
Yanti terkejut saat bangun. Padahal dia bilang kalau akan begadang. Tapi melihat ranjang sisi Dennis yang kosong, dia harap tidak terjadi apa-apa semalam. Majikannya itu sangat pandai, entah apa yang akan dia tuduhkan pada Yanti.
Ibu muda itu pun keluar kamar, mencari suami kontraknya. Lagi-lagi Yanti dibuat terkejut melihat di dapur, emaknya sedang bercakap-cakap dengan Dennis. Yang mengejutkan adalah Kito yang duduk diam di pangkuan Dennis!
"Mak," panggil Yanti sambil melihat ragu ke arah Dennis. "Masak apa?"
"Emak mbikin lodho, nanti kamu bawa pulang. Ndak pedes kok, lomboknya cuma 2 ons," ujar Emak dengan bangga pada Dennis.
Pria itu tertawa tanpa ekspresi, memegang Waskito yang menarik kerahnya untuk berusaha berdiri. Bocah itu berkali-kali memanggil, "Aak Nis! Ak Nis!"
Yanti pura-pura tidak tahu ketika Dennis menoleh, matanya meminta pertolongan. Kapan lagi Kito bisa bermain dengan Dennis, pikirnya. Yanti ingin Waskito bisa dekat dengan Dennis sepuasnya, toh Dennis selalu menghindar kalau diajak bercanda.
"Kito pinter, anak ibuk," puji Yanti.
Waskito yang kegirangan ada ibunya dan Dennis, menjejakkan kakinya di paha Dennis, mengotori celana laki-laki itu. "Pak Nnis!!" teriak bocah itu lagi.
Emak bahkan ikut tertawa, senang cucunya akhirnya bisa berdiri. "Kok Pak Dennis, To.. Panggil Ayah.. ayaah..."
"Sudah, Mak. Namanya juga masih belajar," sergah Yanti, tidak mau membuat Dennis merasa tidak nyaman.
Mata bocah itu berbinar, tangannya mencoba meraih lebih tinggi. Waskito lalu melingkarkan tangan ke leher Dennis dan meletakkan kepalanya di sebelah pria itu. Hati Yanti seketika tersentuh melihat cara anaknya memeluk Dennis.
Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat mata wanita itu berkaca-kaca. Perasaan yang tidak bisa Yanti gambarkan.
Dennis yang sudah siap melompat kabur, mengurungkan diri ketika melihat ekspresi Yanti saat itu. Dia bahkan mengusap punggung anak kecil yang sedang menempel tidak jelas padanya. Pria pincang itu berpikir kalau dirinya bisa mandi lagi nanti sebelum berangkat.
.
Anggota keluarga Setiawan, Waskito, dan Yanti langsung berangkat setelah sarapan. Meninggalkan desa yang telah membesarkan Yanti.
Mobil yang mereka naiki baru sampai di Surabaya menjelang sore. Udara dan sinar matahari yang hangat menyambut kedatangan kelimanya setelah perjalanan jauh. Dennis yang berbaik hati, bahkan menurunkan Darren dan Lani di depan rumah.
"Ndak mampir sebentar, Ko? Mami pasti seneng ketemu Koko," tanya Lani.
"Ndak. Biar kamu dimarahi mami sampai puas," sahut Dennis yang langsung tancap gas.
Lani mendecakkan lidah saat tipu dayanya ketahuan. Dengan langkah berat, dia memasuki rumah megah tempat dirinya tinggal selama ini.
.
Sampai di rumah, Yanti langsung memandikan Kito dengan air hangat dan menyiapkan makan malam. Lalu lanjut membereskan barang-barang yang mereka bawa.
Saat meletakkan baju yang tidak terpakai ke dalam lemari, mata Yanti tertuju pada kotak hitam polos di sudut. Diambilnya kotak itu dan dibuka. Sebuah gelang berwarna hijau dan cincin yang senada, belum sempat Yanti kembalikan.
Minggu depan pelajaran Yanti sudah dimulai lagi, jadi dia baru ada waktu akhir pekan. Itu pun kalau Dennis mau menemaninya pergi ke rumah utama.
Memori tentang perayaan pernikahan yang diadakan disana, kembali pada Yanti. Adat dan tata cara yang sangat berbeda dari keluarganya, orang-orang yang tampaknya berbeda tapi kelakuan mereka cukup mirip. Penduduk di desanya juga sering membicarakan orang lain, memandang sinis, bahkan tidak jarang menghina terang-terangan.
Ibu muda itu tertawa sendiri. Dennis juga sama, pinter tapi sering membuat Yanti kesal. Mungkin kalau tuannya itu juga belajar tata krama seperti dirinya, Dennis tidak akan seketus itu. Dia akan mencoba mengajak Dennis belajar bersama lain kali.
.
Pagi itu, Dennis masih sarapan dan Yanti menunggu sampai majikannya selesai. Beberapa kali dia melongok ke arah piring Dennis sebelum berjalan menjauh.
Dennis yang terganggu dengan tindakan Yanti, meletakkan sendok dan garpunya.
"Ada apa, Yan?" tanya Dennis.
"Oh, ndak, Pak. Pak Dennis makan saja. Sayang, kalok ndak dihabiskan nanti ayamnya mati," jawab Yanti berbelit-belit.
"Aku ndak punya ayam. Kamu mau bicara apa?" desak Dennis lagi.
