
Ibu muda itu merasa lega karena dia telah sampai sebelum kursus dimulai. Di dalam ruangan yang ditunjukkan petugas, dia melihat kalau satu meja diisi oleh 3-4 orang. Yanti mencari tempat duduk yang sekiranya kosong.
"Ini sudah ada orangnya," kata wanita di sebelah kursi itu.
Dia mengangguk lalu berdiri, dan kini bertanya sebelum duduk. Yanti mendapat tempat bersama dua orang lain yang berusia jauh lebih tua. Hampir seusia nyonya Lili dan sama modisnya. Karena semua orang sudah memakai celemek, Yanti pun memakai miliknya.
Tidak lama setelah itu, seorang wanita masuk dan menempati meja paling depan. Wanita itu langsung menjelaskan nama makanan, bahan-bahan yang akan mereka pakai, cara memasak dan apa saja yang perlu diperhatikan.
Semua yang dijelaskan guru masak itu terdengar penting dan Yanti ingin mencatatnya. Yang jadi masalah adalah, dia hampir tidak tahu separuh dari yang disebutkan gurunya.
"Setelah di fillet, daging ayam akan kita marinasi dulu dengan saus tiram, arak masak, minyak wijen, lada hitam dan putih, ginger, bawang putih dan garam. Sementara kita biarkan dulu ayamnya, kita buat masakan lain. Sekarang, class, kita siapkan bahan untuk membuat thousand layer."
Saat Yanti melihat ke arah peserta lain, mereka semua seperti sudah tahu apa saja yang akan dilakukan.
"Bahannya banyak, ya," ujar Yanti pada ibu-ibu yang duduk di sebelahnya.
Wanita itu mengangguk lalu menunjuk kertas yang diberikan saat memasuki kelas. "Iya, untung ada fotocopy."
Yanti melihat ke arah kertas berisi tulisan yang asing dan masih sulit dia pahami. Buku yang diberikan Bu Niken untuk belajar membaca, lebih mudah untuknya.
Ibu muda itu memperhatikan kalau hanya dirinya yang gelisah dan mulai kehilangan rasa percaya diri.
...
Malam itu Dennis baru saja berhasil memberikan suapan terakhir pada si bocah dekil. Dia mendengar suara pintu depan dibuka dan ditutup dengan pelan.
Tidak lama, Yanti muncul dengan mata merah dan pipi menggembung.
"Kenapa?" tanya Dennis yang bisa mencium masalah dari cara wanita itu menutup pintu.
"Ndak ada apa-apa," jawab Yanti yang mencoba berlalu.
Mata Dennis menangkap gerakan tangan kanan Yanti yang tidak berayun seirama dengan langkahnya. "Jangan bohong," tuduh Dennis. "Kamu pikir aku ndak akan tahu?"
Yanti yang hatinya sesak sejak kursus, tidak bisa lagi menahan emosinya. "Apa?! Memangnya salah kalau aku ndak tahu?! Karena ndak tahu itu, makanya aku pengin belajar!!"
"Memangnya salah kalau aku ndak bisa pakai miser dan open?" tanya Yanti yang masih sesenggukan.
Dengan lembut dan perlahan, Dennis meraih lengan Yanti lalu membaliknya. "Maksudku, ini... Ini kenapa tanganmu bisa luka?" tanya Dennis dengan suara yang tidak kalah halus.
Yanti yang menyadari sudah melampiaskan kejengkelan dan kebodohannya pada orang yang salah, malah menangis makin keras.
Giliran Dennis yang bingung. Niat hati mencemaskan Yanti, tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti itu di tempat kursus. Biasanya dia langsung pergi kalau ada yang menangis..dan kini, dia tidak yakin jika meninggalkan Yanti adalah tindakan yang tepat.
"Uuk... Nnis..." ujar Waskito yang berjalan pelan ke arah mereka.
Dennis ingin berteriak pada Yanti, menunjukkan kalau anaknya akhirnya bisa jalan. Tapi Yanti masih menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Waskito akhirnya sampai dan berpegangan pada celana Dennis sebelum jatuh. Dia lalu menepuk-nepuk kaki Yanti dengan tangan kecilnya. Dennis pun mencoba menepuk lengan dan pundak Yanti dengan perlahan.
Dia ingat kalau kebanyakan manusia merasa nyaman saat ada kontak fisik - skinship.
"Sudah... Sudah..." ujar Dennis yang dijawab dengan Yanti menyandarkan wajahnya ke bahu Dennis.
Pria itu hanya ragu selama 0,1 detik sebelum melingkarkan tangannya ke punggung Yanti. Tidak lupa dia mengusap pelan pundak wanita yang masih menangis dalam pelukannya.
..
Malamnya, Yanti bertanya lagi ke Kito. "Gimana kalo Darto beneran ndak muncul, Le? Toh, selama ini di cari juga ndak pernah nemu..."
Tentu saja Waskito tidak menjawab. Bocah itu tengah tertidur pulas di sampingnya.
"Tapi disini Ibuk kerja jadi pembantu dan cuma istri kontrakan aja disini... Bukan istrinya beneran..."
Yanti berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Dia mengingat kembali ketika Dennis berusaha menenangkannya. Hati Yanti merasa ringan. Terbersit sedikit keinginan untuk tidak usah bertemu lagi dengan Darto.
.
.