Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
29. Arthur (3)


Wajah Yanti sumringah saat melihat Waskito yang berada dalam gendongan Dennis. Selama ini, yang Yanti lihat, majikan pincangnya itu selalu menghindari Kito. Tidak jarang Dennis melihat jijik ke arah anaknya.


Kalau sudah begitu, Yanti hanya bisa mengelus dada. Bagaimana lagi, statusnya disini adalah sebagai pekerja, pembantu. Dennis sudah berbaik hati mengijinkan Kito ikut tinggal bersamanya. Tidak mungkin Yanti ngelunjak dan meminta Dennis memperlakukan Kito dengan penuh kasih sayang.


"Pak, pinjem kameranya, Pak!" seru Yanti yang langsung meletakkan buku belajarnya.


"Hah? Buat apa?" tanya Dennis yang berjalan sedikit miring untuk menyeimbangkan berat.


"Jarang aku lihat Pak Dennis akur sama Kito," jawab Yanti yang lalu cekikikan.


Dennis bisa merasakan alisnya berkedut saat bocah di pinggangnya ikut tertawa menirukan ibunya.


"Hah? Buat apa? Sudah, ini ambil anakmu!" Dennis malu, imagenya sebagai pria cool dan keren rusak.


Terlebih lagi ketika Yanti tidak segera mengambil bocah itu dari dirinya. Dia heran dengan orang-orang ini, tadi mbok Jum, sekarang Yanti. Mungkin dia terlalu baik pada anak buahnya.


"Kamu ndak akan berani ngetawain aku kalau kamu tahu apa yang aku lakukan hari ini," ujar Dennis sambil mengibaskan bagian kemejanya yang kini kotor.


Tawa Yanti mereda seiring munculnya rasa penasaran dalam hati. Memangnya apa yang sudah dilakukan majikannya? Bukankah dia bekerja seperti biasa?


"Apa, Pak?" tanya Yanti akhirnya.


Dennis mengeluarkan selembar kertas dari saku celana. Meski agak lecek, tulisannya masih jelas. Hanya saja, ada banyak kata yang Yanti belum bisa baca dengan lancar. Mata Yanti terarah pada Dennis, minta petunjuk.


"Ini.... Ini bukti kalau aku sudah membuat iklan pencarian orang hilang," mulai Dennis. Dia pun menjabarkan lebih lanjut.


"Waktu aku tanya tentang suamimu, informasi yang kamu kasih, ndak jelas. Jadi pas di desa, aku sekalian tanya bapakmu. Memang ndak banyak keterangan, tapi aku harap sudah cukup. Siapa tahu ada teman atau saudaranya yang muncul nanti."


Dennis menjelaskan sebanyak mungkin, dia ingin membantu Yanti. Jadi pria pincang itu tidak tahu kenapa sinar di mata Yanti meredup. Wajahnya jadi murung.


"Kenapa? Apa kamu sudah dapat kabar tentang dia pas di desa?" tanya Dennis yang ikut bimbang.


Yanti langsung menoleh pada majikannya. "Ndak, Pak. Ndak ada kabar..." Dia lalu menunduk.


Saat itu, dia melihat kaki dan tangan anaknya yang kotor. Bajunya pun basah di bagian depan. "Aku ganti bajunya Kito dulu, biar ndak masuk angin."


Kepergian Yanti yang tiba-tiba, seolah menghindar, membuat Dennis berpikir kalau mungkin Yanti tidak terlalu ingin mencari suaminya lagi.


Perhatian pria pincang itu teralihkan saat dia mendengar suara langkah orang memasuki halamannya. Dennis menaikkan alis saat melihat Lani dan sopir keluarga mereka berjalan beriringan.


"Ko Dennis," sapa adik kandungnya itu dengan suara lirih.


Melihat ada yang berbeda dari Lani, dia ganti melihat ke arah sopir laki-laki di belakangnya. Andre mengangguk sekali untuk memberi hormat.


"Kamu duduk dulu," perintah Dennis. Dia lalu berjalan ke lorong yang menuju bagian dapur. "Yan! Yan, tolong bikinkan teh panas dua!"


"Iya!" teriak Yanti dari dalam.


Dennis kembali mengalihkan perhatian pada Lani. Wajahnya pucat dan tampak cemas.


Dia menunggu hingga Lani mengatakan sesuatu, tapi wanita itu diam saja. Dennis pun menghela nafas. Sepertinya hari ini akan sangat panjang.


Sepuluh menit kemudian, Yanti keluar membawa cangkir. Dia bingung dengan suasana yang suram antara kakak beradik itu. Dia sudah akan bertanya waktu dia melihat ada satu orang lagi.


"Aku bikinkan teh lagi," ujar Yanti kembali masuk ke dalam.


