Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
20. Kebun Binatang Surabaya (1)


Yanti sangat jarang melihat Denis berinteraksi dengan orang lain, apalagi menerima tamu. Selama ini hanya ada dua orang yang datang mencari pria pincang itu selain nyonya Lili.


Tamu yang datang sekarang cukup sangar. Wajahnya tertutup kumis dan jenggot lebat, giginya juga kehitaman dan berbau tembakau. Laki-laki itu sebentar tertawa, sebentar berteriak. Tidak bisa bicara dengan baik-baik.


Jujur saja Yanti merasa takut dengan pria aneh itu. Untung dia hanya bertugas mengantarkan teh dan bisa segera kembali ke belakang.


"Kamu bilang sementara tidak ada misi buat aku. Aku juga harus menyembunyikan diri dulu," ujar Dennis setelah Yanti pergi.


Antok, pria penjual rokok di pasar itu, mengangkat kedua bahu. "Mau bagaimana lagi. Kamu salah satu eksekutor terbaik yang kita punya."


Dennis memicingkan mata pada tepak besi di atas meja, yang dia yakini bukan tepak biasa. Ukurannya juga terlalu kecil untuk menyimpan pistol maupun senapan lain.


"Isinya alat tembak, cuma bukan seperti yang biasa kamu pakai." Antok menjelaskan sambil bersandar ke sofa.


Dennis hanya menatap pria itu dengan pandangan tidak percaya.


"Buka saja dan pastikan sendiri."


Dennis menghela nafas panjang sebelum mendekat dan membuka kotak kecil di hadapan mereka. Dia sedikit terkejut melihat isi kotak itu.


"Kenapa kamu berikan ini padaku?" Tanya Dennis menahan marah.


"Hanya kamu yang bisa mendekati target tanpa menimbulkan kecurigaan. Siapa yang berpikir kalau orang pincang sepertimu akan memasukkan racun ke tubuh orang lain." Antok melanjutkan penjelasannya.


"Kalau racun ini benar seperti katamu, aku akan cepat tertangkap."


"Tidak, aku akan pastikan kamu aman. Sudah ada orang lain yang bertugas menyelesaikan pekerjaanmu kali ini." Ujar Antok meyakinkan. "Seperti kataku, kamu cukup mendekati target dan menusukkan ujung jarum suntik ini di badannya."


Dennis menatap ragu ke arah alat suntik di dalam kotak. Ada banyak hal yang bisa terjadi, satu kesalahan sepele yang berakibat fatal. Bisa saja dirinya sendiri yang tertusuk, atau malah kena ke orang lain pada saat terakhir.


Sedetik kemudian, pandangan Dennis berubah. Hilang sudah keragu-raguan dalam hatinya. Dia sudah menjadi Dennis si Sniper yang ditakuti.


Antok tahu kalau bahaya sesungguhnya bukan penglihatan tajam pria pincang itu. Tapi kemampuannya mengolah informasi dengan cepat sebelum bertindak.


Pria berjenggot dengan gigi kehitaman itu tertawa lebar. "Hahaha aku tahu kau akan menerima tugas kali ini."


"Aku yakin tanganmu sudah gatal untuk beraksi lagi. Meski pincang, kamu tidak bisa berdiam di satu tempat untuk waktu yang lama." Antok kembali menyeringai.


Dennis benci mengakuinya. Tapi setelah kejadian malam itu dia tahu kalau dirinya harus melakukan sesuatu. Sebisa mungkin menjaga jarak dari Yanti.


"Oh satu lagi. Covermu akan sempurna kalau kamu mengajak Istri dan anakmu," kata Antok membuyarkan konsentrasi Dennis.


Dirinya menatap tidak percaya kepada Antok. "Kamu tahu kalau dia bukan Istri dan anakku."


"Oh ya? Tapi kalian kan sudah menikah secara sah di catatan sipil. Apalagi namanya kalau bukan suami istri? Hahaha..!"


Dennis ingin melenyapkan Antok saat itu juga. Pria itu terlalu banyak tertawa.


....


"Hah? Kebun Binatang?" tanya Yanti tak percaya.


"Iya, kamu tidak mau?" Dennis bertanya balik.


"Aku mau tapi... Kito juga boleh ikut?" Yanti memastikan pendengarannya tidak keliru.