Yanti berjalan mendekat dengan Kito di pinggang. "Mm, Pak, aku janji mau balikin gelang."
"Gelang?" Dennis balik tanya saat ingat satu-satunya gelang yang dipakai Yanti selama mereka bersama. "Oh, yang hijau itu. Kenapa?"
"Aku mau balikin ke Darren. Aku baru ingat tadi malam kalok janji mau ngembalikan." Yanti lalu teringat tatapan aneh para tamu saat dia memakainya. "Pak, ini sebenarnya gelang apa? Kok ayahnya Pak Dennis sampai tanya?"
"Gelang dan cincin itu semacam harta turun temurun." Dennis memutuskan dia ingin melihat reaksi Yanti, lebih dari nilai benda itu sendiri.
Pandangan Yanti kembali pada perhiasan yang tidak tampak spesial baginya. Warnanya dan kerasnya mirip kelereng.
Dennis menahan tawa saat dia melanjutkan penjelasannya. "Batu giok yang dipakai untuk membuat gelang, diambil dari batu tertua. Setelah lewat beberapa generasi, muncul retakan, lalu ditempeli hiasan emas. Kalau dijual, harganya sekitar dua ratus juta."
Tangan Yanti langsung kaku mendengar harga yang belum pernah dia dengar. Dia meletakkan kotak itu dengan perlahan dan sangat hati-hati. Ketika Yanti berjalan ke depan, Dennis jadi penasaran.
"Mau kemana, Yan?"
"Ambil koran bekas, Pak. Biasanya emak nyelipkan kertas kalau mau nyimpen pecah belah."
Pria itu hanya tersenyum puas sambil melanjutkan sarapannya. Dennis senang, tidak tampak keserakahan maupun keinginan memiliki dalam mata Yanti. Yang ada malah sedikit rasa takut.
...
Meski berencana mengembalikan sesegera mungkin, Yanti dan Dennis baru pergi ke rumah utama setelah makan siang.
Suasana rumah cukup lengang. Sebagian besar penghuninya masih beraktifitas di luar rumah dan baru kembali nanti sore. Darren yang bertanggung jawab menyerahkan perhiasan itu juga belum pulang sekolah.
Pria pincang itu akhirnya mengembalikan langsung pada pemiliknya yang sekarang, Sang Nenek.
"Hmm, apa ini?" tanya wanita tua itu sambil membuka tutup kotak. Setelah melihat isinya, dia segera menutup kotak itu lagi.
"Harus segera disimpan... Kamu cepat keluar," ujar wanita keriput itu sambil mengusir Dennis dengan tangannya.
Dennis keluar kamar, tapi dia melihat dari celah pintu untuk memastikan Nenek menyimpan perhiasannya dengan benar. Selesai dengan tugasnya, Dennis berencana segera pulang. Di dekat anak tangga, sebuah suara menyapanya.
"Kapan kamu datang, Dennis? Kok sudah mau pulang?" tanya suara yang tidak ingin Dennis dengar.
Ketika Dennis tidak menanggapi, Arthur beralih pada wanita di samping Dennis. "Ipar, kamu sudah nyapa mami Lili?"
Yanti melirik ke arah Dennis yang wajahnya makin lama makin kaku. Dia tidak tahu kenapa keduanya selalu bertengkar. Tapi menurut Yanti, seharusnya Dennis menemui maminya selagi disini.
"Kamu urus saja urusanmu sendiri, Arthur," jawab Dennis. Matanya mempelajari seorang gadis yang berdiri di samping saudara seayahnya itu.
Wanita itu tampak tidak asing. Rambut hitam lurus yang dipotong sebahu, wajah mungil dan mata tajam. Kesan yang diberikan makin mencolok karena wanita itu memakai baju hitam ketat dan lipstik ungu tua, kontras dengan kulit putihnya.
Dennis lalu teringat pada foto yang pernah ditunjukkan mami Lili padanya. Di foto, gadis bernama Yessi itu tampak sopan, sederhana, dan manis. Sangat jauh dari hyena yang berdiri di depannya sekarang.
"Kamu tidak ingin mengacuhkan nona ini cuma gara-gara aku," lanjut Dennis yang mulai menuruni anak tangga.
"Ya, apalagi Yessi juga lebih memilih bersamaku daripada denganmu." Lagi-lagi Arthur mencoba membuat Dennis panas.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Dennis tidak menjawab dan melanjutkan berjalan dengan tenang. Pria itu bahkan sesekali memegang lengan Yanti dan tersenyum pada istrinya, sengaja memamerkan kemesraan.
Yessi yang melihat ekspresi gelap Arthur, menyentuh pelan tangan pria itu.
"Jangan terlalu diambil hati," bisiknya manja. "Sebaiknya habiskan waktu menyenangkan diri sendiri."
Arthur berpaling kepada wanita cantik di sebelahnya. "Menyenangkan diri? Tempat hiburan seperti apa?"
"Aku tahu tempat yang bagus," jawab Yessi diiringi senyuman lebar yang memikat dan penuh janji. "Aku jamin, kamu ndak akan menyesal."
Wanita itu bahkan sedikit membungkukkan badan, menawarkan pemandangan khusus yang bisa dilihat dari potongan leher rendah.
"Mana aku tahu sebelum mencoba," ujar Arthur diiringi seringaian yang membuatnya merasa lebih percaya diri.
.
.
.