
Ketika Yanti masuk dengan membawa baskom, Dennis sudah melepas kemejanya. Hamparan kulit putih yang pernah Yanti lihat sebelumnya, kini dipenuhi bercak-bercak lebam biru dan hijau. Belum lagi perban di bahu kiri Dennis yang cukup lebar.
Niat Yanti untuk menggoda majikannya itu hilang seketika.
"Ngapain berdiri disitu? Ayo cepat sini," ujar Dennis sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Lelaki yang hanya memakai celana pendek dan kaos kaki itu lalu mengajari Yanti, cara menyeka badannya. Dengan tangan kiri yang masih kaku, Dennis hanya bisa menyeka sebagian kecil tubuhnya sendiri.
"Pelan-pelan, Yan," pinta Dennis. Suaranya bergetar menahan diri saat kain basah itu mendekati bahunya.
Yanti yang berkonsentrasi, jadi makin gugup saat membersihkan bercak darah yang masih menempel di kulit Dennis. Titik-titik keringat memenuhi dahinya, dia takut salah gerak sedikit akan membuat Dennis makin kesakitan.
Jadi, dengan sangat perlahan, dia mengelap punggung lebar di depan wajah ibu muda itu. Dari atas, ke bawah. Atas, ke bawah, berulang-ulang.
Dennis memejamkan mata dan menggigit bibir agar tidak bersuara. Dia tidak menyangka bahwa dengan menahan nyeri, dia masih bisa merasakan jari-jari Yanti yang menari di tubuhnya. Pria itu paham kalau Yanti berusaha sebaik mungkin, yang dia bisa. Meski Yanti tidak tahu kapan harus berhenti atau lanjut.
Karena itu, jika ada efek lain ketika usapan lembut Yanti terasa seperti membelai punggungnya, itu sepenuhnya salah Dennis. Bahkan jika Yanti tidak tahu sejauh mana boleh menyeka... Dennis berusaha diam saat tangan kecil Yanti terlalu ke bawah dan hampir mencapai tulang ekornya yang mendadak sensitif.
"Yan..." panggil Dennis akhirnya saat dia sudah tidak kuat lagi.
"Iya, Pak?"
"Jangan terlalu kebawah..." bisik Dennis dengan mata tertutup.
Yanti mengedipkan mata lalu melihat dimana tangannya berada. Dia spontan menarik diri ketika sadar tindakannya sedikit melewati batas.
"Aku usap yang depan kalau begitu, ya, Pak?" tanya Yanti tanpa maksud buruk.
Tapi Dennis yang sudah keburu terangsang, hanya membuka matanya perlahan dan melihat Yanti dengan pandangan membara. Perlu beberapa detik lebih lama hingga maksud perkataan Yanti bisa diproses dengan normal. Dennis pun sedikit menggeser duduknya, agar lebih nyaman dan reaksi biologisnya tidak sampai ketahuan.
"Tidak usah, nanti saja," ujar Dennis yang kepalanya seperti disumpal kapas.
"Tadi katanya suruh cepet," protes Yanti yang memajukan bibirnya, cemberut. Bagaimanapun Dennis sedang terluka di sekujur badannya, bagaimana bisa dia tidak khawatir.
"Sudah, berikan saja washlapnya," ujar Dennis yang menarik dengan paksa kain di tangan Yanti.
Yanti bertahan dan memegang kain erat-erat, tapi tenaga Dennis yang jauh lebih kuat membuat tubuhnya ikut tertarik. Tak terelakkan lagi, Yanti jatuh di atas badan Dennis.
Pria itu meringis, membuat mata Yanti sontak tertuju pada bahu yang terluka. Untungnya tidak tampak tanda-tanda seperti darah merembes dan sebagainya, sehingga Yanti bertumpu pada lengannya untuk bangkit dari atas majikannya itu.
Saat itulah Yanti merasakan gerakan di perutnya. Gerakan yang berasal dari luar tubuhnya. Awalnya Yanti tidak terlalu paham, jadi dia bangun perlahan-lahan. Ibu muda itu baru sadar ketika dia sudah berdiri, Dennis langsung menarik selimut dan menutupi sebagian celananya.
Pria itu juga membuang wajah ke samping, menghindari kontak mata dengan Yanti. Hanya ujung telinga yang merah hingga ke leher yang membuat Yanti jadi salah tingkah.
"Mm, aku lihat Kito dulu.. duh, dimana ya, anak itu..." ujar Yanti sambil berjalan keluar kamar, meninggalkan Dennis yang masih berusaha mengendalikan diri.
Hati keduanya berdebar kencang.
...
Semalam, saat Yanti mengantarkan makan malam, majikan pincangnya itu menyuruh Yanti meletakkan nampan di meja dan segera keluar. Antara lega dan kecewa, Yanti melakukan sesuai perintah. Padahal
Hatinya kembali jumpalitan jika mengingat kejadian kemarin, membuat senyum di wajahnya sulit hilang.
"Ayo, Kito, ikut Ibuk ke pasar yuk..." ajak Ibu muda itu masih dengan wajah sumringah.
Bocah itu langsung mengangkat kedua tangan dan dengan sigap berpegangan pada baju Yanti. Seperti bayi monyet yang bergelantungan pada induknya, sungguh menggemaskan.
"Nniss..." gumam bocah itu, tangannya terayun ke kamar milik Dennis.
"Hmm, Pak Dennis masih tidur. Tunggu dia bangun baru main sama Pak Dennis lagi," bujuk Yanti sambil menggelitik perut bocah itu.