Lani menggenggam cangkir itu dengan hati-hati. Kehangatan yang disalurkan lewat jari-jarinya yang kaku, melelehkan sebagian hawa dingin akibat rasa takut. Setelah membasahi bibirnya dengan air hangat yang manis, dia kembali menatap kakak laki-lakinya.


"Ko Dennis, apa Koko ingat Yessi?" tanya Lani. Dia tidak menunggu jawaban Dennis sebelum menceritakan yang dialaminya. Tentang perubahan diri temannya, Yessi, dan saudara mereka, Arthur.


Saat Lani selesai, Dennis bertanya pada gadis itu. "Kalau cuma tentang Arthur dan Yessi, kamu ndak akan sampai seperti ini. Apa kamu melakukan sesuatu yang nekad seperti..."


Kata-kata Dennis membuat Lani gelisah di tempat duduknya. Pria itu lalu melirik ke arah sopir mereka.


"..mengejar mereka sampai ke tempat berbahaya?" tebak Dennis.


"Kenapa kamu jadi bodoh, Lani? Apa yang dilakukan Arthur dan Yessi jelas-jelas bukan urusanmu..." Dennis mengetuk kepala tongkatnya dengan perlahan.


Dennis juga berusaha bicara sesantai mungkin. Dia tidak mau membuat adiknya terguncang lebih dari ini.


"Tapi kita kan saudara, Ko..." bantah Lani dengan suara yang lemah sambil menunduk.


"Mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Keputusan yang mereka buat bukan lagi tanggung jawabmu. Kamu juga bukan orangtua mereka." Dennis mencoba menjelaskan. "Gimana kalau waktu itu ndak ada Andre?"


Lani yang terkejut, mengangkat wajah. "Ko Dennis kok tahu?"


"Terus, kamu ngejar Arthur naik angkot? Kalau waktu itu Pak Sam yang sama kamu, dia akan langsung antar kamu balik ke rumah, baru lapor papi," deduksi Dennis selalu membuat Lani kagum dan sebal sekaligus.


Gadis itu memutar bola matanya. Andai dia punya otak separuh dari kepintaran kakaknya, dia tidak akan minta bantuan.


Mata tajam Dennis lalu terarah pada Andre, "Lain kali kalau sampai ada apa-apa sama Lani, urusannya ndak akan selesai hanya dengan mecat kamu dari pekerjaan."


"Maafkan saya, Tuan," ujar pria itu tanpa merasa bersalah.


"Aku sudah pernah bilang ke papi... Arthur memang nyebelin tapi dia sebenernya ndak sejahat itu, Ko. Ko Dennis ndak ada teman yang tahu 'kah? Siapa tahu ada yang lagi selidiki juga buat artikel," cerocos Lani tidak mau menyerah.


Kali ini giliran Dennis yang memutar mata. "Aku ndak janji, tapi aku coba cari tahu."


"Makasih, Ko. Aku tahu kalau aku bisa minta tolong Koko," sahut Lani yang sudah lebih ceria. Wajahnya juga sudah lebih berwarna.


Dennis hanya mengibaskan tangan, mengusir gadis itu dari rumahnya. Namun dia tetap tidak beranjak, bahkan setelah tehnya sudah lama dingin.


...


Sejak mendengar tentang iklan pencarian, hati Yanti gelisah.


Dia harusnya merasa senang, bagaimanapun Dennis sudah menolongnya. Jika bukan karena Dennis, Yanti tidak akan terpikir untuk mencari lewat surat kabar.


Mungkin kegelisahan itu karena dia takut kalau cara ini pun, hasilnya akan nihil. Sama seperti yang selama ini dia usahakan.


Tapi jika ada titik terang dan dia bisa kembali bertemu dengan Darto... Lalu, apa? Apakah Darto akan mau mengakui Yanti dan Waskito begitu saja?


Bagaimana kalau seperti yang Dennis katakan, kalau Darto punya istri sah dan keluarga sendiri? Karena itu, selama ini dia sama sekali tidak bisa ditemukan.


Yanti juga bingung karena sudah terlanjut bilang ke Emak dan Bapak kalau menikah dengan Dennis. Lalu, bagaimana dengan pernikahan sirinya? Apa Pak Dennis benar-benar sudah mengurus perceraian Yanti dan Darto? Tapi bagaimana....


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak ibu muda itu. Kekhawatiran satu hilang diganti oleh banyak masalah lain, seolah tak ada habisnya.


Dia baru berhenti saat Waskito menggeliat dalam tidur dan merengek.


"Iya, Le.. Kito... Ibuk disini..shh.. shh..."


.


.


.


Hai, Kak.. Maaf, ya, bab selanjutny akan update dua hari sekali. Alluca sedang sakit, jdi klo sudah sembuh, diusahain jadwal update balik tiap hari 1 bab.


Dukung terus dgn like, comment, kasih gift, vote dan terus baca. Dijamin bakal cepet sembuh kalo sering" d komen dan like 🤭


Terimakasih!


peluk dan cium,


Alluca 😘💕