Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
7. Tuan Dennis


Dennis melihat buku catatan yang terbuka, dengan ballpoint di tangan kanan. Perlahan dia mengetuk dengan irama monoton, yang membantu mengurai pikirannya yang tumpang tindih.


Dia sudah mendapat wanita untuk menggantikan dirinya saat acara keluarga. Dia tinggal memberi Yanti senjata agar bisa berhadapan dengan keluarganya yang saling berebut posisi di mata Bobo (nenek).


Dennis tidak tertarik dengan itu semua. Yang dia pikirkan hanya kebaikan mami dan adik perempuannya, Lani. Sayangnya, wanita yang sudah melahirkannya itu tidak melihat dengan jelas. Maminya terlalu silau dengan harta keluarga utama.


Dia sudah mengatur waktu untuk membawa Yanti pada hari minggu. Namun, dengan kedatangan mami barusan, rencananya bisa dipercepat.


Dennis menutup buku catatan dan meletakkannya di rak kedua, antara Bahasa Jurnalistik dan The World According to Garp oleh John Irving.


Mata Dennis lalu menyapu ke sekeliling ruang kerja. Buku yang beberapa hari lalu masih ditumpuk asal, kini dibedakan menurut ukuran, yang terkecil paling atas. Lantai juga mengkilap seperti habis dipel. Dennis lalu menyapukan telunjuknya ke rak lemari terdekat, masih berdebu.


Pria itu lalu memutar mata, kenapa dia harus heran. Dennis bahkan bisa membayangkan kejadiannya dengan mata tertutup.


Tentu saja monster kecil itu merangkak sampai kemari, tangannya lengket bekas makanan atau minuman manis. Melihat banyak benda warna-warni, bocah itu berusaha meraih dan mencoba berdiri. Batita itu lalu menarik buku terdekat, menyebabkan yang lain jatuh dengan suara berisik.


Yanti yang dengar, berlari dalam keadaan panik, memastikan anaknya tidak tertimbun barang-barang. Saat beres-beres, dia menemukan jejak lengket tangan bayi itu dan mengelap sekedarnya. Yanti juga menumpuk barang jauh dari pinggir meja, dengan lebih teratur agar tidak mudah jatuh.


Setelah selesai, wanita itu membawa anaknya pergi dan tidak mengelap bagian lain ruang kerjanya. Dennis berpikir untuk menegur Yanti nanti. Bagaimanapun dia datang kesini untuk bekerja, bukan mengurus anaknya.


Mata Dennis kembali terarah ke jam dinding yang menunjukkan angka 10. Sudah terlalu malam bagi wanita itu untuk bangun. Dia memutuskan menegur Yanti besok pagi.


...


Dennis yang tengah tidur lelap, merasa ada yang aneh dan perlahan kembali ke kesadarannya. Matanya menyapu sekeliling ruangan, tidak ada yang aneh dengan kamarnya. Dia lalu menajamkan pendengaran.


Saat itulah dia menangkap suara orang berjalan yang melewati tangga yang terhubung ke lantai dua. Ketika melirik ke dinding, jam di kamarnya masih menunjukkan pukul 4 pagi. Masih terlalu pagi bagi Yanti untuk ke pasar.


Dennis menutup mata, mencoba kembali tidur saat dia kembali mendengar langkah sandal yang jelas di pagi sesunyi ini. Pria itu mengerang kesal, otaknya baru mulai bekerja dan dia bisa menduga ada yang salah dengan anak Yanti.


Jujur, Dennis heran bagaimana dirinya bisa mengambil keputusan berdasar harapan naif hari itu. Ya, hari dimana dia membaca di koran tentang peningkatan aktivitas vulkanik gunung Kelud dan hujan abu yang (dia perkirakan) mencapai daerah tempat Yanti tinggal di Nglegok. Karena itu, dia memaksa dan separuh mengancam Yanti.


Dengan polosnya dia percaya kalau Yanti tidak akan membawa turunan kecilnya ke Surabaya. Padahal kalau Dennis pikir lagi dengan logika, kemungkinan Yanti membawa bocah itu sebesar 98%. Mengingat suasana pengungsian tidak hanya kurang kondusif untuk merawat batita, orang tua Yanti sudah pasti kesusahan hanya dengan memikirkan nasib mereka sendiri dan berfokus pada pemulihan rumah kayu mereka. Yang mungkin roboh, tidak kuat menahan beban abu.