Waskito langsung tertawa geli dengan badan menggeliat. Ibu muda itu ikut tertawa senang dengan tingkah anaknya.
Setelah lebih mengenal lingkungan tempat tinggalnya, Yanti lebih sering ke pasar berdua dengan Kito. Seperti hari sebelumnya, mata Yanti melihat orang yang lalu lalang agar tidak menabrak. Bagaimanapun, dia menggendong anak kecil yang harus dijaga.
Yanti tidak sengaja melihat seseorang di kejauhan, orang yang menyapanya saat di pemakaman. Darto, suami sirinya yang juga ayah dari Waskito. Seketika, hati Yanti seperti dicengkeram oleh tangan yang dingin.
Bagaimana kalau Darto memutuskan untuk meminta haknya? Atau lebih parah lagi, membawa pergi Waskito!!
Ketakutan, Yanti bergegas berbalik arah. Langkah kakinya semakin cepat saat sudah memasuki halaman rumah. Dia bahkan membanting pintu lalu menguncinya. Tidak berhenti sampai disana, Yanti juga menutup semua jendela yang terbuka, juga menutup pintu bagian belakang rumah yang terhubung ke dapur.
Dennis yang mendengar keributan itu, keluar dari kamar. Dia merasa heran dengan perubahan diri Yanti. Baru saja wanita itu berangkat dengan gembira, kini sudah pulang.
"Ada apa, Yan? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Dennis.
Saking tegangnya tubuh Yanti, dia tidak memperhatikan saat Dennis mendekat. Jadi ketika pria itu bertanya, Yanti yang terkejut, melompat di tempat.
"A-a-anu, Pak.. Itu..." Yanti tergagap dalam menjawab. Sehingga wanita itu menyebut satu nama sambil menunduk. "Darto...."
Mata Dennis memperhatikan bagaimana Yanti meremas tangannya. Mata wanita itu pun berkali-kali melihat ke sekeliling, tidak bisa diam. Jelas sekali kalau dia gelisah dan menunjukkan penolakan atas eksistensi Darto.
Meski begitu, Dennis tetap berhati-hati saat menyentuh tangan Yanti lalu menggenggamnya. Perlahan, diusapnya tangan Yanti hingga dia menjadi lebih tenang.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Dennis selembut mungkin.
Yanti menggeleng.
"Apa dia tahu kamu disini?"
Kali ini Yanti mengangkat wajah sambil menggigit bibir, tidak yakin bagaimana menjawabnya.
Dennis menghela nafas panjang. Pertanyaan berikutnya sangat penting sebelum dia bisa mengambil keputusan untuk mereka.
"Waktu kamu minta aku ngurus surat ceraimu dengan Darto, apa kamu serius?"
Yanti menatap mata kecil Dennis yang terpaku padanya. "Iya, Pak. Aku mau jadi istrimu," jawab Yanti tanpa ragu.
...
Tanpa membuang waktu lagi, siang itu juga Dennis mengurus surat yang dibutuhkan. Semuanya lebih mudah karena dukungan dana dan nama Setiawan di belakangnya. Meski dokumen baru akan keluar besok, Dennis merasa lebih lega saat dia berjalan ke kantor untuk briefing.
"Kamu sudah baikan, Snipe?" tanya Rabpit saat Dennis bergabung bersama mereka.
Pria pincang itu mengangkat bahunya yang tidak terluka. "Hanya luka ringan," jawabnya singkat.
Perhatian seisi ruangan lalu tertuju pada Miss C yang masuk paling akhir. Tidak seperti biasanya, wanita itu berdehem beberapa kali. "Sebelum mulai, aku ingin menyampaikan dukacita untuk Bruno yang...mendahului kita," ujar Miss C diakhiri suara yang pelan.
"Berkat informasi yang datang..," mata Miss C melirik sebentar ke arah Dennis sebelum kembali pada zona netral di seisi ruangan. "..kita bisa menghindari jumlah korban yang lebih banyak."
"Ter0riz siaIan!" umpat salah satu anggota yang hadir sambil menggebrak meja. Semua tahu kalau dia paling dekat dengan Bruno.
"Aku paham perasaan kalian, tapi bertindak saat dikuasai emosi hanya akan membahayakan anggota tim yang lain. Apa kalian mengerti?!"
"Mengerti!!" jawab semuanya serentak dengan pandangan dipenuhi keinginan menggebu. Operasi gabungan sebelumnya ternyata jebakan, sehingga selain ada anggota yang tewas, juga ada banyak yang mengalami luka-luka. Untung datang bantuan setelah ada laporan dari Dennis.
"Bagus. Target kita kali ini adalah orang yang cukup licin," ujar Miss C kembali menjelaskan target dan tujuan operasi kali ini.
Foto yang dipajang di depan adalah wajah Darto dalam berbagai penyamaran. Seperti perkiraan Dennis, tidak adanya ciri khusus dalam diri pria itu membuatnya mudah dilupakan orang dan menghilangkan keberadaan. Miss C juga menekankan kalau mereka harus lebih waspada dan segera melaporkan tanda atau situasi mencurigakan.
Setelah briefing, Dennis menarik Rabpit sebelum pria itu pergi dengan motor balapnya.
"Aku mau minta tolong," bisik Dennis, berhati-hati agar tidak didengar yang lain.
"Naiklah," sahut Rabpit sambil mengoper helm pada Dennis.
Tidak lama, mereka sudah melaju di jalanan, mencari tempat yang aman untuk berbicara.
.
.