
Dennis tidak menduga tangis Yanti akan pecah melihat luka di bahunya. Sepanjang perjalanan pulang, yang Dennis pikirkan hanya sosok pria di atap gedung yang sangat mirip dengan Darto.
Yanti mungkin ingin mencoba hidup sebagai istri sebenarnya dengan pria itu. Meski selama ini Yanti menunjukkan tanda-tanda ketertarikan padanya, bisa saja karena Yanti penasaran. Karena hanya Dennis yang merupakan pria dewasa di dekatnya.
"Kok bisa luka kayak gini, Pak..." tanya Yanti diantara isak tangisnya. "Kalau Pak Dennis sampai kenapa-kenapa, terus aku gimana..."
Hati Dennis luluh melihat mata yang berkaca-kaca itu terarah padanya. Tanpa pikir panjang lagi, dia meraih tubuh itu dan memeluknya erat-erat.
"Aku ndak kemana-mana kalau kamu ndak pergi," bisik Dennis.
Yanti yang terkejut pada awalnya, tidak lagi merasa sungkan dan memeluk balik tubuh pria yang jadi tambatan hati. Meski pincang, Dennis terbukti bisa jadi penopang yang kokoh bagi hidup Yanti. Lalu Yanti teringat dengan sosok yang memanggilnya saat di pemakaman.
"Pak..," Yanti menyeka air matanya. "Dulu Pak Dennis bilang ke emak kalau sudah ngurus surat cerai aku sama mas Darto.."
"Iya, kenapa?" Dennis balik bertanya.
"Itu sungguhan atau bohongan?" tanya Yanti yang menatap wajah pria di depannya.
Dennis pun melepaskan pelukan dan memandang ke sepasang mata Yanti yang coklat gelap. "Kenapa kamu tanyakan sekarang?"
"Aku," Yanti membasahi bibir. "Aku ndak enak kalau bohong sama emak dan bapak."
Mata Dennis terpaku pada bibir yang lembut dan basah. Dia teringat dengan sensasi saat bibir itu menyentuhnya. Dengan suara berat dan dalam, Dennis bertanya, "Apa kamu mau aku uruskan surat cerainya?"
Yanti mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari mata Dennis. "Iya. Jadikan aku istrimu satu-satunya, Pak."
Tangan Dennis bergerak mendahului akal sehatnya. Dalam sekejap, dia sudah menikmati bibir wanita yang memasuki hidupnya dengan tiba-tiba. Kehangatan yang tercipta dari tubuh mereka yang berhimpitan...
"Ti! Yanti! Oh! Ya Ampun!" teriak mbok Jum yang langsung berbalik pulang saat melihat keduanya di belakang rumah.
Tadinya dia khawatir karena dapat kabar kalau majikan mereka itu luka. Syukurlah kalau tidak separah yang dia duga.
Yanti dan Dennis yang langsung jaga jarak, hanya saling melempar senyum dan pandangan malu-malu.
"Masuk dulu, Pak?" tanya Yanti sambil memunguti pakaiannya yang jatuh tadi.
Dennis berdehem. "Iya. Aku masuk, istirahat dulu."
...
Mulanya Dennis hanya berencana untuk tidur sebentar. Tapi ketika Yanti membangunkannya, hari sudah sore.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dennis sambil menggerak-gerakkan badannya yang kaku. Dia sempat lupa kalau bahunya terluka, dan meringis menahan nyeri saat kulit disekitar luka tertarik.
"Jam lima lebih sedikit," jawab Yanti yang khawatir dengan pria didepannya.
Dennis sudah mengganti baju dan memakai kemeja lain. Tapi masih ada darah yang merembes dari perban dan itu membuat Yanti gelisah. "Kok bisa luka kayak gini, Pak?"
Pria itu menoleh. "Aku ketemu copet. Dia mau merampas kamera, tapi aku tahan. Aku tidak tahu kalau dia bawa pisau."
Yanti kembali menyuarakan protesnya, tentang bagaimana harusnya Dennis lebih hati-hati, tidak sendirian, dan pekerjaan yang ternyata membahayakan. Dia lalu duduk di samping Dennis.
"Pak Dennis bisa mandi sendiri apa ndak? Kalo ndak bisa, aku panggilin Pak Hendro." Yanti kembali berdiri tapi Dennis menarik tangannya. Pria itu menggeleng.
"Kamu saja yang bantu seka," pinta Dennis sambil membuat kontak mata dengan ibu muda itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini keinginannya memiliki Yanti semakin menggebu.
Dia pun memerintahkan dengan suara yang dalam, "Bawakan air bersih di baskom dan sabun mandi."
Sesekali, jempolnya bergerak pelan membuat lingkaran di atas kulit wanita itu. Yanti menarik tangannya yang merasa geli lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Rasa geli itu tidak hilang dan semakin menjalar hingga ke dada dan perutnya.
"Byuh... " gumam wanita itu yang keheranan. Padahal hanya pegangan tangan, tapi hatinya sudah deg-degan. Sensasi yang membuatnya tak bisa menahan senyum dan ingin dirasakannya lagi.
"Yan! Cepet, Yan! Keburu masuk angin aku nanti!" teriakan Dennis sedikit menenangkan wanita itu.
Yanti pun cepat-cepat mengisi baskom dengan air bersih dan membawanya ke kamar Dennis.
"Iya, Pak!" sahut Yanti, menantikan saat dia bisa memberi sensasi yang sama untuk majikannya.
.
.