"Uwaaaaaa!!! Uwaaaaa!!" teriakan dari lantai dua itu membuat Dennis ingin bergulung makin erat ke dalam selimutnya. Tapi tidak bisa kalau dia tetap ingin mempertahankan Yanti sebagai tameng hidup.


Dennis mengambil tongkat di samping tempat tidur dan berjalan secepat dia bisa ke dekat tangga.


"Yan! Yanti! Anakmu kenapa?!" teriaknya dari bawah.


Kepala wanita itu muncul hanya sedikit. Rambut sepundak yang sering dia kuncir itu sedikit awut-awutan. "Kito agak anget badannya, Pak."


"Mulai kapan?" tanya Dennis lagi.


"Sudah semalaman, Kito juga ndak mau tidur," imbuhnya sambil menepuk-nepuk punggung dan menggoyang badan bayi rewel itu.


Dennis tidak ahli dalam merawat bayi, dia hanya tahu sedikit tentang kesehatan. Dia tidak yakin akan cukup sampai mereka bisa membawa anak Yanti ke puskesmas nanti.


"Bawa turun, Yan," perintah Dennis.


Sambil menunggu Yanti turun, Dennis menggunakan meja makan yang luas untuk menggelar alas kain.


"Taruh sini," Dennis menunjuk ke meja.


Yanti menurut dengan berusaha membujuk anaknya berbaring di atas meja. Bayi besar itu menggeliat gelisah dengan rengekan yang terus keluar dari mulutnya yang kecil.


"Sudah kamu kompres?" tanya Dennis yang disambut tatapan bingung Yanti. "Ambilkan baskom, isi air bersih separuh. Ambilkan juga saputanganku."


Ibu muda itu bergerak cepat mengambil barang yang diminta Dennis. Sementara itu, Dennis meraba badan Waskito yang memang sedikit demam dan bibirnya mulai kering.


Dennis lalu mengajari Yanti cara mengompres anaknya dan memberikan minuman isotonik sederhana sedikit demi sedikit.


"Aku ke Mbok Jum dulu. Kamu tunggu disini," ujar Dennis. Suaranya dingin, sedingin pandangannya saat berjalan keluar rumah dengan langkah yang kaku.


Pria itu tengah marah pada dirinya sendiri. Dia telah lalai lagi memperhitungkan tentang betapa rapuh manusia, terutama anak kecil. Sudah dua kesalahan yang dia lakukan sejak Yanti pulang kembali ke Surabaya.


Seberapa hebat dan cepat pemikirannya mengolah fakta dan berusaha mencegah agar tidak terjadi kejadian tidak terduga di dalam rumah kecilnya, tetap saja kemauan Dewa bergerak lebih cepat. Seperti kejadian beberapa tahun silam yang merenggut sebagian kemampuannya berlari.


Dan saat ini, dia butuh tabib, dokter, apapun itu untuk menyembuhkan anak Yanti. Hal yang tidak bisa dia lakukan dengan kemampuannya.


"Jum! Jumilah!!" teriak Dennis saat sudah dekat dengan rumah bagian depan.


"Dalem, Tuan..." sapa Mbok Jum dengan kepala menunduk.


"Carikan becak, angguna, atau mobil yang bisa dipakai. Hendro, kamu ke Professor Agus di jalan Nias. Suruh dia siap-siap, anaknya Yanti sakit." Perintah keluar berturut-turut dengan tegas dari bibir tipis Dennis.


"Nggeh, Tuan!"


Dalam sekejap, kedua orang itu langsung bergerak mengikuti perintah pria yang jauh lebih muda itu. Dennis sudah akan kembali ke rumah ketika muncul seorang remaja dari rumah Mbok Jum.


"Saya boleh ikut, Tuan?" tanya anak berusia sebelas tahun itu. Mata besarnya menatap ragu dan sedikit takut ke arah Dennis.


"Kamu boleh lihat dari samping, tapi jangan ganggu," ujar Dennis yang langsung membuat wajah anak itu sumringah.


"Siap, Pak!" sahut bocah itu yang langsung melesat.


Tidak lama setelah Dennis memasuki rumah dan mengatakan rencananya pada Yanti, mbok Jum datang. Wanita sepuh itu mengabari kalau kendaraan sudah siap.