"Tentu saja, tapi kamu harus urus dia dengan baik. Kamu juga tidak boleh jauh-jauh dari aku. Di sana ramai nanti kamu bisa hilang." Lanjut Dennis.


"Kalau ndak mau nurut ndak usah ikut pergi," ancam Dennis.


"Iya iya pak gitu aja kok marah." Yanti lalu menjulurkan lidah ke arah Dennis.


Dennis ingin menarik lidah itu dan mencubit pipi pemiliknya yang mulai berani melawan. Dia berpikir pasti reaksi Yanti akan menarik.


...


Yanti sudah bangun sejak pagi sekali. Dia memasak untuk sarapan dan bekal makan siang. Dia juga sudah meminjam botol air dari Mbok Jum.


"Bawa apa lagi Pak?"


"Kenapa kamu ndak bawa rumah sekalian?" Dennis balik bertanya tanpa melihat ke arah Yanti. Perhatiannya tertuju pada berita utama koran yang sedang dibacanya.


"Pak Dennis iki, ditanyain kok malah gitu jawabannya," sahut Yanti kesal.


"Lah kalau semuanya mau kamu bawa anakmu mau kamu taruh mana?" Dennis berusaha membuat Yanti mengerti.


"Ya digendong. Masak mau ditinggal di rumah sendirian. Biar Kito bisa lihat gajah nanti." Yanti tersenyum, lalu melihat ke arah anaknya yang sedang duduk tidak jauh dari Dennis.


Seolah mengerti perkataan ibunya, bayi itu menjawab. "Wuuk, ja... Jaa..."


Denis mengangkat sebelah alis. Hampir setiap orang yang dia temui ingin pergi ke kebun binatang untuk melihat gajah. Padahal dia yakin kalau mereka juga bisa melihat gajah di koran atau majalah.


"Sudah, ayo cepetan berangkat. Nanti keburu siang." Dennis melipat koran lalu berdiri dengan tangan kanan bertumpu pada pinggiran meja. Jika menuruti kemauan Yanti, mereka baru sampai saat tujuan mereka akan tutup.


.


Seperti yang Dennis duga, suasana kebun binatang sangat ramai penuh hiruk pikuk karena tanggal merah. Berdasarkan informasi dari Antok, target yang sudah dia pelajari fotonya akan datang bersama anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun. Sangat mudah mengingat ciri-ciri bapak-anak itu. Keduanya punya tahi lalat di ujung mata sebelah kanan.


Dennis juga diberitahu kalau anaknya itu sangat suka binatang. Jadi tujuan mereka adalah wahana menaiki gajah dan unta.


Sebagai sniper yang ingin memantau target dari dekat, Dennis memutuskan untuk duduk di sekitar wahana tersebut. Yanti memanfaatkan kesempatan itu untuk berjalan-jalan berdua dengan Kito. Barang bawaan termasuk bekal makan siang dan air minum, dia titipkan pada Dennis.


Suami kontraknya itu sempat protes tapi Yanti tidak menghiraukannya.


"Aku cuma ke sebelah situ, dekat kok!"


Melihat wajah Yanti yang berbinar di bawah matahari membuat Dennis tidak tega memarahi wanita itu terus-terusan. Salahnya sendiri, mengikuti ucapan Antok untuk membawa Yanti sebagai cover.


.


Yanti sangat bahagia. Sejak setelah menikah, dia hampir tidak mengunjungi tempat wisata. Apalagi ini adalah Kebun Binatang Surabaya yang terkenal itu. Dimana lagi mereka bisa melihat singa, macan, dan buaya dari dekat kalau bukan disini?


Saat berjalan, Yanti begitu bersemangat sampai menabrak seseorang.


"Aduh, maaf, Pak," ujar Yanti cepat sebelum berbaur lagi dengan pengunjung lain. Kali ini dia ingin melihat jerapah. Kata Bu Niken, leher jerapah setinggi pohon. Ibu muda itu ingin melihat sebanyak-banyaknya sebelum Dennis mengajak mereka pulang.


Sedangkan pria yang ditabrak Yanti terdiam sesaat. Dia merasa pernah tahu wajah dan suara itu, tapi tidak terlalu ingat dimana. Darto pun kembali berjalan untuk menemui seseorang.


.


.


.