti berhenti meneriaki dirinya dan menuduh yang bukan-bukan.
Dennis mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca dan memahami koleksi buku di ruang kerja. Dia hanya perlu tiga hari dan sudah kembali kehabisan bahan hiburan. Pikiran yang seolah tidak bisa berhenti seperti jarum jam yang terus berputar, membuatnya tersiksa.
Kadang Dennis ingin dilahirkan dengan kepintaran rata-rata dan penglihatan rata-rata. Sehingga dia tidak perlu cepat bosan akan lambatnya waktu dan hidupnya berjalan.
Pria itu lalu memutuskan bangun dari tempat tidurnya. Hanya mengenakan piyama, dia berjalan tanpa alas kaki ke bagian belakang rumah. Kaki Dennis berhenti di depan anak tangga yang paling bawah.
Ada sedikit rasa penasaran pada diri pria itu. Dia ingin tahu apakah Yanti dan anaknya juga tidur seperti orang kebanyakan.
Dennis sempat mundur, melakukan pengamatan dan penelitian tanpa persetujuan subyek adalah tindakan yang sangat tidak etis. Dia yakin kalau atasannya, Antok, akan tertawa terbahak-bahak kalau tahu perbuatan Dennis saat ini. Sebagai penembak jarak jauh yang melenyapkan puluhan target, dia tidak layak berbicara tentang etika.
Ya, dia adalah pria tidak bermoral dan tidak beretika. Dia menuduh papinya yang sering mendatangkan barang selundupan untuk dijual mahal, sebagai bisnis kotor. Lalu bagaimana dengan dirinya yang bekerja sebagai sniper?
Tanpa ragu, Dennis mulai menapak anak tangga. Tiap satu langkah, dia berhenti, mendengarkan deritan kayu atau suara lain yang mungkin tidak biasa. Hingga kakinya menapak di ujung paling atas.
Dennis masih ingat terakhir kali dia kemari, beberapa bulan lalu. Hanya untuk memastikan tidak ada serangga asing yang bersembunyi dan membuat sarang. Dia juga memutuskan memasang sekat dan pintu. Tidak menduga kamar asal-asalan itu akan dihuni oleh pembantu dan anaknya.
Pembantu yang juga istri kontraknya.
Dennis mencoba mendorong pintu itu pelan-pelan, tidak ingin penghuninya bangun. Setelah memastikan aman, Dennis kembali meneruskan penyusupannya.
Dia mendekati tubuh seorang wanita yang tengah tidur menyamping. Satu tangan di atas bantal anaknya, satu tangan lagi menyentuh kaki yang kecil.
Wajah Yanti tidak jauh berubah saat bangun dan tidur. Hidungnya tetap pesek dan pipinya agak tembam. Sedangkan badannya, sebagian pinggang dan perutnya terlihat karena baju yang terangkat. Dengan kulit yang terlihat putih dan mulus di dalam kegelapan kamar.
Sulit bagi Dennis membayangkan sosok Yanti yang tengah bersama pria lain, bersenda gurau. Yanti yang cenderung pendiam itu lalu berkasih lalu hamil dan melahirkan bayi.
Kecuali pria itu lebih dulu mendekati Yanti, merayu gadis lugu itu, dan menjebaknya. Lalu meninggalkan Yanti dan anak yang tidur di sampingnya.
Dennis hampir saja melompat mundur ketika menyadari kalau pemilik tubuh kecil di samping Yanti, sedang memandanginya dengan mata bulat terbuka lebar.
"Wuuuuu," gumam bayi itu sambil memainkan jempolnya.
"Apa lihat-lihat, tidur lagi, sana!" Desis Dennis kesal. Dia pun mulai berjalan mundur, khawatir suara mereka akan membangunkan Yanti.
"Wuuu... Aak!!" Suara Kito makin kencang, wajahnya terlihat senang dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar.
Dennis jadi panik dan bergegas meninggalkan kamar dengan pintu yang terbuka.
"Kyak! Yak! Yak!" seru Kito senang, berkali-kali menepuk lengan ibunya yang sedang pulas.
"Hmmm... Apa, Le? Sudah, ayo bubuk..." ujar Yanti tanpa membuka mata, menepuk-nepuk pelan kaki Kito sebelum kembali tertidur.
Kaki Dennis baru berhenti saat dia sudah sampai di kamarnya. Wajahnya terasa panas akibat rasa malu, hampir ketahuan sedang melihat orang lain tidur. Jantung di dadanya pun ikut berdetak cepat, memompa lebih banyak adrenalin ke seluruh tubuh dalam kesenangan sesaat.
Pria itu lalu menutup mata dengan kedua tangan dan mengeluh, "Ya ampun, Dennis... Kamu benar-benar kurang kerjaan."
Dia kembali malu, telah merasa ketegangan dan antisipasi yang biasanya menyertai setiap misi, saat memasuki kamar Yanti.
"Dasar rendahan..." Pria itu menghina dirinya sendiri.
.
.
.