Yanti yang sudah setuju untuk membawa anaknya ke dokter, malah memiliki ketakutan. Kalau anaknya tidak sakit parah, biasanya dibawa ke dukun bayi, tidak usah sampai ke puskesmas. Lha ini malah langsung ke rumah dokter.


"Anakku sakit apa, toh, Pak, apa ndak ada dukun pijet bayi? Biasanya kalau diurut sama bobok bawang, langsung sembuh," tanya Yanti bingung.


"Disini dukun bayinya masih muda, daripada salah pijet nanti kasihan anakmu," elak Dennis.


Yanti yang akhirnya tenang, menggendong Kito yang masih merengek, mengikuti Dennis memasuki angguna.


Sampai di rumah dokter, Dennis membiarkan dokter wanita itu memeriksa Kito. Beberapa pertanyaan dijawab oleh Yanti. Dennis hanya duduk di dekat meja periksa sambil mendengarkan dan melihat dengan seksama.


"Anaknya ndak apa, panas biasa karena mau tumbuh gigi," ujar wanita yang biasa menghadapi kepanikan orang tua pasiennya.


"Pantesan kok ngiler terus, Bu," ujar Yanti. Senyum lega terpancar di wajahnya yang menggendong Kito kembali ke balik selendang.


"Ini saya kasih resep obat demam dan nyeri. Bisa diminum setelah makan." Dokter itu kembali duduk di meja tempat beberapa buku dan alat tulis. Dia menuliskan sesuatu dan memberikan resep pada Dennis.


Pria yang tidak banyak berkata-kata itu menerima resep dan membayarkan jasa pemeriksaan. Mereka kembali pulang dengan pikiran masing-masing.


Meski Kito masih rewel dan sesekali berteriak, Yanti lebih khawatir anaknya membuat Dennis jengkel. Sejak tadi Dennis lebih banyak diam. Yanti tidak mau Kito sampai dimarahi apalagi dibentak. Jadi, Yanti berusaha sekeras mungkin menenangkan Kito.


Dennis merasa sangat bodoh dan malu. Dia telah bertindak berlebihan untuk bayi yang sedang tumbuh gigi, seolah anaknya Yanti mengidap penyakit serius. Pikirannya yang biasanya tajam, sama sekali tidak mengarah kesana.


Dia ingin menyalahkan keteledoran Yanti yang mungkin menular padanya. Atau tidak bisa tidur nyenyak setelah melakukan 'liputan' dan tugas lain, akibat suara mengganggu di atasnya.


Tapi hati kecilnya terus mengatakan pada pendirian angkuhnya, bahwa itu murni salah Dennis. Yang salah perhitungan, salah melihat dan menilai situasi, assessment yang berlebihan menghasilkan hasil yang tidak akurat.


Setelah sampai di depan rumah, Dennis memberi instruksi pada Yanti dan mbok Jum. Lalu, dia kembali menaiki angguna dan turun di bagian pasar yang sudah tidak ada bekas-bekas kebakaran.


Stan dan kios berjajar berhimpit, semuanya dihuni manusia yang mencari uang sebagai sumber penghidupan. Melewati tangga lantai 1, Dennis berjalan ke arah kios penjual rokok dan kretek yang sepi pelanggan.


Pria berjanggut tebal yang sedang jaga, tersenyum lebar melihat langkah asimetris Dennis. Deretan gigi menguning berbingkai mulut kehitaman menyambut pria pincang itu.


"Pak Antok," panggil Dennis.


"Aku tahu kamu pasti balik lagi," ujar lelaki bersuara serak itu yang kemudian terkekeh.


Dennis memilih tidak menanggapi ledekan yang tertuju padanya. Dia melihat-lihat barang dagangan yang terpajang rapi.


"Aku beli yang paling enak." Mata sipitnya kembali terarah pada pria yang terus memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.


Pria itu menghela nafas panjang. "Yang paling enak sudah diambil orang lain. Tinggal nomer dua. Mau?"


Dennis sedikit menundukkan wajah, menyembunyikan seringainya yang liar dan buas. "Jangan bohong. Aku tahu kamu cuma puas sama hasil kerjaku."


Antok terdiam hanya sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak. "Dennis! Dennis! Dasar ular putih!"


Dennis tidak suka julukan Antok untuknya, tapi tidak masalah selama dia mendapat yang diinginkan.


.


.


.